Tampilkan postingan dengan label My Sweet Enemy. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label My Sweet Enemy. Tampilkan semua postingan

Jumat, 13 Juli 2018

Epilog

Edit Posted by with No comments


Jam masih menunjukkan pukul sepuluh pagi, tapi kericuhan sudah terjadi di rumah Anastasya.
            “Ayo, kita sudah terlambat nih….,” ucap Anastasya.
            “Bentar sayang, aku makan dulu…,”ucap Reynand yang baru turun dari tangga menuju meja makan tempat dimana kedua orang tua mereka berkumpul untuk makan bersama.
            “Nggak ada waktu sayang, kita sudah telat. Aku sudah membawakan makananmu dalam bekal, nanti aku suapin di jalan, jadi ayo pergi sekarang…,” ucap Anastasya. Reynand pun tak bisa melakukan apa-apa lagi jika Anastasya sudah memutuskan.
            “Astaga kenapa buru-buru sih Cha, kan kasian Reynandnya baru mau sarapan…,” ucap Mama Anastasya.
            “Bener kata mama mu Cha, kasian tuh sih Reynand…,”tambah papanya.
            “Ish…salah dia sendiri tidur larut malam nonton bola, jadinya kan kesiangan bangunnya,” ucap Anastasya.
            “Astaga anak ini….,” keluh Mama Anastasya yang melihat tingkah anaknya yang keras kepala itu.
            “Sebenarnya kalian berdua mau kemana sih, buru-buru amat?” tanya Mama Reynand.
            “Mau ke makam Alfan sama Ana ma, trus habis itu mau njengukin anak kedua Bimbo dan Dinda yang baru lahiran…,”jelas Reynand.
            “Hah…Istri Bimbo udah lahiran lagi, Nand…?”tanya Mama Reynand.
            “Iya ,ma…,”
            “Ih…mama ngiri,”
            “Ngiri kenapa ma?” tanya Anastasya.
            “Mamanya Bimbo udah punya dua cucu, trus kapan dong giliran mama sama mamamu menimang cucu…,” ucap Mama Reynand.
            “Astaga…sabar napa ma, nanti pasti mama bakal nimang cucu kok…,”
            “Ih…tapi kan lama…,”
            “Tinggal tiga hari lagi ma, setelah kita berdua sah jadi suami istri, mama bakal segera menimang cucu…,” ucap Reynand.
            “Ih..kamu memang gampang apa. Iya kalau langsung dikasih sama Allah,”
            “Ya, mama, tenang aja, Reynand bakal usaha tiap hari biar cepet dikasih sama Allah…,” ucap Reynand dengan cengiran ala kudanya. Sementara Anastasya yang mendengar hal itu malu di hadapan semuanya.
            “Ih…kamu tuh Nand, kasian tuh, Acha nya jadi merah gitu pipinya…,”
            “Hahahaha…..,” tawa Reynand menggelegar membuat yang lainnya pun ikut tertawa.
            “Berhenti ketawa Nand, kita sudah terlambat, kamu nggak lupa kan kalau kita juga harus berkunjung untuk mendapat hukuman hari ini….,” ucap Anastasya membuat Reynand menghentikan tawanya.
            “Hukuman? Hukuman apa?” tanya kedua orang tua mereka serempak.
            “Biasa ma, hukuman dari Kenzo, Aqilla, Fabian sama Brigitha, karena kita telat ngasih tahu mereka kalau mau nikah…,” jelas Reynand.
            “Astaga dasar sepupu dan teman-teman kalian itu….,” ucap Mama Reynand dan Mama Anastasya serempak.
            “Ya sudah kita pergi dulu ma, pa…,” ucap keduanya.
            Beberapa jam kemudian mereka pun sampai di pemakaman Alfan yang sekarang dipindahkan di samping Ana. Mereka berdua menatap batu nisan itu dengan wajah sendu bercampur bahagia.
            “Ana, sekarang kamu bisa bahagia bersama Alfan di surga sana. Kamu tidak akan sendirian lagi, karena Alfan akan melindungi kamu…,” ucap Anastasya.
            “Iya tentu saja, sahabat gue yang satu itu pasti akan selalu menjagamu,” tambah Reynand.
            “Kami kesini, buat kasih kabar gembira pada kalian berdua, bahwa kami akan segera menikah tiga hari lagi,”ucap Reynand.
            “Ya, dan semua itu berkat kalian. Kalau saja bukan karena kalian, kita berdua nggak akan pernah ketemu dan bersama seperti saat ini. Berkat kalian, berkat perantara yang Allah berikan lewat kalian kami bisa bersama, dan semoga sampai akhir nanti,” jelas Anastasya.
            “Ya. Sama seperti kalian yang bahagia bersama di atas sana, semoga saja kami juga bisa seperti kalian, menjaga cinta kami sampai akhir nanti…,”
            “Terima kasih, Alfan, Ana…terima kasih atas segalanya,” ucap keduanya.
            Selepas mengatakan semua hal itu dan melepas kerinduan pada kedua jasad yang terbaring di dalam sana, Reynand dan Anastasya pun melanjutkan perjalannnya sesuai dengan apa yang telah direncanakannya sebelumnya.

“Sejauh apapun jarak dan waktu memisahkan,
pada akhirnya jika Tuhan mentakdirkannya menjadi satu,
maka kemanapun perginya akan dikembalikannya lagi keduanya menjadi satu,
utuh dan seluruh.”
~My Sweet Enemy~
THE END


Fifteen

Edit Posted by with No comments


5 tahun kemudian….
AUTHOR’S POV
            Anastasya menghabiskan hari liburnya seharian di kamar. Ia bahkan tidak ingin keluar kamar sedikitpun bahkan untuk makan. Ia tak merasakan lapar sedikitpun, hingga sore berganti malam ia hanya  tidur-tiduran di dalam kamar. Mama dan papanya yang sedari tadi khawatir akhirnya menyerah sudah setelah berusaha meminta agar anak gadisnya mau keluar kamar. Anastasya yang awalnya sibuk dengan beberapa buku tentang bintang-bintang itupun akhirnya mau tidak mau membuka jendela kamar tidurnya setelah mendengar ketukan yang cukup lama.
            Ia terkejut bukan main karena yang tengah berdiri di luar jendela kamarnya adalah lelaki itu. Lelaki yang membuatnya tidak bisa tidur tenang beberapa hari. Lelaki yang juga tentu saja sangat dirindukannya. Lelaki itu tersenyum dan berjalan semakin mendekat, melompati jendela kamar Anastasya dan duduk di samping ranjang. Sementara Anastasya berusaha untuk tidak menghiraukan lelaki itu. Ia menyibukkan diri dengan melanjutkan kegiatannya sebelum lelaki itu masuk dengan seenaknya ke dalam kamarnya. Melihat hal itu, Reynand hanya tersenyum. Ia melihat rambut acak-acakan wanita itu, dan baju piyamanya yang kusut, yang entah sudah berapa hari dikenakannya.
            “Hey….,” sapa Reynand, memulai pembicaraan tapi Anastasya tak menanggapi, dia hanya berdiam diri dan memasang wajah dingin.
            “Loe nggak kangen sama gue…?” ucap Reynand yang tentu saja mendapatkan pengabaian sekali lagi dari Anastasya. Melihat kelakuan Anastasya yang masih tetap sama, ia pun akhirnya mengambil buku yang dibaca oleh Anastasya, dan hal itu tentu saja membuat Anastasya bereaksi dengan berusaha mengambil buku itu dari tangan Reynand, namun apa daya, tangan Reynand lebih panjang darinya, hingga ia tidak bisa meraihnya dan yang terjadi malah dia terjatuh tepat di atas tubuh Reynand. Anastasya menunduk malu, sementara Reynand malah senyum-senyum melihat pipi Anastasya yang menyembul merah. Ketika Anastasya mencoba untuk bangkit, Reynand malah menguatkan pelukannya, menahan Anastasya untuk tetap pada posisi itu.
            “Gue kangen loe….,” ucap Reynand di telinga Anastasya, dan itu tentu saja membuat pipi Anastasya menjadi lebih memanas dan berwarna merah karena malu. Ia pun akhirnya melepaskan diri dari Reynand setelah berusaha keras. Ia duduk dan bersandar di kepala ranjang, begitu pula dengan Reynand, ia kemudian melakukan hal yang sama, duduk namun dengan membaca beberapa judul buku yang berserakan di atas tempat tidur Anastasya.
            “Astronomi, Perbintangan, Mitologi Yunani….,” ucap Reynand. “Kenapa…loe baca buku-buku ini?” tanya Reynand kemudian. Mendengar pertanyaan Reynand, Anastasya melotot kearah Reynand.
            “Karena nggak ada lagi yang ceritain tentang hal itu ke gue…,”
            “Oh…jadi….karena gue nggak ada lagi, loe jadinya baca sendiri buku itu buat ngatasin rasa penasaran loe…,”
            “Ish….bukan urusan loe….,”
            “Oh, ya…kalau gue maunya ini jadi urusan gue gimana?”
            “Ish….apa sih maksud loe, Nand….?”
            “Loe nggak suka baca yang beginian, dan bukan gaya loe banget tuh pakek kacamata kuda gitu sambil baca-baca buku beginian,”
            “Sudah gue bilang, bukan urusan loe, Nand…,”
            “Dan sudah gue bilang juga Cha, kalau gue mau ini jadi urusan gue…,”
            “Loe maunya apa sih, Nand… Belom cukup loe nyembunyiin banyak hal dari gue, belum cukup loe buat gue seperti ini dan loe seenaknya aja pergi tanpa memberikan penjelasan apapun ke gue. Loe tahu nggak, apa yang gue rasain, gue sakit hati, Nand”
            “Kenapa loe harus sakit hati…?” tanya Reynand dengan santainya. Anastasya tak menghiraukan pertanyaan Reynand itu, ia tahu bahwa lelaki itu bermaksud untuk mempermainkannya. “Kenapa loe harus sakit hati?” tanya Reynand lagi dengan nada suara yang lebih tinggi.
            “Karena…gue…gue suka sama loe. Gue suka sama loe, Abraham Reynand Pratama, puas loe…!” ucap Anastasya dengan nada tinggi dan berurai air mata. Ia pun kemudian bergegas bangkit dari tempat tidurnya untuk keluar kamar dan meninggalkan lelaki itu. Namun, Reynand lebih cepat darinya, ia berada di ambang pintu dan tak membiarkan gadis itu memutar kenop pintu untuk meninggalkannya. Menyadari bahwa dirinya tidak bisa kabur, akhirnya Anastasya berbalik, namun sebelum ia kembali Reynand memeluknya dari belakang. Anastasya yang tidak bisa berbuat apa-apa setelah berusaha melepaskan pelukan Reynand pun akhirnya pasrah dan membiarkan lelaki itu memeluknya.
            “Terima kasih…untuk mengatakannya lebih dulu….,” ucap Reynand sembari menyembunyikan wajahnya di ceruk leher Anastasya. Anastasya yang mendengar perkataan Reynand pun terkejut seketika, ia tak dapat menghentikan degupan jantungnya yang seolah berlari keluar, ia tak peduli lagi bahwa Reynand akan menertawakannya setelahnya ketika lelaki itu menyadari bahwa jantungnya berdegup kencang.
            “Ma’af gue pengecut. Bukannya gue nggak ingin menyatakannya lebih dulu, hanya saja gue takut, gue takut kalau loe masih marah ke gue dan nggak percaya dengan perkataan gue, selain itu…gue juga nggak mau ngebebani loe, jika ternyata perasaan gue ke loe nggak terbalaskan…,” ucap Reynand. Anastasya yang mendengar hal itupun langsung berbalik dan menatap manic mata lelaki itu. Ia tidak menemukan kebohongan dalam manic mata itu.
            “Kenapa loe berpikiran seperti itu…?”
            “Loe kan dulu sukanya sama Naufal, dan gue nggak mau ngebebani loe dengan menyatakan perasaan gue ke loe…,”
            “Dasar bodoh…darimana loe tahu gue suka sama Naufal…,”
            “Ish…semua orang di sekolah kita dulu sudah pada tahu kalau loe suka sama si ketos itu,”
            “Hah…kok bisa…?”
            “Ya bisalah, mereka selalu memperhatikan loe, tahu…,”
            “Bagaimana mungkin, mereka benci gue. Terus kenapa mereka merhatiin gue…,”
            “Ish…,” Reynand menjitak kepala Anastasya. “Loe tahu nggak bahwa orang yang membenci loe, itu adalah orang yang paling memperhatikan loe, karena mereka berusaha keras untuk mencari kelemahan loe, makanya dia bisa tahu secara mendetail tentang loe…,” jelas Reynand yang di jawab dengan anggukan kepala oleh Anastasya.
            “Gimana kabar loe…?” tanya Reynand kemudian setelah keduanya keluar kamar dan memutuskan untuk berbincang di balkon.
            “Seperti yang loe lihat, berantakan….,” ucap Anastasya. Yang tentu saja mendapat gelak tawa dari Reynand.
            “Apa itu karena gue?” tanya Reynand.
            “Siapa lagi….?” ucap Anastasya masih ketus.
            “Sorry….,”
            “It’s okay. Kalau loe, gimana kabar loe…,”
            “Kayak yang loe lihat, gue makin tinggi dan tampan, fans gue juga semakin bertambah asal loe tahu…,” ucap Reynand yang tentu saja membuat Anastasya menjadi mendengus kesal karenanya. Reynand pun akhirnya kembali memeluk Anastasya untuk menghentikan kekesalan gadis itu.
            “Nggak usah ngambek gitu, sekalipun fans gue banyak di Australia, tapi gue cuman sukanya sama fans gue yang satu ini…,” ucap Reynand sembari mencubit kecil hidung Anastasya.
            “Gue bukan fans loe, asal loe tahu….,” ucap Anastasya membela diri.
            “Tapi loe suka sama gue, itu sama aja….,” ucap Reynand.
            “Ish..nyebelin loe tuh ya….,” ucapan Anastasya terhenti oleh kecupan yang Reynand berikan di bibir Anastasya dengan tiba-tiba.
            “Gue nggak peduli dengan berapa banyaknya fans gue di luaran sana. Gue hanya peduli dengan gadis berpiyama hello kitty dengan rambut acak-acakan dihadapan gue saat ini. Karena percaya atau tidak, gue sukanya sama dia. Bahkan lebih dari suka, gue cinta, gue cinta pada gadis dihadapan gue ini. Anastasya Christy Gracella, gue cinta loe….,” ucap Reynand yang tentu saja membuat Anastasya tersenyum bahagia, pipinya kembali dihiasi rona merah mendengar kata-kata hangat yang keluar dari bibir Reynand.
            “Gue percaya, gue percaya kalau loe cinta sama gue…,” ucap Anastasya.
            “Benarkah? Atas semua yang telah terjadi di masa lalu, loe percaya pada pernyataan cinta gue?” tanya Reynand yang tentu saja di jawab anggukan oleh Anastasya.
            “Atas semua yang terjadi di masa lalu, gue percaya. Gue percaya cinta loe, Nand. Jujur awalnya memang sulit bagi gue buat percaya ucapan nyokap loe kalau loe sebenarnya suka sama gue, gue lebih nggak percaya lagi ketika gue tahu bahwa ternyata loe deketin gue karena loe salah mengira bahwa gue adalah Ana, dan loe perhatian sama gue karena janji loe pada Alfan buat ngejagain kekasihnya. Tapi, kemudian gue sadar, bahwa loe tahu hal itu sudah beberapa bulan lamanya, namun sikap loe ke gue nggak berubah, itulah yang kemudian ngebuat gue percaya bahwa loe benar-benar suka gue….,”
            “Ya tentu saja….,”
            “Terus, boleh gue nanya satu hal yang masih nggak gue ngerti sampai saat ini?”
            “Apa itu?”
            “Kenapa loe milih ninggalin gue, bahkan tanpa penjelasan sedikitpun?”
            “It..itu karena…gue hanya nggak mau bahwa loe akan berpikir bahwa penjelasan gue hanyalah bentuk pembelaan gue semata jika gue jelasin ke loe waktu itu,”
            “Apa karena kekeras kepalahan gue…,”
            “Tepat, loe itu kepala batu. Jadi, gue tahu bahwa loe pastinya nggak akan percaya dengan mudah. Makanya gue kasih loe kesempatan agar otak loe, loe gunain buat mikir…,”
            “Dengan cara ninggalin gue?”
            “It’s right….,”
            “Ish…dasar…jahat…,”
            “Tapi, loe cinta kan sama orang jahat ini…,” goda Reynand yang tentu saja mendapat hadiah cubitan kecil dari Anastasya karena sengaja mengejeknya.
            “Terus alasannya apa lagi…,”
            “Seperti yang gue bilang di awal, karena Naufal..,”
            “Hah….?”
            “Iya, karena gue kira loe cinta mati sama Naufal, makanya gue pikir loe bakal bahagia jika gue pergi dan loe sama Naufal…,”
            “Ish…dasar…lagi..lagi…loe ngejudge gue…,”
            “Hehe…sorry….,”
            “Terus kenapa loe sekarang balik? Harusnya loe berpikir gue udah hidup bahagia, nikah dan punya anak sama Naufal…,”
            “Karena gue punya mata-mata. Gue punya mata-mata yang bisa ngasih tahu gue semua hal tentang loe, semua hal yang loe lakuin, tiap jam, tiap menit atau bahkan tiap detik sekalipun…,”
            “Hah…siapa?”
            “Ada nyokap gue, Dinda, Bimbo, Bibi Pembantu rumah loe, dan tentu saja nyokap loe…,”
            “Ihh…pantes aja mama selalu nanyain kabar gue tiap menit kalau gue lagi di kantor, itu pasti karena kerjaan loe…,”
            “Hehehe…sorry…,” ucap Reynand. “Oh ya ada satu hal lagi,”
            “Apa?”
            “Loe hanya boleh nikah dan punya anak sama gue, nggak sama naufal atau yang lainnya…,”
            “Ish…itu perintah…,”
            “Bukan…itu keharusan…”
            “Dasar pria pemaksa, memangnya gue mau nikah sama kamu?”
            “Tentu saja,”
            “Ih…kepedean…,” ucap Anastasya sembari berjalan kembali ke kamarnya.
            “Nggak kepedean, ini kenyataannya. Tuh kan loe ngajak kita balik ke kamar…,”
            “Ih…dasar otak mesum. Gue mau tidur, ini sudah tengah malem dan gue besok harus kerja. Lagian siapa juga yang ngajakin loe ke kamar gue, balik sono…,”
            “Alah Cha…ayolah..gue masih kangen sama loe. Nggak ngapa-ngapain nggak papa deh yang penting gue sama loe malem ini…,”
            “Dasar gila, loe mau di gerbek orang satu kampung, kita bisa dinikahkan langsung tahu….,”
            “Itu malah yang gue mau…,”
            “Nggak mau pokoknya, loe balik sono ke kamar loe…,”
            “Tapi, Cha, gue kan masih kangen. Gue bakal ceritain ke loe tentang rasi bintang deh, em…tentang Andromeda, gue kan belum sempet ceritain itu ke loe…,”
            “Ih…udah lima tahun telat banget Nand, gue udah tahu ceritanya. Gue udah baca buku-bukunya bahkan udah tanya ke mbah google, jadi gue nggak perlu lagi denger cerita loe…,”
            “Cerita di buku nggak seru Cha, seruan denger cerita gue lagi…,”
            Perdebatan seperti dulu pun terjadi lagi antara dua sejoli itu. Lima tahun berpisah tak membuat keduanya menjadi canggung. Mereka tetap saja masih sama seperti dulu, seperti tom dan jerry yang selalu saja tak henti bertengkar. Namun, satu hal yang membedakan mereka tidak lagi saling mengejar, karena mereka telah memutuskan untuk saling berjalan bersama.


Fourteen

Edit Posted by with No comments


AUTHOR’S POV
         Sudah beberapa bulan Anastasya tak melihat Reynand. Ia merasa ada sesuatu yang hilang di hidupnya. Meskipun tidak mengenal Reynand cukup lama, tapi ia sudah mulai terbiasa dengan keberadaan lelaki itu. Lelaki itu kerap kali mengganggunya, mengusilinya dan masih banyak lagi kekacauan yang sering ditimbulkan oleh lelaki itu. Tapi, ketika ia tiba-tiba menghilang, Anastasya merasa ada yang hilang. Bertengkar dan beradu mulut bersama Reynand yang semula berada dalam rutinitasnya, kini tak ada lagi.
         Anastasya memberanikan diri untuk mengunjungi rumah lelaki itu. Ia mengetuk rumah dengan warna putih yang dominan itu. Beberapa menit kemudian seorang perempuan separuh baya membukakan pintu. Wanita separuh baya itu tersenyum seolah tahu bahwa Anastasya akan berkunjung ke rumahnya.
         “Eh Acha ya…mari masuk sayang….,” ucap Mama Reynand ramah seperti biasanya.
         “Emmm…tante…Acha cuman……?”
         “Pasti mau nanyain Reynand kan?” tanya Mama Reynand.
         “Loh…kok tante tahu?”
         “Ya, tentu saja. Nggak mungkin kan kamu kemari nyari tante?” ucap Mama Reynand. “Sebenarnya ada yang ingin tante katakana sama kamu, tante sudah nunggu kamu cukup lama, tapi kamu baru mengunjungi sebulan lebih setelah Reynand pergi…,”
         “Reynand pergi….?” Tanya Anastasya yang dengan kening berkerut dan duduk dengan tidak nyaman di sofa ruang tamu keluarga Reynand.
         “Iya, dia pergi… Dia bilang mau melanjutkan study di Australia saja…,”
         “Ap..pa? Mak…sudnya? Reynand, akan meninggalkan Jakarta dan…..,”
         “Iya, Cha. Tante sudah bilang padanya untuk tidak pergi, tapi dia…..,”
         “Kenapa Tan? Apa alasannya?” tanya Anastasya.
         “Alasannya…kamu….,” jelas Mama Reynand.
         Anastasya yang mendengar penjelasan dari Mama Reynand bahwa alasannya kepergian Reynand adalah dirinya, rasanya seolah seperti beribu jarum tengah menusuk hatinya. Ia tak mengerti kenapa harus dirinya. Sebenci itukah Reynand pada dirinya. Begitu terbebaninya kah lelaki itu dengan dirinya karena beberapa waktu terakhir memang benar adanya bahwa Ananstasya memang sangat merepotkan bagi Reynand.
         Air mata Anastasya tumpah dalam detik ketiga, setelah memikirkan beberapa kemungkinan-kemungkinan yang menyebabkan kepergian Reynand akibat dirinya. Mama Reynand yang melihat Anastasya menangis merasa sangat bersalah karena kata-katanya menyakiti hati Anastasya. Tapi, Anastasya salah paham, bukan maksud Mama Reynand menyalahkan Anastasya, tapi Anastasya sudah terlanjur salah paham dan meneteskan air mata.
         “Hey…Cha…kenapa kamu nangis?” tanya Mama Reynand kemudian dengan raut wajah yang bersalah. Ia mendekat dan duduk di samping Anastasya kemudian. Ia menyeka air mata Anastasya dan meminta Anastasya untuk melihat ke arahnya dan bukannya menunduk seraya menyembunyikan kesedihannya. Anastasya hanya diam tak menjawab pertanyaan yang diajukan oleh Mama Reynand.
         “Cha…kenapa kamu menangis?” tanya Mama Reynand lagi.
         “Reynand pasti benci sekali sama Acha, Tan. Dia pergi pasti karena Acha selalu nyusahin dia dan…..,”
         “Hey…hey…apa maksud kamu?”
         “Loh, bukannya tadi tante bilang Reynand pergi karena Acha. Itu berarti Reynand sangat membenci Acha..dan….,”
         “Astaga…jadi itu yang menjadi alasan kamu menangis?” tanya Mama Reynand sembari tersenyum. Sementara Acha yang melihat Mama Reynand tersenyum malah memasang wajah bingung, pasalnya dirinya bersedih sementara wanita separuh baya itu malah menertawakannya.
         “Tan…kenapa malah tertawa….?”
         “Bagaimana tante nggak ketawa Cha. Kamu itu lucu, benar deh kata Reynand,”
         “Hah….maksud Tante…? Kenapa Acha malah bingung?”
         “Gini Cha, Reynand pergi karena kamu, it’s true, but itu bukan karena dia membenci kamu, tapi malah sebaliknya…,”
         “Maksud tante?”
         “Reynand suka sama kamu Cha….,”
         “Haahh…nggak mungkin banget. Tante jangan bercanda deh….,”
         “Astaga, tante serius sayang. Reynand suka sama kamu, meskipun dia bukan anak kandung tante, tante tahu bagaimana perasaan dia ke kamu…,”
         “Bukan anak kandung? Jadi Reynand….?”
         “Reynand anak angkat tante, Cha. Anak angkat tante adalah Alfan, Alfan Pratama..,”
         “Alfan…Alfan yang…..,”
         “Tepat…Alfan, Alfan yang dulu menyukai saudara kembar mu, Alfan yang itu….,”
         “Jadi..tante mamanya Alfan, terus sekarang dimana Alfan tan?”
         “Dia…dia sudah pergi. Dia pergi ke tempat yang sama dengan saudara kembarmu berada saat ini…,”
         “Al…Alfan meninggal?” seru Anastasya dengan sangat terkejut.
         “Iya, dia meninggal karena sakit. Selepas dia pergi meninggalkan Tante, Tante sangat merasa kehilangan banget, namun tante menjadi baik-baik saja seperti sekarang ini karena Reynand,”
         “Jadi Reynand sebenarnya….,”
         “Anak angkat tante, sahabat Alfan,”
         “Oh….,”
         “Tapi, ada hal yang masih perlu kamu tahu Cha….,”
         “Tentang Reynand, juga tentang janjinya pada Alfan…..,”
         “Janji? Ap…apa maksudnya?”
         Akhirnya Mama Reynand pun menceritakan semua yang selama ini tidak diketahui oleh Anastasya. Ia menceritakan tentang perjanjian antara Reynand dengan Alfan, dimana Reynand harus mencari dan menjaga wanita yang dicintai oleh Alfan, untuk menggantikan dia.
         “Jadi selama ini dia….,”
         “Dia salah sangka Cha. Dia salah mengira bahwa kamu adalah kekasih Alfan. Dia tidak tahu sebelumnya bahwa kamu mempunyai saudara kembar,”
         “Jadi, maksud tante dia mendekati Acha, karena….,”
         “Iya, dia mendekati dan menjagamu selama ini karena ia mengira bahwa kamu adalah Ana, kekasih Alfan. Dia melakukannya karena dia hendak memenuhi janjinya pada mendiang Alfan. Tapi setelah dia tahu bahwa kamu bukanlah Ana, dia mengatakan pada Tante bahwa tugasnya telah berakhir, dia merasa bahwa dia tak harus menjagamu lagi, karena kekasih Alfan sebenarnya telah bersama dengannya di surge. Jadi, dia memutuskan untuk….,”
         “Pergi….,” ucap Anastasya yang kemudian di jawab anggukan kepala oleh Mama Reynand.
         “Jadi…selama ini dia peduli dan perhatian sama gue karena dia kira gue adalah Ana…,” batin Anastasya yang seolah teriris selepas mendengar kenyataan itu. Matanya memanas tak mampu lagi menahan tangisnya untuk yang kedua kalinya. Ia mengingat-ngingat apa yang selama ini terjadi, ia mengingat pernyataan Bimo dan Dinda waktu Reynand mengkhawatirkannya, ia juga mengingat semua hal yang pernah Reynand lakukan untuknya. Ia tak menyangka bahwa ternyata Reynand melakukan semua itu hanya karena janjinya kepada Alfan, hanya karena dia telah salah mengira bahwa dirinya adalah Ana.
         Beberapa menit kemudian Anastasya pun pamit untuk pulang. Setelah mengantarkan Anastasya keluar pintu, Mama Reynand merasa tidak enak hati dengan apa yang terjadi pada Anastasya. Ia mencoba melakukan beberapa panggilan pada Reynand, dan baru diangkat oleh Reynand pada panggilan kedua.
         “Iya ma, kenapa?” tanya Reynand.
         “Nand, kayaknya mama melakukan kesalahan deh…,”
         “Kesalahan? Apa maksud mama…,”
         “Mama kayaknya melakukan kesalahan pada Anastasya. Dia menangis….,”
         “Apa maksud mama, kenapa dia menangis? Apa yang mama lakukan…,”
         “Nand,,, sabar dulu, mama akan jelaskan.,” ucap Mama Reynand.
         Akhirnya mama Reynand pun menjelaskan semuanya tentang kejadian tadi siang. Dimana ia telah menceritakan semuanya tentang Reynand kepada Anastasya. Reynand yang berada di seberang sana yang mendengar semua penjelasan mamanya pun hanya dapat menghembuskan nafas dengan berat.
REYNAND’S POV
         Gue tahu, Anastasya pasti merasa sangat kecewa karena gue. Karen ague nyembunyiin banyak hal darinya. Karena gue memang mendekatinya secara sengaja demi menuntaskan semua janji gue kepada Alfan. Tapi, mau bagaimana lagi memang itulah kenyataannnya. Semuanya karena kebodohan gue, karena gue salah mengira bahwa Anastasya itu adalah Anastasya yang dulu bersama dengan Alfan.
         Gue memikirkan banyak hal sebelum akhirnya gue memutuskan untuk pergi dari kehidupannya. Gue hanya nggak mau dia terluka lebih dalam lagi karena gue. Dan lebih dari apapun gue mau liat dia bahagia bersama dengan orang yang dicintainya, meskipun tentu saja itu harus dengan melepaskan perasaan gue terhadapnya. Ya, benar, gue mencintainya. Gue mencintainya sebagai Anastasya Cristy Gracella, atau Acha, bukan sebagai Ana, kekasih Alfan. Dan karena menyadari perasaan yang tidak seharusnya itu tumbuh, itu pulalah yang menjadi alasan bagi gue untuk pergi jauh darinya. Tapi, jika keadaannya menjadi rumit seperti ini, gue harus bagaimana sekarang?
         “Gue gimana sama loe, Cha…, gue nggak mau pergi dengan segala kesalahpahaman ini, gue….,”
         “Harusnya loe nggak tahu, akan lebih baik kalau loe nggak tahu semua kebenarannya, sehingga loe nggak akan terluka gara-gara gue…,”
ANASTASYA’S POV
         Gue nggak tahu ada apa dengan gue sebenarnya. Entah kenapa juga gue harus sakit hati. Kenapa gue harus merasa tersakiti dengan kebenaran bahwasannya Reynand sengaja ngedeketin gue karena dia salah mengira bahwa gue adalah Ana, kekasih Alfan. Kenapa gue harus seperti ini. Harusnya gue biasa saja, toh itu hanyalah kesalahan yang Reynand buat, karena memang dia benar-benar tidak tahu. Dia melakukan itu hanya karena ingin menunaikan janjinya pada mendiang sahabatnya. Tapi, entah kenapa setiap kali gue mengingat semua hal yang ia lakukan ke gue adalah karena Ana, karena dia mengira gue itu Ana, hati gue serasa sakit dan sesak.
         “Ada apa dengan gue…? Sebenarnya, terlepas dari kebenaran perasaan loe ke gue seperti yang mama loe bilang, sebenarnya gue bingung dengan perasaan gue sendiri,”
         “Jika memang gue nggak ada rasa sama loe, tapi kenapa gue harus merasa sakit, kenapa hati gue serasa tercabik-cabik setelah mendengar semua penjelasan tentang segala hal yang loe sembunyikan dari gue…?”
        
        








Thirteen

Edit Posted by with No comments


AUTHOR’S POV
            Hari sudah sangat larut, tapi Anastasya tidak bisa memejamkan matanya. Ia kemudian membuka jendela kamar tidurnya, namun tidak di sangka bahwa ada sepasang mata yang menatapnya tepat di seberang sana. Anastasya keluar menuju balkon begitu pula dengan seseorang yang beberapa detik lalu terkejut ketika matanya menatap mata seorang gadis yang beberapa hari terakhir ini selalu memenuhi pikirannya. Ya, lelaki itu tak lain dan dan tak bukan adalah Reynand, Abraham Reynand Pratama.
            Keheningan tercipta ketika keduanya berdiri bersisian. Anastasya tengah sibuk dengan pikirannya sendiri, dan menatap langit malam untuk menenangkan pikirannya. Begitu pula dengan Reynand ia juga  melakukan hal yang sama seperti yang dilakukan Anastasya yaitu mendongakkan kepalanya untuk menatap langit malam.
            “Loe suka menatap langit malam?” tanya Reynand.
            “Hmm…ya..gue suka….,” jawab Anastasya.
            “Kenapa?”
            “Maksudmu?”
            “Kenapa loe suka langit malam…,”
            “Entahlah…gue juga nggak tahu, gue hanya suka aja. Karena kalau gue menatap langit malam yang dipenuhi bintang-bintang itu, rasanya hati gue menjadi tenang dan damai..,” jelas Anastasya sembari nyengir ke arah Reynand.
            “Ah jadi begitu…Cha, apa loe tahu nama rasi bintang itu?” tanya Reynand kemudian memecah keheningan di antara keduanya.
            Anastasya yang sedari tadi sibuk dengan pikirannya sendiri pun mengalihkan tatapannya ke arah Reynand sembari menggelengkan kepalanya.
            “Nggak tahu…,”
            “Ish..loe nie, suka natap langit malah nggak tahu nama rasi bintang itu….,” ucap Reynand sembari menunjuk bintang-bintang yang membentuk rangkaian seperti gambar sebuah kursi.
            “Gue emang nggak tahu, bukankah gue udah bilang gue cuman seneng liatinnya aja…,” jelas Anastasya. “Emangnya, loe tahu tuan sok pintar?” tanya Anastasya.
            “Tentu saja. Apa yang nggak di ketahui oleh seorang Reynand…,” ucap Reynand dengan PD nya.
            Anastasya yang melihat gaya sok keren Reynand hanya cekikikan melihat tingkah sok tahu Reynand yang menurutnya lebih seperti seorang bocah.
            “Coba deh loe perhatikan bintang-bintang itu membentuk sebuah gambar seperti kursi kan?” tanya Reynand.
            “Hah…bagaimana gue bisa liat…perasaan itu bintang-bintang cuman bertaburan di langit sana…,”
            “Ish…loe nih. Tunggu sebentar gue ambil sesuatu dulu,” ucap Reynand sembari pergi sejenak untuk mengambil sesuatu. Beberapa menit kemudian, Reynand datang dengan membawa sebuah teropong bintang dan tentu saja hal itu membuat Anastasya terkejut.
            “Loe punya yang beginian?” tanya Anastasya.
            “Tentu saja, sini gue ajarin cara makainya,” jelas Reynand. “Loe hanya perlu fokus untuk liat bintang-bintang yang paling terang. Bukankah bintang-bintang itu membentuk gambar kursi seperti yang gue bilang tadi?” tanya Reynand. Dan Anastasya pun mengangguk untuk menjawab pertanyaan Reynand.
            “Nama rasi bintang itu Cassiopeia…..,” jelas Reynand.
            “Nama yang indah…,”
            “Ya, tentu saja nama yang indah untuk rasi bintang yang indah pula, bukankah begitu?” tanya Reynand yang di jawab lagi dengan anggukan kepala oleh Anastasya.
            “Tapi kenapa bentuknya dikatakan seperti kursi? Kalau menurutku itu hanyalah berbentuk garis-garis saja yang menghubungkan diantara yang satu dengan yang lainnya,” tanya Anastasya.
            “Entahlah gue juga nggak tahu, banyak yang mengatakan bahwa lima bintang itu berbentuk kursi terbalik. Tapi, kalau merujuk pada mitologi yunani, rasi bintang itu sebenarnya menggambarkan seorang ratu Yunani bernama Cassiopeia,” jelas Reynand.
            Mendengar penjelasan Reynand, Anastasya pun menjadi tertarik untuk mengetahui penjelasan Reynand lebih lanjut.
            “Benarkah…terus….,”
            “Terus? Apa maksudmu….?” Tanya Reynand dengan kening berkerut.
            “Ya, terus ceritakan lebih lanjut tentang Ratu Cassiopeia itu….,”
            “Loe penasaran…?”
            “Ya, tentu saja…,”
            “Astaga….ini keajaiban….,”
            “Keajaiban? Maksud loe…,”
            “Ya, keajaiban bahwa seorang Anastasya Christy Gracella yang sangat tidak suka pelajaran sejarah kini menjadi tertarik dengan cerita gue…,” jelas Reynand.
            “Ish dasar..menyebalkan…,” rajuk Anastasya yang hendak meninggalkan Reynand namun di cegah oleh Reynand. Reynand menarik pergelangan tangan Anastasya. Anastasya pun menurut dan kembali berdiri di samping Reynand dengan masih menatap langit malam seperti sebelumnya.
            “Loe mudah sekali ngambek sih…,”
            “Bodoh….,”
            “Oke..oke…bakal gue ceritain…,” ucap Reynand. Reynand menarik napasnya dan kemudian melanjutkan ceritanya. “Menurut cerita mitologi yunani, Cassiopeia adalah istri seorang raja bernama Cepheus dari kerajaan Aetiophia. Suatu hari kesombongan Cassiopeia melewati batas dengan mengatakan bahwa kecantikannya dan kecantikan putrinya, Andromeda melebihi kecantikan Nereid (peri laut), para putri Poseidon,”
            “Terus?” tanya Anastasya.
            “Ya, tentu saja mendengar hal itu, sang dewa laut marah besar. Kemudian sang dewa laut mengutus monster laut bernama Cetus. Cetus disini kalau dalam mitologi Yunani digambarkan sebagai ikan paus,”
            “Lalu, apa yang dilakukan Cetus, si ikan paus itu?” tanya Anastasya makin penasaran.
            “Sesuai dengan perintah dewa laut, Cetus menghancurkan kerajaan Aetophia. Sementara dewa laut, Poseidon sendiri menghukum kesombongan Cassiopeia dengan mengikatnya di atas kursi singgasananya sendiri dan menaruhnya terbalik di atas langit,”
            “Ah, jadi karena itukah rasi bintang itu di sebut bergambar kursi terbalik…,”
            “Ya, menurut mitologi begitu. Dan seringkali pula digambarkan di kursi tersebut Cassiopeia duduk dengan memegang cermin sambil mengagumi kecantikannya sendiri,”
            “Terus apa yang dilakukan oleh suami Cassiopeia?”
            “Maksudmu sang raja?”
            “Ya, sang raja, suami Cassiopeia tadi…siapa namanya Ce…?”
            “Chepeus?”
            “Ya, itu si Cep….Chepeus itu. Apa yang dilakukannya melihat kerajaannya hancur dan istrinya di hukum seperti itu oleh raja laut?”
            “Em…menurut cerita, setelah mendengar bahwa monster Cetus akan datang dan menenggelamkan kerajaannya, Raja Chepeus kemudian meminta nasihat para Oracle ,”
            “Oracle?”
            “Ya, oracle…mereka menyebut peramal dengan nama oracle…,”
            “Oh, terus…,”
            “Ya, terus Oracle atau peramal mengatakan kepada Sang Raja bahwa satu-satunya cara untuk memendam amarah Poseidon, sang dewa laut, mereka menyuruh sang raja untuk mengorbankan putrinya, Andromeda,”
            “Andromeda? Bukankah itu nama galaksi?”
            “Ya, loe bener. Ternyata ada juga pelajaran yang masuk ke otak loe ya..,”
            “Ish, dasar loe….,” ucap Anastasya dengan kesal. Keheningan tercipta beberapa detik, namun segera buyar dengan pertanyaan yang diajukan oleh Anastasya.
            “Terus bagaimana dengan cerita si Putri Andromeda itu, Nand…,”
            “Gak ada, gak ada cerita lebih lanjut, hari udah sangat malam, dan besok kamu harus sekolah,” ucap Reynand.
            “Ihh…gue kan penasaran Nand..,”
            “Loe kan bisa baca dim bah google kalau memang penasara Cha…,”
            “Nggak seru, loe tahu sendiri gue males banget kalau baca. Gue sukanya cuman denger ceritanya secara langsung daripada membaca. Ya, udah deh kalau loe nggak mau cerita sekarang, loe ceritain ke gue tentang kisah putrid Andromeda besok ya…,”
            “Nggak bisa…,”
            “Kenapa nggak bisa Nand? Toh rumah kita deket, dan…,”
            “Karena….karena gue mau pergi besok….,”
            “Pergi? Pergi kemana?”
            “Loe nggak perlu tahu. Pokoknya sekarang waktunya loe tidur,” ucap Reynand sembari mengelus rambut Anastasya.
            “Ish,,,,nyebelin. Gue kan bukan anak kecil, lagian gak masalah kalau gue tidur malem…,”
            “Itu jadi masalah Cha, karena loe bakal terlambat ke sekolah besok pagi. Apa loe mau dipermalukan lagi di depan semua siswa siswi karena terlambat?”
            “Gue udah biasa…,”
            “Kalau dipermalukan di depan cowok idaman kamu, Naufal?”
            “Eh….it…itu, darimana loe…tahu kalau gue per….,”
            “Shhshhh…gak penting dari siapa atau bagaimana gue bisa tahu, pokoknya loe harus balik ke kamar loe dan tidur…,”
            “Ish…dasar menyebalkan. Baiklah..tuan sok ngatur…,” gerutu Anastasya. Reynand yang mendengar gerutuan Anastasya hanya tersenyum kecil.
            Selepas kepergian Anastasya, Reynand pun kembali menuju ke kamarnya.
            “Ma’afin gue Cha, gue harus lakuin ini….,” gumam Reynand.
            Disisi lain, Anastasya yang hendak bersiap untuk tidur merenung sejenak.
            “Bagaimana loe bisa tahu tentang Naufal, Nand. Padahal, gue aja udah mulai lupa kalau gue pernah suka cowok itu. Dan perasaan gue sekarang…arghhh…..,” batin Anastasya sebelum akhirnya ia memejamkan matanya.
*****