Tampilkan postingan dengan label Akai Ito. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Akai Ito. Tampilkan semua postingan

Jumat, 13 Juli 2018

Sembilan

Edit Posted by with No comments


Saat kulihat wajahmu
Tak satupun yang aku ubah
Karena kau luar biasa
Apa adanya dirimu
Dan saat kau tersenyum
Dunia berhenti dan melihat sejenak
Karena kau luar biasa
~Just The Way You Are, Bruno Mars~
Hari sudah pagi ketika Naura memicingkan mata akibat sinar matahari yang menyilaukan matanya, hingga membuat dirinya terpaksa harus segera bangun dari tidurnya dan bersiap untuk menyiapkan sarapan pagi untuk Raka. Ia kemudian mengenakan jubah tidurnya untuk menutupi baju tidur di dalamnya. Ia berkutat dengan bahan makanan di dapurnya. Ia masih melihat Raka tertidur di sofa ruang tamu beberapa saat lalu, hingga ia tak berani untuk menimbulkan suara-suara yang mengganggu dari kegiatan memasaknya, sehingga dia melakukan semuanya dengan perlahan.
Namun tiba-tiba bel berbunyi dan tentu saja itu membuat Naura hendak bergegas untuk membuka pintu rumah untuk melihat siapa gerangan yang berkunjung pagi-pagi sekali. Ketika Naura membuka pintu rumah Raka, ia terkejut melihat seorang wanita cantik keturunan Jepang sedang berdiri di ambang pintu dengan membawa beberapa kotak yang dapat di duga oleh Naura bahwa kotak itu berisi makanan. Pasalnya, ia dapat mencium aroma masakan di dalamnya. Wanita itu terkejut mendapati Naura dan bukannya Raka yang membukakan pintu rumah itu. Dan kemudian wanita itu pun bertanya.
“Ohayogozaimasu[1],” sapa wanita itu dengan senyum yang mengembang. Namun dia terkejut karena bukan Raka yang membukakan pintu rumahnya melainkan seorang wanita yang berusia kira-kira dua tahun lebih muda darinya yang mengenakan sebuah jubah tidur, dengan wajah yang juga khas bangun tidurnya. “Anata wa daredesuka[2]?” tanya wanita itu kemudian untuk mengatasi rasa penasarannya dengan wanita dihadapannya itu.
“Watashi wa Naura desu[3], Anata wa daredesuka?” tanya Naura balik.
“ A Watashi wa Minna, kono-ka no tonari no rinjin[4],” jelas wanita itu pada Naura.
“Oh, Minna san, hajime mashite[5],” ucap Naura ramah. “Em, watashi wa kono ni anata no tochaku no mokuteki o shitte iru kamo shiremasen?”[6] tanya Naura.
“Ah, tabemono o motte kuru[7]no tame ni Raka desu[8],” ucap Minna dengan canggung.
“Ah, arigato. Shikashi, kare wa mada nemutte iru, watashi wa anata no tame ni kare o mewomasasu hitsuyo ga arimasuka?”[9] ucap Naura pada Minna.
“Oh, kare ni watashi no aisatsu o tsutaeru hitsuyo wa arimasen[10],”
“Mochido tabemono ni kansha shimasu[11],”
“Hai, watashi wa jibun jishin o yurusu[12],” ucap Minna yang di jawab anggukan oleh Naura.
Naura kemudian menutup pintu setelah kepergian Minna. Namun ketika dia membalikkan badannya ia sungguh terkejut mendapati Raka tengah berdiri tepat di hadapannya. Jarak mereka sungguh begitu dekat, hingga Raka dapat merasakan hembusan nafas Naura. Ia menatap wanita itu dan menyembunyikan senyumnya karena melihat wajah wanita itu blushing karena ulahnya. Naura pun memundurkan tubuhnya satu langkah ke belakang, sementara Raka yang menyadari tingkah Naura puh hanya terkekeh ketika melihat wanita itu kemudian berjalan melewati dirinya.
“Siapa yang berkunjung pagi-pagi?” tanya Raka.
“Kamu yakin pingin tahu?” ucap Naura.
“Ya, tentu saja, dia tamuku dan sudah seharusnya aku tahu siapa yang berkunjung kesini,” ujar Raka.
“Hanya seorang wanita,”
“Ahh, seorang wanita ya, pasti Minna. Dia kesini memberikan kotak sarapan pagi kan?” tanya Raka yang dijawab anggukan oleh Naura. Raka tahu kini raut wajah wanita itu berubah menjadi sedikit kesal. Dan tentu saja hal itu membuat Raka malah merasa senang karena ia punya alasan untuk menggoda wanita itu. “Coba kita lihat, bisa berubah menjadi seagresif apakah dirimu jika dalam kondisi seperti ini?” batin Raka.
Raka pun kemudian berjalan mendekati Naura yang berkutat dengan bahan makanannya. Ia bermaksud untuk menggoda wanita yang kini menunduk dan tak mau memandangnya itu.
“Itukah alasannya kamu tidak membangunkanku?” tanya Raka.
“Apa maksud mu?” tanya Naura dengan masih tidak melihat kearah lelaki yang mengajaknya bicara.
Raka menarik pergelangan tangan Naura, memeluk wanita itu dan kemudian mendudukkan wanita itu di pangkuannya. Naura yang terkejut dengan perlakuan Raka yang seekstrim ini. Dia pun hanya menundukkan kepalanya karena malu memandang wajah lelaki itu. Raka tetap diam sejenak duduk di kursi di ruang makan itu dengan tetap mendudukkan Naura di pangkuannya. Tangannya melingkar di pinggang wanita itu hingga Naura terkunci dan tak bisa pergi.
Setelah puas mengamati wajah wanitanya yang masih tak berani untuk menatap dirinya itu, ia kembali menggoda wanita itu hingga wanita itu akan menyerah dan akhirnya menatap ke arahnya.
“Kamu bukannya tidak tahu kalau aku terbangun karena dering bel itu kan? Kamu pasti mendengar suara aku terbangun perlahan ketika kamu mulai membuka pintu. Tapi, kamu tetap mengatakan pada Minna kalau aku masih tidur, tanpa mengecek apakah aku benar-benar masih tidur atau sudah bangun..,” ucap Raka yang tentu saja membuat Naura melotot dan menatap Raka karena terkejutannya.
Raka yang menyadari bahwa dugaaannya adalah benar hanya mampu terkekeh melihat ekspresi Naura. Sementara Naura menahan malu seperti kucing yang ketangkap basah mencuri ikan.
“Ucapanku benarkan?” tanya Raka lagi yang tentu saja di jawab anggukan oleh Naura. Akhirnya Naura pun mempunyai keberanian untuk menatap lelaki itu dan bertanya.
“Siapa dia?” tanyanya.
“Siapa Maksudmu?”
“Wanita itu…,”
“Minna, bukannya kamu sudah tahu namanya dari tadi,”
“Iya, aku tahu namanya. Tapi siapa dia?”
“Maksudmu?”
“Raka…maksudku siapa dia bagimu? Kenapa dia memberimu kotak sarapan? Apakah dia sering melakukannya? Apakah…..,” Naura akhirnya menumpahkan banyak pertanyaan yang dipendamnya sedari tadi. Namun, pertanyaan terakhirnya tak mampu terucapkan karena Raka membungkam bibirnya dengan bibir Raka. Hingga terjadilah ciuman pagi yang cukup panjang diantara keduanya. Setelah melepas bibirnya dari bibir Naura, Raka menatap Naura namun wanita itu menyembunyikan kepalanya di ceruk leher Raka untuk menyembunyikan blushing di wajahnya. Raka yang mengerti dan memahami bahwa wanita itu malu karena ciuman yang diberikannya hanya bisa terkekeh melihat tingkah lucunya.
“Hei, kenapa kamu menyembunyikan wajahmu? Apakah kamu malu?” tanya Raka yang tentu saja membuat Naura makin menyembunyikan wajahnya di ceruk leher Raka dengan semakin dalam. “Hei..ayolah aku ingin melihat wajahmu…,” ucap Raka sembari menarik wajah gadis itu agar menatapnya.
Raka dapat merasakan gelengan dari kepala Naura di lehernya yang menandakan bahwa wanita itu tidak mau mengikuti keinginannya. “Aku nggak mau, ini pertama kalinya, aku malu…,” ujarnya lirih namun masih dapat di dengar oleh Raka.
“Ini pertama kalinya? Jadi, yang semalam kamu lakukan tidak di hitung?” goda Raka.
“Yang semalam ku lakukan adalah kecupan Ka, yang ini….kalau yang ini….,”
“Ah, pasti kamu mau bilang kalau yang ini adalah ciuman jadi berbeda dari yang semalam?” tanya Raka yang dijawab anggukan oleh Naura. “Dasar gadis polos,” batin Raka melihat tingkah lucu Naura.
“Jadi, jelaskan padaku, dia siapa?” tanya Naura lagi, yang kini pikirannya kembali teringat pada persolan beberapa saat lalu sebelum fantasi ciuman Raka memenuhi otaknya dalam sekejap.
“Dia Minna, tetangga sebelah, sering member kotak makan pagi, tepatnya sejak seminggu yang lalu,” jelas Raka dengan lirih di telinga Naura.
Naura kemudian menatap, Raka dan bertanya kembali. “Hanya itu…?”
“Ya, tentu saja kecuali kamu mau aku sama dia lebih…..,”
“Jangan! Jangan lebih dari sekedar itu…,” ucap Naura dengan blushing di pipinya yang membuat Raka tersenyum lebar.
“Kenapa?”
“Dia cantik…,”
“Terus….?”
“Kalau kamu sama dia, aku…aku…,”
“Kamu cemburu?”
“Apa perasaan yang seperti itu di sebut cemburu?”
“Ya, tentu saja. Perasaan sakit ketika kamu melihatku dekat dengan gadis lain. Bukankah perasaan yang seperti itu yang mau kamu katakan?” tanya Raka yang di jawab anggukan oleh Naura. “Itu namanya cemburu sayang…,” ucap Raka sembari mengecup bibir gadis itu singkat dan tentu saja dampaknya adalah tercetak warna merah layaknya tomat di pipi Naura, namun gadis itu juga tersenyum dengan perlakuan Raka.
“Oke semuanya sudah selesai sekarang,” ucap Raka yang tentu saja membuat Naura mengerutkan kening karena bingung. “Semuanya sudah selesai Naura, kamu harus bangun dan berdiri. Atau kamu mau kita tetap dalam posisi ini sambil sarapan?” jelas Raka yang tentu saja membuat Naura kembali malu karena ia lupa bahwa dirinya dan Raka masih dalam posisi yang seperti itu.
Naura pun bangkit dan menyiapkan makanan yang tadi belum dihidangkannya. Ketika Raka hendak membuka kotak yang berikan oleh Minna, Naura melarangnya.
“Kenapa?” tanya Raka.
“Jangan, jangan makan makanan itu? Kamu makan masakanku saja, sebentar lagi selesai,” ujar Naura.
“Lah terus makanan ini? Di buang? Bukankah dulu kamu sering bilang kalau kita tidak boleh membuang-buang makanan?” tanya Raka.
“Siapa bilang aku akan membuangnya,”
“Terus?”
“Aku akan makan makanan dari Minna, Raka. Dan kamu makan-makanan yang sudah aku siapkan…,” jelas Naura.
“Hahaha…dasaar…bilang aja kamu cemburu, sampai nggak bolehin aku makan masakan Minna…,”
“Biarin….,” ucap Naura sembari menjulurkan lidahnya ke arah Raka.
*****
Raka sudah berpakaian rapi hendak pergi ke rumah sakit tempatnya bekerja dulu sebelum berangkat ke kampus. Ia berdiri di ambang pintu kamar, melihat wanitanya tengah bersiap diri. Wanita itu mengenakan sebuah dress simple dengan warna peach. Dress itu sangat cocok di tubuhnya yang ramping dan tidak terlalu tinggi itu. Ia menata rambutnya dan membiarkannya tergerai dengan rapi. Tak lupa pula ia menyelipkan sebiah jepit kecil dan menyibak poninya ke belakang. Ketika ia hendak membalik tubuhnya dari cermin, ia terkejut mendapati Raka berdiri di ambang pintu.
“Sejak kapan kamu berdiri di situ?” tanya Naura dengan menaruh kedua tanganya di depan dada.
“Jangan berpikir yang aneh-aneh. Aku baru berdiri 5 menit yang lalu, tepatnya saat kamu sudah selesai dengan polesan tipis di wajahmu dan tatanan rambutmu itu,”
“Oh…,”
“Ya, sudah ayo kita berangkat…,” ujar Raka.
“Loh, bukannya kamu bilang mau ke rumah sakit dulu?”
“Iya, aku mau ke rumah sakit cuman minta surat izin bentar habis itu ke kampus sama nganterin kamu ambil surat izin juga,”
“Lah, aku hari ini baru mau masuk kuliah Raka, kenapa musti izin?” tanya Naura.
“Kita harus balik ke Indonesia nanti malam…,” jelas Raka.
“Balik? Kenapa Ka? Apa terjadi sesuatu?” tanya Naura.
“Tidak. Makanya sebelum sesuatu terjadi kita harus balik ke Indonesia secepatnya. Setelah itu baru kita kembali ke Jepang…,” jelas Raka.
“Apa sih maksud kamu Ka? Jangan-jangan kamu beneran mau nganter aku balik. Kamu nggak mau kan aku nyusul kamu kesini..kam…kamu….,” ucap Naura dengan terisak dan tangisnya mulai pecah.
Raka yang melihat hal itu menjadi bingung, kenapa wanita ini malah berpikiran bahwa dirinya tidak ingin Naura ada disampingnya. Itu mustahil karena nyatanya bersama gadis itu di sampingnya membuat ia kembali merasakan kupu-kupu berterbangan di perutnya. Namun, dirinya juga tidak mau sesuatu yang buruk terjadi pada wanita itu karena dirinya tak mampu menahan diri untuk tidak menyentuh wanita itu. Berpisah bertahun-tahun membuat Raka enggan untuk melepas wanita itu lagi. Karenanya ia ingin mengikat wanita itu agar menjadi miliknya dalam ikatan yang halal selamanya.
“Kamu jahat Raka…kam…kamu…..,” ucapan Naura terpotong karena bibir Raka kembali membungkam bibir Naura untuk kedua kalinya. Tangis Naura, berangsur-angsur mereda dan tergantikan oleh sensasi yang ditimbulkan oleh ciuman Raka.
Ketika tak lagi mendengar isak tangis wanita itu, Raka melepaskan ciumannya dan berbisik di telinga Naura untuk menyatakan maksudnya kenapa ia ingin mereka segera kembali ke Indonesia.
“Aku tidak bisa menjanjikan bahwa aku tidak akan menyentuhmu lebih dari sekedar ciuman jika kamu tinggal disisiku dalam waktu yang lebih lama lagi. Kamu merasakannya bukan? Kamu merasakan hasratku melalui ciuman itu bukan?” tanya Raka dan di jawab anggukan oleh Naura. Wanita itu kembali blushing dengan mudahnya oleh ulah Raka.
“Kita kembali nanti malam ke Indonesia. Aku akan menjadikanmu milikku selamanya hingga kamu tidak akan pernah bisa pergi lagi meninggalkanku,” ucap Raka.
“Maksudmu? Kita…,”
“Ya, kita menikah….,”
“Naura Khanza Davinka, apakah kamu mau menikah denganku dan menjadi ibu dari anak-anakku?” tanya Raka.
“Apa ini sebuah lamaran?” tanya Naura.
“Ya, tentu saja…memangnya kamu mau aku lamar di tempat romantic seperti kebanyakan orang?”
“Tidak, tentu saja tidak. Aku lebih suka yang ini, di lamar di depan pintu rumah, ini lebih unik dan tidak biasa, aku suka…,”
“Kamu yakin?”
“Ya, tentu saja. Raka Andana Putra, Saya Naura Khanza Davinka, menerima lamaran anda untuk menjadi istri sekaligus menjadi ibu dari anak-anak anda nantinya,” ucap Naura mantap sembari menatap mata Raka dengan penuh cinta.
“Kamu yakin, tidak masalah meskipun aku sudah menikah sebelumnya?” tanya Raka dan di jawab anggukan oleh Naura.
“Sekali lagi aku tanya apakah kamu yakin? Karena setelah ini aku tidak akan melepaskanmu selamanya meskipun kamu ingin,” ucap Raka.
“Iya, Raka. Aku yakin….,”ucap Naura.
Dan setelah ucapan terakhir Naura itu, Raka mengecup singkat bibir wanita itu sebelum akhirnya mereka melenggang pergi dengan sebuah mobil berwarna putih.
*****


[1]Selamat pagi
[2] Anda siapa?
[3] Nama saya Naura, anda siapa?”
[4] Oh, nama saya Minna, tetangga sebelah rumah ini.
[5] Oh, nona Minna, salam kenal.
[6] Em, bolehkah saya tahu maksud kedatangan anda ke sini?
[7] Oh saya membawa makanan
[8] Untuk tuan Raka.
[9] Oh, terima kasih. Tapi, dia masih tidur. Apakah saya perlu membangunkannya untuk anda?
[10] Oh, tidak perlu sampaikan saja salam saya untuk dia.
[11] Baiklah kalau begitu. Sekali lagi terima kasih atas makanannya.
[12] Iya, baiklah saya permisi

Delapan

Edit Posted by with No comments


Gave you the space so you could breathe,
I kept my distance so you would be free,
And hope that you find the missing piece,
To bring you back to me,
~Don’t You Remember, Adele~
            Sudah tiga bulan lamanya Raka pindah ke Jepang. Ia bekerja di rumah sakit Universitas Tokyo sembari melanjutkan profesi spesialisnya ke sub spesialis yakni dari spesialis bedah menjadi spesialis bedah thorax. Dia berfikir bahwa menyibukkan dirinya dengan pekerjaan dan kuliah lagi akan membuatnya lupa dengan Naura. Tapi, ternyata tidak satupun kenangan tentang Naura terhapus dari ingatannya.
Kini ia menghabiskan waktu ditengah-tengah kesibukannya untuk berjalan-jalan disepanjang Rikugien Garden. Rikugien adalah taman yang sangat luas dan artistik ditengah kota tokyo yang super sibuk dan gedung pencakar langit. Di tempat inilah Raka berharap bisa melepaskan lelahnya akan rutinitasnya serta menjernihkan pikirannya dari memikirkan Naura.
Banyak pasangan berjalan bersama menghabiskan waktu di sepanjang weekend. Tapi, hanya Raka yang sendiri. Menatap hamparan taman yang indah itu harusnya membuat Raka senang, tapi tidak yang ada hanya kehampaan yang dirasakannya. Namun tiba-tiba seseorang berjalan mendekatinya. Dan dia tahu siapa orang itu.
“Ohayo gozaimazu, Raka san…,?” [1]sapa wanita itu.
“ Ohayou, Minna san…? [2]Ucap Raka.
“Apa yang anda lakukan disini Raka san? Apa kau sedang jalan-jalan?”
“Ah, ya…,”
“Kau pasti bosan di Daigaku, Byouin atau Ryokan [3]sepanjang waktu bukan?”
“Ah..ya…,” ucap Raka singkat.
“Kyou wa ii o tenki desu ne?” [4]ucap Minna yang hanya di jawab dengan anggukan oleh Raka. Setelah itu yang ada hanyalah kebisuan diantara mereka sampai sore tiba dan langkah kaki mereka tlah membawa mereka kembali ke tempat tinggal mereka.
Minna adalah tentangga Raka. Dia tinggal di samping penginapan (ryokan) Raka. Minna adalah seorang gadis yang berusia sama dengan Naura. Dia seorang gadis yang ceria dan pekerja keras. Dan itu tentu saja membuat Raka kembali teringat dengan Naura. Karena sebelumnya Naura juga tipe gadis seperti Minna sebelum bertubi-tubi masalah menimpa gadis itu.
“Naura, kau apa kabar?” ucap Raka dalam batinnya ketika telah dihempaskannya tubuhnya di atas tempat tidurnya.
*****
Setelah lelah berkeliling seharian mencari tempat dimana Raka menginap, akhirnya ia sampai juga di sebuah flat tempat Raka. Ia mengetuk pintu rumah kecil itu namun tak dibuka oleh si empunya sampai lima kali ketukan. Kemudian ketika ia mulai melakukan ketukan ke enamnya, akhirnya terdengar derit pintu dibuka oleh si empunya rumah.
Raka bangun dari tidurnya ketika mendengar pintunya diketuk oleh seseorang. Ia membuka pintu rumah penginapannya dan ia melihat gadis yang berdiri di ambang pintu tersebut. Namun, karena tidak mempercayai dengan apa yang dilihatnya Raka kembali menutup pintu rumahnya. Beberapa detik setelah ditutupnya pintu rumah itu, ia kembali mendengar ketukan dan ketika Raka membukanya masih juga gadis itu berdiri di ambang pintu.
“Astaga Raka, dia hanya ilusi. Nggak mungkin Naura ada disini, kamu harus sadar sekarang…,” ucap Raka yang lebih pada dirinya sendiri.
Kemudian dia pun melakukan hal yang sama seperti sebelumnya hendak menutup pintu kembali namun terhalang oleh tangan seseorang.
“Aku bukan ilusi Raka, aku nyata…,” ucap gadis yang berdiri di ambang pintu itu.
Raka yang mendengar hal itupun tentu saja terbelalak kaget karena bagaimana mungkin ilusinya bisa berbicara. Namun kemudian ketika dia merasakan sebuah tangan hangat menyentuh pipinya, ia baru sadar bahwa gadis itu adalah nyata dan bukannya ilusi yang dibangunnya seperti sudah-sudah.
“Aku nyata Raka, bukan ilusi…,” ucap gadis itu kemudian ia member kecupan ringan di pipi lelaki itu yang tentu saja membuat Raka terkejut untuk kedua kalinya.
Raka mengernyitkan keningnya dan berkata.
“Sejak kapan kamu berubah menjadi agresif seperti ini Naura?” tanya Raka yang tak percaya apa yang dilakukan gadis dihadapannya itu kepadanya. "Sejak kapan juga kita bicara dengan aku kamu? " pikir Raka yang baru menyadari bahwa bahasa komunikasi mereka berubah. Raka tetap pada keterkejutannya sementara Naura hanya senyam-senyum melihat raut wajah Raka yang masih menyimpan rasa penasarannya itu. Ia tidak berniat untuk memberikan jawaban atas pertanyaan Raka dan malah mengajukan sebuah pertanyaan baru untuk lelaki itu.
“Apa kamu tidak mengizinkan saya masuk?” tanya Naura. Raka pun membuka lebar pintunya karena tersadar bahwa dia masih berdiri menghalangi pintu masuk. Raka kembali dikejutkan oleh kelakuan gadis itu yang diluar nalarnya ketika ia melihat beberapa koper yang di tenteng gadis itu.
“Kam..kamu mau ngapain dengan koper-koper itu?” tanya Raka dengan kening masih berkerut.
“Ya tentu saja membawanya masuk…,” ucap Naura singkat.
“Maksudku bukan itu. Kenapa kamu membawa banyak koper dan kenapa kamu ada disini?” tanya Raka.
“Ya tentu saja karena aku akan tinggal di sini,” ucap Naura dengan santainya.
“Haaahhhh……?”
“Kenapa Haa… Aku serius dengan pernyataanku bahwa aku akan tinggal disini,”
“Siapa yang mengizinkanmu tinggal disini?” ucap Raka sedikit ketus dengan kelakuan gadis itu yang dirasanya seenaknya. Karena bagaimana mungkin gadis itu bisa datang dan pergi seenaknya saja dan memberikan luka setelahnya.
“Aku tidak perlu izinmu untuk tinggal disini..,” ucap Naura tak kalah sinis.
“Heehh…sejak kapan kamu menjadi seperti ini? Kamu salah makan? Atau kepalamu terbentur sesuatu hingga menjadi aneh seperti ini? Dan juga kamu sekarang memanggil namaku langsung tidak disertai Kak…,” tanya Raka beruntun sembari menyentuh kening Naura dengan telapak tanggannya.
“Kenapa kamu mengajukan banyak sekali pertanyaan? Huft….,” dengus Naura sembari melepaskan tangan Raka dari keningnya. “Pertama, aku nggak lagi salah makan atau kepalaku terbentur sesuatu jadi kamu tidak perlu khawatir jika aku mengalami kerusakan pada otakku. Kedua, David bilang antara sepasang kekasih harus memanggil dengan namanya langsung, dan karena aku bukan adikmu dan aku adalah kekasihmu maka aku tidak akan memanggilmu lagi dengan sebutan kak, tapi aku akan memanggilmu langsung dengan namamu, Raka…,” jelas Naura.
“Heh…kamu bercanda, siapa bilang aku kekasih kamu? Hubungan kita bahkan sudah berakhir,” ucap Raka.
“Aku yang bilang, apa kamu tidak mendengarnya tadi, kenapa kamu menanyakannya. Ckck..apa pergi terlalu lama dariku bisa merusak otakmu? Dan yang kedua, hubungan kita belum berakhir karena ini baru saja dimulai kembali…,” ucap Naura sembari meninggalkan Raka dan menuju ke tempat tidur. Naura menghempaskan tubuhnya di atas tempat tidur Raka.
“Heiii…apa yang kamu lakukan di tempat tidurku?” tanya Raka.
“Ya tentu saja tidur, apa kamu tidak bisa melihatnya?” ujar Naura.
“Ish…ini tempat tidurku dan lagi aku belum mengizinkanmu untuk tinggal disini?” ucap Raka sembari memaksa gadis itu bangun dari tidurnya. Namun, bukannya berhasil membuat gadis itu berdiri ia malah terjatuh dan menindih tubuh gadis yang tengah berbaring itu. Raka menatap manik mata gadis yang berada di bawanya, begitu pula dengan Naura. Napas mereka saling beradu.
“Aku lelah berkeliling seharian mencari rumahmu, tidak bisakah kamu biarkan aku tidur?” ucap Naura yang napasnya dapat dirasakan oleh Raka.
“Aku cuman punya satu tempat tidur, jika kamu tidur disini aku harus tidur dimana?” ucap Raka yang tentu saja napasnya juga dapat Naura dengar karena jarak mereka yang sangat dekat.
“Kita bisa tidur bersama,” ucap Naura yang tentu saja membuat mata Raka melotot tajam karena dia tak menyangka bahwa gadis sepolos Naura yang dikenalnya dulu bisa bicara seperti itu. Namun kemudian, dia tahu bahwa gadis itu tidak bersungguh-sungguh, ia hanya ingin menggodanya saja.
“Kamu yakin dengan apa yang kamu katakan?” tanya Raka yang tentu saja dengan menggerakkan tangannya dan menyentuh kulit halus pipi Naura. Ia dapat melihat bahwa pipi itu kini memerah akibat ulahnya. “Berhasil, menyerahlah kamu tidak akan menang melawanku…,” batinnya.
“Tentu saja…,”ucap Naura yang tentu saja membuat Raka kembali terkejut karena apa yang dilakukannya pada gadis itu sama sekali tidak dapat memprovokasi gadis itu.
“Aku bisa berbuat macam-macam kepadamu..,” ucap Raka.
“Benarkah….?”
“Iya…kamu tidak percaya…?”
“Em…apa berbuat macam-macam itu contohnya seperti ini…?” ucap Naura sembari mengecup singkat bibir lelaki yang berada tepat dihadapannya itu. Raka terkejut bukan main dengan apa yang dilakukan gadis itu. Dia tidak menyangka bahwa gadis itu bisa berubah menjadi seagresif itu. “Kenapa kamu diam? APa yang seperti itu dinamakan berbuat macam-macam?” tanya Naura.
Raka yang merasa kalah dan tidak mampu lagi bertahan lebih lama di hadapan gadis itu karena takut lepas kendali, akhirnya bangun dari posisinya yang berada di atas tubuh gadis itu. Ia kemudian berucap singkat dan berlalu pergi sembari menutup pintu kamarnya.
“Sudah malam, kamu pasti lelah. Tidurlah…,” ucap Raka.
*****
          Raka yang masih penasaran dengan apa yang tiba-tiba membuat gadis itu berubah begitu drastis akhirnya melakukan panggilan kepada seseorang diseberang sana.
          Raka Calling
          “Hallo…Vid…,”
          “Iya, ada apa Ka…,”
          “Em…gue mau nanya,”
          “Nanya apa, pasti tentang Naura kan?”
          “Haahh bagaimana loe bisa tahu? Jangan bilang kalau loe ada di balik keberadaan Naura disini sekarang?”
          “Hahaha…bukan hanya gue saja, tapi nyokap dan bokap loe juga dalangnya. Jadi loe gak bisa melimpahkan semua kesalahan ke gue..,”
          “Sialan loe…,”
          “Hahaha…. Memangnya kenapa sih? Loe sampai nelpon gue malem-malem. Disana lagi tengah malem kan?”
          “Ya, gimana gue nggak nelpon loe, gue jadi ngerasa aneh aja dengan kelakuan Naura, kenapa dia jadi berubah seperti itu,”
          “Seperti apa lebih tepatnya?”
          “Eng…eng…dia jadi sedikit agresif…,” jelas Naura.
          “Hahaha…bukankah itu bagus?”
          “Bagus pala loe, gue malah ngira ada yang salah sama dia. Masak dia sampai berani cium gue, loe bayangin aja. Gimana gue nggak syok coba, sosok sepolos Naura yang gue kenal bisa ngelakuin itu,”
          “Hahaha…bukannya enak di loe ya kalau kayak gitu…,”
          “Ish..loe nih. Sejak kapan dia bisa nyium orang? Jangan bilang kalau loe yang ngajarin kan? Soalnya pas gue nanya ke dia kenapa dia sekarang manggil nama gue secara langsung tanpa embel-embel kak, dia bilang karna kata loe itu yang dilakukan sepasang kekasih? Jadi bukan tidak mungkin kan kalau loe juga yang ngajarin dia nyium orang. Apa itu ciuman pertama dia?”
          “Who knows….?”
          “Sialan loe,,,,”
          “Hahaha..kenapa nggak loe nanya sendiri sih ke orangnya Ka…,”
          “Ish…dasar ngomong sama loe nggak guna tau nggak sih. Yang ada gue bukannya dapat penjelasan mengenai alasan perubahannya malah semakin bingung,”
          “Kenapa loe harus nyari tahu alasan dia berubah sih Ka, jika nyatanya satu-satunya orang yang membuat dia berani melakukan hal seperti itu adalah seseorang yang berada di dekatnya saat ini…,”
          “Mak..maksud loe…dia berubah karena gue…?”
          “Iyalah, siapa lagi. Duuh gue nggak habis pikir deh sama loe, otak jenius, seorang dokter ahli eh tapi otak loe cetek banget kalau bicara soal cinta..,” jelas David.
          “Jadi alasan dia kesini adalah….,”
          “Buat jemput loe. Buat menebus semua kesalahan yang dia lakukan ke loe,”
          “Di..dia berarti sudah…,”
          “Ya, dia sudah tahu kebenarannya dari Raysa. Dia tahu bahwa sampai detik ini loe masih mencintai dia  terlepas dari rasa benci loe padanya karena sikap egoisnya. Loe nggak akan tahu bagaimana menderitanya dia ketika loe tiba-tiba menghilang tanpa kabar. Saat melihatnya seperti itu gue rasanya pingin banget terbang ke Jepang cuman untuk nonjok muka loe yang udah bikin dia menjadi seperti itu,”
          “Jadi..apa Naura masih mencin….,”
          “Kalau masalah itu, loe yang harus cari tahu sendiri Ka. Gue nggak bisa memberitahu loe karena gue gak berhak. Perasaan itu adalah milik Naura, jadi biarkan dia sendiri yang mengatakannya ke loe…,”
          “Ba..baiklah…,”
          “Oh, ya…satu hal. Jangan bilang ke dia kalau gue yang memberitahu ke loe tentang beberapa hal ini ke loe,”
          “Hahaha..loe kenapa? Takut?”
          “Sialan loe…loe sih masih belum tahu kan betapa galak dan sinisnya dia kalau lagi marah, ihhh nyeremin banget…,”
          “Hahaha…gue mah udah tahu kali Vid. Loe lupa kalau gue kenal dia lebih dulu dari loe?”
          “Oh…iya sih…hahaha… Ya sudah gue tutup dulu ya, selamat berjuang deh loe buat ngadepin Naura yang baru…hahaha….,”
          “Sialan loe, oke deh..thaks…,” ucap Raka mengakhiri percakapannya dengan David.
*****








[1] Selamat Pagi Raka
[2] Selamat Pagi, Minna
[3] Universitas, Rumah Sakit atau Penginapan
[4] Cuaca hari bagus bukan?