Kamis, 08 November 2018

Egois

Edit Posted by with No comments
Kamu bilang saya egois. Tapi..bagaimana dengan kamu? Pernahkah kamu melihat pada dirimu sendiri?

Kamu mementingkan diri kamu sendiri meski kamu tahu ada yg tersakiti disini. Kamu mengabaikan ia yg pernah berjuang untukmu.

Bagimu, bukan urusanmu jika ia berjuang untukmu karna bukan kamu yg memintanya melainkan dirinya sendiri. Bagimu ceritamu dg nya telah berakhir sejak saat itu. Sejak kamu berhasil mencapai titik tertinggi dalam impianmu.

Kamu pergi tanpa perlu berpikir untuk kembali. Kamu melangkah maju tanpa pernah tahu bahwa ada yg setia menunggumu di belakangmu. Kamu ttp berjuang menggapai masa depan yg lebih baik, tanpa peduli bahwa ia yg pernah berjuang untukmu sedang tertatih untuk bisa berdiri kembali. Lantas katakan padaku, siapa yang lebih egois?

Kamu acuh dan tak peduli karna ia pernah menyinggung egomu. Ego yg sangat kamu tinggi-tinggikan itu. Tanpa kamu tahu bahwa ia melakukan itu agar kamu dpt menjadi lebih kuat jika menghadapi yg lebih dari itu di kemudian hari.

Kamu membencinya, karena mengganggu kesenanganmu. Kesenangan yg kamu pikir akan berlangsung selamanya jika saja ia tdk datang. Tanpa pernah kamu tahu, bahwa ia melakukan itu karna ia percaya padamu dan berharap kamu sebagai tempat bergantung.

Tapi kamu masa bodoh. Bagimu karna itu sudah tidak lagi membawa keuntungan bagimu, kamu melepasnya
Bagimu karna kamu sudah bisa berdikari tanpanya, kamu melenyapkannya.

Kamu menutup setiap lembaran cerita dengannya sesukamu sesukamu. Apakah kamu pernah sadari? Tidak kah pernah terlintas dalam benakmu bahwa ceritamu dgnya belum berakhir. Mungkin bagimu selesai, tapi tdk bagi ia. Ia yg terlalu bodoh untuk menunggu dg setia untukmu.

Untukmu yang berada jauh disana. Yang ingin cerita ini berakhir pada saat berpisah detik itu juga. Kuucapkan selamat, selamat karena kamu berhasil menjadikan ia menjadi seseorang yg pernah begitu bodoh. Karena memberikan sebagian hatinya untukmu dan bersetia menunggu hingga ia jemu. Meski mungkin, kata jemu itu tak akan mencapai akhir...

Pasuruan, 23 Oktober 2018

Hati

Edit Posted by with No comments


Hati...
Pernahkah kamu bertanya kepadanya? Kenapa ia berwajah jantung? Kenapa ia tidak bersimbol wujudnya sendiri? Apakah kamu tahu kenapa? Katanya, karena ia mudah berbolak-balik. Hingga ia tak menemukan wujudnya yang sebenarnya. Benarkah begitu?

Hati...
Entah mengapa, aku ingin menangis ketika berbicara tentangnya. Aku mengenal satu hati. Ia rapuh, namun selalu mencoba untuk kuat. Berkalipun ia dibenci, dicaci, dimaku dan diabaikan.Ia tetap berusahan untuk tetap tegar. Berusaha untuk tetap menerima dengan penerimaan yang baik. Walaupun ia merasa lelah,. Mengapa ia tidak seperti kata orang-orang yang bisa berbolak balik? Ia tetap setia pada satu hati lain yang ia jaga. Hingga setik ini, ia masih belum bisa berpaling darinya. 

Hati itu...?
Ah, tak usah ku jelaskan siapa dia. Kamu pasti tahu, kamu mengenalnya dengan baik. Bahkan melebihi hati itu mengenal dirinya sendiri. Ia satu hati yang berbeda, yang menjaga dirinya hanya untuk kamu. Hati lain yang dicintainya.

Pasuruan, 18 Oktober 2018

Hai

Edit Posted by with No comments



Hai...
Satu kata itu ingin ku ucapkan lagi padamu. Untuk memulai semuanya kembali seperti dulu. Menghapus jarak dan waktu yang sudah menjadikan kita terpisah jauh.

Hei...
Satu kata itu, nyatanya hanya tersimpan dalam kebekuan lidahku. Hanya mampu ku tulis di ruang kosong ini, tanpa berani memencet tombol send padamu.

Hello...
Satu kata itu yang kuharap mampu menyampaikan semua rinduku padamu. Namun nyatanya bahkan untuk mengetik satu kata itu padamu, aku tidak mampu.

Bukan karena tidak ingin, tapi karena tidak mampu. Aku tak mampu lagi menerima pengabaian darimu. Aku tak sekuat dulu, yang selalu menerima pengabaianmu, namun tetap bertahan di samping mu dan mengganggumu.

Tapi, sekarang, ku pikir cukup. Hatiku cukup berhenti pada rasa sakit saat itu. Aku tak ingin dia tersakiti lagi. Dia berhak untuk bahagia. Karenanya, sekalipun rasa rindu yang tiada pupus itu masih tertuju padamu. Aku akan tetap menyimpannya dalam-dalam. Betapapun sakitnya itu.

Hai...
Satu kata itu, akan selalu terucap oleh bibir kecilku. Saat menjelang atau ketika aku bangun tidur. Pada sosokmu yang dekat denganku, meski hanya berupa gambar semu.

Hai...
Tepat malam ini, aku ucapkan kata itu secara tidak langsung. Tuk tunjukkan bahwa malam ini. Entah kenapa, angin menginginkan aku untuk menyampaikan pesan padamu. Bahwa ia rindu, padamu.. Ya, kamu..

Pasuruan, 18 Oktober 2018

Mengenangmu

Edit Posted by with No comments


Mengenang adalah salah satu cara seseorang melepas rindu. Ketika pertemuan kembali menjadi sesuatu yang sampai kapanpun tak akan pernah mencapai nyata. Maka, kamu hanya perlu menyelusuri memory di otak kecilmu, dan berjalan menjelajahi kenangan-kenangan itu. 

Aku tak pernah ingin mengenangmu, seberapa keraspun aku berusaha untuk melepas rindu. Karena aku ingin merasakan kesakitan itu dan memeluknya erat, agar aku dapat selalu ingat bahwa aku pernah menyimpan sakitnya merindumu.

Namun, entah mengapa tanganku sangat usil. Hatiku tidak bekerja sama dengan pikiranku. Aku mengetikkan namamu di mesin pencari. Dan menemukan satu foto yang membuatku mampu menyunggingkan senyum tiba-tiba.

Kamu berpose jenaka disana, wajahmu lucu. Dan entah kenapa aku tak bisa beranjak dari memandangi foto usang itu. Yang kupikirkan hanya, ah begitukah masa kecilmu. Dan seketika itu pula aku menjadi serakah, karena menyimpan ingin untuk mengenalmu lebih jauh dan mendengar lagi semua cerita masa kecil yang pernah kamu bagi dulu. Namun aku tahu, itu mustahil bukan?

Aku tak ingin mengenangmu itu yang selalu aku katakan. Tapi nyatanya, hanya dengan melihat foto usang itu mampu membuatku mengingat berjuta kenangan kita dimasa lalu. Aku pandai berbohong bukan? Padahal aku benci dibohongi. Namun nyatanya aku malah sering membohongi diri sendiri dengan mengingkari semua kata hati. 

Mengenang adalah cara seseorang melepas rindu. Dan itulah yang aku lakukan, menyelami semua kenangan itu dan memeluknya erat, seerat rinduku padamu yang enggan untuk pergi bahkan hingga detik ini. Karena kamu tahu, sesuatu mungkin berakhir tapi kenangan akan hal itu akan selamanya hidup.

Sidoarjo, 16 Oktober 2018

Bukan Pilihan

Edit Posted by with No comments


Kamu tahu hal paling sulit? Mengingkari apa yang ada dihatimu. Kamu berusaha sebisa mungkin untuk menepisnya. Membuang jauh-jauh perasaan asing yang tiba-tiba hadir itu. Menguatkan diri bahwa kamu salah mengartikan apa yang kamu rasa itu. Dan terlebih kamu salah, salah karena memiliki perasaan itu kepada seseorang yang telah memberikan perasaannya pada orang lain.

Namun, otak kecilmu kadang berpikir keras. Benarkah kamu salah? Salahkah perasaan asing yang kamu artikan sebagai cinta itu? Ataukah kamu memberikan perasaan itu pada orang yang salah? Entah.

Orang bilang cinta tidak pernah salah. Hanya waktu yang tidak tepat, hingga menjadikan itu menjadi sesuatu yang salah. Tapi, bukankah kita tidak bisa mengelak saat perasaan asing itu tiba-tiba datang? Ia datang begitu saja, tanpa permisi dan mengubah hati kita yang semula dingin menjadi hangat seketika. Kita tidak pernah tahu kapan dan pada siapa cinta itu jatuh. Karena jika kita bisa tahu, kita pasti sebisa mungkin akan menghindar, agar luka yang diberi nama patah hati itu tidak pernah kita rasa. 

Kita tidak bisa memilih kepada siapa cinta itu akan jatuh. Hanya terima, dan ikhlaslah ketika pada akhirnya kamu tidak menerima hal yang sama dari seseorang yang menerima jatuhnya cintamu.

Kepada kamu, seseorang yang membawa separuh hatiku.

Sidoarjo, 16 Okrober 2018

Seseorang Yang Baru

Edit Posted by with No comments


Saya bertemu dengan seseorang yang baru. Seseorang dengan tatapan mata yang teduh. Ia ada ketika saya butuh, membantu saya ketika saya kesulitan. Bertanya kepada saya kenapa larut malam saya masih terjaga, dan saya hanya memberinya senyuman sebagai jawaban.

Akan sangat baper ketika saya katakan bahwa ia selalu ada disaat saya butuh, karena ia hanya menjalankan pekerjaannya dengan sebaik-baiknya. Dan tidak ada maksud lain selain itu.

Tapi, tahukah kamu, bahwa dalam hati kecil saya, saya berharap bahwa itu kamu. Kamu yang berdiri disamping saya, dan membantu saya yang dengan tangan gemetar mengurus pahlawan hidup saya sendiri. Kamu yang tersenyum kepada saya untuk menguatkan dan berkata bahwa semua baik-baik saja. Namun, nyatanya semua hanyalah sebuah pengharapan yang tidak akan menyentuh nyata bukan?

Ia, seorang pemilik mata teduh itu bukan kamu. Ia dekat, namun kamu terlampau jauh bahkan hanya untuk menguatkan saya agar saya bertahan. Ia, seseorang asing yang hanya saya ketahui nama panggilannya itu, bukanlah kamu. Ia hanya seseorang yang secara acak dipertemukan Tuhan dengan saya, sebentar. Namun, waktu sebentar itu mampu membuat saya berpikir pada keputusan itu.

Inikah saatnya saya melepaskan kamu? Bukan karena ada dia, tapi lebih pada karena aku lelah, lelah menaruh harap bahwa kamulah yang diciptakan Tuhan untuk menemani akhir hidup saya. Lelah, lelah berharap bahwa kamu yang akan selalu menjadi penguat saya ketika rapuh. Lelah, saya lelah mencintai kamu diam-diam tanpa ada balasan.

Untuk kamu, seseorang yang pernah hadir dalam hidup saya, yang menempati seluruh ruang hati saya, terima kasih karena pernah ada. Dan untuk kamu, seseorang pemilik mata teduh yang kutemui beberapa hari lalu, terima kasih karena ada disaat saya butuh, meski itu hanyalah profesionalitas kamu semata.

14 September 2018, ketika saya beranjak dari kampung halaman saya untuk kembali, saya bebaskan hati saya. Bismillahi, saya ikhlas untuk melepasmu, juga semua kisah kita yang pernah ada.

Pasuruan, 15 September 2018

Mengharapkanmu

Edit Posted by with No comments

Mengharapkanmu, sama seperti saya berharap memetik bintang di langit malam untuk saya simpan. Mengharapkanmu, sama seperti menyeberangi samudera yang tak saya tahu ujungnya. Mengharapkanmu, sama seperti berjalan tanpa arah tujuan, seberapa lama dan jauhnya kaki melangkah tak saya dapati akhir dari perjalanan itu.

Saya tidak meminta banyak, hanya beri saya kekuatan untuk bisa bertahan, dari semua kesedihan dan ketakutan yang mencekam. Hanya katakan kepada saya bahwa saya kuat, saya wanita terkuat yang pernah ada, dan pastinya saya bisa melewati semuanya dengan ikhlas dan lapang dada. Rasanya sesak, ketika semua orang yang berkunjung mengatakan kepada saya untuk tetap sabar, sementara saya menahan air mata untuk tidak jatuh detik itu juga.

Saya bahkan tidak berani bertanya kepada Tuhan kenapa harus begini, karena ini adalah jalan takdirnya. Namun, saya masih menaruh harapan kecil di dalam ikhtiar saya ini, berharap bahwa ayah kembali seperti sedia kala, menggenggam tangan saya dan menyerahkan kepada dia yang dipersiapkan-Nya sebagai imam saya suatu hari nanti. Katakan kepada saya, apakah saya berlebihan?. Katakan kepada saya apakah saya terlalu egois jika menginginkan ayah saya tetap ada sampai waktu itu tiba?

Beribu kali saya bertanya dalam ruang kosong ini, kamu tetap tidak akan menjawab bukan? Dan kamu juga tidak akan ada di samping saya ketika semua berubah menjadi semenakutkan seperti saat-saat ini . Saya tahu dan saya sadar sesadar-sadarnya, karena pada akhirnya seperti apa yang saya katakan di awal. Bahwa mengharapkanmu adalah sebuah kemustahilan yang nyata.

Sidoarjo, 10 September 2018