Tampilkan postingan dengan label Sepasang Mata di Balik Sakura. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sepasang Mata di Balik Sakura. Tampilkan semua postingan

Senin, 09 Juli 2018

Dua Belas

Edit Posted by with No comments


     Beberapa minggu kemudian acara pernikahan kami pun berlangsung. Acara pernikahan itu cukup sederhana. Hanya ijab qobul dan makan-makan dengan keluarga besar, kerabat dan teman-teman terdekat saja. Kami tidak dapat melakukan pernikahan yang mewah karena Park Young Ha harus terbang kembali ke Jepang untuk mengurus pembangunan cabang rumah sakit ayahnya. Tapi, kini dia tidak akan sendiri lagi terbang ke sana. Karena saat dia terbang kesana, aku akan berada di sisinya untuk menemaninya. Orangtuaku memang berat melepasku, tapi mereka tahu semua keputusan berada di tanganku. Dan mereka pun percaya padaku bahwa aku telah mengambil pilihan bijak yang tak akan pernah ku sesali nantinya.
Dapat ku lihat semua temanku berkumpul di sana. Orang tua angkat Park Young Ha juga menyempatkan diri untuk datang menghampiri pernikahan kami. Paman dan Bibi Park Young Ha yang ku kenal dengan nama Lee Tae Min dan Shin Eun Jung itu, mendampingi Park Young Ha sejak dia menginjakkan kaki ke Indonesia untuk meminangku hingga pernikahan ini berakhir. Dapat ku lihat juga Liena dan keluarganya hadir di sana. Disampingnya terdapat Yutaka yang menggendong putra pertama mereka. Sementara Tuan Yamato dan Nyonya Mayumi asyik mengobrol dengan besannya yang tidak lain dan tidak bukan adalah Pak Erwin dan Ibu Mira. Kakakku dia tersenyum lebar ke arahku dengan menggendong anak ke duanya yang baru lahir beberapa hari yang lalu sebelum pernikahanku.

            Usai ijab Qobul dan semua hal yang menyertainya, ketika semua orang sudah menyatakan sah. Dengan tiba-tiba Park Young Ha mengecup bibirku. Aku begitu kaget, sama halnya dengan semua orang yang berada disana. Semua orang yang berada di sana sontak terkejut dengan apa yang di lakukannya. Beberapa orang tua menutup mata anaknya yang masih kecil. Baginya, atau di negerinya mungkin hal itu sudah biasa, mereka bahkan sudah sering melakukan ciuman di depan umum bahkan meskipun belum menjadi mahramnya. Tapi, di negeriku yang berbeda jauh kebudayaannya hal itu masih terlihat tabu, walaupun kami sekarang sudah menjadi mahram dan halal satu sama lain.
“Kamu bilang aku bisa menciummu kalau aku sudah menjadi suamimu,” bisiknya padaku ketika itu.
Aku yang masih canggung karena semua orang memperhatikanku. “Iya, tapi tidak di tempat umum..,” bisikku.

            Dia mengerti apa maksudku, dan saat itu pula dia berdiri dan membungkuk minta ma’af kepada semua tamu yang hadir di pesta pernikahanku. Semua orang-orang itupun tertawa kecil melihat kelakuan Park Young Ha yang seperti anak kecil, yang segera meminta ma’af ketika dia berbuat salah, meskipun begitu aku menyukainya, menyukai seseorang yang masih seperti anak kecil yang lugu itu. Semua orang yang kebanyakan adalah kerabatku dan teman-teman dekatku itu dapat memaklumi tindakan Park Young Ha, pasalnya mereka semua tahu bahwa lelaki yang kini sudah menjadi imamku itu masilah seorang mu’alaf. Kakakku tersenyum lebar ke arah Park Young Ha dan menepuk bahunya. Dapat kulihat jelas kini kakakku membisikkan kata-kata pada telinga Park Young Ha. Aku yang berdiri di samping Park Young Ha untuk menyalami tamu-tamu yang mengucapkan selamat kepada kami berdua itupun samar-samar dapat mendengar bisikan kakakku pada Park Young Ha.
“Tidak apa, kau sudah menunggu dan menahannya cukup lama, aku bisa memakluminya,” bisik kakakku.
Park Young Ha yang mendengar itu tersenyum lebar, dan dia tersenyum pula ke arahku yang membuatku bersemu merah karena malu. Tapi, untuk menyembunyikan hal itu aku memfokuskan diriku untuk kembali menyalami tamu-tamuku.

            Sudah cukup malam ketika semua tamu itu pergi meninggalkan kami berdua. Aku sudah cukup lelah hari itu begitu pula dengan Park Young Ha. Kerabat orang tuaku memang cukup banyak. Maklumlah ini pernikahan terakhir anaknya, jadi orangtuaku mengundang semua kerabat besarku. Kami pun segera beristirahat untuk melepas kelelahan itu.
“Najwa chan...,” ucapnya.
“Iya..,”
“Aku boleh melihat mahkotamu?” tanyanya.
“Ya, tentu. Kau kini sudah menjadi imamku,” ucapku dengan senyuman ke arahnya.
            Dia tersenyum balik kearahku. Di bukanya perlahan hijab yang tengah menutupi mahkotaku itu olehnya. Dapat kulihat begitu takjubnya dia melihat rambut panjangku yang bersembunyi di balik hijabku. Dipegangnya rambutku dengan lembut olehnya.
“Rambutmu indah, Najwa chan. Aku begitu beruntung bisa melihat mahkota yang mati-matian kau lindungi itu,” ucapnya. “Najwa chan, Aku mencintaimu..,” ucapnya dalam bahasa Indonesia.
Aku sedikit terkejut mendengarnya. “Kau bisa bahasa Indonesia?”
“Iya, memangnya Najwa chan pikir aku hanya belajar bahasa Indonesia hanya untuk kata-kata yang ku ucapkan di ijab Qobul itu tadi?” ucapnya dengan sedikit manyun. “Aku sudah belajar keras agar bisa berbicara bahasa Indonesia dengan baik. Aku kan juga ingin bisa mengobrol dengan orang tuamu, tanpa harus kau yang menjadi penerjemah,” ucapnya kemudian masih dengan sedikit manyun.
Aku hanya memperhatikan kelakuan lucunya itu dan berbisik lembut di telinganya. “Sarangheyo. Sarangheyo..Young Ha sshi...,” ucapku. Dia terbelalak kaget mendengar perkataanku.
“Kau...bisa bahasa Korea?” tanyanya seketika.
Aku mengangguk. “Ya, aku minta kakakku mengajariku..,” ucapku. Dia tersenyum bahagia dan mengecup keningku.
“Najwa sshi,” ucapnya kini dengan bahasa korea.“Boleh aku menyentuhmu?” tanyanya.
Aku membisikkan kata-kataku di telinganya. “Iya, Young Ha sshi. Kini aku sudah halal bagimu, dan kau juga sudah halal bagiku. Kau kini sudah berhak atas diriku,” bisikku padanya. Dia memandangi wajahku dan tersenyum bahagia. Begitu pula dengan diriku. Aku melihat sepasang mata teduhnya, yang dulunya hanya bisa ku lihat tanpa sengaja di balik pohons akura itu, kini bisa kunikmati setiap hari dengan lebih dekat. Seketika itu juga ketika mata kami saling bertatap pandang, dia tersenyum dan segera meraihku dalam pelukannya.

            Aku masih bangun di setiap pertengahan malam. Aku masih menggelar sajadah panjangku dan bersimbuh kepada-Nya, sang pemilik alam semesta ini. Namun, kali ini aku tak bersimbuh untuk menangis, agar tuhan mengambil rasa cintaku kepada pemilik sepasang mata di balik sakura itu. Tapi, melainkan mengucap syukur atas segala kuasanya karena telah memberikan hadiah terindah dalam hidupku setelah semua hal yang telah terjadi.
Tuhanku, terima kasih...
Karena tlahh mengizinkanku untuk memilikinya
Karena tlah mengizinkan cinta ini untuk masih kumiliki
Tuhanku...
Bersama dengan lelaki yang telah menjadi imamku ini
Hamba berdo’a penuh pengharapan kepada-Mu
Agar Engkau bersedia menjaga cinta kami
Dalam keagungan dan keabadian kasih-Mu
Sampai akhir nanti
Hingga kami kembali menghadapmu

A.N.E





Sebelas

Edit Posted by with No comments


           Aku begitu terkejut ketika mendapati telepon rumahku berdering dan kudapati seseorang di seberang sana yang sudah ku kenal adalah seseorang yang sangat ku kenal dan ku nanti-nanti. Aku bertanya-tanya darimana dia dapat nomor telepon rumahku? Pikirku. Tapi, aku bisa menebak bahwa itu pastilah ulah kakakku karena sendari tadi dia senyum-senyum kecil melirikku yang dengan jantung berdebar-debar menerima telpon dari seseorang yang berada di seberang sana.
            Aku lebih terkejut lagi ketika aku mendengar bahwa dia sedang berada di sini sekarang, di kotaku, Yogyakarta. Aku berkali-kali bertanya padanya. Tapi, dia juga tetap memberikan jawaban yang sama. Dan mendengar jawabannya yang kelima kali dari pertanyaanku itulah aku percaya bahwa dia benar-benar berada di sini. Di tempat yang tak begitu jauh dariku. Di tempat yang tak lagi terpisah oleh didinding tinggi dari tempat itu. Di tempat dimana waktu tidak akan berbeda jauh dari tempat itu. Dia di Indonesia sekarang, benar-benar di Indonesia dan bukannya di negeri Jepang. Terlebih lagi, dia di Yogyakarta, di Bandara Adi Sucipto, dan memintaku untuk bersedia menjemputnya di sana. Karena ini pertama kalinya dia menginjakkan kakinya di Yogyakarta. Dia pernah beberapa kali datang ke Indonesia dengan ayah angkatnya dokter Dokuro, tapi itu hanya ke Bali.

Aku tahu kakakku sudah tahu sebelumnya tentang berita kedatangannya itu. Dia sudah berpakaian rapi dan menyiapkan kontak mobil di tangannya. Dia mengajakku untuk menemaninya. Aku menatap kakakku penuh selidik.
“Kak Nara..,”
“Apa?”
“Jujur deh, kakak sebenarnya sudah tahu kan dia mau datang?” Kakakku tidak menjawab pertanyaannku dan hanya tersenyum simpul ke arahku. “Kakak tega banget denganku?” ucapku.
“Kakak bilang, kakak sudah lama tidak berhubungan lagi dengannya. Tapi, kakak malah lebih tahu tentang keadaannya dariku,”
“Ma’af... kakak sebenarnya juga ingin memberi tahumu. Tapi, dia melarangnya,”
“Kenapa?”
“Dia hanya tidak ingin kau khawatir. Dia banyak mengalami kesulitan beberapa waktu lalu. Kau tahukan tak mudah baginya untuk bisa menjadi muslim?”
“Iya..,”
“Dia berusaha keras meyakinkan orang tua angkatnya bahwa itu adalah jalan yang terbaik untuknya,”
“Em..begitu, tapi tak seharusnya dia menyembunyikannya dariku. Dia menanggung kesedihannya sendiri tanpa ku tahu,” ucapku. “Terus, kalau akhir-akhir ini, kenapa dia tak menghubungiku sama sekali..,” tanyaku dengan manyun ke arah kakakku.
“Kalau masalah itu, sebaiknya kau tanyakan saja padanya,” ucap kakakku sembari mencubit pipiku.

            Tak beberapa lama kami pun tiba di bandara Adi Sucipto. Aku melihat dia yang melambai ke arahku dan kakakku. Tapi, yang kuherankan dia tidak datang sendiri ada dua orang separuh baya di sampingnya yang tak ku tahu dengan jelas itu siapa. Dari kejauhan, aku mengira dia pasti datang bersama dengan Dokter Dokuro dan Nyonya Misaki, orangtua angkat Park Young Ha, tapi ternyata bukan. Aku lebih terkejut lagi ketika melihat sang wanita mengenkan jilbab sama sepertiku. Dia tersenyum dan buru-buru berlari menghampiriku. Hampir-hampir saja dia melepaskan kerinduannya dengan memelukku, jika saja kakakku tidak berdehem untuk memperingatkannya.
“Tunggu, sampai aku menjadi halal bagimu...,” ucapku berbisik ke telinganya dan dia pun tersenyum mendengar kata-kata itu.
“Aishiteru[1],” ucapnya padaku. Dan aku memberikan senyuman termanisku untuknya.
            Sebelum naik ke mobil, dia memperkenalkan dua orang pria dan wanita yang berdiri di sampingnya. Kedua orang itu adalah paman dan bibi Park Young Ha yang dengan susah payah di carinya selama lebih dari satu tahun. Dia begitu bersyukur jika ternyata paman dan bibinya juga menganut agama yang sama dengannya. Untuk mencari kedua orang itulah dia tidak bisa menghubungiku lewat email selama beberapa bulan. Sebenarnya, yang di carinya adalah orang tua kandungnya tapi kedua orang tuanya sudah meninggal akibat kecelakaan mobil setelah memberikan Park Young Ha ke panti asuhan. Sementara itu, paman dan bibinya tidak tahu kalau kakaknya memiliki seorang putra. Karena mereka berdua sudah di usir dari keluarga besarnya karena menganut agama islam.

            Orangtuaku menyambut kedatangan Park Young Ha beserta Paman dan Bibinya, dengan ramah. Mereka membicarakan maksud kedatangan mereka kemari bahwa ingin segera meminangku. Aku yang saat itu hanya memakai gamis biasa begitu terkejut mendengar hal itu. Ketika aku membuatkan minum dan menyiapkan makanan kecil di dapur ibu berbisik kecil ke arahku.
“Oh, jadi pemuda itu, yang membuat anak gadis ibu rela menjadi perawan tua,” ucap ibuku.
“Ibu...Tapi, ibu menyetujuinya bukan?”tanyaku dengan malu-malu.
“Setuju apa?”
“Ya, setuju jika dia mau jadi imamku,”
“Kau yakin itu maksud kedatangannya kesini...?” goda ibu padaku. Aku mengangguk malu. “Ya, bagaimana ya...,”
“Ibu...,”
“Bagaimana mungkin ibu tidak menyetujuinya. Ketika ibu tahu sendiri anak gadis ibu ini sudah menjaga dirinya begitu lama hanya untuk menunggu pemuda itu meminangnya,” ucap ibuku. Aku langsung memeluk ibuku dan mencium sebelah pipinya.
“Terima kasih...,” ucapku.
“Ya, ma’afkan ibu karna bersikap kasar padamu dan memaki pemuda itu,”
“Iya, aku tahu bahwa sebenarnya ibu tidak bermaksud seperti itu,”
“Anak gadis ibu satu-satunya akan menjadi istri orang. Ibu harap dia pilihan yang tepat untukmu. Sekali lagi, ma’afkan ibu karena sempat menghalangi jalanmu,” ucap ibuku dengan berlinang air mata dan memelukku dengan eratnya. Aku pun membalas pelukan ibuku dengan tak kalah hangatnya.





[1] Aku mencintaimu.

Sepuluh

Edit Posted by with No comments


             Studiku sudah berakhir di negeri sakura ini, dan kini saatnya aku harus kembali. Aku harus kembali ke negeriku, Indonesia. Aku tak akan lagi merasakan hangat dan lembutnya udara musim semi dan betapa indahnya kenangan-kenangan yang pernah ku lalui di musim semi. Aku juga harus meninggalkan dia yang sangat ku cintai di sini. Sementara aku kembali, tidak dengan Liena. Liena menerima ajakan Yutaka untuk bertunangan dan menikah dengannya. Dan itupun sudah mendapat persetujuan dari ke dua orang tua Liena. Karena itu dia menetap di sana sampai pesta pernikahan itu berlansung dan mungkin dia selamanya akan menetap di sana bersama Yutaka. Dia menyuruhku untuk menghadiri pesta pernikahannya di Jepang beberapa bulan lagi. Dan aku mengiyakan untuk itu.
            Liena memelukku ketika aku berpamitan untuk pergi ke bandara hari ini. Hal yang sama juga di lakukan oleh Nyonya Mayumi dan anak perempuannya. Mataku sempat berkaca-kaca ketika berpisah dengan mereka. Bagaimana tidak, mereka sudah ku anggap seperti keluargaku sendiri. Menjagaku saat aku sakit dan membantuku saat aku mendapat kesulitan. Aku sungguh-sungguh bersyukur karena Tuhan mengirimkan orang-orang baik itu kepadaku.Usai acara perpisahan itu, aku langsung melesat menuju bandara Narita dengan mobil yang di kemudikan oleh Park Young Ha.

            Dengan seizinku, Park Young Ha terus menggenggam sebelah tangannku sampai kami tiba di bandara. Rasanya, ia tak ingin melepas tanganku dari genggamannya. Aku bisa memahaminya sama seperti dirinya aku juga rasanya berat untuk berpisah darinya. Kami sering menghabiskan waktu bersama, belajar bersama dan bahkan merawat orang-orang di rumah sakit bersama-sama. Tapi, kebersamaan itu sekarang harus berakhir. Pernah suatu ketika aku berkata padanya bahwa jika dia merindukanku, dia hanya harus menatap langit biru karena aku juga akan melakukan hal yang sama jika aku merindukannya. Aku percaya ketika kami berdua sama-sama memandang langit biru di saat itulah mata kami akan saling bertemu.
“Najwa chan, aku pasti akan merindukanmu,”
“Ya, begitu juga denganku,”
“Berhati-hatilah Najwa chan. Tunggu aku, aku akan datang ke sana suatu saat nanti. Dan ku harap saat aku disana kau masih bersedia menungguku. Aku mohon berjanjilah padaku Najwa chan. Berjanjilah padaku, berjanjilah kau bersedia menungguku,” ucapnya.
“Young Ha kun...,”
“Aku tidak akan mengingkari janjiku yang ku buat padamu. Aku pasti akan datang suatu saat nanti,”
“Hmm...aku akan menunggumu. Tapi, aku tidak bisa menjanjikan untuk menunggumu sampai akhir. Karena kau tahu itu tidak akan mungkin. Aku akan menunggumu semampuku. Dan ku harap kau segera memenuhi janjimu  sebelum aku mencapai batasku,”
“Ya, pasti,” sembari melambaikan tangannya dan tersenyum lebar yang ku tahu itu di paksakannya karena ku dapati kesedihan dalam sepasang mata teduh itu. Aku pun tersenyum balik meski itu juga ku paksakan. Karena aku takut, jika benar ini pertemuan terakhir di antara kami aku hanya ingin memberi kesan bahagia dalam kenangan terkahirku dengannya.

            Sudah setahun lebih aku berada di Indonesia, tepatnya di Yogyakarta. Aku melakukan rutinitasku sebagai dosen di universitas yang telah memberi gelar doktor ini kepadaku. Dan tentunya menjadi dosen di bidang kedokteran. Aku memang tak bekerja di rumah sakit, tapi jika ada waktu senggang aku selalu menghabiskan waktu untuk sekedar membantu di sana. Karena rumah sakit itu, juga rumah sakit kampus jadi aku juga berkewajiban untuk mengelolanya dengan baik juga.
            Ibuku berkali-kali memarahiku karena aku tidak mau menikah-menikah padahal sudah banyak pria berdatangan silih berganti meminangku, tapi aku tetap saja menolaknya. Aku masih ingin menunggu, menunggu pemilik sepasang mata di balik sakura yang telah mencuri hatiku itu. Tapi, ibuku tetap saja tak mau mengerti hatiku. Dia tetap saja ingin aku segera menikah karena usiaku sudah tidak muda lagi. Terlebih lagi, karena kakak iparku sudah mau melahirkan anak keduanya.
“Najwa, sampai kapan kau harus menunggu pemuda itu. Pemuda itu hanya membohongimu, dia sama saja dengan orang-orang kafir lainnya?” Ibuku naik pitam dan memarahiku.
“Ibu, dia sudah masuk islam. Dia sudah jadi mu’alaf, aku tidak mau ibu menyebutnya pemuda kafir lagi,” ucapku dengan linangan air mata. Aku tahu ibuku tak bermaksud menyakitiku. Aku tahu ibu sebenarnya tak ingin melontarkan kata-kata kasar itu. Karena ini pertama kalinya aku mendengar ibuku melontarkan kata kasar itu.
            Sudah beberapa bulan yang lalu sejak aku menerima email darinya bahwa dia sudah masuk islam. Di kirimkannya beberapa fotonya, dengan kiyai yang dia temui yang mengajarinya tentang agama dan cara membaca Al-Qur’an. Dia pun sempat memperdengarkan bacaan Al-Qurannya padaku meski masih belum begitu lancar. Tapi, aku menyukainya. Aku menyukai jika lelaki itu sudah menetapkan hatinya untuk masuk agama islam, sehingga dia menjadi saudara seimanku. Tapi, setelah semua itu dia tak pernah mengirim kabar apapun lagi. Entah apa yang tengah di lakukannya di sana? Terlalu sibukkah dia hingga tidak sempat mengabariku? Pikiran seperti itu selalu menghampiriku.

            Tapi, untunglah ada kakakku. Kakakku yang mengambil cuti selama beberapa minggu karena anaknya mau lahir itu selalu membantuku. Dia selalu bisa melerai pertengkaran antara aku dan ibu. Dia selalu bisa membujuk ibuku untuk membiarkanku pada pilihanku. Dan dia juga selalu ada untuk menjaga hatiku.
“Najwa...,”
“Iya, kak...,”
“Kau, masih mau menunggunya?” Aku tak menjawab dan hanya mengangguk. “Sebaiknya kau sholat istikharah untuk meminta petunjuk,” usul kakakku.
“Aku sudah melakukannya kak. Aku malah melakukannya setiap hari,”
“Trus..apa hasilnya?”
“Aku masih tetap mantap untuk menunggu. Aku percaya, bahwa dia akan datang dan penuhi janjinya. Bukankah kakak sudah memastikan sendiri bahwa dia tidak pernah berbohong dengan perkataannya?”
“Iya, aku memang memastikannya. Aku memastikan bahwa dia sudah benar-benar menjadi muslim. Tapi, aku tidak bisa jamin bahwa lelaki dengan masa lalu seperti dia bisa menjadi imam yang terbaik untukmu,”
“Tidak ada yang terbaik di dunia ini kecuali Allah kak. Allahlah pemilik semua kebaikan dan kesempurnaan itu. Dan aku mencintainya, bukan karena wajah tampannya atau kebaikan hatinya. Aku mencintainya karena ku percaya bahwa dialah imam yang Allah takdirkan untukku. Dan mengenai masa lalunya itu? Aku mungkin memang tidak bisa menghapus masa lalunya yang kelam itu, tapi aku akan berusaha untuk menjadikan masa depannya indah bersamaku dengan izin Allah,”
“Iya, baiklah jika kau berpikir seperti itu. Dan bersedia menerima dia beserta masa lalunya,”




Sembilan

Edit Posted by with No comments


         Musim semi kali ini Park Young Ha mengajakku untuk mengunjungi tempat pertama kalinya kami bertemu yaitu di Kuil Budha di Nara. Dia janji akan menjemputku sore ini. Aku sudah bersiap dan bermaksud menunggunya di lantai bawah agar dia tidak perlu pergi ke lantai atas untuk menjemputku. Di rumah Tuan Yamato dan Nyonya Mayumi, aku melihat Yutaka dan adiknya tengah mengatur taman di pekarangan rumahnya. Aku pun menghampiri mereka dan bermaksud untuk membantu. Di tengah kesibukan kami menata taman kami pun berbincang santai.
“Kau tidak pergi melihat festival musim semi?” tanyaku memulai pembicaraan.
“Tidak Najwa san, tidak ada teman,” ucapnya.
“Kenapa tidak mengajak Liena, biasanya kau selalu pergi bersamanya?” tanyaku.
“Em..Liena chan sudah ada janji,”
“Benarkah? Tidak biasanya, dia pergi dengan orang lain. Memangnya siapa dia?”
“Aku tidak tahu Najwa chan. Dia seorang pria, barusan saja dia lewat sini menjemput Liena chan dengan mobilnya,” jelasnya dengan wajah sedikit kesal.

            Aku tahu Yutaka Ikeda, diam-diam menyukai Liena. Mereka sering menghabiskan waktu bersama dan berpergian bersama. Tapi, kali ini Liena pergi dengan teman prianya yang lain. Dan aku tahu itu membuat Yutaka sedikit kesal dan sakit hati. Dia menghabiskan waktu yang biasanya di habiskannya dengan Liena, dengan menyibukkan dirinya menata taman dengan di temani adiknya yang kini sudah masuk SMP itu.
“Yutaka kun..kenapa kau tidak berterus terang saja padanya?” ucapku.
“Apa maksud Najwa chan..?” ucapnya malu-malu. Meskipun dia sebenarnya sudah tahu apa maksud pertanyaanku tapi dia tetap saja bertanya balik.
“Em..Yutaka kun, kau tidak bisa menyembunyikannya dariku,” ucapku lagi. Aku keasyikan menggoda lelaki yang kini sibuk dengan pot-pot yang di pegangnya.
“Wah...apa kelihatan jelas ya..Najwa chan...,” serunya dengan gayanya yang lucu itu.
“Iya,” ucapku. Dan kami pun sontak tertawa bersama-sama.

Yutaka memang tipe orang yang sangat enak di ajak ngobrol apalagi di ajak bercanda seperti ini. Dia terlihat begitu lucu saat menyembunyikan perasaannya kepada Liena itu. Kadang aku berpikir apakah wajahku juga tampak begitu lucu sepertinya ketika aku menyembunyikan perasaanku pada Park Young Ha? Saat kami tengah asyik tertawa terdengar sebuah mobil berhenti tepat di depan halaman rumah Yutaka. Aku pun bisa langsung menebak siapa pemiliki mobil itu.
“Najwa chan mau pergi?” tanya Yutaka.
“Iya,” jawabku singkat. “Tuh sudah ada yang menjemput,” ucapku sembari menunjuk Park Young Ha yang menghampiri tempatku dan Yutaka berada.
“Waah..kalau tahu begitu, tadi aku tidak akan mengizinkan Najwa chan untuk membantu. Tangan Najwa chan jadi kotor karena tanah-tanah ini,” ucapnya.
“Ah, tak masalah aku bisa membersihkannya,” ucapku sembari membersihkan tanganku dengan air di kran yang terdapat tak jauh dari halaman rumah keluarga Ikeda itu.

            Sementara aku mencuci tanganku, dari jarak yang tidak terlalu jauh itu aku bisa melihat Park Young Ha sedang asyik bercakap-cakap dengan Yutaka, meskipun aku tidak tahu apa yang mereka bicarakan. Setelah mencuci tanganku, aku langsung menghampiri Park Young Ha dan mengajakknya pergi.
“Yutaka kun, aku pergi dulu ya,” pamitku pada Yutaka.
“Iya, Najwa chan. Hati-hati..,” ucapnya kepadaku dan Park Young Ha.
            Aku mencium gelagat aneh dari Park Young Ha hari ini. Sejak pergi meninggalkan halaman rumah keluarga Ikeda hingga kami tiba di Nara. Biasanya dia paling banyak omong dan dia sangat tahu jika aku tak bisa memulai pembicaraan dengannya terlebih dahulu. Karena dia tahu kebiasaanku itu, karena itu dia sering memulai pembicaraan di  antara kami terlebih dahulu. Tapi kali ini, dia berdiam seribu bahasa meskipun kami sudah berjalan berkeliling beberapa menit untuk mencari tempat kosong untuk duduk dan menikmati hanami. Aku memberanikan diriku untuk memulai pembicaraan.
“Young Ha kun, ada apa? Kau sedang ada masalah?” tanyaku. Dia tidak menjawab dan hanya menggelengkan kepalanya. “Terus kenapa diam saja?” tanyaku.
Dia masih tidak menjawab pertanyaanku. “Najwa chan, menurutmu Yutaka san itu orangnya bagaimana?” tanyanya seketika yang membuatku sedikit terkejut.
“Oh, Yutaka kun. Emm..dia orangnya baik. Sangat baik malah, dia sering membantuku mengganti lampu kamarku jika mati,” jelasku. Tapi Park Young Ha malah aneh setelah mendengar jawabanku. “Kenapa tiba-tiba bertanya tentany Yutaka san?” tanyaku. Tapi dia tetap saja tidak mau menjawab pertanyaan-pertanyaan yang ku lontarkan untukknya.
“Kalau aku...Dimata Najwa chan aku ini orang yang seperti apa?” tanyanya tiba-tiba yang membuatku kini begitu terkejut. Jantungku berdebar kencang dan seolah udara musim semi yang biasanya lembut dan hangat kini berubah panas. Aku masih belum menjawab pertanyaannya selama beberapa menit. Hingga dia pun berkata lagi. “Di tempat itu, pertama kalinya aku melihat Najwa chan,” ucapnya sembari menunjuk pohon sakura tempat dulu dia pernah bermesraan dengan kekasihnya. “Saat melihatku untuk pertama kalinya, Najwa chan berpikir aku ini orang yang seperti apa?” tanyanya kemudian.
Aku menarik napas panjang dan mencoba untuk memberikan jawaban dari pertanyaan-pertanyaan yang di ajukannya waktu itu. “Saat pertama kali aku melihatmu, aku berpikir kau bukanlah orang yang baik,”
“Ah, benarkah...?”
“Aku tidak berpikir kau adalah orang baik, karena kau bermesraan dengan pacarmu di tempat umum. Tapi, saat aku bertemu denganmu melihatmu lagi di hari yang sama dan di tempat ini juga aku langsung mengubah persepsiku tentangmu bahwa kau adalah orang yang baik karena telah menolongku agar aku tidak terjatuh. Dan untuk yang ketiga kalinya ketika aku melihatmu....,”
“Untuk yang ketiga kalinya kau berpikir apa tentangku Najwa chan?” tanyanya penuh penasaran.
“Untuk ketiga kalinya saat itu aku berpikir bahwa kau....kau adalah orang yang aneh,” ucapku. Bagaimana mungkin kau asyik melihatku sementara di sampingmu sedang ada seorang wanita yang berulang kali mengajakmu bicara tapi kau malah tak memperhatikannya,” tegasku.
“Ternyata..kau memperhatikannya Najwa chan...,”
“Memperhatikan apa?”
“Kau memperhatikan setiap detail kejadian saat mata kita tak sengaja saling bertemu. Kau juga bahkan memperhatikan saat aku dengan sengaja menikmati wajahmu dari jauh ketika ketiga kalinya kita bertemu di hari itu,” ucapnya dengan senyum kecil ke arahku.
“Maksudmu, kau memperhatikanku dengan sengaja di pertemuan ke tiga itu karena kau merasa aneh dengan penampilanku?” tanyaku dengan sedikit culas.
“Bukan...bukan...karena itu..,”
“Terus kenapa?”
“Karena matamu. Matamu begitu indah Najwa chan..,” ucapnya yang membuatku sontak begitu kaget.

            Sejenak kami dilanda keheningan. Kami melanjutkan perjalanan kami menyusuri kuil dan menikmati pemandangan bunga sakura yang bersemi dengan indahnya. Kami juga memperhatikan kelakuan setiap orang yang berada di sana. Kami sama-sama membisu saat itu. Seolah kami sama-sama tak mempunyai keberanian untuk memulai pembicaraan lagi. Aku masih mencari arti dari kata-kata Park Young Ha yang membuatku begitu terkejut beberapa jam yang lalu. Tanpa kusadari bahwa lelaki di sampingku ini, kini memberanikan dirinya untuk memulai pembicaraan lagi denganku.
“Najwa chan..,”
“Iya..,”
“Kalau yang sekarang?”
“Yang sekarang apa?”
“Pendapatmu? Bagaimana pendapatmu tentang aku yang sekarang?”
Aku kembali terkejut di buatnya. Seolah hari ini dia sedang mengeluarkan banyak pertanyaan yang seolah bom yang akan membombarding segel dalam hatiku yang tertutup rapat untuk menyembunyikan perasaanku. Aku memutar otakku, untuk mencari kata-kata, tapi aku tak bisa menemukan kata yang tepat. Tidak..tepatnya bukannya aku tidak menemukannya. Hanya saja aku tidak ingin mengatakannya. Seolah mengalihkan perhatiaannya yang telah menunggu jawabanku aku bertanya hal yang sama padanya.
“Kalau menurut Young Ha kun sendiri, aku ini orang seperti apa?”
Dia tidak langsung menjawab pertanyaanku. Dia tahu aku mengajukan pertanyaan yang sama untuknya hanya untuk menghindari jawaban dari pertanyaan yang telah di lontarkannya terlebih dulu. Dia tersenyum simpul dan berkata.
“Najwa chan di mataku...masih tetap saja sama,” ucapnya sambil tersenyum simpul ke arahku. “Masih tetap membuatku tidak bisa tidur setiap kali ku lihat mata indahmu. Tidak hanya di hari itu, tapi hingga kini pun aku masih tidak bisa tidur setiap kali aku merasa rindu untuk melihat sepasang mata indah yang tanpa sengaja menatapku itu,” ucapnya.
            Deg, Jantungku seolah berhenti berdetak setelah mendengar pernyataan Park Young Ha itu. Lelaki ini jangan..jangan...,” pikirku. Dan pikiranku itu benar saat aku mendengar dengan jelas perkataan yang di katakannya setelah jeda beberapa menit dari perkataannya yang tadi.
“Aku menyukaimu, Najwa chan. Sejak kita pertama kali bertemu saat itu. Percaya ataupun tidak tapi itulah kenyataan hatiku,” ucapnya dengan tersenyum manis yang di perlihatkannya untukku. Aku masih terdiam dengan pikiranku sendiri jika saja dia tidak mengajukan pertanyaannya selanjutnya. “Bagaimana dengan Najwa chan sendiri?” tanyanya.
            Aku terdiam dalam waktu yang lama memikirkan pertanyaannya. Aku memilih jawaban dari dalam hatiku. Jawaban yang tidak akan ku sesali suatu saat nanti. Jawaban yang benar-benar berasal dari hatiku yang terdalam.
“Saat aku tanpa sengaja melihat sepasang mata di balik sakura saat itu..aku juga tidak bisa melupakan laki-laki itu. Itu karena.....aku juga merasakan hal yang sama dengan lelaki itu,” ucapku dengan malu-malu.
            Dapat kulihat senyum manis merekah di wajah yang sedari tadi diselimuti kekhawatiran itu. Dia bahagia begitu pula dengan diriku. Begitu bahagianya dia hampir-hampir saja meraih dan merengkuhku dalam pelukannya tapi untung saja aku cepat-cepat menjauh dan menghindar darinya. Dia yang seolah tahu, alasanku menolak langsung membungkukkan badan untuk meminta ma’af ke arahku. Dan aku yang melihat itu, tersenyum simpul ke arahnya.
“Terima kasih, sudah mau menghormati dan menghargaiku...,” desahku.




Delapan

Edit Posted by with No comments


            Sepanjang liburan musim panas ini, aku menghabiskan waktuku untuk membantu Park Young Ha di rumah sakit. Sebentar lagi, lelaki dengan sepasang mata teduh itu akan segera menyelesaikan gelar doktornya dan membantu ayah angkatnya untuk mengurus rumah sakit ayahnya di Tokyo ini. Saat jam istirahat kami makan di kantin rumah sakit dan berbincang kecil.
“Najwa chan, kenapa seorang wanita muslim itu harus memakai tudung kepala?”tanyanya.
“Jilbab maksudmu?”
“Ya, seperti yang kau kenakan itu?”
“Oh, ini gunanya untuk menutup aurat. Kau pasti sudah membaca bukan bahwa aurat wanita adalah seluruh anggota badan kecuali pergelangan tangan dan wajah?” tanyaku balik.
“Iya..,”
“Nah, karena itu maka seorang wanita sudah seharusnya menggunakan penutup kepala atau kerudung agar dapat menutup aurat bagian atasnya itu,” jelasku.
“Oh, begitu. Aku sering membaca dan mungkin semua orang juga sudah pada tahu bahwa mahkota seorang wanita adalah pada rambutnya. Banyak wanita yang menghabiskan jutaan atau bahkan puluhan juta untuk mempercantik diri dan merawat mahkotahnya itu sebaik mungkin agar terlihat cantik di depan banyak orang terutama di kalangan pria. Dan yang ku tahu tidak semua muslim wanita memakai kerudung contohnya saja si Liena itu. Bukankah dia islam juga?” ucapnya.
“Ya,” jawabku singkat.
“Terus, bolehkah ku tahu kenapa kau lebih memilih untuk menutup kepalamu? Apakah kau tidak gerah dengan itu? Terlebih di musim panas seperti saat ini?” tanyanya.
“Alasannya ya sama seperti yang telah kau pelajari itu. Aku hanya ingin mematuhi kewajibanku sebagai seorang wanita muslim yang menutup semua auratku seperti perintah agama. Kau bertanya apakah tidak gerah?” tantaku balik kepadanya untuk mempertegas pertanyaannya yang diajukan padaku tadi. Dan dia pun menggangguk mengiyakan. “Kalau kau melakukan semuanya itu dari hati, maka kau tidak akan merasakan kegerahan sedikitpun. Malah, kenyamanan dan keamanan yang akan kau peroleh. Dengan menutup aurat dan memakai hijab identitasmu mudah di kenali bahwa kau adalah seorang muslim, dan itu semua juga dapat menghindarkanmu dari kejahatan ataupun bahaya lainnya,” jelasku.
“Oh, jadi kau melakukannya dengan hati. Pantas saja kau tidak merasa gerah,” ucapnya menyela kata-kata yang hendak ku ucapkan selanjutnya.
“Menggunakan mahkota atau penampilannya untuk menarik pria? Em..kalau aku, aku tidak akan melakukan semua itu hanya untuk menarik perhatian seorang pria. Bagiku, tidak apa-apa meski tidak ada pria yang akan tertarik padaku, karena suatu saat nanti Tuhan pasti akan mengirimkannya untukku, karena Sang Maha Pencipta itu sudah menetapkan manusia dengan jodohnya masing-masing. Lagipula.....,”ucapku terhenti.
“Lagi pula kenapa Najwa chan...?” tanya Park Young Ha penasaran akan lanjutan kata-kataku.
“Lagi pula aku hanya ingin memperlihatkan mahkotahku pada seseorang yang sudah menjadi imamku...,” ucapku dengan malu-malu.
“Em... aku berharap itu aku. Aku berharap bisa menjadi imammu,” ucap Park Young Ha yang sontak membuatku kaget dan tersedak seperti yang sudah-sudah.
“Najwa chan..kenapa kau selalu tersedak seperti ini,” ucapnya sembari sibuk seperti biasa untuk mengambilkanku minum.

            Aku jadi teringat pesan kakakku di bandara waktu itu sebelum kakakku terbang ke Indonesia.
“Kakak rasa, sama seperti dirimu, Park Young Ha juga merasakan hal yang sama denganmu.,” ucapnya. “Kakak tidak tahu apakah penilaian atau dugaan kakak itu benar atau salah. Tapi, jikalau itu benar kakak hanya ingin dapat menguasai hatimu. Jangan sekali-kali memaksanya untuk masuk agama kita agar kau bisa bersamanya. Biarkan dia menentukan dan memutuskan jalannya sendiri. Kita hanya perlu menjadi penuntunya. Kita harus bersyukur jika Tuhan memberikan hidayahnya pada Young Ha, tapi jika tidak maka kakak ingin kau menyerah,”
            Perkataan kakakku itu selalu berkecamuk di pikiranku. Aku selalu bertanya-tanya dalam hatiku benarkah pria di hadapanku itu mempunyai perasaan yang sama denganku? Benarkah dia benar-benar berencana masuk islam? Benarkah pria itu yang Tuhan takdirkan untuk jadi imamku? Aku bertanya-tanya tanpa henti pada diriku sendiri dan pada Tuhan dalam setiap sholat dan do’aku. Tapi, aku masih saja belum mendapat jawaban ataupun petunjukknya. “Lantas haruskah aku menyerah?”pikirkku seketika.

            Park Young Ha yang melihatku terdiam dan sibuk dalam pikiranku sendiri akhirnya membuyarkan lamunanku.
“Najwa chan, kau kenapa?” tanyanya.
“Ah..tidak aku tidak kenapa-kenapa. Dan tiba-tiba saja aku ingin bertanya sesuatu pada pria di hadapanku itu. Tentang pertanyaan kakakku kepada pria itu beberapa waktu lalu. Tentang pertanyaan yang juga akhir-akhir ini memenuhi otakku. “Young Ha kun...,” tegurku.
“Iya, ada apa Najwa chan?”
“Em...boleh aku tahu sesuatu?”
“Tentang apa?”
“Em..mengenai pembicaraanmu dengan kakakku beberapa waktu lalu. Tentang gadis muslim itu. Benarkah kau ingin masuk islam karena gadis itu? Boleh kah aku tahu siapa gadis muslim itu?” tanyaku.
Park Young Ha melihatku dan menyelidik ke arah mataku. Aku segera memalingkan wajahku dari pandangannya.  Kemudian dan tersenyum kecil dan kemudian berkata.” Aku memang sejak dulu tertarik dengan agama islam. Kau bisa tanya pada kakakmu sendiri bahwa sejak dulu aku sering bertanya pada kakakkmu tentang agama islam. Tentang alasan kenapa aku memutuskan untuk berencana masuk islam, itu bukan karena gadis itu. Sejak dulu rencana itu memang selalu ku pikirkan, tapi aku masih belum mantap seperti saat ini. Salah satu alasan yang membuatku mantap adalah ketika aku mendengar seseorang membaca kitabnya dengan lirih dan indah. Dan aku bisa merasakan suara ayat suci itu sampai ke tulang-tulangku dan membuatku merasa nyaman. Aku memutuskan untuk sering mendengarkan suara-suara seperti itu lagi untuk meyakinkan diriku. Dan benar bahwa memang karena itu, aku merasa nyaman dan tenang juga tentram setiap kali aku mendengarnya terlebih ketika aku berusaha untuk mempelajarinya,” jelasnya.
“Oh...begitu...,” ucapku.
“Kalau tentang gadis muslim itu...?”
“Kenapa? Apa aku mengenalnya? Apa dia teman satu kampus kita?” tanyaku beruntun dan itu tentu membuat Park Young Ha tersenyum melihat tingkahku yang sungguh ingin tahu. Aku merasa malu dan enggan tuk melihat matanya menatapku karena ku tahu dia pasti akan mencari jawaban dari sikapku yang tidak wajar dari mataku ini karena mata adalah indera yang mampu memberikan jawaban yang paling benar dan paling tidak bisa berbohong.
“Tentang gadis itu...suatu saat nanti Najwa chan juga akan mengetahuinya sendiri,” ucapnya dengan senyum simpul padaku.




Tujuh

Edit Posted by with No comments


            Seminggu ini, aku jarang bertemu dengan Park Young Ha, karena dia bilang dia harus mengurus rumah sakit selama dokter Dokuro pergi untuk mengikuti seminar kedokteran di negeri Tirai Bambu itu. Aku bergegas berjalan pulang setelah kuliahku berakhir. Aku masih ingin berlama-lama di flat dengan kakakku karena besok dia sudah harus terbang pulang dan meninggalkanku sendiri di negeri ini. Ku siapkan makan siang untuk kakakku tapi, dia tidak ingin langsung makan. Dia bilang ada seseorang yang ditunggunya yang akan datang dan ikut makan malam bersama.
            Entah kali ini karena takdir lagi yang Tuhan tentukan, ataukah memang karena ulah kakakku yang memang masih penuh selidik untuk memastikan hubunganku dengan Park Young Ha. Karena ku dapati dia masuk kamar flatku ketika kakakku membukakan pintu. Kakakku mengajaknya makan siang bersama dan mengobrol kecil setelahnya.
“Kau sepertinya sudah hafal tempat ini, padahal seingatku aku belum memberitahumu berapa nomor kamar adikku?” tanya kakakku penuh selidik lagi pada Park Young Ha.

Aku dapat melihat pria dengan sepasang mata teduh dan sayu itu kebingungan mencari jawaban. Hingga dia pun akhirnya menjawab pertanyaan kakakku dengan kikuk. Ini pertama kalinya aku melihat dia terlihat begitu kikuk di hadapan orang lain. Biasanya dia selalu berpenampilan percaya diri di depan semua orang tapi kali ini dia berbeda. Aku tahu semua itu karena pertanyaan kakakku yang bukan sekedar pertanyaan biasa, malah bisa di bilang seperti sebuah pertanyaan introgasi seorang polisi kepada tersangka.
“It..tu..karena... Nara san, ma’afkan aku. Aku tidak bermaksud membohongimu. Aku memang sudah pernah beberapa kali kesini. Tapi, aku tidak pernah sama sekali masuk ke dalam kamar adikmu ini jika dia sendiri, karena dia tidak akan mengizinkan aku untuk masuk. Setiap kali aku ingin menemuinya atau mengajaknya pergi aku pasti akan menunggu di rumah Yutaka san, atau jika kebetulan mereka semua sedang tidak ada, aku menunggu di kamar Liena. Sungguh, aku tidak berlaku macam-macam pada adikmu..,” jelasnya dengan sangat detail tanpa melewatkan semua hal kecil sedikitpun. Dan aku juga membenarkan semua perkataannya itu, karena memang itulah kenyataannya. Dia menunduk tak berani memandang kakakku. Dapat ku tahu betapa rasa bersalah tengah menghampirinya saat itu. Dia begitu takut bahwa kakakku tidak akan mempercayai semua perkataannya itu.
“Hahaha... aku percaya padamu Park Young Ha. Ah, tidak, lebih dari itu aku percaya seratus persen pada adikku sendiri. Jadi kau jangan merasa bersalah seperti itu,” ucap kakakku. Park Young Ha yang mendengar tawa kakakku itu segera mendongakkan kepalanya dan kembali melihat seseorang yang berbicara di hadapannya itu. Sementara aku, hanya tertawa kecil sembari menundukkan kepalaku dan kelakuanku yang masih sibuk menyantap makan siangku. “Sudah berapa lama kau mengenal adikku?” tanya kakakku kemudian.
“Em..kira-kira sudah setahun lebih, Nara san,”
“Oh, sudah selama itu. Lantas di antara kalian berdua.....,”
Seolah tahu apa yang akan di katakan kakakku aku langsung menjawab pertanyaan yang ku tahu kemana arah pertanyaan itu. Tapi, tak kusangka bahwa Park Young Ha juga mengatakan hal yang sama denganku dalam waktu yang bersamaan.
“Tidak..ada apa-apa,” ucapku dan Park Young Ha serempak.
“Wah kalian kompak sekali,” ucapnya dengan tersenyum lebar ke arahku dan Park Young Ha. “Baguslah kalau begitu,” ucapnya kemudian.

            Kakakku sudah menyelesaikan makannya beberapa menit lalu begitu pula dengan Park Young Ha. Dan aku pun sibuk mencuci piring-piring kotor itu di dapur. Usai, mencuci piring-piring kotor itu aku langsung menuju meja belajarku untuk membaca beberapa buku dan mengerjakan beberapa tugas kuliahku. Walau, aku tidak berada di antara mereka lagi tapi aku masih bisa mendengar percakapan diantara mereka.
“Besok aku akan balik ke Indonesia,” ucap kakakku. “Ini beberapa buku yang bisa kau pelajari,” dari ucapannya yang satu itu aku tahu bahwa dia tengah memberikan bingkisan buku-buku tentang agama islam ke padanya. Pasalnya semalam tanpa sengaja aku melihat buku-buku dalam bungkusan rapi itu berada di meja belajarku. “Aku tidak tahu kenapa kau tertarik sekali dengan islam. Terlebih  lagi, aku tidak tahu dan tidak peduli apa alasanmu untuk berencana masuk islam. Tapi, ku harap semua ini bukan karena gadis yang sering kau ceritakan itu. Terlepas dari semua itu, aku sangat bahagia jika kau pada nantinya kau benar-benar menjadi saudara seimanku,” ucap kakakku.
            Selepas kepergian Park Young Ha, kini kakakku duduk di ranjang tempat tidurku sembari memperhatikanku yang sibuk dengan tugasku.
“Sudah sholat dhuhur?” tanyanya. Aku pun mengangguk mengiyakan karena aku sudah melakukanya sebelum makan siang tadi. “Najwa...,” ucapnya dengan lembut memanggil namaku. Dan aku yang tengah sibuk itu pun mau tak mau harus meninggalkan kesibukanku karena ku tahu kakakku hendak mengatakan sesuatu padaku.
“Ya,” jawabku.
“Meskipun kalian tidak mau mengatakannya. Kakak tahu ada sesuatu di antara kalian berdua,”
“Kak...,”
“Aku tahu, kau dan Young Ha tidak memiliki hunbungan apapun selain pertemanan. Tapi, aku tahu perasaan kalian berdua. Tidak...meskipun aku tidak tahu benar ataukah tidak dugaanku pada Young Ha, tapi untukmu..aku dapat merasakan perasaanmu pada laki-laki itu,” ucap kakakku.
Aku tahu, kakakku saudara kembarku. Dia dapat merasakan semua hal yang ku rasakan dan lebih dari itu walau aku tak pernah mengatakan atau bercerita padanya dia tahu keresahan yang selalu menggangguku selama ini.
“Kakak tahu kau pasti sudah berusaha keras untuk menghindarinya. Tapi, kau tidak berhasil juga...,”
“Kak Nara aku....,”
“Kakak tahu kau mencintainya. Tapi, kau juga harus tahu bahwa kau dengannya tidak mungkin bersama,”
            Aku meneteskan air mataku lagi, lagi dan lagi seperti yang sering ku lakukan di setiap malam di sholat tahajudku. Aku kali ini menangis di hadapan kakakku. Aku tahu betul bahwa antara aku dengannya tidak mungkin. Tapi, aku sudah berusaha menghindarinya. Menghindari perasaan yang tiba-tiba datang dan mengisi ruang kosong di hatiku. Mengisi pikiranku yang memang tidak ada pria lain atau hal-hal lain di dalamnya kecuali keluargaku. Aku sudah berusaha keras semampu yang aku bisa. Tapi, aku masih saja tidak bisa untuk melupakannya. Walau ribuan kali aku tlah menengadahkan do’aku pada Tuhanku, untuk segera mengambil rasa cinta ini dariku.
