Rabu, 22 April 2020

Delapan

Edit Posted by with No comments

Keheningan terjadi di antara keduanya.Mereka duduk berdua dengan arah pandang menatap tepi pantai.Botol-botol, minuman kaleng sudah banyak yang kosong, karena keduanya hanya asyik minum dan berkelana dengan pikirannya masing-masing.Hingga akhirnya Alvi angkat bicara untuk memecah keheningan itu.
         “Ceritakan ke gue semua kebenarannya tanpa terkecuali…,” ucap Alvi.
         Niken menatap wajah lelaki yang duduk di sampingnya  itu. Lelaki itu bertanya tanpa memandang ke arahnya.Dan Niken pun tahu, bahwa lelaki itu mungkin masih memendam amarahnya.Dan akhirnya detik berikutnya dia pun mulai menceritakan semua hal pada Alvi.
         “Gue sebenarnya gak tahu harus memulai cerita ini dari mana.Karena cerita ini sungguh sangat rumit dan dulu aku menghabiskan begitu banyak waktuku hanya untuk mencari benang merah dari semua permasalahan ini,” ucap Niken sebagai pembuka ceritanya.
         “Semua ini berawal dari cerita lama dimana kakek, nenek loe dan kakek nenek gue adalah bersahabat.Dan benar adanya memang tentang perjodohan di antara keluarga kita.Tapi, dulu yang di jodohkan adalah Tante Selvi dengan Papa Dana. Papa sangat mencintai Tante Selvi, tapi tidak dengan Tante Selvi, dia mencintai lelaki lain. Hingga akhirnya Tante Selvi memilih pergi meninggalkan Papa Dana dan menikah dengan Om Bram, sementara Papa Dana akhirnya menikah dengan Mama Ratih,” jelas Niken.
         “Papa Dana menginginkan anak laki-laki sebagai penerus keluarganya, tapi yang ia dapatkan ternyata adalah anak perempuan yaitu gue yang dulu sering di panggil “Violin” dan adik gue “Viola”.Papa Dana tidak menginginkan kami dan akhirnya Oma menyerahkan gue dan Viola ke Tante Selvi. Dan kami pun menjadi anak Tante Selvi dan Om Bram dan menjadi keluarga Bramasta tanpa sepengetahuan Papa dan tentu saja Mama juga tidak tahu karena sejak awal Mama memang tidak pernah tahu apa-apa. Papa mengatakan pada Mama kalau anak yang dilahirkannya meninggal karena terlahir tidak normal, dan hal itu membuat Mama Ratih menjadi depresi,” jelas Niken yang kini kembali membuat matanya berkaca-kaca.
         Alvi menolehkan pandangannya pada Niken, ia tahu dari suara gadis itu yang berubah menjadi parau karena menahan tangisnya. Tapi, kemudian gadis itu berusaha untuk menyembunyikannya dan berusaha untuk tetap bersikap wajar, hingga kemudian gadis itu melanjutkan ceritanya setelah mengambil nafas panjang.
         “Suatu hari Papa Dana membawa pulang seorang bayi laki-laki yang entah di dapatkannya dari mana.Bayi laki-laki itu adalah loe, Alvi, dan papa memberikan marganya pada loe. Kedatangan loe ngebuat Mama Ratih sembuh dari depresinya, Mama mencintai loe dan menganggap loe sebagai pengganti kami. Mama menyayangi loe seperti anaknya sendiri, sementara gue dan Viola tak pernah mendapatkan sedikitpun cinta Mama dan Papa. Ketika usia gue 15 tahun, gue tahu kebenaran tentang hal itu. Waktu itu gue nggak sengaja denger pembicaraan Om Bram dan Tante Selvi, dan gue sungguh terkejut akan hal itu. Loe tahu apa yang loe rasakan ketika orang tua loe sendiri gak mau nerima anaknya sendiri dan malah memilih untuk mengasuh anak orang lain? Rasanya sungguh menyakitkan Vi, menyesakkan seakan loe kesulitan untuk bernafas meskipun sebenarnya udara tersedia cukup banyak untuk bisa loe hirup,”
         “Om Bram dan Tante Selvi menyuruh gue untuk menyimpan rahasia itu dari siapapun termasuk saudara kembar gue Viola, mengingat kondisi dia yang lemah dan sering sakit-sakitan. Tapi, gue gak pandai berbohong Vi, gue gak bisa berpura-pura baik-baik saja setiap kali gue lihat Papa setiap harinya mengingat Om Bram dan Tante Selvi bekerja untuk perusahaan Papa Dana. Dan akhirnya karena hal itulah Om Bram dan Tante Selvi mengirim gue ke luar negeri untuk melindungi gue, tidak saja agar terhindar dari Papa tapi juga musuh-musuh Papa,” jelas Niken.
         “Lalu, bagaiman Om Bram, Tante Selvi dan Viola bisa meninggal?” tanya Alvi.
         “Mereka di bunuh….,” ucap Niken yang tentu saja membuat Alvi terbelalak kaget.
         “Bag…bagaimana mungkin loe mengetahuinya?” tanya Alvi.
         “Sama seperti yang gue ceritain ke loe dulu, gue tahu semua itu dari adik gue. Viola mengatakan kepadaku kalau beberapa hari terakhir sebelum kematiannya, ia tengah di intai. Dan pelakunya tentu saja musuh papa.Musuh papa akhirnya tahu bahwa Viola adalah anak kandung papa, meskipun mereka tidak melihat wajah Viola secara langsung.Dan mereka pun kemudian melakukan balas dendam kepada papa dengan melakukan pembunuhan terhadap Viola. Dengan begitu, mereka berharap bahwa dengan kematian putrinya, papa akan hancur sehancur-hancurnya. Namun nyatanya lain, papa bahkan tidak bersedih sedikitpun atas kematian Viola. Ia hanya mementingkan perusahaannya, yang dipikirkannya hanyalah tentang bagaimana ia menjadikan perusahaannya menjadi leader diantara perusahaan-perusahaan yang lainnya,” jelas Niken yang kemudian dengan suara parau karena menhan tangisnya.
         Alvi yang mendengar penuturan cerita Niken, kini tak menemukan kebohongan di mata gadis itu ketika gadis itu menceritakan semuanya kepadanya.Ia juga tidak menyangka bagaimana rumit dan sulitnya kehidupan gadis yang berada di sampingnya itu. Dirinya merasa bersalah kepada gadis itu, bagaimana tidak ia hidup dalam kemewahan sejak kecil. Meski ia tidak tahu siapa orang tua kandungnya, tapi ia mendapatkan kasih saying yang sangat banyak dari orang tua kandung Niken, sementara gadis itu malah hidup dalam pelarian dan kesusahan sekalipun ia tahu bahwa keluarganya adalah keluarga terkaya kedua di negaranya.
         Alvi tidak dapat membayangkan betapa sedih rasanya ketika dirinya berada di posisi Niken, dimana kelahirannya tidak  di harapkan oleh papanya karena ambisi yang menguasainya. Keheningan tercipta beberapa waktu ketika Niken selesai dengan ceritanya.Hingga kemudian Alvi menanyakan beberapa pertanyaan lagi kepada gadis itu.
         “Loe bilang, loe peduli pada gue karena adik loe, apa maksudnya? Gue bahkan sama sekali nggak kenal sama adik loe?” tanya Alvi. Niken menatap kedua manik mata lelaki yang melontarkan pertanyaan itu kepada dirinya.
         “Em…it..itu karena….,” ucap Niken terbata-bata.
         “Why? Karena apa Ken?” tanya Alvi dengan rasa penasarannya.
         “Karena adik gue…jatuh cinta sama loe….,” ucap Niken dengan susah payah.
         Alvi yang mendengar jawaban Niken seolah tak percaya dengan apa yang di dengarnya dari gadis itu. Bagaimana mungkin dia percaya bahwa adiknya mencintai dirinya yang nyatanya adalah perebut kebahagiaannya.Ia merebut posisinya dan juga kasih saying kedua orang tuanya.
         Niken yang melihat tatapan mata lelaki dihadapannya yang menatapnya dengan banyak tanya dan menyiratkan ketidak percayaan lelaki itu pada jawaban darinya, segera menggelengkan kepalanya seraya member jawaban tidak, dirinya tidak tahu kenapa hal itu bisa terjadi.
         “Gue nggak tahu Vi, gue nggak tahu kenapa Viola bisa mencintai loe. Harusnya dia membenci loe sama sepertiku dan bukannya mencintai loe, karena loe telah mengambil semua kasih sayang orang tua kami. Tapi suatu hari dia berkata pada gue kalau cinta tidak pernah bisa memilih kepada siapa ia akan jatuh,  ia juga tidak pernah meminta sebelumnya bahwa rasa cintanya akan jatuh pada loe. Dia bilang bahwa bukan salah loe kalau pada akhirnya gue dan dia kehilangan cinta orang tua kami karena nyatanya loe bahkan nggak tahu apa-apa tentang masalah ini.Karena itulah, ketika dia merasa bahwa harinya telah habis di dunia, dia meminta gue buat selalu ada bersama loe, disaat loe mengetahui semua kebenaran ini.Dia nggak ingin melihat loe terpuruk dan menyalahkan diri loe sendiri,” jelas Niken.
         “Niken Graviola Bramasta, seorang gadis yang bahkan tak pernah ku temui, tapi dia mencintai gue dengan begitu dalamnya. Apakah gue termasuk salah satu yang beruntung?” ujar Alvi.
         “Ya, tentu saja.Loe adalah orang paling beruntung sedunia karena mendapat cinta darinya.Dia gadis yang cantik, lugu dan berbakat.Ia berbakat dalam bermain piano apalagi biola.Ia dikagumi oleh banyak para lelaki, namun dia hanya tertuju pada loe, dia bodoh kan? Padahal apa coba yang dia liat dari loe….,” ucap Niken dan tentu saja  membuat Alvi sedikit tersinggung.
         “Heii…gue nggak terlalu buruk dan gue juga pantas di cintai….,” ucap Alvi sembari mengerucutkan bibirnya.
         “Ah…benarkah….?” Tanya Niken menggoda lelaki itu yang tentu saja membuat Alvi merasa sedikit kesal.
         Akhirnya ia pun membalas Niken dengan menggelitik tubuh gadis itu. Niken yang tidak tahan dengan geli itu pun berlari menghindari lelaki itu. Namun, bukan Alvi namanya jika ia tidak bisa mengejar gadis itu. Ia mengejar Niken dan akhirnya Niken pun tertangkap olehnya. Niken bernafas dengan terengah-engah akibat ia lelah berlari, ia berada dalam dekapan Alvi kali ini. Mereka sama-sama mengambil napas karena lelah berlarian.Akhirnya keheningan pun tercipta beberapa saat di antara mereka.Kemudian Alvi pun berkata.
         “Sudah malam bisakah kita beristirahat sekarang?” tanya Alvi.
         “Tentu saja.Hari ini hari yang panjang dan aku juga lelah…,” seru Niken.
         “Em…Ken….,”
         “Apa?”
         “Apa kita akan tidur satu ranjang?” tanya Alvi dengan malu-malu ketika mereka sudah sampai di dalam rumah di tepi pantai itu. Rumah itu adalah rumah pembelian Alvi, dimana dia sering menghabiskan waktunya disitu jika suasana hatinya sedang buruk seraya mencari ketenangan.
         “Ya tentu saja. Disini cuman ada satu kamar kan?” tanya Niken dan Alvi mejawab dengan anggukan. “Kita akan tidur sekamar, kecuali kalau kamu bersedia untuk tidur di sofa dan kamar itu gue yang nempati…,” ucap Niken dengan tersenyum licik.
         “Ish…enak aja loe.Ini rumah-rumah gue, harusnya gue yang tidur di kamar dan loe yang tidur di sofa…,”dengus Alvi.
         “Nggak mau, pokoknya loe tidur di sofa.Kalau loe nggak mau juga, ya sudah terpaksa kita tidur satu ranjang..,” ucap Niken.
         “Ya, tentu saja siapa takut…,” ucap Alvi yang langsung masuk ke kamar tidur mengikuti Niken dibelakang.
         Beberapa menit kemudian Niken pun tertidur pulas di samping Alvi.Alvi menatap gadis itu.Ia meletakkan rambut gadis itu di balik telinganya.
         “Terima kasih sudah bersedia menemaniku Ken.Ma’afkan aku atas semuanya. Bisakah loe menghilangkan rasa benci loe ke gue sama seperti yang dilakukan adik loe ke gue? Karena gue butuh loe sejak gue mulai merasakan sesuatu sama loe, dan gue harap suatu saat nanti loe juga mulai ada perasaan ke gue,” ucap Alvi lirih yang tidak mungkin terdengar oleh gadis yang tertidur pulas itu. Alvi mengecup kening Niken ringan dan ia mengambil tubuh gadis itu dan meletakkannya dalam pelukannya hingga dia tertidur kemudian.
*****



Tujuh

Edit Posted by with No comments

Hingga hari mulai malam Niken masih menceritakan apa yang ingin di ketahui oleh Alvi. Dan Alvi pun masih setia mendengarkan cerita Niken.
       “Orang tua gue adalah salah satu artis terkenal di perusahaan bokap loe.Papa gue seorang composer lagu “Bramasta Prasetyo”, dan ibu gue adalah pemain biola terkenal “Selvi Gracella Moudy”. Loe pernah dengar kan?” tanya Niken yang langsung di jawabi anggukan oleh Alvi. Menurut kabar yang beredar orang tua gue meninggal karena kecelakaan.Tapi sebenarnya mereka meninggal bukan karena itu. Mereka meninggal karena di bunuh…,”
       Alvi terkejut mendengar penuturan Niken.
       “Kenapa loe berpikiran seperti itu?” tanya Alvi.
       “Gue tahu, dari pesan-pesan yang dikirimkan oleh saudara kembar gue. Saudara gue sering ngirim fax ke gue waktu gue di LA dan menceritakan semua yang terjadi di sini termasuk dengan terror dan ancaman-ancaman yang di terima oleh beberapa orang yang membenci orang tua gue..,”
       “Tapi, bagaimana mungkin mereka bisa tidak tahu kalau loe juga anak mereka? Bukankah fax-fax yang di kirimkan saudara loe ke loe bisa melacak keberadaan loe?” tanya Alvi dengan kening berkerutnya pertanda dia sangat penasaran dengan apa yang sebenarnya terjadi pada gadis yang kini berada di hadapannya itu.
       “Gue dan saudara gue sering bermain kode-kode an semasa kecil. Kami sering membuat kode dari notasi-notasi balok, hingga kadang percakapan dengan tulisan yang sering gue lakukan dengan saudara gue jika dilihat oleh orang-orang hanyalah nampak seperti partitur lagu yang belum selesai di buat. Hal itulah yang mungkin membuat mereka tidak menaruh curiga sedikitpun akan adanya fax itu. Mereka hanya berfikiran itu adalah lagu yang Papa gue gubah dan dikirim ke seorang temannya di luar negeri tanpa mereka tahu bahwa sesungguhnya partitur-partitur tersebut berisi sebuah rahasia antara diri gue dan saudara gue,” jelas Niken.
       Alvi mendengar seluruh rangkaian cerita yang diceritakan oleh Niken.Tentang asal usul Niken, dan alasan yang mendasari ambisi balas dendamnya itu.Tapi, dia tahu bahwa dari semua rangkaian cerita yang di ceritakan gadis itu padanya masih terselip beberapa kebohongan.Dia tahu ada beberapa kejanggalan dalam cerita itu. Terlebih tentang alasan apa yang sebenarnya mendasari keluarganya hingga masih tetap mengikuti kemauan gadis itu untuk ambisi balas dendamnya.
       “Rahasia apa yang masih loe sembunyikan Ken. Loe pikir setelah gue percaya satu kali sama loe maka gue gak akan meraguin loe? Loe salah Ken, karena nyatanya gue tahu bahwa sebenarnya tidak semua cerita yang loe ceritakan adalah kebenarannya Ken…,” gumam Alvi dalam hati.“Gue nggak bisa diam aja, gue harus mengungkap rahasia sebenarnya akan peristiwa ini,” gumam Alvi lagi.
       Kini Alvi yang tengah melihat gadis itu terlelap karena kelelahan. Dimana gadis itu sudah berdiri ber jam-jam di acara pernikahan mereka tadi juga waktu yang cukup lama untuk menceritakan apa yang ingin di ketahui oleh Alvi. Alvi beranjak dari ranjangnya dan membiarkan gadis itu tidur sendiri di rangjang berukuran king size itu. Sementara dirinya membuka almari pakaian dan mengambil beberapa pakaian ganti untuknya.Alvi tersenyum seketika ketika melihat baju-baju gadis itu yang telah berjajar rapi di samping tumpukan bajunya.
       “Jadi, itu yang jadi alasan loe hingga loe melilit tubuh loe dengan selimut-selimut tebal itu?” gumam Alvi yang mengetahui jenis baju apa yang dikenakan oleh gadis itu tadi. Setelah melihat baju-baju transparan dan jenis baju kurang bahan lainnya di samping bajunya yang tertata di lemari. “Ini juga mungkin kerjaan kalian semua…,” gumam Alvi yang mencurigai beberapa orang yang berkelebat di pikirannya yang ia tahu akan mampu bertindak seperti itu.
*****
       Alvi tidak kembali ke hotel pagi harinya setelah Niken bangun.Tidak pula kembali ke rumahnya.Satu malam, dua malam, tiga malam hingga terhitung sudah satu bulan Alvi tidak pulang ke rumahnya. Niken tidak tahu  apa yang membuat lelaki itu menghilang. Pasalnya dia sudah menceritakan semua hal yang ingin Alvi ketahui hingga dia berharap bahwa lelaki itu tidak akan lagi penasaran dan berhenti untuk mencari tahu, karena ketika dia tahu kenyataan yang sebenarnya nanti, Niken tak bisa pastikan apa laki-laki itu akan tetap bisa baik-baik saja atau tidak.
       Tak tahan dengan kecemasan yang dirasakannya, Niken memasuki ruang kerja Dana dan itu tentu saja membuat Dana terkejut. Pasalnya ia tak pernah mengizinkan Niken untuk menemuinya selain atas permintaan darinya.
       “Apa yang kamu lakukan di sini…!!!” ucap Dana dengan nada tinggi.
       “Aku lelah pa.Sudahi saja semua sampai di sini..!” ucap Niken.
       “Apa maksud mu?”
       “Tidakkah papa tahu bahwa papa sudah terlalu melukainya? Memanfaatkan dia yang tidak tahu apa-apa hanya untuk ambisi balas dendam papa !Tidakkah papa kehilangan Om Bram, Tante Selvi dan juga Viola anak papa, sudah membuat papa cukup merasakan kehilangan?” seru Niken.
       “Kamu tidak tahu apa-apa. Pendapatmu tidak di butuhkan di sini…!!!” ucap Dana geram.
       “Tapi, pa…jika papa terus seperti ini, papa hanya akan kehilangannya. Tidakkah papa menyayanginya dan menganggapnya seperti anak papa sendiri…!!!” seru Niken yang kemudian mendapatkan bentakan dari Dana.
       “Niken, jangan lewati batasanmu…!!!” ucap Dana.
       “Niken lelah berbohong pa.Niken bukan Viola yang bisa mengikuti semua kehendak papa. Niken juga benci dan bosan di hina terus sama lelaki itu, meski Niken tahu bahwa dia melakukan itu memang karena tanpa sepengetahuannya. Pokoknya Niken nggak mau tahu, sudahi saja semuanya sampai di sini atau papa nggak akan lagi liat Niken untuk selamanya seperti papa nggak akan bisa liat Viola,”
       Akhirnya Niken pun memutuskan untuk meninggalkan ruang kerja papanya dan menutup pintu itu dengan keras.Sementara seseorang yang tadi berdiri di balik pintu itu yang mendengar pembicaraan kedua orang tersebut kini bersembunyi.
*****
       Flashback On
       “Apa yang sebenarnya terjadi? Kenapa Niken memanggil papa gue dengan sebutan papa, dan memanggil Om Bram dan Tante Selvi yang dia bilang orang tua kandungnya malah di panggilnya dengan sebutan Om dan Tante?” pikir Alvi beberapa detik lalu ketika Alvi berdiri di depan pintu ruang kerja papanya.
       Alvi masih mendengarkan pembicaraan kedua orang itu yang dapat di tangkapnya bahwa kedua orang itu terkesan terlalu akrab jika hanya sebatas hubungan antara menantu dan mertuanya.
       Dan betapa terkejutnya Alvi kemudian setelah mendengar pernyataan Niken, bahwa Viola adalah anak papanya. Kalau Viola adalah anak papanya maka….Niken juga….
*****
       Alvi berlari dengan gusar, tak ingin mempercayai apa yang di dengarnya. Jika memang Niken adalah anak papanya, lantas bagaimana dengan dirinya?Tidak mungkin jika dirinya dan Niken bersaudara, karena nyatanya orang tuanya menikahkannya dengan Niken. Orang tua mana yang akan menikahkan anak kandungnya dengan anak kandungnya sendiri juga?  Tapi, jika benar tidak mungkin kemungkinan itu, lantas siapa dirinya..?
       Niken yang keluar dari ruang kerja Dana merasa ada yang aneh.Ia merasa ada seseorang yang tadi berdiri di depan ruangan ini. Niken segera bertanya pada penjaga siapa yang tadi berdiri atau sekedar melintas di depan ruang kerja papanya itu tapi penjaga bungkam dan tidak mengatakan apapun. Hingga akhirnya Niken pun memutuskan untuk melihat putaran ulang kejadian beberapa menit yang lalu dan dia begitu terkejut melihat siapa orang yang berdiri di depan ruang kerja papanya itu.
       “Alvi…..,” desahnya.
       Setelah melihat itu dan tanpa melihat kelanjutan video di cctv itu Niken  pun segera mengambil langkah seribu dan bergegas mengendarai mobil yang terparkir di parkiran. Dan berusaha untuk mengejar mobil yang berada beberapa meter jauhnya dari dirinya. Ia mengikuti sebuah mobil berwarna merah yang melesat begitu cepatnya itu. Mobil itu kemudian berhenti di sebuah villa di tepi pantai.
       Tahu bahwa ada seseorang yang mengikutinya Alvi sengaja membiarkannya karena ia tahu siapa yang telah mengikutinya itu. Ia keluar dengan gusar dan mendatangi mobil orang yang mengikutinya itu dan dengan kasar di tarikya tangan seorang wanita yang mengikutinya itu dan segera menghimpit tubuh wanita itu di pintu mobil.
       “Ngapain loe ngikutin gue….!!!” bentak Alvi. Namun Niken tak menjawab dan hanya berdiam diri.
       “Gue tanya sekali lagi, ngapain loe ngikutin gue!!!” bentak Alvi lebih keras dan kemudian karena amarahnya yang tak dapat di tahannya, Alvi mencium kasar bibir gadis itu. Melumat bibir itu tanpa ampun, bahkan ia tak peduli meski bibir bawah gadis di hadapannya itu berdarah. Dia tetap melakukannya sampai tak disadarinya bahwa gadis itu sudah terengah-engah karena sesak nafas akibat ciuman kasar Alvi.Setelahnya Alvi pun melepas ciuman itu.
       “Ngapain loe ngikutin gue…?” tanyanya lagi dengan suara yang kini melembut.Seolah semua amarahnya telah di tumpahkannya pada ciuman yang berlangsung beberpa detik lalu itu.
       “Karena gue gak bisa ninggalin loe sendiri…,” ucap Niken.
       “Kenapa?Kenapa loe gak biarin gue sendiri. Hah….Tidakkah loe puas dengan semua yang terjadi ini !Sandiwara loe dan keluarga loe…sungguh membuatku muak. Jadi pergi dari sini dan tinggalkan gue sendiri…!!! Bentak Alvi.
       “Gue nggak bisa..!!!”
       “Kenapa?Kenapa loe mesti nggak bisa!!!” bentak Alvi lagi.
       “Karena itu kemauan adek gue….!!!” seru Niken yang kini sudah berurai air mata. Air mata yang sedari tadi di tahannya kini menyeruak keluar.Melihat lelaki di hadapannya yang berantakan dan tak terurus itu entah mengapa membuat hati Niken menjadi sakit.Lelaki itu berusaha keras menjauh darinya, tapi Niken berusaha memeluk lelaki di hadapannya itu, hingga keduanya pun akhirnya menangis bersama.
*****

      


      

Enam

Edit Posted by with No comments

Pesta belum usai dan Alvi berjalan keluar dari ballroom hotel setelah mendapat telfon dari seseorang di seberang sana. Dia segera bergegas menemui seseorang yang tengah menelfonnya itu.Alvi memarkirkan mobilnya di sebuah café dan seseorang melambaikan tangannya ketika Alvi tengah masuk café itu.
       “Oh, Vin…sorry gue agak lama,” ucap seseorang yang bernama Calvin itu.
       “Iya, gue maklum. Loe kan pengantin baru, hehe… Sorry gue tadi gak sempet dateng,”
       “Ya, gak masalah…,”
       “Tadinya gue pikir besok aja gue mau ngasih tahu loe karena hari ini adalah hari pernikahan loe, dan rasanya gak etis banget kalau gue harus menculik pengantin prianya. Tapi, masalahnya gue gak bisa lama-lama karena malemini jugague harus terbang ke Canada,”
       “Ya, gak masalah. Ngomong-ngomong info apa yang loe dapet tentang gadis itu?” tanya Alvi pada Calvin.
       Calvin menyerahkan sebuah dokumen yang agak tebal kepada Alvi.Dan Alvi membaca satu per satu halaman dokumen itu. Dan dia begitu terkejut ketika melihat isi di halaman ke lima dokumen tersebut.
       “Ini……?”tanya Alvi.
       “Ya, itu informasi tentang istri loe yang sebenarnya,”
       “Apa data-data ini akurat?” tanya Alvi lagi seolah tak percaya dengan dokumen yang tengah di bacanya itu.
       “Ya, tentu saja. Loe tahu kan gue ini professional, jadi gue gak mungkin ngasih data ke loe yang gak bener tentang dia,”
       “Tapi…ini….?”
       “Ya, loe nggak percaya kan? Begitu pula dengan gue sebelumnya juga gak percaya Vi. Tapi, setelah gue cari informasi sampai ke LA gue baru mendapatkan kebenaran itu..,” jelas Calvin.
       Alvi masih diam tercenggang dengan dokumen ditangannya itu.Matanya terpaku membaca lembar demi lembar dokumen itu.Dan seolah tahu bahwa Alvi belum dapat menerima kebenaran dokumen itu, Calvin mulai angkat bicara.
       “Ma’af Vi, gue gak bisa lama-lama.Gue harus segera pergi,” ucap Calvin dan di jawabi anggukan oleh Alvi.
       Alvi melajukan mobilnya ke area tepi pantai.Di hirupnya udara di tepi pantai tersebut seraya mencari ketenangan.
       “Kenapa kamu berbohong Ken….?” Batin Alvi.
*****
       Pesta berakhir hingga pukul sebelas malam.Niken masuk ke kamar hotel yang telah di sediakan oleh mertuanya terlebih dahulu.Ia tak menunggu Alvi untuk pergi bersamanya karena kelelahan yang tengah melandanya.
       “Kemana perginya tuh orang….,” gumam Niken sebelum akhirnya memutuskan untuk pergi dari Ballroom menuju kamarnya yang dengan nomor kamar 501.
       Niken tengah berusaha melepaskan baju nya. Dia menghadapkan punggungnya di depan cermin dan berusaha menarik pengait untuk membuka resleting bajunya. Setelah bersusah payah akhirnya dia dapat menggapai pengait itu dan perlahan dia sudah hampir bisa membuka resleting itu.
       Namun, tiba-tiba seseorang tiba-tiba masuk dan segera mendorong tubuhnya ke tempat tidur dengan cepat hingga dia tak sempat untuk menghentikan orang itu.Dan matanya sungguh terkejut bukan main ketika dia tahu siapa lelaki yang tengah membuatnya terbaring di kamar tidur dengan lelaki itu yang masih menindih tubuhnya sembari menatapnya dengan tatapan mata yang tajam.Tangan Niken yang di cekal oleh lelaki itu tak mampu berbuat apa-apa.Dia hanya diam menerima perlakuan lelaki yang tengan menahan marah di hadapannya itu.
       “Niken Graviola Bramasta sudah mati !!Siapa loe sebenarnya?”tanya Alvi geram dengan amarahnya.
       Gadis yang dikungkungnya di bawah tubuhnya itupun diam beberapa saat sebelum akhirnya angkat bicara karena lelaki di hadapannya ini masih belum melepaskan cengkeramannya di tangan dan bahunya hingga dia tak bisa bergerak sama sekali. Kakinya juga tak bisa digerakkannya karena lelaki itu juga telah mengunci kedua kakinya dengan kaki kokoh lelaki itu.
       Niken menarik napas perlahan dan mulai angkat bicara.
       “Jadi, loe sudah tahu. Loe nyari informasi tentang gue?” tanya Niken santai. Tapi, Alvi masih dengan amarahnya tak terima bahwa Niken yang telah membohongi semua keluarganya dan dirinya hanya menjawab santai pertanyaan Alvi.
       “Shitttt…berhenti main-main dan katakana padaku. Siapa kau sebenarnya…?” tanya Alvi geram melihat kelakuan gadis di hadapannya itu. Hingga dia tidak sadar kalau cengkeraman di bahu gadis itu membuat baju gadis itu menjadi terbuka di bahunya karena resleting di bajunya yang telah nyaris terbuka sempurna.
       “Loe mau menelanjangi gue, apa mendengar jawaban gue sebenarnya ?!”bentak Niken.
       Alvi yang baru sadar kalau cengkeraman dan kelakuannya pada gadis di hadapannya itu membuat gaun gadis itu menjadi menurun hingga menampakkan seperempat bagian dadanya. Setelah menyadari apa yang dilakukannya itu Alvi langsung bangun dari posisinya yang menindih Niken dan segera memalingkan wajahnya dari Niken.
       “Sorry…,” ucapnya kemudian sembari menggaruk rambutnya yang sebenarnya tidak gatal hanya saja itu dilakukannya untuk menyembunyikan rasa malunya.
       Niken yang seolah tahu bahwa lelaki itu menyadari kesalahannya langsung angkat bicara.
       “Makanya liat-liat dulu sebelum loe melampiaskan kemarahan loe…!! Tunggu dulu, gue bakal jawab pertanyaan loe setelah gue ganti baju…!!!” bentak Niken yang kemudian mengambil baju sekenanya dari lemari dan masuk ke kamar mandi dengan menutup pintunya dengan sangat keras sampai membuat Alvi yang masih berdiri memunggungi Niken.
       “Nah..kenapa jadi dia yang marah….,” gumam Alvi.
       Niken keluar dari kamar mandi masih dengan gerutuannya.Dan ketika Alvi hendak membalik badannya dan menghadap ke arahnya Niken buru-buru melarangnya.
       “Tunggu….!!!”Ucap Niken kemudian dia buru-buru menarik selimut dan menutupi tubuhnya kemudian dia duduk di atas ranjang.Setelahnya dia pun member isyarat pada Alvi bahwa dia selesai.
       “Apa yang mau loe tanyakan?” ucap Niken.
       Alvi yang membalik badannya dan menghadap ke arah Niken terkejut bukan main dengan kelakuan gadis itu.Ia menutupi sekujur tubuhnya dengan selimut tebal.Hingga yang terlihat hanyalah wajah gadis itu saja.
       “Loe ngapain kayak gitu?” tanya Alvi dengan kekehannya. Entah kemana perginya amarahnya yang tadi memuncak seketika sirnah setelah melihat kelakuan gadis itu.Selalu saja seperti itu, setiap kali amarahnya memuncak jika di dekat gadis itu pastilah tiba-tiba amarahnya hilang entah kemana.
       Niken tak mejawab pertanyaan Alvi yang menurutnya tidak penting itu.Dan juga sangat memalukan jika dia harus menjawab pertanyaan Alvi.
       “Sudahlah..apa yang mau loe tanyain?” tanya Niken.
       “Kenapa loe bohongin gue dan keluarga gue?” tanya Alvi yang kini ikut duduk di tempat tidur menghadap Niken.
       “Perasaan tadi pertanyaan loe bukan ini deh…,”
       “Ken….,”
       “Iya, iya gue tahu.Duuh gak sabaran bener jadi orang.Oke gue jawab. Gue gak bohongin keluarga loe…,”
       “Maksud loe..?”
       “Ya, kalau gue gak bohongin keluarga loe, itu artinya mereka tahu kalau gue memang bukan Niken Glaviola Bramasta.Gitu aja gak tahu…,” cibir Niken.
       “Ken..Maksud loe…? Mereka tahu tapi masih mau di bohongin sama loe dan nerima loe jadi menantu mereka?” tanya Alvi. Dan Niken pun menjawab dengan anggukan.
       “Loe kira gue bodoh Ken. Mana ada keluarga gue masih mau nerima loe setelah mereka tahu kalau loe bukan Niken yang asli…,”
       “Kenyataannya memang gitu Vi. Dan asal loe tahu nama gue juga Niken. Niken Graviolin Bramasta. Dan Niken Graviola itu adalah adik gue..,” jelas Niken.
       “Tap…tapi…bagaimana mungkin…?”
       “Gue saudara kembarnya Vi, gak ada yang nggak mungkin…,”
       “Tapi…yang ku tahu Bramasta hanya mempunyai satu orang putri..”
       “Iya, itu karena gue gak tinggal dengan kedua orang tua gue dan kembaran gue. Gue tinggal dengan orang tua angkat gue di luar negeri..,”
       “Gak usah drama deh Ken.Mana ada orang tua yang nggak mau tinggal dengan anaknya sendiri!!”
       “Itu karena mereka bilang pingin ngelindungin gue dari orang-orang picik itu…!!!” jelas Niken.
       Dan tentu saja itu membuat Alvi menjadi semakin penasaran dengan kelanjutan dari penjelasan Niken.
*****









Lima

Edit Posted by with No comments

Alvi menunggu dengan bosan di ruang tunggu. Bajunya masih belum disiapkan oleh para perancang itu. Sementara itu, Niken mencoba baju pengantinnya lebih dulu dari Alvi. Ketika dia telah mencobanya dengan di dandani secara sederhana oleh para penata rias itu membuat Niken tampil beda dari biasanya. Dia terlihat begitu cantik meski dalam dandan sederhana. Baju pengantin berwarna putih itu indah sekali, dan membuat kecantikan yang sebenarnya di sembunyikannya lewat topeng ketomboyannya kini terpancar dengan jelas. Dan bahkan aura kecantikannya itu di akui sendiri oleh Alvi.
       Melihat Niken berdiri di hadapannya dengan gaun pengantin yang membalutnya membuat Alvi tercenggang tak percaya melihat mahluk cantik di hadapannya. Berkali-kali asisten perancang busana itu memanggilnya tapi tak di gubrisnya. Dia mungkin tak menyadari berapa kali dan lamanya asisten perancang itu berdiri di samping tempat duduknya dengan menenteng jas ditangannya sembari meneriakkan nama Alvi berkali-kali. Dia baru terlonjak kaget dan membuyarkan fokus matanya yang sendari tadi memandang Niken, ketika seseorang menendang kakinya. Rasa kesakitannya itu terlihat jelas ketika dia memegang kakinya dan merasakan kenyeriannya dengan mengeryitkan dahinya.
“Aw... Sakit tau...,”
“Habis, loe ngapain aja sih. Kasian tuh dari tadi megangin baju loe dan manggil-manggil nama loe dari tadi,” ucap Niken sembari menunjuk asisten perancang yang masih berdiri di samping Alvi.
“Oh, sorry... gue...,” ucapnya pada asisten itu.
“Halah.. loe pasti keasyikan liatin gue sampek gak nyadar kalau tuh asisten perancang udah lama berdiri disamping loe,”
“Hah.. liatin loe..? Gak usah ge-er deh. Emang apa bagusnya loe hingga gue harus liatin loe..,”
“Udah cepet cobain baju loe. Biar cepet selesai. Gue mau pergi ke suatu tempat habis ini,” sembari menyerahkan jas dari tangan asisten perancang itu pada Alvi.
       Beberapa menit kemudian Alvi sudah berdiri tepat di samping Niken dengan menggunakan jasnya. Beberapa pekerja disana termasuk asisten perancang itu meminta Alvi dan Niken untuk berfoto disana. Selepas itu, Niken langsung bergegas untuk mengganti pakaiannya dan bergegas meninggalkan Alvi yang kini juga sudah memakai pakaian yang tadi dipakainya saat pertama kali datang ke tempat itu.
“Loe, mau kemana sih buru-buru amat...,”
“Ke suatu tempat dan loe gak perlu ikut. Gue akan pergi bersama asisten Wina,” ucapnya sembari mengajak asisten pribadinya itu pergi.
“Hah... Siapa juga yang mau ikut loe. Gue juga sibuk tau..,” ucap Alvi.
“Baguslah......,”
       Niken meninggalkan butik lebih dulu dari Alvi. Di waktu senggang ini sebenarnya Alvi tak punya rencana. Kedua sahabatnya tengah pergi berkencan dengan cewek-cewek baru mereka. Di perjalanan pulang Alvi menyuruh supirnya untuk berbalik dan mengikuti mobil Niken. Kali ini dia dan Niken memang hanya pergi dengan supir dan asisten masing-masing tanpa di ikuti oleh bodyguardnya seperti biasa karena tidak ingin memancing wartawan untuk meliput mereka berdua sebelum acara pernikahan berlangsung.
*****
       Mobil Niken berhenti di sebuah pemakaman. Dia turun dari mobilnya sendiri dan tak mengizinkan asistennya untuk mengikutinya. Lima menit sejak kepergian Niken ke pemakaman itu, jauh disana juga terdapat Alvi yang mengikuti kemana Niken pergi. Dia begitu terkejut ketika melihat mobil Niken berhenti di sebuah pemakaman.
“Kenapa dia kesini?” batinnya. “Apa salah satu orang tuanya meninggal dan dimakamkan disini...,” duganya dalam hati setelah menyadari bahwa dia memang masih belum mengetahui betul bagaimana keluarga calon mempelai wanitanya itu. Baginya itu tak penting untuk diketahuinya pasalnya mau tak mau dia hanya mengikuti kehendak keluarganya untuk menikahi gadis itu.
       Setelah mengetahui keberadaan gadis itu, Alvi menyuruh sopirnya untuk kembali pulang kerumah. Di tengah perjalanan di ambilnya ponselnya dan dilakukannya panggilan dengan orang di seberang sana.
“Lanjutkan pencarian informasi tentang dia..,” ucapnya pada seseorang di seberang sana.
“Semuanya...?” seseorang di seberang sana bertanya.
“Iya.. lakukan pencarian secara detail tentangnya..,”
“Baiklah...,”
       Alvi menutup ponselnya setelah mengakhiri panggilannya dengan seseorang diseberang itu. Lalu dia mengguman pada dirinya sendiri di sepanjang perjalanan pulang.
“Kenapa dengan gue..? Kenapa gue jadi penasaran lagi tentangnya...” gumamnya dalam batin.
*****
       Acara pesta pernikahan di gelar dengan meriah.Tamu-tamu berdatangan silih berganti memenuhi ballroom hotel yang di sulap menjadi aula pernikahan.Banyak pejabat dan para pengusaha yang berdatangan.Niken mengenakan baju putih yang kemarin telah di cobanya begitu pula dengan Alvi.Mereka tampak seperti pasangan yang sangat bahagia di hadapan semua orang padahal nyatanya baik Niken ataupun Alvi tak saling memiliki perasaan sedikitpun. Namun demikian, acting mereka sangat bagus hingga tak akan ada satu orang pun yang mengira bahwa mereka menikah atas dasar keterpaksaan.
       Usai prosesi sakral dalam pernikahan berlangsung, baik Alvi ataupun Niken bersalaman dengan para tamu yang datang.Beberapa orang menyapa Alvi, dan beberapa orang rekan bisnis papanya juga datang mengucapkan selamat.Tapi, yang membuat Alvi tak habis pikir adalah Papanya lebih mengenalkan Niken pada rekan kerja papanya di bandingkan dengan mengenalkan Alvi yang sebenarnya adalah anak kandungnya sendiri.
       “Kenapa harus Niken yang papa kenalkan pada mereka.Kenapa bukan Alvi?” batin Alvi yang melihat begitu akrabnya Papa nya, oma nya dan rekan-rekan bisnis papa nya juga Niken berbincang-bincang.
       Masih menatap wanita yang berdiri di samping papanya yang kini sudah berstatus sebagai istrinya itu, Alvi terkejut bukan main ketika banyak pengusaha-pengusaha asing yang berdatangan dan menjabat tangan Niken seraya mengucapkan selamat atas pernikahannya.Beberapa orang asing itu baik tua maupun muda saling berbincang-bincang akrab dengan Niken seolah mereka sudah mengenal cukup lama.
       Alvi mengerutkan keningnya, penasaran dengan apa yang telah terjadi di sana. Dia sungguh tak dapat mempercayai apa yang dilihatnya. Gadis yang ia ketahui miskin dan udik itu ternyata memiliki banyak kenalan para pengusaha asing, para mahasiswa luar negeri dan juga bahkan para bangsawan luar negeri.
       “Siapa loe sebenarnya Ken…?” gumam Alvi.
       Yang kemudian kediamannya yang memandangi Niken dari kejauhan itu segera buyar karena tepukan tangan di kedua pundaknya dari kedua sahabatnya Fandy dan Bagas.
       “Apa yang loe lakuin di sini Vi?” tanya Bagas.
       “Iya, loe nggak mau nyapa tamu-tamu yang lain…?” tanya Fandy.
       Alvi tak menjawab dan hanya menggelengkan kepalanya sembari menyesap minuman dan gelas sloki yang di ambilnya dari pelayan.
       “Ahhh…jangan-jangan loe lagi mandangin istri loe ya dari sini?” tuduh Bagas.
       “Atau loe lagi ngerencanain sesuatu buat acara malam pertama loe, nanti malem…,” tambah Bagas.
       “Sembarangan aja loe berdua.Gue bukan kalian ya yang otak mesum betul.Gue bahkan gak ada rencana buat nyentuh dia sedikitpun nanti malam. Loe tahu sendiri kalau gue gak ada rasa sama dia. Dan mana mungkin gue bisa nyentuh dia. Dan gue tegesin lagi ya sama kalian kalau gue beda sama kalian yang bisa melakukan hubungan itu tanpa ada rasa cinta?” jelas Alvi sedikit geram.
       “Hahaha…bercanda Vi, loe serius amat sih gak asyik ah…,” ucap Fandy.
       “Eh…ngomong-ngomong, gue heran deh Vi, kenapa dari tadi Papa dan Om loe sibuk ngenalin Niken ke rekan-rekan bisnisnya, padahal kan harusnya loe?” tanya Fandy kemudian.
       “Iya Vi, padahal kan loe anaknya?” tambah Bagas.
       “Entahlah gue nggak tahu. Mungkin sebegitu bencinya papa sama gue sampai papa harus ngelakuin itu dan lebih mempercayai orang lain di bandingkan gue yang anaknya sendiri,” ucap Alvi.
       Dan kedua sahabatnya Bagas dan Fandy itu pun hanya mengangguk-nggangguk kan kepalanya seraya mengerti apa maksud pernyataan Alvi.
       “Gue gak mempermasalahkan hal itu juga sih, Gas, Fan… Bahkan kalau nantinya Niken yang ngambil alih perusahaan dan bukan gue, gue juga nggak peduli.Cuman yang gue bingung dan gak percaya adalah kenapa gadis udik itu sebenarnya, hingga dia bisa mengenal banyak orang-orang asing itu?” ucap Alvi sembari menunjuk beberapa orang asing yang berbincang dengan istrinya.
       “Loe bener Vi, gue juga penasaran. Dia nggak mungkin mengenal banyak orang jika dia hanyalah seorang gadis miskin yang udik dan berasal dari kampung,” tambah Bagas yang membuat mereka bertiga kini menatap ke arah pandang yang sama yakni memperhatikan Niken dari jauh yang tengah asyik bercengkerama dengan orang-orang asing tersebut. Beberapa orang-orang itu berjabat tangan dengan Niken, dan bahkan satu dua orang baik itu laki-laki ataupun perempuan tak segan untuk cipika-cipiki dengan Niken.
       Tatapan Alvi pada Niken, terhenti ketika di dapatinya seorang pria jangkung yang datang memecah keheningan yang ada.Niken yang seolah tahu siapa yang datang sontak langsung berhambur memeluk lelaki itu. Dan seolah tak ingin melihat hal itu dan tak ingin didera oleh rasa penasarannya lagi untuk mengetahui siapa lelaki itu, ia segera mengalihkan pandangannya ke arah yang lain.
*****