Tampilkan postingan dengan label My Destiny. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label My Destiny. Tampilkan semua postingan

Jumat, 13 Juli 2018

Extra Part

Edit Posted by with No comments


Seperti biasa setiap hari minggu tiba mereka selalu berkumpul bersama. Dan melakukan pesta barbeque di taman belakang rumah Aqilla. Usai menyantap makan malam mereka, mereka pun berbincang-bincang ringan, dan kali ini Fabian Kevlar Antonio tidak bisa lari lagi dari ceramah Bibinya yang sering ia panggil dengan sebutan bunda.
            “Fabian Kevlar Antonio…sudah bunda bilang segera balik ke London…,” geram bundanya. “Papa kamu sudah ceramahin bunda habis-habisan supaya menyuruh kamu lekas balik, tapi kamu masih saja berkeliaran disini…,” ucap bundanya.
            Aqilla dan Kenzo yang baru saja datang dan ikut bergabung dalam makan malam itu mengernyitkan keningnya mendengar ucapan mamanya.
            “Bunda, Bi disini belajar bunda, bukannya berkeliaran…,” ucap Fabian melakukan pembelaan diri.
            “Apanya yang belajar, kamu disini cuman mau gangguin Aqilla kan? Sudah deh, Aqilla sekarang sudah menjadi milik Kenzo, dan kamu tidak usah lagi usaha deketin Aqilla. Lagian, kamu harus segera pulang karena tiga bulan lagi pesta pertunanganmu akan di adakan…,”
            Sementara Aqilla dan Kenzo makin bingung dengan pertikaian antara Mamanya dengan Fabian.
            “Tunggu deh ma, ini maksudnya apa? Kenapa si bocah mantan boboho ini panggil mama bunda…?” tanya Kenzo bingung.
            “Iya ma…dan apa lagi tentang pertunangan itu? Sejak kapan Bi, kamu punya calon tunangan…?” tanya Aqilla.
            Semua orang yang berada di situ pun sontak tertawa melihat wajah penasaran Aqilla dan Kenzo.
            “Ya, Tuhan kalian berdua ini… masak nggak tahu sih. Kamu juga Ken, apa itu manggil-manggil kakak sepupu kamu dengan sebutan bocah mantan boboho, meskipun kamu lebih tua kamu nggak boleh ngomong gitu. Karena dia adalah anak budhe kamu…,” seru mamanya.
            “Hahhhh…..,” sontak Kenzo terbelalak kaget. Begitu juga dengan Aqilla yang baru mengetahui hal itu. “Sejak kapan dia jadi kakak sepupu Ken, ma?” tanya Kenzo sembari menujuk ke arah Fabian.
            “Ish kamu ini Kenzo. Sejak kamu dan Fabian masih jadi orok puas kamu. Kamu bener-bener  deh keterlaluan betul masak saudara sendiri nggak tahu…,” cetus mamanya yang kesal melihat kelakuan kedua bocah lelakinya itu.
            Fabian pun merayu bundanya agar bundanya segera berhenti dari acara ngambeknya itu. Ia memijit bahu bundanya dan melakukan pekerjaan yang lainnya untuk mencuri hati bundanya.
            “Sudah deh, Bi…gak usah usaha buat ambil hati bunda. Bunda tetap pada satu keputusan itu bahwa kamu harus balik ke London secepatnya untuk segera bertunangan dengan calonmu…,”
            Dan Fabian pun mau tak mau mengangguk tanda menyerah. Sementara Aqilla masih menatap wajah lelaki itu seraya meminta penjelasan.
            “Apa…?” tanya Fabian.
            “Sejak kapan loe punya calon dan mau bertunangan…?” tanya Aqilla yang diangguki oleh Kenzo, yang menyatakan bahwa lelaki itu juga penasaran.
            “Sejak dari orok…,” ucap Fabian.
            “Gue serius Bi…,” geram Aqilla.
            “Gue juga serius Qilla….,” ucap Fabian dengan suara yang sedikit ditinggikannya.
            “Eh, loe ngomongnya biasa aja dong sama calon istri gue..,” ucap Kenzo.
            “Salah calon istri loh sih nggak percaya…,” ucap Fabian. “Gue emang sudah punya calon tunangan sejak orok, karena bokap nyokap gue udah tunangin gue dengan tuh cewek sejak masih dalam kandungan, puas loe berdua…,” ucap Fabian sembari meninggalkan Aqilla dan Kenzo untuk mengambil daging yang masih berada di panggangan. Sementara itu, Kenzo dan Aqilla yang mendengar ucapan Fabian pun terkikik. Mereka berdua memiliki pemikiran yang sama bahwa mungkin, karena tidak setuju kalau Fabian akan ditunangkan makanya cowok itu kabur dari London dan datang ke Indonesia secara diam-diam.
*****
            Aqilla, Kenzo dan Fabian tengah menghadiri sebuah pesta pernikahan atas permintaan mamanya. Mereka harus menghadiri pesta pernikahan sepupunya. Awalnya mereka terkejut bukan main ketika membaca undangan pernikahan menampikan nama “Anastasya Christy Gracella dan Abraham Reynand Pratama”, dua sejoli yang dulu sering berantem sewaktu mereka kecil. Mereka tak menyangka bahwa pasangan yang sudah seperti enemy satu sama lain itu, bisa bertemu kembali dan malah menikah. Entah akan seperti apa pernikahan yang akan mereka jalani nantinya mengingat keduanya memiliki ego dan keras kepala yang tidak ada tandingannya.
            Fabian tengah mengambil minuman dari pelayan, tapi tiba-tiba dia tak sengaja menabrak seorang gadis hingga minumannya tumpah. Gadis itu memaki Fabian tak hentinya karena membuat baju putihnya menjadi kotor.
            “Loe gimana sih, jalan pakek mata dong.. Baju gue kan jadi kotor gini…,” ucap gadis itu sinis.
            “Eh..dimana-mana jalan itu pakek kaki ya, bukannya pakek mata. Loe nggak pernah di ajarin di sekolah ya.. Lagian gue kan juga udah minta ma’af ke loe…,” ucap Fabian tak kalah sinis dengan gadis itu.
            “Ish..loe tuh..dasar….,” geram cewek itu yang kemudian langsung pergi meninggalkan Fabian menuju ke kamar mandi untuk membersihkan pakaiannya dari noda.
            Fabian menuju ke tempat Aqilla dan Kenzo kemudian, mereka pun memberikan selamat pada Anastasya dan Reynand yang disambut dengan senyuman oleh keduanya.
            “Makasih ya, kalian udah datang, cepet nyusul…,” ucap Anastasya yang sontak mebuat Aqilla malu.
            “Tenang aja Cha, kita bakal nyusul kalian kok bulan depan…,” seru Kenzo.
            “Wow…that’s sounds great….,” ucap Anastasya.
            “Kalau loe, kapan bro…?” tanya Reynand pada Fabian. Yang tak dihiraukan oleh Fabian.
            “Dia mah gak usah ditanya deh Nand.., kayaknya dia gak ada niat buat nikah muda kayak kita-kita deh…,” ucap Kenzo.
            “Jangan sok tahu loe…,” ucap Fabian.
            “Lah, itu kenyataan dong. Kan loe nya aja kabur pas diminta bokap-nyokap loe tunangan. Apalagi di suruh nikah muda, bisa-bisa loe malah bunuh diri…,” ejek Kenzo yang tentu saja mendapat pelototan Fabian. Kemudian Aqilla pun menepuk bahu Kenzo agar ia berhenti menggoda Fabian.
            “Wahhh..loe emang kudu harus move on dari Qilla deh Bi karena Qilla udah jadi milik Kenzo, mungkin karena itu loe kabur dari tunangan. Dan lagian loe emang kudu harus move on karena sebentar lagi Qilla akan jadi milik Kenzo seutuhnya,” ledek Anastasya yang tentu saja membuat wajah Fabian makin kusut. “Atau…loe mau gue kenalin temen gue aja…,” ucap Anastasya. “Tuh orangnya berjalan kesini…,” ucap Anastasya, yang kemudian mendapat perhatian dari Aqilla, Kenzo, Reynand untuk melihat gadis yang berjalan ke arah mereka. Berbeda dengan mereka berempat yang menatap kagum pada gadis cantik itu, Fabian malah kesal.
            Gadis itu masih merunduk dan berusaha menghilangkan noda bekas minuman di bajunya. Anastasya yang melihat temannya sibuk dengan bajunya membuatnya bertanya apa yang terjadi.
            “Kenapa baju loe, Queen?” tanya Anastasya.
            “Ini nih Cha..ada orang gila yang tiba-tiba numpahin…min…num….,” ucapan gadis yang di panggil dengan nama Queen itu terhenti ketika melihat seseorang yang membuatnya kesal sedari tadi berdiri tepat di depannya.
            “Loe……,” teriak gadis itu kemudian.
            Anastasya mengernyit. “Loe kenal Bi, Queen…?” tanya nya kemudian.
            “Dia orangnya Cha, yanga numpahin minuman di baju gue…,” ucap Queen ketus.
            Sementara Fabian hanya cuek menanggapi gadis itu, bahkan hinaan gadis itu yang menyebutnya orang gila pun tak di gubrisnya.
            “Duuhhh…padahal tadi gue mau ngenalin loe sama dia, Quen… Eh gak nyangka kalian udah ketemu tadi secara gak sengaja,” ucap Anastasya yang kemudian terkikik geli melihat Fabian dan Queen yang saling membalikkan punggung dan tak mau berhadapan karena kesal dengan masing-masing.
            Akhirnya dengan rayuan Anastasya, Queen pun mau menghadap ke depan begitu juga dengan Fabian yang di paksa berdiri di samping Queen yang berada di sisi kiri Anastasya. Sementara Aqilla dan Kenzo berdiri di sisi Reynand dan mereka pun tersenyum dan mengarahkan pandangan mereka ke depan kamera. Foto yang idah pun dapat di abadikan meski di sana ada dua orang yang kelihatan banget senyumnya di paksakan.
*****
THE END

           


Epilog

Edit Posted by with No comments


          Acara pensi untuk perpisahan anak-anak kelas XII di adakan di sekolah, dan semua anggota OSIS sibuk mengurus acaranya termasuk juga Fabian dan Aqilla. Beberapa detik lagi acara akan segera dilaksanakan, dan puncak dari acara itu adalah penampilan dari band-band sekolah dan persembahan dari beberapa siswa-siswi yang ingin berpartisipasi.
            Aqilla tengah duduk tepat di samping panggung bersama dengan Fabian. Fabian yang tahu bahwa cewek itu kelelahan, ia memberikan botol air mineral pada Aqilla. Dan kemudian keduanya pun menatap kea rah panggung dan melihat penampilan para siswa siswi yang berpartisipasi.
            Di kejauhan Aqilla melihat Papa dan Mamanya juga papa dan Mama Kenzo hadir. Ia pun bergegas menghampiri mereka begitu juga dengan Fabian yang mengikuti dirinya dari belakang. Aqilla terkejut bukan main kenapa bisa-bisanya orang tuanya dan orang tua Kenzo yang cukup sibuk sampai menyempatkan diri untuk hadir di acara sekolahnya.
            Lampu, padam seketika namun beberapa lampu kecil yang berkedap-kedip layaknya kunang-kunang menyala satu persatu dengan diiringi suara musik yang terdengar syahdu, dan bertapa terkejutnya Aqilla ketika mulai samar-samar mendengar suara seseorang yang dikenalnya itu menyanyikan sebuah lagu dan berjalan perlahan dari atas panggung menuju dirinya sambil dengan tetap melantunkan nyanyian Brian McKnight, yang sepertinya memang sengaja dinyanyikan untuk dirinya.
Sir, I’m a bit nervous(Tuan, aku agak grigi) ‘Bout being here today(Berada di sini hari ini) Still not real sure what I’m going to say(Masih tak yakin apa yang akan kuucapkan) So bare with me please(Maka bersabarlah) If I take up too much of your time.(Jika aku nanti menghabiskan terlalu banyak waktu anda) See in this box is a ring for your oldest.(Lihatlah, di kotak ini ada sebuah cincin untuk putri tertua anda) She’s my everything and all that I know is(Dia segalanya bagiku dan yang ku tahu) It would be such a relief if I knew that we were on the same side(Aku akan sangat lega) Very soon I’m hoping that I…(Sebentar lagi aku berharap aku…)Can marry your daughter(Bisa menikahi putrid anda) And make her my wife(Dan jadikan dia istriku) I want her to be the only girl that I love for the rest of my life(Ku ingin dia menjadi satu-satunya gadis yang kucinta selama sisa hidupku) And give her the best of me ’till the day that I die, yeah(Dan memberinya yang terbaik dari hingga aku mati) I’m gonna marry your princess(Aku akan menikahi putri anda) And make her my queen(Dan jadikan dia ratuku) She’ll be the most beautiful bride that I’ve ever seen(Dia akan menjadi pengantin paling cantik yang pernah ku lihat) Can’t wait to smile(Tak sabar tersenyum) When she walks down the aisle(Saat dia susuri lorong) On the arm of her father(Dan menggandeng ayahnya) On the day that I marry your daughter(Di hari aku menikahi putrid anda)……………………………………….
            Ketika Kenzo selesai menyanyikan lagunya, lampu mulai menyala terang dan mendapati lelaki itu kini berjongkok di hadapan Aqilla sembari menyodorkan sebuah cincin berlian pada Aqilla.
            “Aqilla Geffi Arawindha, would you marry me…?” ucap Kenzo yang sontak membuat Aqilla terbelalak kaget. Ia pun segera menghapus air mata yang menetes di pipinya tanpa di sadarinya sebelumnya. Ia mengangguk sebagai jawaban pertanyaan Kenzo. Namun, Kenzo tak ingin jawaban isyarat dari Aqilla, dia ingin Aqilla menjawabnya dengan kata-katanya dan ia melontarkan pertanyaaan yang sama berulang-ulang sampai gadis itu akhirnya menjawab.
            “Kenzo Julian Adhytama…I want to marry you…,” ucap Aqilla dengan lantang tanpa peduli bahwa banyak mata orang-orang yang kini menatapnya.
            Setelah puas dengan jawaban Aqilla, Kenzo langsung menarik Aqilla dalam pelukannya dan mencium bibir gadis itu sembari berbisik di telinga gadis itu.
            “I love you, Qilla….,” ujarnya yang kemudian kembali melumat bibir Aqilla dengan lembut.
            Semua yang hadir dalam acara itu memberikan sorak sorai dan tepuk tanggan mereka untuk pasangan Aqilla dan Kenzo. Dan setelah itu, mereka pun kembali menikmati pensi yang kini sudah beralih seperti pesta karena Orang tua Kenzo menyiapkan semua kebutuhan pesta di sana.
            Sementara itu, Rizky tersenyum bahagia melihat kebahagiaan sahabatnya. Karena buku yang Kenzo berikan Rizky jadi  tahu kebenaran yang ada hingga dia todak lagi menaruh dendam pada Kenzo. Dia pun sudah meminta ma’af kepada Aqilla akibat ulahnya yang ditimbukan karena kesalapahaman antara dirinya dan Kenzo. Dan Aqilla pun me’maafkan lelaki itu.
            Di sisi lain, Fabian yang melihat gadis yang dulu diam-diam dicintainya itu bahagia, ia pun turut bahagia. Tak ada lagi rasa sesak yang ia rasa di dadanya karena ia sudah melepas Aqilla sebelumnya.
            “Dari awal hatimu hanya untuk satu orang Aqilla, yaitu Kenzo. Berbahagialah dengannya..,” gumam Fabian.

Lima Belas

Edit Posted by with No comments


Beberapa hari kemudian Kenzo pun masuk sekolah. Dan kegiatan belajar mengajar pun berjalan dengan baik. Kenzo berjalan menuju ke kelas XII-IPS 2 untuk memberikan pelajaran pada salah seorang di sana karena orang tersebutlah yang menjadi dalang di balik semua peristiwa yang terjadi akhir-akhir ini.
            Awalnya Kenzo tak percaya dengan penuturan Fabian yang mengatakan bahwa orang itulah yang bertanggung jawab atas kejadian kemarin, pasalnya Kenzo menganggap orang itu adalah sahabatnya dan tidak mungkin melakukan hal seperti yang Fabian tuduhkan. Namun, setelah Fabian memberikan beberapa bukti, dan Kenzo mulai merangkai setiap kejadian yang layaknya kepingan puzzle itu akhirnya ia pun mengerti.
            “Ky…Rizky……….Brengsek loh….,” ucap Kenzo sembari meninju wajah Rizky di depan semua teman-teman kelasnya. “Loe sadar apa yang loe lakuin bisa ngebunuh orang, brengsek….,” geram Kenzo.
            Sementara Rizky yang mendapatkan luka tonjokan dari Kenzo hanya meringis kecil.
            “Apa? Apa alasan loe ngelakuin ini…?” tanya Kenzo.
            “Loe masih bertanya, jangan berlagak sok gak tau deh Zo…,” geram Rizky.
            “Apa maksud loe….? Gue emang nggak tahu…,” ucap Kenzo.
            “Semua gara-gara loe. Loh inget cewek yang namanya Cyntia, loe tahu cewek itu tergila-gila sama loe, tapi loe malah nolak dia dan………,”
            “Sudah gue duga pasti karena itu…,” sela Kenzo.
            Lalu Kenzo pun melemparkan buku diary berwarna pink ke arah Rizky yang tentu saja ngebuat Rizky mengerutkan keningnya.
            “Kalau loe pingin tahu kenyataan sebenarnya baca buku itu. Dan di situ loe bakal tahu bahwa bukan gue yang jadi alasan dia bunuh diri. Dan bukan gue yang harusnya bertanggung jawab atas rasa sakit hati loe karena kehilangan dia. Dan gue peringatin lagi satu hal ke loe, jangan pernah loe sentuh Aqilla bahkan seujung jaripun, karena loe tahu apa yang akan gue lakuin ke loe kalau sampek loe lakuin itu…,” bentak Kenzo yang kemudian bergegas pergi meninggalkan kelas Rizky.
            Fabian yang tahu bahwa cowok itu telah membuat perhitungan pada Rizky, merasa bahwa dirirnya tidak perlu lalu melakukanb perhitungan yang sama, karena dia tidak sampai hati untuk melukai Rizky lagi setelah apa yang di lakukan oleh Kenzo. Meskipun dalam hatinya ia masih merasa kesal pada cowok itu karena sudah berani menyentuh Aqilla.
            Tapi, mengingat cerita Kenzo tentang Rizky dan Chyntia yang ternyata saling menyukai satu sama lain, tapi ternyata tidak bisa saling memiliki karena mereka memiliki hubungan darah yang sama yang tidak di ketahui oleh Rizky, itu membuat Fabian mengurungkan acara pembalasan dendamnya, baginya cukup Kenzo saja yang melakukannya.
*****
            Sore ini keluarga besar Aqilla dan Kenzo berkumpul di rumah Aqilla. Mereka akan melaksanakan acara makan bersama dan juga membahas tentang pernikahan Aqilla dengan Kenzo. Kenzo tengah mencari Aqilla dan berkeliling rumah, eh ternyata gadis itu tengah berada di halaman belakang rumahnya dan sedang berbincang-bincang dengan seorang cowok yang ia tahu siapa itu kalau bukan Fabian Kevlar Antonio.
            “Duuhhh yang mau nikah nih….cie..cie…,” goda Fabian yang sontak membuat pipi Aqilla bersemu merah karena malu.
            “Apaan sih loe Bi…,” ucap Aqilla.
            “Halah…pakek sok malu-malu segala sama gue. Bilang aja kalau loe seneng banget karena akhirnya loe bisa bersatu dengan Kenzo, setelah lima tahun terpisah…,”
            “Iya sih jujur gue seneng banget Bi. Tapi, kadang gue juga takut apa keputusan ini benar adanya. Apa gue cukup baik untuk Kenzo? Loe tahu Bi, gue bukan wanita yang sempurna sepeti kebanyakan orang. Gue punya banyak kekurangan…,”ucap Aqilla.
            “Aqilla, jangan ngerendahin diri sendiri. Loe sempurnah di mat ague, dan tentu saja loe juga sempurnah di mata Kenzo. Bukan karena loe terlahir cantik, kaya, pintar atau yang lainnya, tapi karena loe adalah loe, karena loe adalah Aqilla Geffi Arawindha, wanita yang mampu membuat semua laki-laki tertarik hanya dengan melihat loe..,” jelas Fabian.
            “Tapi Bi..gue…penyakitan…dan..gue….,”
            “Tidak ada manusia yang benar-benar sempurna Aqilla. Tidak kamu, tidak aku dan tentu saja tidak dengan Kenzo. Semua manusia memiliki kekurangan dan kelebihan masing-masing, dan itulah kenapa Tuhan menciptakan manusia untuk saling berpasangan. Kekuranganmu akan tertutupi oleh kelebihan Kenzo, dan begitu pula sebaliknya,” ucap Fabian sembari mengusap rambut Aqilla.
            Kenzo yang mendengar semua percakapan mereka pun berdiri mematung. Ia berfikir bahwa ia akan melakukan sebuah cara bahwa keputusan dia dan Aqilla menikah adalah keputusan yang tepat meskipun keduanya memang masih duduk di bangku SMA. Tapi, Kenzo sudah memantapkan hatinya untuk memilih Aqilla, baik dulu sekarang dan juga nanti.
            “Benar kata Fabian, Aqilla, loe sempurna karena loe adalah Aqilla Geffi Arawindha, dan karena loe adalah milik gue, Kenzo Julian Adhytama seorang. Dan gue akan buat loe tak pernah berfikir untuk meragu lagi dengan keputusan pernikahan ini,” gumam Kenzo.
*****













Empat Belas

Edit Posted by with No comments


Jam menunjukkan pukul jam 02.00 pagi, semua anggota OSIS kembali ke penginapan dan hanya tinggal Aqilla yang tersisa di kamar Kenzo di temani dengan Fabian yang tertidur di sofa ruang tunggu. Sementara Orang tua Aqilla dan Kenzo menempati kamar sebelah kamr Kenzo yang memang di sediakan oleh pihak rumah sakit sebagai tempat menginap bagi keluarga pengunjung VVIP di rumah sakit itu.
            Aqilla yang terbaring di samping Kenzo, dengan masih dalam keadaan duduk di kursi rodanya, merasakan ada sesuatu yang bergerak di tangannya. Ia pun terbangun, dan membuka matanya. Ia melihat cowok di hadapannya itu membuka matanya dan tersenyum ke arahnya.
            “Jangan tersenyum. Kenapa baru bangun sekarang heh....?” ucap Aqilla dengan kembali menahan isakannya.
            Lelaki itu pun menjawab pertanyaan Aqilla dengan lirih mengingat kondisinya masih lemah.
            “Sorry...gue masih belum punya kekuatan yang cukup buat berdebat sama loe...,” ucap Kenzo yang masih dengan senyumnya.
            “Dasaar bodoh...loe tahu gue nungguin loe bangun dari tadi dasar jahat...,” ucap Aqilla sembari memukul-mukul kecil dada Kenzo.
            Kenzo pun berusaha meraih tubuh Aqilla dan memeluknya. Tubuh Aqilla yang semula duduk di kursi roda kini sudah beralih duduk di ranjang Kenzo.
            “Jangan banyak omong, sudah gue bilang kalau gue masih belum punya tenaga buat berdebat sama loe...,” ucap Kenzo yang kemudian membawa Aqilla untuk merubah posisi duduknya menjadi berbaring di sebelah Kenzo. Kenzo memeluk Aqilla dan meneggelamkan wajah gadis itu di dada bidangnya. Sementara tangannya yang lain yang terbebas dari selang infus mengusap rambut Aqilla yang sebahu itu.
            “Sekarang, kita tidur saja dulu, besok kita lanjutkan lagi debatnya,” pinta Kenzo yang kemudian mendapat anggukan dari kepala Aqilla sebagai jawabannya.
            Kemudian Kenzo pun masih mengusap-ngusap kepala dan punggung Aqilla seraya memeberi kenyamanan pada gadis itu. Karena dia tahu bahwa gadis itu sangat mengkhawatirkan dirinya. Selain itu, hal ini juga dilakukannya agar detak jantung gadis itu dapat berirama normal setelah guncangan yang terjadi beberapa saat lalu.
            Kenzo mengecup puncak kepala Aqilla sebelum akhirnya gadis itu tertidur dengan pulas.
*****
            Kenzo terkejut bukan main ketika ada sebuah bantal menghantam matanya. Dan tentu saja ia segera membuka batanya karena sesuatu yang mengganggu tidurnya itu. Mamanya masih memukulnya dengan bantal tanpa henti hingga akhirnya dia menggunakan tubuhnya untuk melindungi Aqilla yang masih tertidur. Namun, pukulan berikutnya tak sengaja menegenai Aqilla yang tentu saja membuat gadis itu bangun kemudian.
            “Ma’af Aqilla, kamu jadi terbangun…,” ucap Mama Diatama pada Aqilla.
            “Ish…mama sih. Ni gara-gara mama kan Qilla jadi kebangun…,” ucap Kenzo.
            “Kamu tuh ya, dasar anak kurang ajar, malah marahin mamanya. Harusnya mama yang marah, kenapa kamu malah ngapa-ngapain Aqilla sampai dia bisa tidur di ranjang kamu. Kamu tuh…..,” celoteh Mama Kenzo sembari masih memukuli tubuh anaknya dengan bantal.
            “Ma, Ken nggak ngapa-ngapain Aqilla. Masak ngajak Aqilla tidur di samping Ken aja nggak boleh ma,” ucap Kenzo mencoba untuk melakukan pembelaan diri.
            Melihat Kenzo yang kena ceramah Mamanya, Adhy, Arawi, Windha dan Fabian pun hanya terkekeh.
            “Gak boleh Ken, nggak boleh…,” kata mamanya.
            “Kenapa nggak boleh ma. Kan dulu Ken juga sering tidur bareng, makan bareng, dan bahkan mandi bareng sama Qilla,” ucap Kenzo tak kalah dari celotehan mamanya.
            “Itu dulu waktu kalian masih kecil Kenzo. Sekarang kalian sudah besar jadi nggak boleh…,” seru mamanya.
            “Ish mama ini nggak ada bedanya dulu atau sekarang juga, Aqilla tetep Qilla, dan Kenzo tetep Ken,”
            “Beda Kenz……………..,” teriak mamanya.
            “Apa bedanya Ma….,” ucap Kenzo tak kalah.
            “Sekarang Aqilla sudah bisa membuat dan melahirkan anak, sedangkan dulu masih belum bisa…….,” teriak mamanya lagi yang tentu saja membuat semua orang di keluarga itu terbelalak kaget.
            Aqilla yang mendengar penuturan Mama Kenzo yang terkesan agak terlalu vulgar itu menunduk malu, dia menyembunyikan wajahnya di balik bantal. Sementara Kenzo hanya terkekeh mendengar perkataan mamanya itu.
            “Kan, bukannya mama seneng kalau nanti punya cucu ya, jadinya kan mama punya temen main baru dan bukannya mainin cucu tetangga sebelah rumah…,” ucap Kenzo dengan kekehannya.
            Diatama pun diam dan mencoba berpikir.
            “Kamu bener juga sih Ken…,” ucapnya kemudian. “Tapi…eh nggak ada, nggak ada deh punya anak sebelum nikah. Mama nggak setuju meskipun mama sangat pingin nimang cucu…,” cetus Diatama kemudian. “Pokoknya kamu harus segera nikahin Aqilla bulan depan…,” ucap Mamanya.
            “Lah, kok cepet amat ma…,”
            “Iya, kamu kan udah apa-apain Qilla…,”
            “Ya, Allah ma, udah di bilangin Ken cuman tidur sambil meluk Qilla doang nggak ngapa-ngapain juga…,”
            “Mama nggak mau tahu, pokoknya bulan depan kalian menikah…,” putus mamanya yang langsung mendapat anggukan dari keluarganya.
            “Ish…tahu gitu tadi malem aku apa-apain kamu aja Qill, dari pada di tuduh gini kan rugi kalau nggak apa-apain kamu…,” gerutu Kenzo.
Dan karena perkataan Kenzo itulah, tentu saja langsung mendapat jitakan di kepalanya dari Aqilla.
*****









Tiga Belas

Edit Posted by with No comments


Hari kedua di kaki gunung, permainan pun dilakukan. Setiap orang di bagi menjadi beberapa tim untuk memecahkan teka-teki yang di berikan oleh panitia. Jawaban dari teka teki pertama akan menunjukkan teka-teki berikutnya, dan seterusnya hingga teka-teki terakhir adalah sebuah petunjuk di mana mereka harus mencari apa-apa yang telah di sembunyikan tim panitia.
            Bersyukurlah takdir masih berpihak padanya, hingga membawa dia menjadi satu team dengan Fabian. Aqilla berjalan dengan perlahan menuju ke lokasi dimana petunjuk pertama mengarahkan mereka. Mereka mengikuti semua petunjuk-petunjuk itu dan kemudian sampailah pada petunjuk terakhir saat hari mulai menjelang malam.
            Fabian tidak percaya mendapati petunjuk terakhir mengarahkannya ke tepi jurang untuk mengambil kotak rahasia yang tertanam di sana. Ia mengernyitkan dahinya dan mencium bau tidak beres di sini.
            “Ayo cepat kita ambil kotak harta karun nya Bi...,” ucap Aqilla.
            “Loe gila ya, ini tepi jurang bagaimana mungkin kotak itu tertanam disini..,” ucap Fabian.
            “Lah, tapi petunjuknya mengarah ke sini Fabian,” seru Aksa teman satu team mereka yang di ikuti dengan anggukan oleh tiga orang anggota team lainnya yaitu Dian, Fariska dan Gery.
            “Ini semua pasti ada yang tidak beres...,” seru Fabian namun tidak di indahkan oleh Aqilla. Aqilla hanya ingin cepat-cepat mengambil kotak itu hingga dia pun nekat hendak mengambilnya. Namun, tiba-tiba..ia terpeleset dan hampir saja jatuh ke dasar jurang kalau saja Fabian tidak segera sigap menariknya.
            “Sial..kenapa loe ceroboh dan nggak mau dengerin gue sih Aqilla...,” bentak Fabian dengan geram yang masih berusaha meraih Aqilla agar segera naik dan di bantu pula oleh teman-teman lainnya.
            Fabian berseru pada satu orang dalam teamnya untuk menyalakan kembang api ke angkasa seraya memberi petunjuk pada yang lainnya bahwa teamnya sedang dalam keadaan bahaya. Selama satu jam lamanya mencoba untuk menolong Aqilla akhirnya Aqilla pun dapat diselamatkan dan kembali ke permukaan. Namun tiba-tiba sesuatu yang lain, terjadi ketika teman salah satu teamnya membuka isi kotak tersebut yang ternyata isisnya bukanlah petunjuk berikutnya melainkan ular. Kotak yang berisi ular tersebut membebaskan ular tersebut.
            Belum sempat menyelamatkan dirinya, ular tersebut sudah mematuk Aqilla yang menghalangi jalannya, kemudian ular itu pun hilang di balik semak-semak tepat di belakang tempat Aqilla duduk tersungkur.
            “Sial....,” teriak Fabian yang kebingungan apa yang harus dilakukannya untuk menyelamatkan cewek itu.
            Sementara di sisi lain, Kenzo dan beberapa panitia lainnya yang melihat isyarat tanda bahaya dari atas langit segera bergegas menyelusuri hutan dan mencari lokasi team membutuhkan pertolongan.
            Kenzo terkejut bukan main melihat cewek yang sangat di cintainya itu terkulai lemas dengan wajah yang pucat. Setelah tahu apa yang terjadi pada cewek itu, Kenzo langsung mengeluarkan silet dari tas kecil yang dibawanya, kemudian dia membakarnya dan setelah dia menyayat kaki Aqilla yang tergigit ular itu.
            Ketika menyadari bahwa racun ular itu sudah mulai menyebar, Kenzo mengumpat.
            “Sial...Tuhan, biarkan gue nyelametin dia kali ini....,” ucapnya.
            “Dia pun kemudian mengeluarkan racun ular tersebut dengan mulutnya agar racun tersebut tidak segera menyebar ke bagian tubuh yang lain. Setelah melakukannya dan mengeluarkan racun ular dari kaki cewek itu, Kenzo pun kini terkulai lemah tak berdaya. Beberapa saat kemudian team sar pun segera membawa mereka dan memberikan pertolongan pertama.
*****
            Setelah keluar dari hutan, Aqilla dan Kenzo segera di larikan ke rumah sakit terdekat. Pembina OSIS dan panitia segera menghubungi kedua orang tua Aqilla dan juga Kenzo. Selama lebih dari 3 jam orang tua Aqilla pun sampai di rumah sakit. Namun, orang tua Kenzo yang memang berada di luar kota membutuhkan waktu yang lebih lama untuk sampai di daerah itu.
            Aqilla mengerjap, dan mulai membuka matanya setelah ia pingsan selama tiga jam lamanya. Dokter mengatakan bahwa Aqilla baik-baik saja karena bisa ular tersebut dapat tidak menyebar ke anggota tubuhnya yang lain. Hal itu tentu saja berkat pertolongan pertama yang luar biasa yang dilakukan oleh Kenzo.
            Tapi, mendengar bahwa Kenzo yang menolongnya dan kini dia terbaring lemah karena bisa ular yang masih tersimpan di tubuhnya membuat Aqilla merasa sesak. Seolah dadanya tengah di remas habis hingga ia tak bisa bernafas. Namun, kedua orang tua nya mencoba untuk menguatkan Aqilla dan berkata bahwa Kenzo tidak apa-apa.
            Aqilla dengan di dorong oleh kursi roda oleh orang tuanya menuju ke kamar rawat Kenzo. Kenzo yang telah di pindahkan dari ruang operasi di kembalikan ke ruang rawat, untunglah lelaki itu dapat diselamatkan karena racun itu tak sampai menyebar. Hanya saja lelaki itu belum sadarkan diri karena pengaruh obat bius. Di depan kamar Kenzo, para anggota OSIS lainnya termasuk pembina OSIS masih setia menunggu Kenzo sadar. Beberapa menit kemudian, orang tua Kenzo pun datang dan setelah mendapat penjelasan dokter dan orang tua Aqilla akhirnya orang tua Kenzo dapat bernafas lega.
            “Syukurlah, kamu segera menandatangani surat operasi itu Arawi, kalau sampai dokter harus menunggu kami tiba entah apa yang akan terjadi pada Kenzo,” ucap Adhy, Papa  Kenzo.
            “Iya mas....,” ucap Arawi, papa Aqilla.
            Aqilla yang menyadari kedatangan Adhy dan Diatama, papa dan mama Kenzo menangis seketika, dan tahu bahwa gadis itu tak bisa berjalan karena kursi rodanya, akhirnya mama Kenzo pun mendekati Aqilla.
            “Tidak apa-apa sayang, Kenzo anak yang kuat...,” ucap Diatama.
            “Ma’afin Qilla ma, semua karena Qilla. Gara-gara Qilla...Zo...Zoey...,” ucap Aqilla dengan isaknya yang kini nampak semakin deras.
            “Hush....jangan ngomong gitu sayang. Jangan menyalahkan dirimu sendiri, kamu tahu kan apa yang dilakukan Kenzo bukan karena dia tidak berpikir terlebih dahulu. Dia pasti sudah memikirkan apapun yang mungkin akan terjadi pada dirinya sebelum dia memutuskan untuk melakukan hal itu padamu,” jelas Diatama. Namun, Aqilla masih saja terisak dalam dekapan mama Kenzo.
            Sementara itu, beberapa orang di luar mengernyitkan dahinya seolah mencerna apa isi pembicaraan mereka. Karena mereka sedikit bingung oleh ucapan Aqilla yang memanggil orang tua Kenzo dengan sebutan yang sama seperti gadis itu memanggil kedua orang tuanya.
            Di sisi lain, Fabian yang tadi menemukan bukti-bukti atas kecurigaannya akibat kejadian beberapa saat lalu, memedam amarahnya untuk tidak melakukan balas dendam sekarang. Di simpannya bukti itu rapat-rapat dan dia pun bergegas ke rumah sakit untuk melihat kondisi sahabatnya itu.
*****












Dua Belas

Edit Posted by with No comments


Hari mulai sore ketika mereka semua tiba di tempat tujuan. Semua peserta turun dan mulai berjalan menuju tenda-tenda yang telah di siapkan oleh beberapa panitia yang datang terlebih dahulu. Mereka harus berjalan kaki dengan membawa serta barang mereka karena lokasi yang mereka tuju masih berada di dalam hutan yang dimana jalannya tidak dapat di lalui oleh kendaraan karena hanya berupa jalan setapak.
            Aqilla mencoba untuk tetap kuat berjalan, dengan irama jantungnya yang mulai berjalan tidak normal karena aktivitasnya yang sudah di luar batasnya. Dia tetap berjalan meskipun Fabian sudah menawarinya untuk membantunya membawa barang-barangnya. Tapi,, keras kepala Aqilla memang tidak ada tandingannya hingga ia menyerah untuk memberi bantuan pada cewek itu. Hingga kemudian kaki Aqilla pun akhirnya terkilir, karena ia mencoba untuk menahan pusingnya yang berakibat pada keseimbangan kakinya yang bermasalah. Kenzo yang melihat hal itu langsung berbalik dan berjalan ke arah cewek itu. Dia tadi memang berjalan mendahului Aqilla namun dia masih bisa mendengar tawaran bantuan yang diajukan oleh Fabian dan di tolak oleh cewek itu.
            “Makanya kalau di kasih bantuan itu di terima, jangan nolak dan sok gengsi gitu. Jadinya kan kayak gini...,” celoteh Kenzo pada Aqilla tanpa melihat wajah cewek itu yang terkejut karena fokusnya hanya pada kaki kiri Aqilla yang terkilir. “Gak ada yang ngelarang loe buat minta tolong Qilla, dan gak ada pula yang larang loe buat nolak pertolongan orang lain. Loe nggak hidup sendiri di dunia ini, loe hidup bersama yang lainnya, jadi loe harus pandai bersosialisasi dari sekarang dan loe.....,” ucapan Kenzo terhenti ketika menyadari cewek itu tidak mendengarkannya dan malah menatapnya.
            “Loe ngerti nggak sih kalau....................,”
            “Sudah lama gue nggak denger ceramah loe, Zoey...,” ucap Aqilla dengan senyum lebarnya yang tentu saja membuat Kenzo merasakan panas di pipinya karena cewek itu menatapnya tepat di manik matanya dan memanggilnya dengan sebutan kesayangan yang diberikan Aqilla dulu.
            “Sudahlah...kayaknya loe baik-baik aja. Percuma gue khawatirin loe...,” ucap Kenzo yang kemudian berdiri dari posisi berjongkoknya.
            “Aduhh..duh...., gue masih sakit nie Zoey, gimana dong...,” ucap Aqilla yang tentu saja membuat cowok yang tadinya membalikkan badannya itu kembali menghadap Aqilla. Dia tahu benar bahwa Aqilla sedang berusaha untuk mempermainkannya. Tapi, di juga punya tanggung jawab untuk menjaga cewek itu. Dan dia juga nggak mau menerima hukuman dari papanya nanti setelah pulang dari acara ini karena dia mengabaikan Aqilla, mengingat bahwa papanya mempunyai sejuta mata untuk menegtahui apa yang dia dan Aqilla lakukan.
            Akhirnya Kenzo pun berjongkok, memberikan punggungnya dn memberi isyarat pada Aqilla untuk segera menaiki punggungnya. Ia tahu betul bahwa di gendong di punggungnya adalah hal yang paling membuat Aqilla senang bukan main sewaktu kecil dan mungkin sampai saat ini cewek itu juga masih menggilai gendongan Kenzo. Kenzo meletakkan tas nya di gendongan depan, dan Aqilla menggantikan letak ransel itu di punggungnya.
            “Bi...toong bawain dong, tadi loe nawarin kan...hehe....,” ucap Aqilla pada Fabian yang di jawabi dengusan kesal oleh Fabian. Sudah dari tadi ditawari nggak mau, eh sekarang malah nitip pada Fabian karena gadis itu naik ke punggung Kenzo dan tidak ingin membuat Kenzo menjadi lebih menderita karena harus menenteng dua tas dan juga dirinya tentunya.
            Fabian pun berjalan mendahului Kenzo dan Aqilla karena tidak ingin melihat pemandangan yang akan membuatnya merasa seakan sesak nafas meskipun udara di hutan tersebut banyak dan segar.
*****
            Perjalanan sudah sampai setengah dari tempat yang hendak mereka tuju. Keheningan di antara Kenzo dan Aqilla pun pecah seketika ketika cewek itu mulai angkat bicara.
            “Rasanya sudah lama sekali gue gak ngerasain enaknya bersandar di punggung loe,” ucap Aqilla sembari membenamkan wajahnya di punggung Kenzo.
            Kenzo hanya diam dan berpura-pura tidak mendengar perkataan Aqilla. Dia tahu kemana arah pembicaraan Aqilla selanjutnya dan karena itulah dia mencoba mengalihkan arah pembicaraan itu.
            “Orang yang loe panggil Bi, bi,,,, itu siapa sih sebenarnya namanya?” tanya Kenzo.
            “Oh, itu namanya Fabian....,” jelas Aqilla.
            “Lalu, kenapa loe panggil Bi...?”
            “Biar keliatan akrab...,” jawab Aqilla.
            “Oh, gitu jadi panggilan itu sama dengan panggilan Zoey yang loe berikan ke gue dulu?” tanya Kenzo yang namoak seperti interogasi bagi Aqilla.
            Aqilla pun terkekeh mendengar nada bicara Kenzo yang tersimpan nada kecemburuan di sana.
            “Hal itu berbeda, Zoey. Panggilan Zoey untuk loe adalah panggilan sayang gue buat loe, sementara panggilan Bi, untuk Fabian adalah panggilan akrabgue ke dia karena dia satu-satunya sahabat yang gue punya...,” jelas Aqilla.
            “Oh..gitu....,” ucap Kenzo.
            “Iya gitu, Dari dulu gue selalu manggil dia dengan sebutan itu, dan tunggu...bukannya dulu loe juga pernah nanya hal yang sama ya?” tanya Aqilla.
            “Maksud loe...?”
            “Loe nggak inget siapa dia Zoey?” tanya Aqilla dan Kenzo pun menggeleng. “Dia itu cowok gendut yang berkacamata yang sering loe juluki boboho itu loh. Cowok yang sering ngikutin gue pulang sekolah waktu kita kecil....,” jelas Aqilla.
            Kenzo mencoba memutar otaknya. Dan seketika ingatannya tentang cowok dengan pipi tembem dan kacamata bulat itu kini menyeruak.
            “Oh...jadi dia.....,”
            Seolah tahu bahwa Kenzo sudah mengingat siapa Fabian, akhirnya Aqilla pun menyelanya.
            “Iya, itu dia Zoey. Loe kaget ya, dia bisa jadi setampan ini sekarang? Gue juga kaget pas pertama kali ketemu dia...,” seru Aqilla. “Sudah lima tahun nggak ketemu, dia bisa berubah menjadi setampan itu kan, gue juga gak percaya awalnya...,” celoteh Aqilla yang membuat hawa kecemburuan menghampiri Kenzo lagi.
            “Kalau dibandingin dengan gue, gimana?”
            “Maksud loe...?” Aqilla mengernyit.
            “Kalau di bandingin dengan gue, siapa yang lebih cakep?” tanya Kenzo.
            Aqilla tersenyum simpul mendengar nada kecemburuan Kenzo lagi kepada Fabian, dan itu artinya Aqilla bisa benar-benar yakin bahwa lelaki itu masih mencintainya.
            “Em..kalau di bandingin dengan loe, gimana ya....,”
            “Gimana apanya, cepetan jawab....,”
            “Em...kalau dia itu perkembangannya kalau di bandingkan dengan dulu dia makin tampan, tapi kalau loe....karena loe sudah tampan dari dulu....sekarang...,”
            “Sekarang..gue yang sekarang gimana Aqilla...?” tanya Kenzo mulau geram.
            “Loe ma...kin....ber...isi...dan..itu ngebuat loe makin....seksi....,” ucap Aqilla yang kemudian menyembunyikan kepalanya di ceruk leher Kenzo karena menahan malu.
            “Sejak kapan loe jadi mesum gini heh....?” tanya Kenzo yang tentu saja membuat Aqilla terdiam dan tak mampu menjawab karena malu. Dia malah menyembunyikan kepalanya semakin dalam di ceruk leher Kenzo. Hingga membuat Kenzo dapat merasakan nafas Aqilla di lehernya. Hal itupun membuat Kenzo jadi merasakan getaran yang aneh di tubuhnya.
            “Kalau loe kayak gini terus, gimana gue bisa nahannya Qilla...,” batin Kenzo yang kemudian mengacak rambut Aqilla.
*****