Selasa, 16 Oktober 2018

Kalah

Edit Posted by with No comments


       Malam itu, kamu tahu betapa sulit rasanya bertarung dengan diri sendiri, dimana antara hati dan logika bertolak belakang dan tidak beriring.

       Saya berkata pada diri bahwa saya baik-baik saja. saya kuat seperti sebelum-sebelumnya. Saya mampu melewati semuanya dengan sempurnah.

       Namun nyatanya, saya kalah melawan hati, hingga akhirnya saya melakukan hal yang tidak seharusnya saya lakukan, sesuatu yang mungkin sangat kamu benci. Ma'af, jika ego saya selalu saja tinggi, sementara kamu harus meletakkan bencimu dalam hati.

       Berulang kali saya merutuki dalam hati, menyalahkan diri sendiri, yang dengan seenaknya melibatkanmu dalam sebuah beban yang bahkan tak ingin sama sekali kamu tahu. Memaksamu untuk menguatkan yang bahkan sama sekali tak ingin kamu lakukan.

       Kamu sudah nyaman dengan hidupmu, sementara saya hanya bisa merusaknya menjadi abu. Ma'af. Ma'af. Hanya kata itu yang mampu saya ucap. Mungkin tak akan berarti bagimu karena saya tidak bisa mengembalikan waktumu yang terbuang percuma karena saya. Tapi, lewat kata itu saya titipkan sebuah ketulusan didalamnya. Semoga kamu tetap berada di dalam lindungan-Nya.

       Di suatu pagi, di sudut lorong ruangan ini, saya sadar bahwa saya hanya punya diri dan sendiri.

Pas, 21/8/2018

Kehilangan?

Edit Posted by with No comments

       Hanya pena dan kertaslah tempat dimana seharusnya saya membagi beban. Bukankah memang begitu sejak dulu? Harusnya saya sadar sesadar-sadarnya bahwa bukan keputusan yang tepat membagi apa yang menjadi beban saya dengan orang lain. Bukan karena mereka akan tidak peduli atau bahkan abai. Tapi, lebih pada mereka punya masalah dan kesibukan juga, bukan?

       Saya sadar saya salah. Waktu bisa mengubah segalanya, hingga semua berbeda tidak seperti dulu lagi. Meski ketakutan saya masih pada satu hal yang sama. Kehilangan. Ah, kehilangan? Pantaskah bahwa saya mengatakan itu sebagai kehilangan? Sementara saya tahu betul bahwa diri saya bukanlah milik saya sendiri. Jadi, patutkah saya mengatakan itu sebagai kehilangan, sementara ia hanya kembali kepada pemiliknya yang sebenarnya?

       Dua hari yang lalu, tepat dimana ketakutan itu menghantui, entah mengapa saya mulai menulis di ruang putih kosong ini lagi. Tanpa mengharap balasan, saya hanya sekedar menulis karena dari tulisan saya di ruang kosong ini, saya berharap beban saya dapat berkurang perlahan dan menghilang diam-diam. Sama seperti tulisan ini, yang berganti dengan tulisan-tulisan orang lain detik demi detik, menit ke menit hingga apa yang saya tulis akan terlupakan begitu saja, bahkan oleh diri saya sendiri.

Pas, 19/8/2018

Luruh

Edit Posted by with No comments

Bukankah saya melewati dua tahun ini sendiri?
Saya kuat bukan?
Dan harusnya, kali ini juga begitu
Tapi, entah mengapa ini sulit
Seluruh kata-kata yang saya katakan kepada diri saya sendiri agar saya kuat,
seolah luruh begitu saja
Tak berpengaruh...

Meskipun saya mengatakan pada diri saya sendiri bahwa saya kuat,
Saya bisa melewati ini,
Saya tangguh,
Tapi, tetap saja saya masih didera gemetar ketakutan

Kadang, yang saya perlukan bukanlah pelukan,
Hanya katakan kepada saya "kamu kuat"
Dan semuanya pasti bisa kamu hadapi dengan ikhlas

Pas, 19/8/2018

Titik Terendah

Edit Posted by with No comments

Terkadang saya juga butuh didengar
Tidak selalu saya yang menjadi pendengar
Karena walau bagaimanapun saya hanya manusia
Manusia biasa yang dimana saya juga bisa mencapai
Pada titik terendah dalam hidup saya

Seperti sekarang, saat ini...
Tepat dimana saya tidak tahu harus bagaimana dan seperti apa
Berikhtiar dan berpasrah?
Bukankah itu memang keharusan?
Dan bukannya pilihan?

Tapi...
Entah mengapa saat ini saya hanya ingin didengar
Dan dikuatkan tentu saja
Karena lebih dari apapun hanya itu yang saya butuhkan saat ini

Pas, 18/8/18

Ingkar

Edit Posted by with No comments


Pada akhirnya saya melanggar janji bukan?
Saya melanggar janji untuk tidak menghubungimu lagi.
Tapi ma'af...
Ma'af karena disaat ketakutan ini menjadi semakin menakutkan
Saya hanya butuh kamu untuk menguatkan

Saya tidak meminta lebih
Hanya katakan "kamu kuat", semua akan baik-baik saja, hmm..

Saya butuh kamu sebagai teman
Satu-satunya teman yang saya percayai
Untuk membagi semua kisah saya
Yang bahkan tak banyak orang yang saya izinkan tuk tahu

Tapi, kamu bahkan tidak ada lagi waktu untuk sekedar mengatakan itu bukan?
Atau memang saya hanyalah selingan?
Yang tiba-tiba datang dalam hidup kamu
Yang bahkan hanya untuk menjadi seorang teman pun tak pantas untukmu?

Pas,18/8/18

Rabu, 01 Agustus 2018

Berteman Dengan Sendiri

Edit Posted by with No comments
Related image

       "Suatu waktu aku merasa iri. Melihat orang-orang disekelilingku, berjalan bergandeng tangan. Suatu waktu aku merasa iri. Melihat mereka bersenda gurau bersama. Sementara aku, masih setia memeluk sepi, dan berteman dengan sendiri."

       Terkadang aku merasa lelah. Menanti jawaban Tuhan atas do'a-do'a. Yang kurapalkan atas namanya. Namun, ia tak kunjung bertandang ke rumah. Untuk membuatku bersedia hidup bersamanya.

       Dalam diam pun aku selalu bertanya. Mengapa hati ini hanya bergetar untuknya saja? Pernah satu waktu terlintas dalam pikirku. Akankah hatiku sudah mati rasa? Oh Tuhan, aku ingin sembuh. Dan bertemu dengan seseorang yang baru. Jika memang benar bukan dia yang tercipta untukku. Hingga sampailah pada saat itu. Hatiku terketuk mendengar ceramah agama. Dan sampailah aku pada jawaban dari semua keresahan hatiku.

       "Mengapa aku lelah ? Karena aku tidak lilah. Mengapa aku mengeluh? Karena aku tidak mengallah. Mengapa aku belum juga sembuh? Karena aku tidak sembah. Dan mengapa cintaku tidak bertahan? Karena ia tidak bertuhan."

       Dalam sujudku di sepertiga malam. Aku mecoba untuk memantapkan hati. Aku mencoba untuk lilah agar tidak lelah. Aku akan mencoba untuk mengallah. Daripada menghabiskan waktuku untuk mengeluh. Aku akan menyembah dengan sebenar-benarnya sembah, agar hatiku benar-benar sembuh. Dan aku akan berteman lebih dekat dengan Tuhan. Agar ketika waktu yang tepat itu datang, cintaku dapat bertahan.

       Kini aku bisa berdiri lagi, aku bisa kembali berjalan menyusuri lorong-lorong sepi itu sendiri. Dengan lebih percaya diri, berteman dengan sendiri untuk saat ini. Hingga Tuhan menepati janji-Nya yang pasti. Disuatu hari nanti.

Sendiri

Edit Posted by with No comments
Image result for gambar orang duduk sendirian

       Kamu tahu rasanya sendiri? Seperti setitik tinta yang jatuh pada secarik kertas putih lusuh tak berdaya. Tak terlihat oleh orang-orang yang berlalu lalang disekitarnya. Terabaikan bagai barang usang di tumpukan rongsojan. Terbuang bak arang yang berubah menjadi abu diperapian.

       Kamu tahu rasanya sendiri? Ketika air matamu menetes tanpa permisi. Mengalir tanpa henti. Menuju muara yang tak kamu ketahui karena tak ada pundak yang kan menghalau debitnya. Tak ada tangan asing yang kan mengusap bekasnya. Dan tak kan ada yang mendekapmu tuk menyembunyikannya.

       Kamu tahu rasanya sendiri? Berada dalam area luas, namun kamu selalu merasa sesak. Seolah oksigen terhimpit dan tak sampai memenuhi dadamu. Lantas, kamu duduk dan mendekap lututmu di pojok ruangan itu. Berharap seseorang akan datang mengetuk pintu dan menyelamatkanmu yang seolah terpenjara pada ruang sempit di pojok ruangan itu.

       Apakah itu yang kamu rasa? Apakah itu sendiri? Tidak..!!! Sendiri adalah ketika kamu tidak mampu dan tidak mau memahami. Ketika hatimu menjauh dari sosok-Nya, "Sang Maha Ada". Pada hakekatnya manusia itu tidak pernah sendiri. Bukankah ketika kita mendekat satu jengkal pada Tuhan maka Tuhan akan mendekati kita sepanjang satu lengan? Ketika kita mendekati Tuhan sepanjang satu lengan, maka Tuhan akan mendekati kita sepanjang satu langkah. Ketika Tuhan mendekati kita sepanjang satu langkah maka Tuhan akan mendekati kita sedekat leher dan kepala kita. Bukankah seperti itu?

       Karenanya sendiri itu tidak ada. Sendiri hanya untuk mereka yang tidak mampu memahami bahwa Tuhan itu Maha Ada. Maha Mengetahui Segala. Karenanya sudahi sedihmu yang berpikiran sendiri itu. Hapuskan iri dengkimu melihat mereka yang bersama dalam ikatan tanpa nama. Karena sesungguhnya pacaran itu hanyalah ikatan sementara. Tak ada dalam agama. Jalinlah ikatan yang semestinya dengan ridho-Nya. Jika tidak bisa, maka sudahilah. Mulailah dekatkan dirimu pada-Nya. Percayakan hatimu dalam penjagaan-Nya. Menunggulah ditempatmu yang suci bersama dengan-Nya. Dengan begitu tak kan hinggap kata sendiri lagi dalam hatimu.


Pasuruan, 26 Mei 2017