Tampilkan postingan dengan label Sakura di Bulan Juni. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sakura di Bulan Juni. Tampilkan semua postingan

Selasa, 10 Juli 2018

Epilog

Edit Posted by with No comments

Nendra membawa Reta ke suatu cafe yang di penuhi dengan cahaya lilin yang sangat indah di sepanjang jalan. Lampu berkilauan yang kelap kelip terpasang menghiasi tempat itu. Dan pohon-pohon di luar cafe itu juga tak kalai indahnya dengan lampu berkelap kelip itu juga. Reta yang mengenakan dress berwarna putih, sepatu flat putih tampak begitu cantik dengan rambut panjangnya yang ia biarkan tergerai sempurnah. Dia duduk di tempat yang sudah di pesankan oleh Nendra. Dan tanpa sadar Reta dan Nendra duduk di bagian tengah-tengah cafe dengan beberapa meja lainnya yang dipenuhi oleh orang-orang mengelilingi mejanya.
            “Sebenarnya ini acara apa sih Nen, kok kamu bawa aku ke tempat seperti ini?”tanya Reta yang tampak kikuk di antara banyaknya pengunjung itu, karena dia tidak terbiasa mengunjungi tempat-tempat yang terkesan romantis seperti ini.
            “Ini kejutan.....,” ucap Nendra yang kemudian perhatiannya teralihkan pada suara yang meminta perhatian semua pengunjung cafe yang datang.
            “Perhatian semuanya, kali ini kita akan di hibur oleh teman-teman kita yang sangat tampan disini. Dia akan menyanyikan satu buah lagu untuk seorang gadis yang sangat di cintainya. Untuk itulah, mohon perhatiannya dan jangan biarkan mata anda berkedip sedikitpun,” ucap pembawa acara dari atas panggung tempat biasanya band-band cafe beraksi menghibur para pengunjung.
            Lampu utama padam seketika dan hanya terlihat lampu-lampu kecil yang menerangi. Hingga kemudian satu persatu personil muncul dengan sorotan lampu-lampu berwarna putih yang meneranginya. Reta terkejut bukan main ketika yang sosok orang –orang yang dilihatnya muncul satu per satu di bawah sorotan lampu itu adalah orang-orang yang dikenalnya. Dia melihat Davy, Yoyo, Reyhan, Sigit, Putri, Ersa dan juga Nico berada di atas panggung. Reta terheran-heran kenapa teman-temannya dan temannya Zelvin semua ada di atas panggung. Dan hingga sorotan lampu terakhir menyinari seseorang yang tengah menyanyikan sebuah lagu. Semua pengunjung melihat ke arah lelaki yang sangat tampan dengan pakaian yang casual namun terkesan rapi itu.
            “Zelvin....,” ucap Reta lirih setelah ia tahu sosok yang tengah berdiri dan bernyanyi di atas panggung itu. Ia pun tersenyum kemudian yang juga di sambut dengan senyuman yang sama oleh Zelvin di kejauhan.
Ku tuliskan kenangan tentang
Caraku menemukan dirimu
Tentang apa yang membuatku mudah
Berikan hatiku padamu
            Disela-sela nyanyian yang dilantunkan oleh Zelvin ada sebuah proyektor yang menampikan sebuah tulisan “Sakura di Bulan Juni” dan setelah tulisan itu proyektor itu menampilkan foto-foto seseorang. Mulai dari foto seorang gadis kecil dengan pipi tembem, hingga gadis itu menjelang remaja, dan dewasa. Proyektor itu tak henti-hentinya menampilkan foto-foto itu yang tentu saja Reta tahu bahwa itu adalah foto-fotonya sejak zaman dia duduk si sekolah dasar, sekolah menegah pertama, sekolah menengah atas dan bahkan foto-fotonya yang sekarang duduk di bangku kuliah.
            Reta menatap mata Zelvin, dan begitu pula dengan Zelvin yang tak hentinya mentap mata Reta seolah menujukkan bahwa lagu yang di nyanyikannya adalah semua isi hatinya pada Reta. Reta pun menghayati lagu itu dengan tetap menatap lekat pada mata Zelvin di kejauhan.
Tak kan habis sejuta lagu
Untuk menceritakan cantikmu
Kan teramat panjang puisi
Tuk menyuratkan cinta ini
Reff :
Telah habis sudah cinta ini
Tak lagi tersisa untuk dunia
Karena tlah ku habiskan
Sisa cintaku hanya untukmu

Aku pernah bermimpi tentang
Hidupku tanpa ada dirimu
Dapatkah lebih indah dari
Yang kujalani sampai kini
Aku selalu bermimpi tentang
Indah hari tua bersamamu
Tetap cantik rambut panjangmu
Meskipun nanti tak hitam lagi
Back to Reff
Untukmu
Hidup dan matiku
Bila musim berganti
Sampau waktu terhenti
Walau dunia membenci
Ku kan tetap disini
Back To Reff
............................................
            Zelvin menyanyikan lagu itu sampai akhir, dan di beberapabait terakhirnya ia berjalan mendatangi Reta. Dan setelah lagu terakhir itu dia pun mengatakan sesuatu pada Reta.
            “Ma’af, karena aku telah membuatmu terluka dan membuat kita harus terpisah karena kesalapahaman ini,” ucap Zelvin. “Bisakah kau mema’afkanku dan kembali mencintaiku lagi...?”tanya Zelvin.
            Semua pengunjung melihat ke arah Reta dan menunggu jawaban Reta. Reta yang malu karena orang-orang di sekitarnya memperhatikannya tak mampu berkata apapun selain mengangukkan kepalanya sebagai jawabannya. Dan Zelvin pun segera memeluk Reta karena mendengar jawaban yang memuaskannya dari Reta. Dan akhirnya semua pengunjung pun bertepuk tangan melihat keduanya.
            Acara pun dilanjutkan dengan makan. Dan ngobrol bersama dengan teman-temannya yang lain. Namun, kemudian Reta menatap penuh selidik pada Zelvin.
            “Kenapa?” tanya Zelvin yang sadar akan tatapan Reta.
            “Ada yang mau aku tanyakan...,”ucap Reta.
            “Apa?”
            “Kenapa judul fotoku “Sakura di Bulan Juni”?”
            Dan Zelvin pun terkekeh dengan pertanyaan Reta. Ia sebelumnya berfikir bahwa Reta akan bertanya bagaimana dia bisa mendapatkan foto-foto Reta dari masa kecil sampai sekarang, tapi gadis itu malah bertanya kenapa judulnya “Sakura di Bulan Juni”.
            “Karena pertama kalinya aku menyukai seorang gadis kecil yang memakai baju dengan motif bunga sakura dan berjalan di tengah hujan dengan payung bercorak sama dengan bajunya di musim hujan bulan Juni beberapa tahun yang lalu. Dan juga karena di bulan Juni pulalah aku bertemu kembali dengan gadis itu setelah dua tahun lamanya yang masih juga mengenakan baju bermotif bunga sakura berwarna pink. Dia membuatku jatuh cinta berkali-kali, gadis sakuraku...,” jelas Zelvin yang pada Reta. Reta blushing dan menunduk untuk menyembunyikannya dari Zelvin.
Namun, Zelvin yang seolah mengerti gelagat Reta malah menarik dagu Reta agar mendongak melihatnya. Hingga kemudian ketika matanya dan mata Reta bertemu dia mendekatkan bibirnya menyentuh bibir Reta. Bibirnya melumat bibir Reta dengan lembut dan Reta pun membalasnya setelah beberapa detik ciuman itu berlangsung. Namun, tiba-tiba ciuman itu terhenti ketika suara seseorang mengagetkan semua orang disana termasuk Reta dan juga Zelvin.
“Lah kok sudah ciuman aja. Emang acaranya udah selesai ya...?” tanya Awan dengan wajah polosnya.
“Huuuuu.....,” semuanya menyeru pada Awan dan awan terkekeh kecil melihat semuanya menyerunya karena tingkah konyolnya.
“Loe sih...sapa suruh dateng terlambat.....,” ucap Zelvin dengan menjatuhkan jitakan di kepala Awan yang diikuti pula dengan Nendra.
Awan hanya terkekeh melihat kedua temannya melakukan itu padanya, karena itu memang hukuman yang diterapkan olehnya dan kedua sahabatnya itu ketika salah satu dari mereka terlambat dari acara penting yang diadakan oleh salah satu diantara mereka bertiga. Dan akhirnya hari itu pun diakhiri dengan canda dan tawa di antara mereka semua. Terdapat raut wajah bahagia diantara mereka semua, terutama Reta dan Zelvin.
*****
THE END

Bab 16

Edit Posted by with No comments


Ada banyak alasan seseoramg membuat pilihannya
Dan janganlah pernah kamu menghakiminya
Sebelum kamu tahu apa alasan di balik setiap keputusannya
Agar kamu terhindar dari penyesalan yang tiada habisnya
~Zelvin~
Akhirnya Nendra pun menjelaskan semuanya pada Zelvin. Tentang Reta yang menerima ancaman dari Regina, tentang teror-teror yang Regina lakukan pada Reta, dan tentang kesalah pahaman hubungan diantara Nendra dan Reta, juga tentang alasan kenapa Reta harus mau melepaskan Zelvin untuk Regina.
            “Kalau dia beneran mencintai gue, harusnya dia nggak ninggalin gue dan membuat kesalah pahaman itu terjadi Nen...,”
            “Dia melakukan itu karena dia takut dengan ancaman Regina yang akan nyakitin loe kalau dia nggak ngelakuin apa yang Regina mau. Dia mempunyai tingkat kecemasan yang berlebihan Vin, dan itulah yang membuat dia akhirnya memutuskan untuk memilih langkah itu...,”
            “Psikosomatik. Dia memiliki tingakat kecemasan dan ketakutan yang berlebihan. Dan salah satu phobianya yang terparah adalah karena dia takut pada ular. Apa itu yang menyebakannya sampai tidak sadarkan diri?”
            “Iya, dia bercerita bahwa dia melihat ular di lokernya di kampus dan itulah yang ngebuat dia pingsan. Kau tahu aku sampai gila karena saking khawatirnya melihat dia tidak sadarkan diri selama dua hari,” tambah Nendra.
            “Nen, loe.....,” Zelvin merasa curiga dengan rasa khawatir Nendra terhadap Reta yang dianggapnya tidak wajar.
            “Ah..apa kelihatan jelas ya... Aku tak bisa menyembunyikannya lagi. Padahal dulu aku sangat pandai menyembunyikannya...,”
            “Maksud loe...?”
            “Ya seperti dugaanmu aku memang mencintai Reta, sejak dulu dan mungkin sampai sekarang...,” jelas Nendra. “Kalau loe, sejak kapan loe jatuh cinta pada Reta...,”
            “Sejak dulu, sejak gue sering gangguin di saat di sekolah dasar dulu...,” jujur Zelvin.
            “Ahhhh...jadi itukah sebabnya kenapa loe bisa tahu dia memiliki penyakit itu? Yang bahkan aku sahabatnya dan orang terdekatnya pun tidak tahu kalau dia menderita penyakit itu sejak lama?”
            Zelvin menjawab pertanyaan Nendra dengan anggukan.
            “Aku tidak tahu kalau ternyata kita mencintai satu orang perempuan yang sama Nen...,”
            “Iya, Vin. Aku juga tidak pernah berfikir kalau kamu juga menyukai dia karena kamu dulu sering sekali membullynya dan menghinanya..,”
            “Ya, kita mencintai satu wanita yang sama hanya cara kita mencintai yang berbeda Nen. Aku dengan caraku yang menyakitinya berharap dia akan membenciku hingga dia tidak akan melupakanku di sampai kapanpun dan  dengan harapan penuh bahwa suatu hari nanti rasa bencinya itu akan berubah menjadi cinta,”
            “Ya, dan caraku mencintainya adalah dengan mendekatinya dan menjadi orang terdekatnya berharap bahwa dia akan segera tahu bahwa aku mencintainya...,”
            “Reta pasti akan sangat bahagia kalau dia tahu bahwa selama ini cintanya padamu tidak bertepuk sebelah tangan Nen. Dia mencintaimu..,”
            “Itu dulu Vin, sebelum akhirnya kamu datang lagi di hidupnya dan membuatnya jatuh cinta padamu,” ucap Nendra. “Aku akan melepaskan Reta, Vin...,”
            “Apa maksudmu...?”
            “Berjanjilah padaku bahwa sampai kapanpun loe nggak akan ngungkapin kebenaran bahwa sesungguhnya aku mencintainya...,”
            “Tapi kenapa Nen...?”
            “Gue hanya nggak ingin membebaninya Vin. Dia sekarang mencintai loe dan gue nggak mau dia melepaskan cintanya buat loe hanya karena gue. Gue nggak mau dia menerima gue hanya karena dia ngerasa nggak enak atau kasian sama gue. Lagi pula, gue juga sudah punya Mita, sahabat Reta. Dan gue juga nggak mau Reta menyalahkan dirinya sendiri jika dia tahu bahwa dialah yang akan menjadi penyebab putusnya gue dengan Mita, jika dia tahu gue punya perasaan untuknya. Jadi gue mohon Vin..please jangan kasih tahu dia tentang perasaan gue,”
            “Tapi, loe beneran nggak apa-apa?”
            “Gue nggak apa-apa Vin. Toh ini juga salah gue sendiri jika gue kehilangan dia. Gue yang nggak punya keberanian untuk menyatakan perasaan gue ke dia, hingga akhirnya gue dan dia terjebak dalam hubungan yang rumit ini bersama juga dengan Mita,” jelas Nendra. “Lagipula yang dibutuhkan Reta saat ini hanya loe Vin. Satu-satunya orang yang ada di pikiran dan hatinya hanya loe seorang. Gue cuman minta satu hal sama loe Vin, jagain dan bahagiain dia Vin dan jangan pernah salah paham lagi dengannya,” ujar Nendra.
            “Iya Nen...tentu saja gue bakal jagain dia. Gue sangat mencintai dia. Tapi, sebelum gue berlari ke arah dia dan meminta ma’af kepadanya gue harus menyelesaikan dulu masalah gue sama Regina. Gue akan buat perhitungan sama dia karena telah ngebuat cewek yang gue cintai menderita,”
            “Baiklah, gue pegang janji loe..,”
            “Ya, tentu saja...,” ucap Zelvin
            Kemudian keduanya pun merebahkan dirinya di sofa dan hanyut dengan pikirannya masing-masing. Ada ketenangan yang terlukis di wajah keduanya.
*****






Bab 15

Edit Posted by with No comments


Aku nyaris gila karena rasa khawatir ini
Kamu tidak membuka matamu dan itu membuatku tercekam ketakutan
Hingga aku lupa bagaimana caranya untuk bernafas
Melihatmu terbaring lemah tak berdaya lebih menyakitiku
Daripada saat ku tahu bahwa tak akan ada lagi cintamu untukku
Dan bukan lagi aku yang bertahta di hatimu
~Nendra~
            Mentari mulai meninggi dan sinarnya masuk melalui celah-celah jendela kaca. Reta menyipitkan matanya karena silaunya dan mau tak mau akhirnya dia pun mulai membuka matanya. Dia merasakan ada tangan yang menggenggam tangannya. Dan didapatinya seorang lelaki yang tertidur dengan terduduk di bangku dan kepalanya bersandar di tempat tidurnya dengan tangan yang menggenggam tangannya. Lelaki itu terbangun karena gerakan kecil yang di buat oleh Reta.
            “Kamu sudah bangun?” tanya lelaki itu.
            “Nendra...kamu disini. Ini...dimana?” tanya Reta yang baru menyadari bahwa dia berada di tempat asing, dia baru tersadar bahwa dirinya tidak tertidur di kamar tidurnya di kosan.
            “Kamu di rumah sakit,” jawab Nendra seolah tahu apa yang dipikirkan gadis itu.
            “Kenapa..aku...bisa berada di sini?” tanya Reta yang tidak mengingat sama sekali kenapa dia bisa terbangun di sebuah kamar rumah sakit tanpa tahu apa yang terjadi padanya sebelumnya.
            “Kenapa kau tidak mengatakannya padaku Reta. Kau sahabatku dan kau tidak membiarkan aku tahu apa yang selama ini menganggumu?” Nendra balik bertanya.
            “Apa maksudmu Nen...?”
            “Kamu menderita penyakit psikosomatik. Kamu pingsan tiba-tiba dan dokter bilang itu mungkin disebabkan karena kamu memiliki kecemasan yang berlebihan,” jelas Nendra.
            “Oh, penyakit itu lagi yang membuat aku pingsan...,” ucap Reta sembari mencoba untuk duduk dari posisi berbaringnya.
            “Sejak kapan kamu menderita penyakit ini?” tanya Nendra kemudian.
            “Sudah lama. Sejak aku duduk di sekolah dasar....,” ucap Reta. “Tapi penyakit itu sudah jarang datang lagi kok...,” jelas Reta seolah tahu bahwa lelaki di hadapannya di landa kecemasan.
            “Sudah lama kau menderita penyakit itu. Tapi kenapa kau sama sekali tak memberi tahuku Reta. Kau anggap aku ini apa?”
            “Nen...aku.....,” Reta tak dapat memberitahukan alasannya kepada Nendra. Karena dia pikir bahwa apa yang terjadi padanya tidak akan berpengaruh pada Nendra dan dia pun tak mau membuat Nendra berteman dengannya hanya karena rasa kasihan. “Ma’af....,” ucapnya kemudian karena ia tahu bahwa apa yang dilakukannya adalah salah. Nendra selalu bercerita banyak hal kepadanya tapi dia malah menutup semua hal dari Nendra, padahal mereka berteman dekat sejak dulu.
            “Bodoh...kamu...memang gadis terbodoh yang pernah aku kenal,” ucap Nendra sembari memeluk Reta. “Kau tahu, aku sangat khawatirmenungguimu yang tidak bangun selama dua hari. Dan kamu tahu betapa aku nyaris akan gila setelah mendengar penuturan dokter bahwa kemungkinan terbesar dari penyakit itu adalah kamu bisa koma,” ucap Nendra.
            Reta sangat mendambakan pelukan Nendra sejak dulu, tapi entah mengapa sekarang pelukan itu tak menghangatkannya seperti dulu. Dia butuh pelukan Zelvin untuk membuatnya hangat dan menghilangkan semua kecemasannya. Tapi, nyatanya dia baru ingat bahwa tidak mungkin lagi baginya untuk bisa merasakan pelukan hangat dari lelaki itu lagi. Beberapa menit kemudian Nendra pun melepaskan pelukannya dari Reta.
            “Baiklah sekarang kalau kamu sudah merasa lebih baik, ceritakan semuanya padaku. Ceritakan padaku apa yang membuatmu menjadi seperti ini, kau tahu kan bahwa kau berutang banyak cerita padaku sebelum kejadian ini?” tanya Nendra.
            Dan akhirnya Reta pun menceritakan semuanya pada Nendra tanpa terkecuali. Tentang ancaman-ancaman Regina untuk membuatnya menjauhi Zelvin, tentang teror-teror yang juga Regina lakukan padanya hingga puncaknya ia jatuh pingsan di depan lokernya di kampus.
            Beberapa menit kemudian datanglah Ersa dan Putri yang akan menemani Reta menggantikan Nendra. Dan Nendra pun izin pergi meninggalkan Reta. Ada sesuatu hal yang penting yang harus dilakukannya saat ini.
*****
            Nendra mendaratkan motornya di sebuah rumah kos yang berwarna biru. Dia memencet bel pintu rumah hingga membuat seorang di dalam rumahnya keluar membukakan pintu gerbang dan pintu rumah. Seolah sudah hafal betul dengan tamu yang berkunjung itu, akhirnya sang pemilik rumah pun mempersilahkan dia masuk.
            Nendra langsung berjalan ke kamar dekat tangga yang terletak di lantai dua itu. Dia mengetuk pintu kamar itu dan melihat seseorang dengan wajah kusut dan berantakan membukakan pintu.
            “Ngapain kesini? Apa mau loe....?” tanya Zelvin sarkas.
            “Apa yang loe lakuin...?” Nendra balik bertanya melihat lelaki di hadapannya yang sangat berantakan dan juga kamarnya yang tak kalah berantakan dengan bekas botol bir dan rokok dimana-mana.
            “Gak usah sok peduli sama gue..,” ucap Zelvin seolah dia tahu sahabatnya itu tahu apa yang dilakukannya adalah hanya merusak dirinya sendiri.
            “Gue gak peduli sama loe. Bahkan loe mati sekalipun gue gak bakal peduli lagi sekarang. Tapi, apa loe sadar bahwa apa yang loe lakuin sekarang adalah salah !”
            “Bodoh...gue gak peduli...,”
            “Loe emang gak peduli pada diri loe sendiri. Tapi, apa loe gak mikirin perasaan cewek yang berjuang dengan keras setelah tak sadarkan diri dua hari hanya karena cintanya sama loe !” ucap Nendra geram.
            “Apa maksud loe. Siapa yang loe maksud?”
            “Siapa lagi kalau bukan Reta...!!!” bentak Nendra.
            “Bulshittt... Reta tidak mencintai gue, dia hanya mencintai loe baik dulu ataupun sekarang...,”
            “Jangan bodoh Vin. Kalau dia nggak mencintai loe, dia nggak bakal berkorban dengan perasaannya sendiri dan mencoba untuk merelakan dan melepaskan loe hanya karena tak ingin loe tersakiti,”
            “Apa maksud perkataan loe. Berhenti main-main dan jelaskan apa maksud dari semua perkataan loe..,”
           







Bab 14

Edit Posted by with No comments


Aku harus melepasmu
Bukan karena aku membencimu
Tapi karena aku sadar
Karena aku sadar bahwa aku telah jatuh cinta padamu
Karenanya aku tak ingin membuatmu menderita karenaku
~Reta~
            Reta sedang makan siang di kantin kampus bersama dengan Putri dan juga Ersa siang itu ketika tiba-tiba seorang cewek dengan pakaian seksi mendatanginya dengan dua teman ;aiinya. Reta terkejut bukan main ketika cewek tak dikenalnya itu berbicara padanya dengan nada sinisnya.
            “Jadi..loe yang namanya Reta…,” ucap cewek itu memulai pembicaraannya dengan Reta.
            “Ah…iya ada apa kamu nyari aku?” tanya Reta.
            “Gue nggak mau basa basi dan langsung saja pada intinya. Jauhi Zelvin…!!!”
            “Maksud kamu?”
            “Udah deh jangan berlagak bego.Gue ini pacarnya Zelvin. Jadi loe nggak usah deket-deket atau ngerayu cowok gue lagi…!!!”
            “Kamu apaan sih dating-dateng nyolot gitu,” ucap Ersa yang nggak suka nada bicara cewek itu pada Reta.
            “Loe diem aja, gue gak ada urusan sama loe..,” ucap Cewek yang bernama Regina itu pada Ersa.“Pokoknya gue peringatin loe buat ngejauh dari Zelvin.Kalau loe coba-coba loe bakal dapat balesan dari gue…,” kecam Regina sembari langsung bergegas pergi meninggalkan Reta, Putri dan Ersa.
*****
            Zelvin sudah berkeliling kampus seharian mencari Reta.Beberapa minggu yang lalu mereka sudah berjanji untuk bertemu di taman kampus tapi sampai hari akan sore Reta tak kunjung nongol juga. Reta bukanlah tipe orang yang suka ingkar janji karena itu dia mencium ketidakberesan.Ditengah koridor kampus Zelvin bertemu dengan Putri dan Ersa.Zelvin memang agak begitu dekat dengan sahabat-sahabat Reta karena itu dia mencoba bertanya pada kedua cewek itu.
            “Eh..Put..Sa…kalian tahu nggak dimana Reta?”
            “Ada apa kamu nyariin Reta? Solot Ersa.
            “Loh, kok kamu ngomongnya gitu?” tanya Zelvin.
            “Gue peringatin yak e kamu sekarang sebaiknya jauhin Reta…!!”
            “Iya, Vin daripada kamu hanya ingin nyakitin dia, lebih baik kamu jauhin Reta..,” tambah Putri.
            “Apa sih maksud kalian berdua…?” tanya Zelvin tak mengerti dengan segala tuduhan Putri dan Ersa.
            “Kamu kan sudah punya pacar, jadi nggak usah gangguin Reta sekarang,”
            “Pacar? Siapa maksud kalian?” tanya Zelvin geram.
            “Itu cewek seksi yang satu jurusan denganmu itu..,”
            “Cewek seksi? Siapa?” tanya Zelvin lagi gusar.
            “Udah jangan berlagak gak tahu deh Vin,” ujar Putri.
            “Cewek…eh tunggu..maksud kalian Regina?”
            “Apapun siapapun namanya kita nggak peduli..,”
            “Loh kok kalian tahu tentang Regina?”
            “Bagaimana mungkin nggak tahu dia dating dan nyerocos melarang dan mengancam Reta suapaya menjauhimu,” jelas Ersa.
            “Maksud kalian..?”
            Akhirnya Putri dan Ersa pun menceritakan kejadian tidak menyenangkan di kantin kampus beberapa minggu yang lalu. Bagaimana Regina dengan kasarnya mengancam Reta untuk menjauhi Zelvin. Zelvin yang mendengar semua itu langsung geram dan naik darah.Dia juga menceritakan bahwa hubungannya denga Regina sudah berakhir sejak lama dan dia bersungguh-sungguh mencintai Reta dan tidak ingin mempermainkannya.
*****
            Zelvin menunggu Reta di depan kosnya tapi yang di tunggu malah nggak keluar-keluar. Zelvin juga sudah ribuan kali menelpon Reta tapi Reta tak mengangkatnya sama sekali. Hari-hari berikutnya juga sama, Reta seolah menghindar dari Zelvin dan itu tentu saja membuat Zelvin marah. Hingga suatu siang di kantin kampus akhirnya Zelvin bertemu dengan Reta.Zelvin berjalan menuju Reta ditemani oleh Nico.Sementara Reta tengah makan bersama Putri dan Ersa.
            “Aku mau bicara sama kamu..,” ucap Zelvin yang sontak membuat Reta dan sahabatnya terkejut karena cowok itu tiba-tibba muncul.
            “Ada apa?Ngomong aja?Aku rasa nggak ada yang perlu kita bicarain lagi,” ucap Reta.
            “Ersa, Putri kalian bisa ninggalin kita berdua.Loe juga Nic..,”ucapnya member isyarat pada Nico.
            “Ersa, Putrid an Nico meninggalkan Reta dan Zelvin berdua dengan pindah ke bangku atau meja lainnya..,”
            “Kamu marah?” tanya Zelvin memulai pembicaraan.
            “Nggak.Kenapa? Kenapa harus marah…?”
            “Ya, tentu saja kamu pasti nggak akan marah karena nggak ada alasan buat kamu untuk marah. Kamu nggak suka sama aku kan? Aku tahu kamu sebenarnya suka sama…….,”
            “Apa aku ini mainan yang menarik Vin…?” sela Reta.
            “Apa maksud kamu…?”
            “Kamu bilang kamu cinta sama aky.Kamu bilang kamu mau nunggu aku sampai aku bisa ngelupain Nendra. Kamu bilang kalau…..,” air mata Reta kini bercucuran. “Tapi nyatanya kamu…kamu sudah punya cewek.Aku nggak masalah dengan itu. Tapi kenapa kamu bohongin aku Vin. Apa aku ini mainan yang sangat menarik buat kamu. Sejak dulu bahkan sampai sekarang kamu…..,”
            “Ret..aku…Tentang masa lalu, aku tahu aku salah dan aku minta ma’af. Tapi sekarang aku…sekarang aku bener..bener..,”
            “Sudahlah apapun hubungan kamu dengan cewek itu atau apapun kebohongan yang pernah kamu katakana sama aku, aku sudah nggak peduli…,” ucap Reta sembari masih berlinangan air mata.
            “Tapi Ret…aku….,” Zelvin tak melanjutkan penjelasannya karena tiba-tiba seseorang menyela perkataannya.
            “Oh, jadi loe vin yang ngebuat sahabat gue jadi sering nangis akhir..akhir ini…!!!” ucap Nendra dengan meninggikan suaranya yang juga jelas saya membuat Reta, Zelvin dan bahkan Putri, Ersa dan Nico terkejut.
            “Nendra..kenapa kemari...?” tanya Reta.
            “Kenapa kamu nggak bilang Ret, kenapa kamu nggak bilang ke aku kalau orang yang beberapa hari terakhir ini sering ngebuat kamu nangis kayak gini adalah dia…,” tanya Nendra pada Reta sembari menunjuk ke arah Zelvin untuk menunjuk kata dia yang dimaksudnya.
            “Oh, jadi gini maksud loe Ret. Loe menolak mandengar penjelasan gue dan nyuruh gue jauhin loe lagi karena loe udah sama Nendra !Karenaloe udah dapetin Nendra dan sekarang loe mintague jauhin loe.Bulshit…bahkan loe menjadikan Regina yang ngaku sebagai cewek gue sebagai alasan.Nyatanya loe hanya menjadikannya alasan untuk menguatkan kesalahan gue dan membenarkan sikap loe yang malah memilih kembali menyukai Nendra?” sarkas Zelvin yang sudah Nampak geram.“Oke kalau itu mau kamu, gue pergi dan gak akan ganggu hidup loe lagi.Dan selamat buat loe karena akhirnya loe dapetin cinta pertama loe…,” ucap Zelvin dengan bahasa yang tak lagi formal kepada Reta karena kemarahannya yang memuncak.
            Zelvin meninggalkan Reta yang tengah menangis di ikuti oleh Nico di belakangnya.Sementara Nendra memeluk gadis yang terisak di hadapannya. Reta melihat seseorang dari jauh mengawasinya dan tersenyum senang dengan apa yang terjadi antara dirinya dengan Zelvin. Nendra yang tidak tahu dengan apa yang membuat tangis Reta menjadi lebih deras hanya semakin mengeratkan pelukannya pada gadis itu tanpa menuntut penjelasan gadis itu. Dia memang membutuhkan banyak penjelasan dari semua yang telah terjadi, termasuk dengan ucapan Zelvin yang terakhir kali kalau Nendra adalah cinta pertama Reta, tapi dia tahu bahwa gadis di hadapannya itu belum siap untuk member penjelasan apapun untuknya.
*****







Bab 13

Edit Posted by with No comments


Aku gadis yang picik, yang mencintai sahabatku
Yang telah menjadi kekasih sahabatku sendiri juga
Ma’af karena aku mencintaimu tanpa seizinmu, Nendra..
~Reta~
            “Hey, Nen, Vin….,” sapa Awan.
            “Loe lama banget sih wan…?” tanya Nendra.
            “Loe tahu nggak kita udah nungguin loe satu jam lebih,” ujar Zelvin.
            “Iya, sorry, sorry, gue sedikit kesulitan nyari nie café,”
            “Heh..bukannya loe udah sering keliling ya. Kok sampai kesulitan?” ujar Zelvin ketus.
            “Yeah, sorry lah Vin. Tadi gue juga lagi bantuin cewek yang nggak sengaja gue tabrak tahu..,”
            “Tuh kan ujung-ujungnya kalau loe terlambat pasti karena cewek,” tukas Zelvin.
            “Yee..nggak gitu juga kali. Tadi memang bener-bener nggak sengaja.Loe tahu nggak siapa cewek yang gue tabrak?”
            “Bego loe. Emangnya kita tahu, kan loe nya yang nabrak..,”
            “Iya sih..hehe..,” ucap Awan. “Tadi tuh yang gue tabrak Reta.Loe tahukan Margareta Auristella Lisham, temen SD kita dulu yang pipinya tembem dan wajahnya kucel abis itu.Kalian tahu nggak duile sekarang dia jadi cantik banget. Gue sampek nggak ngenalin dia dengan dress birunya dan jepit kecil yang menyibak poninya ke samping. Dan dengan sepatu flat putihnya itu. Wah..dia bener-bener cantik banget meskipun jauh dari kata seksi. Tapi dia cukup okelah…,” jelas Awan panjang lebar sembari mengingat kejadian beberapa waktu lalu saat dia bertemu Reta.
            Nendra dan Zelvin hanya diam melihat temennya yang sangat asyik menceritakan pertemuannya dengan Reta setelah 8 tahun tidak bertemu.Melihat kedua temannya tidak berekasi apa-apa dia angkat bicara lagi.
            “Loh, kok kalian nggak terkejut?”
            “Loe lupa kalau gue temen baiknya dan tiap tahun meski sekali kami selalu bertemu,” jelas Nendra.
            “Loe mungkin juga lupa ya kalau gue selalu ketemu dia karena gue selalu satu sekolah dengannya dan bahkan sekarang satu kampus malah,” tukas Zelvin.
            “Hehehe…,” Awan terkekeh.“Iya, gue lupa kalau cuman gue yang nggak pernah liat dia sejak saat itu. Pantesan kalian nggak heran ngeliat dia yang tampil begitu cantik itu,”
            “Nggak juga…..!!!” keduanya menjawab serempak.
            “Maksud kalian?”Awan penasaran dengan maksud pernyataan kedua sahabatnya itu.
            “Dia sempat menghilang tanpa kabar selama dua tahun.Sampai aku bertemu lagi di kampus beberapa bulan lalu dan dia menjadi adik tingkat gue sekarang,” jelas Zelvin.
            “Iya, sejak dua tahun itu gue nggak pernah liat dia lagi kecuali berkomunikasi lewat sms.Tapi, setelah denger darinya dia kuliah di kota ini makanya kemarin gue ngajak dia ketemuan,” jelas Nendra.
            “Oh..jadi loe yang ngajak..,” ucap Zelvin.
            “Maksud loe?”Nendra kebingungan dengan pernyataan Zelvin.
            “Ah…nggak..nggak papa…,” buru-buru Zelvin menyela. Karena dia tidak ingin ke dua sahabatnya tahu kalau dia sekarang berniat mendekati Reta kembali.
            Akhirnta mereka pun bercakap-cakap bersama mengingat semua kenangan di masalalu.Termasuk membicarakan Reta sepanjang waktu itu.Bagi mereka obrolan tentang Reta cukup menyenangkan hingga tak terasa waktu mereka habis untuk hal itu.
*****
            Sementara itu, usai makan siang Ersa dan Putri mendesak Reta untuk memenuhi janjinya untuk menceritakan masa lalunya.
            “Jadi, gimana Ret? Kok kamu bisa berubah jauh banget dari yang temen kamu ketahui,”
            “Emm..ya itu karena kau tahu kan dua tahun yang lalu aku berhenti kuliah dulu..,”
            “Iya…ya..kamu udah bercerita tentang itu…,”
            “Ya, itulah alasannya…,”
            “Hahhh…maksudmu?” tanyaPutri dan Ersa bersamaan.
            “Kalian tahu kan aku ini tipe orang yang super duper sibuk dengan buku-buku hingga tak bisa merawat diri..,”
            “Ya..ya…,” gumam kedua sahabat Reta.
            “Nah, karena itu waktu dua tahun itu aku jadi bisa ngerawat diri. Terlebih lagi karena tuntutan profesiku karena dulunya aku bekerja sebagai sales kosmetik,”
            “Oh…gitu…gitu…ya…,”
            “Aku jadi penasaran pingin liat foto kecil mu yang katanya tembem dan kucel itu,” ucap Ersa.Dan kemudian mereka pun terkekeh bersama-sama. “Trus..trus tentang cowok tadi?” tanya Ersa lagi.
            “Wahhh..kamu antusias banget sama cowok itu. Jangan-jangan kamu naksir dia ya..,” ledek Putri.
            “Apaan sih kamu Put..Tapi, boleh juga tuh. Kebetulan gue kan baru putus dari Johan sebulan yang lalu..,”
            “Jangan..jangan dia…,” ucap Reta kemudian.
            “Kenapa Ret? Dari ketiga orang itu kamu suka sama dia?” selidik Ersa.
            “Bukan..bukan begitu. Dia itu tipe orang yang suka gonta ganti cewek dari dulu dan bahkan mungkin sampai sekarang.Sifat playboy nya itu masih saja belum bisa hilang darinya,” jelas Reta.
            “Ah…itu kan yang loe ketahui dulu,” sergah Ersa.
            “Tidak, Zelvin bilang dia masih tetap seperti itu..,”
            “Wahh..wah..siapa tuh Zelvin. Kayaknya kita ketinggalan banyak penjelasan dari Reta ni Sa,” ucap Putri.
            “Oh..apa salah satu dari sahabat yang disebutkan cowok itu tadi,” ucap Ersa berhipotesis dengan pemikirannya sendiri. Reta pun mengangguk.
            “Wah..jadi loe lebih suka sama si Zelvin itu ya, dari ketiga cowok itu..,”
            “Tidak…aku nggak…Bagaimana mungkin?” sergah Reta.
            “Em…kalau bukan dia berarti………,”Ersa berpikir keras.
            “Cowok yang bernama Nendra itu berarti….,” duga Putri.
            Reta tidak menjawab dan hanya menundukkan wajahnya.Matanya mulai berkaca-kaca dan mengeluarkan kata-kata dengan pelannya.
            “Itu dulu…,” ucapnya kemudian.
            “Dan sekarang?” tanya Putri penuh selidik.
            Reta mengangguk.
            “Tapi, bagaimana mungkin aku menyukai seseorang yang menjadi kekasih sahabatku sendiri. Aku gadis yang picik kan?” ucap Reta sembari diikuti oleh air matanya yang mulai berjatuhan.
            “Reta……………….,”
            “Aku mencintainya tanpa seizinnya Put..,” jelas Reta yang kemudian di peluk oleh Putri.
            “Dalam cinta kau tidak perlu minta izin Ret..,” ucap Putri menenangkan.
            “Tapi…aku….,” Reta kembali meneteskan air matanya.
            “Sudahlah, sudahlah…kami tahu perasaanmu..,”
            “Pasti dia cinta pertama kamu kan? Hingga kamu nggak bisa ngelupain dia sampai sekarang,” ucap Putri.Reta pun mengangguk.
            “Em…sudahlah lupakan dia Ret, bukankah sekarang kamu bilang kalau kamu sedang dekat dengan seorang cowok?” tanya Ersa.
            “Iya, kamu coba saja dengan cowok itu. Siapa tahu bisa melupakan Nendra dengan kehadiran cowok itu…,”
            “Siapa namanya?”
            “Zelvin, sahabat Nendra dan Awan cowok yang menabrak gue tadi,”
            “Wah kalau begitu bagus Ret. Kamu bisa sekalian balas dendam atau sekedar memanasi si Nendra yang nggak pernah atau lebih memilih cinta yang lain daripada cinta loe..,”
            “Tapi, bagaimana mungkin aku bersama Zelvin..,”
            “Memangnya kenapa?”
            Reta pun menceritakan semuanya kepada kedua sahabatnya tentang bagaimana kasarnya Zelvin memperlakukannya dulu.Bagaimana laki-laki itu begitu membencinya dan selalu membullynya di sekolah termasuk juga dengan Awan. Tapi, untunglah ada Nendra di antara kedua cowok menyebalkan itu yang akan membantu Reta setiap kali kedua cowok itu menyakitinya.
            “Lalu, bagaimana aku bisa percaya pada laki-laki itu. Bagaimana bisa aku percaya bahwa Zelvin benar-benar menyukaiku dan tidak hanya berniat mempermainkanku..?”
            “Kamu masih membencinya ats sikapnya dulu?”
            “Tidak..aku tidak pernah membenci mereka sekalipun meskipun telah berbuat seperti itu padaku,” jelas Reta.
            “Karena itu kamu bisa dekat dengan Zelvin sekarang ?” tanya Putri dan Reta pun mengangguk sebagai jawaban pertanyaan itu.
            “Jika kamu tidak nyaman dengannya lebih baik kamu mencoba untuk menghindarinya..,” ujar Ersa.
            “Sudah.Aku sudah melakukan itu.Tapi, karena itu dia sakit dan mogok kuliah selama beberapa hari. Padahal dia harus segera menyelesaikan skripsinya agar cepat lulus,”
            “Karena itu kau memutuskan untuk bersamanya?” tanya Putri.
            “Belum.Kami hanya berteman untuk saat ini.Dia tahu aku menyukai Nendra sejak dulu sampai sekarang. Dan dia bersedia menungguku sampai aku bisa melupakan Nendra,”
            “Ap..Apa….?” tanya kedua sahabatnya terkejut.
            “Itu berarti dia tidak mempermainkanmu Ret. Dia benar-benar menyukaimu..,”
            “Benarkah?Aku harap juga seperti itu,” ucap Reta.Dan mungkinkah ciumannya saat itu juga bukti cintanya padaku,” batin Reta yang kembali mengingat ciuman Zelvin beberapa waktu lalu.
*****