Rabu, 22 April 2020

Empat

Edit Posted by with No comments

Berita tentang pernikahan Alvi dengan Niken sudah tersebar di seantero kampus. Dan tentu saja berita itu juga sampai ke telinga Irene. Irene berjalan mencari-cari dimana Alvi berada. Ditemuinya lelaki yang kini tengah menatap keluar jendela lantai tiga ruang kelasnya itu. Semua temannya seolah tahu apa yang akan terjadi kemudian dan mereka meninggalkan Alvi dan Irene berdua saja di dalam kelas.
“Ada apa loe kesini...?” tanyaAlvi.
“Ada apa? Loe bilang ada apa? Loe amnesia ya, atau loe pikir gue gadis bodoh yang bisa loe bohongin gitu aja...,” cercahnya.
“Oh, loe sudah tahu...,”
“Dengan gampangnya loe hanya ngomong hal itu ke gue? Gue butuh penjelasan dari loe...,”
“Penjelasan apa lagi yang loe butuhin. Bukannya loe udah tahu lebih dulu tentang hal ini sebelumnya. Dan gue juga sudah beritahu loe sejak awal kalau gue mau di jodohin,”
“Tapi.. loe apa gak bisa menolak keinginan kedua orang tua loe...,”
“Gue gak punya jalan lain. Bukannya loe sendiri yang nolak untuk nikah dengan gue? Jadi, selain menerima hal ini gue gak bisa lakuin apa-apa lagi...,”
“Jadi, sampai akhir loe akan tetap bertahan menjadi boneka kedua orang tua loe yang berpikiran kolot itu...?”
“Jangan pernah mengatai kedua orang tuaku ataupun menjelek-jelekkan keluargaku. Sekalipun aku membenci mereka, mereka tetap orang tua gue, tetap keluarga gue..,” ucap Alvi kali ini dengan nada meninggi.
“Loe... Loe udah berubah Vi...,”
“Gue? Berubah? Bukannya loe yang sudah berubah. Atau sejak awal memang itu sifat dan tujuan loe,” ucap Alvi pada Irene sembari meninggalkan gadis itu di dalam kelas.
       Irene mencoba mencerna perkataan terakhir Alvi karena dia tidak mengerti apa yang dikatakan oleh lelaki itu yang megatakan sifatnya berubah dan bahkan lelaki itu jua menyebutkan tujuannya yang sebenarnya. Dia berpikir sejenak dan menemukan sesuatu dalam pikirnya.
“Bulshitttt apa dia sudah tahu......,” desahnya.
*****
       Alvi pulang dari kampus dan melewatkan pelajaran terakhirnya. Bersama dengan ketujuh bodyguarnya mobil melaju menuju sebuah rumah bergaya kuno yang luasnya naujubileh besarnya. Dari depan rumah itu tak begitu mencolok, bahkan jika dibandingkan dengan rumah-rumah mewah lainnya yang berada di kanan kiri rumah itu. Tapi, ketika memasuki rumah itu, interiornya begitu indah. Terdapat ragam budaya disana ada gaya eropa dan gaya-gaya lainnya.
       Alvi duduk di Gazebo di dekat kolam renang. Dia duduk termenung disana, memikirkan kejadian yang berlangsung hari ini. Kalau saja dia tidak mendengar hal mengerikan itu beberapa hari lalu, maka dia mungkin gak akan semarah saat ini pada Irene. Dan gak mungkin menyakiti gadis itu sesadis saat ini. Pikirnya kembali pada kejadian yang berlangsung beberapa hari lalu.
       Beberapa hari lalu Alvi berhasil kabur dari ketujuh bodyguardnya. Dia hangout bareng bersama kedua sahabatnya, Fandy dan Bagas. Mereka mengunjungi sebuah cafe yang cukup bergengsi. Tapi, tanpa sengaja Alvi melihat Irene juga berada disana. Alvi hendak menghampiri Irene dan mengajaknya bergabung bersama dia dan kedua temannya. Pasalnya baik dia ataupun Irene sulit sekali untuk pergi kencan bersama. Karena itu dia ingin memanfaatkan fakta yang ada. Namun, gadisnya tak sendirian di cafe itu. Dia bersama dengan seseorang, seseorang yang menjadi musuh bebuyutannya tak hannya dirinya tapi perusahaan keluarganya juga merupakan saingan dari perusahaan keluarga Alvi.
       Kedua temannya yang melihat hal itu pula mengajak Alvi meninggalkan cafe itu. Tapi, bukan Alvi namanya kalau dia berhenti sampai disitu saja. Setidaknya dengan mata kepalanya sendiri dia ingin mengetahui apa yang terjadi sebenarnya antara kekasihnya dengan Jacky. Dia mengisyaratkan kedua temannya untuk ikut menyamar seperti dirinya. Mereka duduk tepat dibelakang meja Irene dan Jacky hingga mereka bisa mendengar semua hal yang dibicarakan oleh kedua orang tua itu.
“Kenapa? Kenapa kau lakukan itu padaku....,” desah Alvi dalam renungannya.
“Loe kenapa? Lagi galau?” seseorang mengagetkan Alvi dan membuyarkan renungan lelaki itu.
“Loe? Ngapain disini...?”
“Ya, seperti biasa...,” ucapnya sembari membawa beberapa bunga lili yang telah di petiknya dalam genggaman tangannya.
“Bisa abis semua bungaku kalau loe petikin tiap hari......,” ucap Alvi dengan sinis seperti biasanya.
“Loe kenapa? Perang dingin sama cewek loe? Apa dia udah tahu kalau kita akan menikah hari sabtu besok?” tanya Niken.
“Ya, dia udah tahu. Dan dia marah habis-habisan ke gue. Puas loe....,”
“Hah.. Baguslah kalau dia udah tahu. Loe udah putus dengannya..?” tanyanya lagi yang membuat Alvi langsung meninggikan suaranya karena geram.
“Loe ngarep banget gue putus dengannya..?” ucapnya pada Niken. Niken tak menjawab, hanya mengangguk dan tersenyum puas melihat lelaki di depannya marah. “Jangan-jangan loe udah mulai jatuh cinta sama gue....,” terka Alvi seketika.
“Hah... jangan ngaco hal seperti itu tidak mungkin terjadi,”
“Terus kenapa loe puas banget denger gue mau putus sama dia...,”
“Gue seneng aja akhirnya cowok bodoh macem loe bisa juga putus dari macan betina itu,”
“Eh, jangan pernah jelek-jelekin cewek gue dengan mulut kotor loe itu...,” bentak Alvi.
“Terserah loe deh. Harusnya loe bersyukur putus sama dia sekarang. Dia bukan cewek baik-baik...,” ucap Niken sembari pergi meninggalkan Alvi yang masih duduk ngejogrok di gazebo.
“Emangnya loe cewek baik?” tanya Alvi yang melihat Niken menjauh pergi dari hadapannya. Niken tak menjawab dia hanya memberi isyarat dengan menggerakkan kedua pundaknya ke atas sebagai tanda jawaban atas pertanyaan Alvi.
       Selepas kepergian gadis itu, Alvi kembali pada renungannya. Tapi, dia masih dibayang-bayangi oleh perkataan Niken terakhir kali mengenai pendapatnya tentang Irene seolah gadis itu tahu betul siapa dia.
“Jangan-jangan sejak awal tuh cewek tahu kebusukan Irene...,” duga Alvi.
*****
       Alvi masih penasaran tentang segala hal yang diketahui gadis itu tentang Irene. Seusai mandi dan berganti pakaian dia mendatangi kamar Niken. Di ketuknya beberapa kali kamar itu tapi masih tak ada jawaban. Ketika mendapati kamar itu tak terkunci Alvi langsung masuk saja ke dalam kamar itu. Dilihatnya kamar itu dari ujung ke ujung.
“Rapi juga kamarnya....,” gumamnya.
       Sementara itu, Niken tak mengetahui siapa yang datang ke kamarnya karna suara berisik dari shower yang dinyalakannya. Usai mandi dikenakannya handuknya dan bergegas untuk mengambil pakaian ganti di almari. Tapi, ketika dia melangkahkan kakinya keluar kamar mandi, dia melihat ada seorang pria yang berdiri mengamati setiap jengkal kamarnya. Dia tak tahu siapa pria itu, karena merasa takut akan terjadi sesuatu dengan dirinya ditarinya kedua lengan sang pria itu dan dibantingnya dengan satu kali bantingan hingga pria itu terjatuh di atas ranjangnya.
“Loe....,” ucapnya terkejut ketika mendapati bahwa sang pria adalah sosok menyebalkan yang dikenalnya.
“Iya, nie gue bukan orang jahat yang bakal nyelakain loe...,” ucap lelaki itu.
       Niken masih memegangi lelaki itu hingga lelaki itu mengatakan maksud kedatangannya ke kamarnya secara diam-diam. Tapi tak disadarinya handuk yang semula membalut tubuhnyanya itu beringsut turun ke bawah secara perlahan. Dan dia sontak terkejut dengan hal itu. Langsung di tutupnya kedua mata lelaki dihadapannya itu dari pandangannya terhadap dirinya. Ditariknya handuk yang hampir saja jatuh dan membuat terbuka seluruh tubuhnya itu dan kemudia dengan cepat dia melepas tangannya yang menutupi kedua mata Alvi dan bergegas ke kamar mandi untuk mengambil baju mandinya. Selepas itu, langsung di interogasinya kedatangan Alvi yang diam-diam memasuki kamarnya itu.
“Mau apa loe kemari...?”
“Oh, gue mau nanya sesuatu sama loe...,”
“Tapi, loe gak harus masuk kamar gue diem-diem kan..?”
“Gue gak masuk diem-diem. Tadi, gue udah berulang kali manggil-manggil loe. Tapi, loe lagi keramas kali makanya gak denger...,” jelas Alvi sembari menunjuk rambut Niken yang masih basah.
“Loe mau nanya apa sih...?”
“Sesuatu yang penting. Loe ganti baju dulu aja. Gue tunggu loe di taman belakang...,” ucapnya pada Niken. Niken tak menyahut hanya berdiri memandang lelaki itu dengan tatapan dingin. Alvi berjalan keluar dari kamar Niken, namun sebelum itu dia membisikkan sesuatu di telingga Niken yang membuat muka gadis itu menjadi merah karena marah. “Ternyata loe seksi juga...,” bisik Alvi ditelinga Niken dengan senyum jahilnya.
“Loe....,” ucap Niken sembari hendak memberikan pukulan keras pada Alvi. Tapi, Alvi lebih sigap darinya dan keluar dari kamar itu dengan cepatnya.
*****
       Niken berjalan dengan malas menuju taman belakang. Dia mendapati Alvi yang tengah duduk bersantai di bangku samping taman itu. Dia melangkah gontai menghampiri Alvi dan duduk diam disamping lelaki itu.
“Kenapa wajah loe? Loe masih marah karena gue masuk kamar loe?” tanya Alvi namun Niken tetap diam tak menanggapi pertanyaan-pertanyaan itu. “Atau loe marah karena gue gak sengaja ngeliat........,” ucapannya terhenti karena lototan mata Niken yang tajam ke arahnya. Alvi terkekeh melihat kelakuan gadis di sampingnya. Dia tak henti-henti menggoda gadis itu. “Loe cakep kalau lagi ngambek. Ah.. gue salah apa ini karena besok kau akan jadi pengantin ya makanya kau bisa jadi secantik ini...,” goda Alvi yang membuat Niken geram.
“Sudahlah, loe jangan main-main sama gue. Sebenarnya apa maksud loe nyuruh gue kesini?”
“Oh, itu...itu soal Irene. Loe sepertinya tahu banyak tentang dia...?”
“Gue harus jawab pertanyaan loe ini?”
“Iyalah harus, kalau nggak gue bakal sebarin kalau gue sudah....,”
“Ya, baiklah-baiklah gue jawab. Dasar cowok brengsek,” ucapnya pada Alvi. Tapi hal itu tak membuat Alvi marah. Dia malah terkekeh mendengar hal itu. “Irene temen SMP dan SMA gue...,”
“Apa? Jadi dia, sama kayak loe....,”
“Kayak gue, gimana maksud loe......,”
“Ya, loe ngerti kan maksud gue...,”
“Udik? Kampungan?”
“Bukan gue yang ngomong. Loe sendiri tuh yang melontarkian kata-kata itu...,”
“Dasarr.... Bukan dia yang kayak gue. Tapi gue yang kayak dia...,”
“Maksud loe?”
“Sudahlah gak usah bahas yang bagian ini. Yang penting adalah gue tahu betul siapa Irene itu. Gadis anak konglomerat yang tak begitu populer namun dalam sekejap bisa menjadi tenar diseantero sekolah dengan menggandeng beberapa anak konglomerat lainnya..,”
“Maksudmu...,”
“Dia sering gonta-ganti pacar dengan mendekati anak-anak konglomerat lainnya, dodolll...,”
“Oh... terus....,”
“Ya, gitu seterusnya. Ketika cowok-cowok itu tak lagi menguntungkan baginya dia memutuskan mereka. Salah satu tujuannya mendekati pria-pria itu adalah agar dia dapat mewujudkan impiannya menjadi pianis terkenal. Oh, ya gue denger-denger dia sekarang juga deket dengan pewaris group MR-Company saingan perusahaan papa loe, sebuah perusahaan yang bergerak dalam mencetak para pemain musik berbakat, Jacky Malik Rusdiantoro...,” jelasnya.
“Bagaiman loe bisa tahu...,”
“Temen-temen gue yang jadi informannya...,”
“Jangan bohong sama gue. Loe kan gak punya temen satu pun...,”
“Terserah loe, kalau gak percaya omongan gue, lebih baik gue pergi...,”
“Eh... jangan ngambek gitu dong...,”
“Terus mau loe apa...?”
“Lanjutin cerita loe...,”
“Itu semua yang gue tahu tentangnya. Apa lagi yang mau loe tahu?”
“Menurut loe, apa dia ngedeketin gue karena hal itu. Bagi gue tak masalah apa tujuannya ngedeketin gue. Tapi, kenapa sekarang dia berbalik ke Jacky?”
“Loe bodoh atau apa. Sekarang ini perusahaan papa loe kalah jauh dibandingkan dengan perusaan papa Jacky, yang berada dalam klasemen teratas untuk urutan seluruh perusahaan yang ada dinegara ini,”
“Oh, jadi dia seperti itu. Loe dan dia tak ada bedanya. Apa memang semua cewek seperti itu,” ucap Alvi dengan raut wajah penuh kekecewaan.
*****









Tiga

Edit Posted by with No comments

Niken menata semua barang-barangnya dalam kamarnya yang baru. Kamar itu memang cukup besar bahkan mungkin seluas lapangan sepak bola, tapi mengapa dia masih saja tak merasa nyaman di rumah itu. Bukan saja karena dirinya merasa asing dengan tempat itu, tapi karena dia membayangkan tekanan apa saja yang akan didapatkannya nanti setelah dia memutuskan untuk menyetujui usul tersebut. Dibukanya jendela kamarnya yang menghadap tepat kearah taman. Taman itu begitu indah, terdapat bunga mawar, anggrek, anyelir dan bunga-bunga lainnya yang tertata rapi di taman itu. Satu hal yang paling disukainya dari semua bunga-bunga itu adalah bunga lili. Dibukanya pintu kamarnya dan hendak di nikmatinya hamparan bunga lili di taman itu. Tapi, tiba-tiba seseorang menghentikan langkahnya sejenak karena mengajaknya berbicara.
“Loe, kok bisa ada disini..?”
“Emangnya kenapa kalau gue ada disini. Bukannya minggu depan kita udah harus bertunangan,”
“Kita? Mimpi loe. Gue gak pernah mau nyetujui usul tersebut. Jangan harap loe bisa bertunangan dengan gue. Jadi sekarang sebaiknya loe pergi dari sini..,” bentak Alvi sembari menarik tangan Niken untuk segera meninggalkan rumahnya.
       Namun, usahanya gagal karena kedatangan seseorang. Niken mengangguk menghormat ketika mendapati orang itu mendekat ke arah mereka berdua. Melihat siapa yang datang, sontak membuat Alvi bergegas untuk melepaskan cengkeraman tangannya dari pergelangan tangan Niken.
“Kenapa?Kamu mau ngusir dia..?” tanya papanya.
“Tapi pa... Aku gak pernah menyetujui pertunangan itu,”
“Kami tak perlu melakukannya dengan persetujuanmu. Itu sudah keputusan leluhur dan sudah menjadi keputusan opa mu sebelum meninggal. Jadi, kamu tidak berhak menentangnya..,”
“Tapi, pa....,”
“Berhenti mengusiknya atau kamu tahu sendiri apa yang akan papa lakuin terhadapmu jika kamu berani melanggar perintah...!!!”
       Alvi hanya diam terpaku di depan pintu kamarnya yang terletak di sebelah kamar Niken. Sementara itu, Niken langsung pergi ke tempat tujuan yang diinginkannya tadi. Alvi membanting pintu kamarnya dengan keras hingga membuat beberapa barang antik sebagai asesoris ruangan bergerak. Ditariknya tirai kamar tidurnya hingga terbuka dan dia melihat Niken tengah asyik ngobrol seorang diri di depan hamparan bunga-bunga lili itu.
“Dia melakukannya lagi,” ucap Alvi yang melihat Niken ngobrol seorang diri dengan bunga-bunga itu. Yang bener aja, nyuruh gue bertunangan dengan cewek gila itu,jangan harap bisa semudah yang kalian rencanakan. Gue bakal buktiin kalau tuh cewek emang bener-bener gila. Dia sering ngomong sendiri seperti itu. Apalagi coba kalau bukan gila,” pikirnya yang menguatkan keinginannya untuk membuktikan bahwa Niken sebenarnya sudah tidak waras atau gila.
*****
       Jam sudah menunjukkan waktu makan malam. Kali ini semuanya berkumpul bersama di meja makan. Termasuk juga dengan Niken yang kini menjadi anggota baru di keluarga itu meskipun belum resmi. Usai makan papa Alvi berbicara singkat seolah sebuah perintah kepada Niken. Dalam hal ini, terlihat jelas bahwa sikap papa Alvi terhadap Niken tidak begitu suka, tapi kenapa laki-laki separuh baya itu mengizinkan anaknya menikahi gadis di hadapannya itu jika dia sendiri tak terlalu suka dengan hal itu. Awalnya, kecuali sang oma semuanya menolak perjodohan itu. Tapi, entah mengapa dalam sekejap saja papa dan mamanya berbalik 180° dari sikapnya semula.
“Besok tidak usah masuk kuliah, saya udah izinkan ke dosen wali kamu. Jadi selama seminggu ini kamu hanya fokus saja mempelajari prosedur pernikahan yang di tetapkan leluhur keluarga kami,” jelas Dana, papa Alvi.
“Baik, om...,” ucap Niken singkat.
       Sementara itu, Alvi yang mendengar bahwa acara itu bukanlah sebuah acara pertunangan melainkan acara pernikahan membuatnya naik pitam dan protes habis-habisan.
“Ini apa-apaan pa?” Bukannya pertunangan tapi pernikahan?”
“Iya, kami semua sudah memikirkannya. Daripada buang-buang waktu dengan pertunangan, akan lebih baik jika langsung saja kita selenggarakan pernikahan,” jelas Papanya.
“Tapi, pa... Aku nggak mau nikah mudah. Dan kalian gak seharusnya melakukan ini terhadapku,”
“Ini keputusan yang terbaik putraku...,” ucap Mamanya.
“Apanya yang keputusan terbaik. Menikah dengan gadis macam dia, mama bilang yang terbaik? Bulshittt...........,” ucap Alvi yang sontak membuat papanya geram.
“Kenapa? Kamu tidak terima? Selain menghambur-hamburkan uang apa yang bisa kau lakukan? Kerjamu hanya main-main saja,” bentak papanya.
“Tap...tapi....,”
“Kenapa? Kau sudah punya pacar...........?” tanya omanya.
“Iy...iya....,”
“Apa dia mau kau ajak nikah dalam waktu dekat ini...?”
“Oma... bagaimana mungkin dia menyetujuinya. Kami masih muda dan............,”
“Kalau begitu lupakan saja dan terima keputusan ini,” ucap Omanya yang lantas bergegas pergi dari tempat makan. Diikuti pula oleh papa dan mamanya beberapa detik kemudian.
“Oma.....oma.....,” teriak Alvi.
       Kini hanya tinggal Alvi dan Niken yang masih ngejogrok di meja makan. Dia menatap Niken yang masih saja bisa melahap semua makanan di hadapannya meskipun dalam keadaan kacau balau begitu.
“Loe, masih sempet makan dalam suasana kayak gini...?”
“Iya, emangnya kenapa...?”
“Loe gila ya. Loe gak tau suasananya lagi kayak gini...,”
“Itu masalah loe, bukan urusan gue....,” ucap Niken sembari meninggalkan meja makan tepat setelah semua makanan dalam piringnya terlahap habis olehnya.
       Alvi tak habis pikir dengan sikap gadis itu yang masih biasa-biasa saja seolah tak pernah terjadi apa-apa meskipun dia menyaksikan sendiri pertengkaran alvi dengan papanya. Kini dia bergegas pergi ke kamarnya untuk meredam emosinya. Di perjalanan dia melihat beberapa pembantunya membawa setumpuk buku-buku ke kamar Niken. Dapat di tebaknya bahwa buku-buku itu pastilah berisi tentang sejarah leluhur Alvi yang memang masih keturunan ningrat.
“Mampus loe, harus mempelajari semua itu..,” batin Alvi sembari membuka kamar tempat tidurnya dan mengakhirinya dengan dentuman keras yang membuat pintu itu tertutup kembali. Selain memang karna masih terbawa emosi, dia juga pengen ngebuat gadis yang kini menempati kamar disebelah kamarnya itu, risih dan nggak betah tinggal di situ lagi.
       Sementara itu, Niken yang sibuk dengan semua buku-buku yang di bawa para pembantu itu tetap terkonsentrasikan pada buku-buku yang kini beralih memenuhi meja belajarnya. Lampu belajar yang bertengger di atas meja belajar di sudut kamar Niken ikut terguncang hebat karena dentuman pintu kamar Alvi yang sengaja di bantingnya.
“Loe, pikir gue juga mau nikah ma loe. Kalau bukan karena sesuatu hal, gue gak bakalan mau nikah sama cowok kayak loe...,” batin Niken.
*****
       Esok paginya Niken keluar kamar untuk bersiap di uji oleh asisten rumah tangga keluarga Alvi. Mereka ingin mengetahui sejauh mana Niken sudah mempelajari buku-buku yang dilimpahkan kepadanya semalam. Alvi yang tidak ada kuliah pagi, pergi mengintip bagaimana gadis itu akan dibantai oleh asisten rumah tangga Papanya yang terkenal galaknya. Dia cukup tahu betul temperamen wanita separuh baya itu. Pasalnya dia sendiri juga digembleng olehnya untuk mengikuti tradisi dan tata cara leluhur yang menurutnya sungguh memusingkan.
“Gue mau liat seberapa menderitanya loe hari ini...,” batinnya. Beberapa hari yang lalu, Alvi mendapat informasi dari teman-temannya perihal gadis itu. Gadis itu tak begitu pandai dalam pelajarannya dan bahkan dia selalu mendapat peringkat terakhir di kelasnya. “Bolehlah, kalau loe pandai dalam hal basket, tapi kali ini loe pasti mampus di bantai oleh wanita tua itu,” pikirnya lagi.
       Niken tengah mengikuti asisten rumah tangga itu membawanya. Mereka berhenti di sebuah Gazebo di samping kolam renang. Disitulah evaluasi perkembangan Niken dalam mempelajari buku-buku itu dilakukan. Padahal baru semalam dia diberi buku-buku itu. Rasanya mustahil jika dia bisa lulus uji evaluasi hari ini dengan mudah. Tapi, semua orang yang melihatnya tak percaya. Bahkan sang penguji yang dikenal dengan nama asisten Maria itu pun tak percaya betapa semua pertanyaannya dilahap habis oleh Niken. Semua jawaban Niken sempurnah bahkan persis seperti apa yang tertulis dalam buku-buku yang diwariskan oleh leluhurnya itu. Padahal butuh waktu lama dan bertahun-tahun bagi asisten Maria untuk mempelajari dan menghafal semua isi buku itu, tapi Niken hanya dalam semalam saja bisa melahap semua tulisan membosankan dalam buku-buku itu. Tak hanya itu, bahkan dia juga dapat mempraktikkan semua yang tertera disana.
       Disisi lain, oma Mia yang memperhatikan evaluasi itu bersama dengan menantunya dengan diam-diam tersenyum kagum melihat betapa pandainya gadis yang dipilihnya itu.
“Sudah saya duga, inilah dia yang sebenarnya...,” ucap Oma Mia pada menantunya.
“Ibu, bagaimana ibu bisa tahu kalau gadis itu...........,” menantunya bertanya.
“Aku sudah cukup mengenal siapa keluarganya. Tak hanya nenek dan kakeknya bahkan kedua orang tuanya juga sudah ku anggap seperti anakku sendiri. Terlebih ibunya yang dulu hendak ku jodohkan dengan Dana....,” Omanya keceplosan membicarakan tentang sesuatu yang menyinggung perasaan menantunya. “Ma’af, Oma tak bermaksud membandingkanmu dengannya. Bagi oma, menantu terbaik Oma sekarang adalah kau....,” ucap Oma Mia pada menantunya yang kini tengah berwajah sedikit muram.
“Ah, aku tak apa-apa ibu. Seharusnya ibu dan Mas Dana mengatakannya sejak awal padaku bahwa dia adalah anak Selvi. Kenapa ibu menyembunyikannya..?”
“Ibu, hanya tidak ingin membuatmu merasa tersinggung. Selain itu, ibu juga tidak ingin membuatmu berpikir bahwa ibu menjodohkan putramu dengannya hanya karena ibu gagal menjodohkan Papanya. Karena bukan hal itu tujuan ibu sesungguhnya, kelak kau akan mengetahui bahwa hal inilah yang terbaik untuk putramu...,” ucap Oma Mia sembari meninggalkan menantunya yang masih bergelut dengan hatinya sendiri.
“Apa benar, semua ini bukan karena hal itu, ibu...,” batin Ratih. “Tapi, setidaknya dengan begini aku bisa melindungi putraku dari gadis yang dibawanya waktu itu....,” pikirnya seketika.
*****
       Asisten Maria memberi bertumpuk-tumpuk buku lagi kepada Niken. Kali ini buku-buku itu lebih khusus pada resep-resep masakan. Tak hanya harus pandai dalam tata krama leluhur, tapi sang menantu keluarga Kresna harus bisa menguasai setiap hal yang dilakukan setiap istri lainnya seperti memasak, merajut, menjahit dan pekerjaan lainnya. Meskipun setiap harinya mereka akan dikelilingi dan di bantu oleh pembantu rumah tangga yang berjibun banyaknya itu tapi menguasai semua hal itu sudah menjadi kewajiban yang mendarah daging bagi keluarga itu.
       Niken mendesah panjang melihat semua buku-buku yang berjibun banyaknya itu. Sementara Alvi, kini menghampiri gadis yang sangat dibencinya itu karena telah menghancurkan hidupnya. Dia memang juga tak percaya bahwa gadis itu bisa lolos dari ujian asisten Maria.
“Loe pakek apaan bisa lulus dengan mudah dari ujian wanita tua itu?” tanyanya dengan sinis.
“Maksud loe?”
“Ya, mungkin aja loe pakek contekan di tangan loe. Atau loe bawa alat perekam yang terhubung ke telinga loe...,” tebak Alvi sembari mencari-cari semua barang yang diduganya itu. Di telitinya kedua tangan gadis itu tapi tak tersembunyi sebuah sontekan di sana. Di sibaknya pula rambut yang kini terurai hingga menutupi daun telinga gadis itu untuk mencari  alat perekam tapi tak juga ditemukannya.
       Niken yang melihat kelakuan Alvi merasa sedikit terkejut dengan sikap aneh Alvi yang tak mempercayai dirinya. Dia pungunggya jatuh ke belakang dengan Alvi tepat dihadapannya. Kini jaraknya dengan Alvi begitu dekat, hingga dia bisa merasakan desah napas lelaki itu. Menyadari bahwa posisinya kin tidak mengenakkan Niken langsung mendorong tubuh Alvi yang menindih badannya.
“Loe apa-apaan sih...,” bentak Niken.
Alvi menyadari kini semua karena kesalahannya, diapun meminta ma’af pada Niken.
“Sorry, gue gak bermaksud... gue cuman mau.......,”
“Halah, bilang aja kalau loe mulai suka sama gue,” ucap Niken sembari memperbaiki sikap duduknya.
“Hah... loe mimpi kalau berfikir gue bakal suka cewek kayak loe..,”ucap Alvi yang juga duduk kembali seperti beberapa detik yang lalu. “Gue cuman penasaran bagaiman loe bisa ngelewatin ujian itu dengan mulus...,” tambahnya.
“Baguslah kalau gitu, gue gak perlu khawatir kalau loe bakalan suka sama gue. Karena asal loe tahu aja bahwa loe bukan tipe gue,” jelas Niken sembari pergi meninggalkan Alvi. Namun ditengah perjalanannya dia kembali berucap pada cowok bermata sipit degan kulit putih langsat dan tubuh tinggi jangkung yang tengah ngejogrok di gazebo itu. “Oh ya, dan tentang pertanyaan loe, gue cuman pakek otak. Gak ada cara licik lainnya,” ucapnya sembari pergi.
“Dasar loe... gue juga gak bakalan suka sama loe. Dan jawaban loe, gue masih gak percaya sama perkataan loe. Mana mungkin loe bisa ngelewati hal ini cuman dengan otak udang loe..,” ucap Alvi geram.
“Terserah loe mau percaya atau nggak. Itu bukan urusan gue...,” ucap Niken dari kejauhan.
*****
       Pukul dua siang Alvi sudah berkemas untuk pergi ke kampus. Di perjalanan menuju gerbang dia melihat Niken yang tengah ngobrol sendiri dengan bunga-bunga di halaman depan rumahnya.
“Eh, ngapain loe ngejogrok disini?” sapanya dengan sinis. Niken hanya diam tak menanggapi orang yang mengajaknya bicara. “Loe udah kayak orang gila aja ngejogrok disini dan ngomong-ngomong sendiri dengan benda mati,” ucapnya sembari menunjuk bunga-bunga dipekarangan rumahnya itu.
Niken berbalik dari pandangannya dan beralih menatap Alvi yang berdiri tak jauh darinya. “Apa urusan loe, terserah gue mau ngomong sendiri atau apa. Dan asal loe tahu aja ya, bunga itu bukan benda mati, mereka juga mahluk hidup. Loe gak pernah nyimak pelajaran Biologi di sekolah loe ya. Kayaknya bukan otak gue yang otak udang, tapi loe..,” ucap Niken dengan sinis.
“Ah... setidaknya gue masih waras daripada loe yang ngajak ngomong mahluk yang tak bisa berbicara,” ucap Alvi sembari ngacir pergi meninggalkan Niken sendiri dengan ditemani tujuh bodyguarnya seperti biasa.
*****
















Dua

Edit Posted by with No comments

Rasa penasaran membuat Alvi dengan terpaksa harus nemuin gadis itu. Dia masih tidak percaya dengan apa yang di dengarnya dari oma dan ortunya, bahwa tuh gadis tak menolak perjodohan dengan dirinya. Bahkan tuh gadis secara gamlang menyetujui perjodohan itu dengan menyebutkan secarajelas alasan dari keputusannya itu. Yang anehnya lagi adalah oma dan papanya yang malah semakin mendukung acara perjodohan itu meskipun tahu maksud dari gadis itu hingga mau menerima perjodohan.
“Oma... memang benar-benar udah gila. Mana mungkin dia tetap melanjutkan perjodohan meskipun dia tahu bahwa gadis itu punya maksud yang tidak baik. Bagi gue oma gak masalah, tapi loe tahu papa gue malah ngedukung oma gue.. gila nggak sih...,” jelas Alvi pada kedua rekannya yang menemaninya mencari gadis yang di jodohkannya itu.
       Kedua temannya yang mendengar Alvi menggerutu tentang sikap oma dan papanya itu hanya manggut-manggut menyetujui semua perkataan Alvi tanpa bisa berkata apa-apa. Mereka tak tahu apa yang harus mereka lakukan untuk mengeluarkan sohibnya itu dari masalah perjodohannya itu. Bagi mereka berdua, membantu Alvi dengan menentang kehendak oma dan papanya sama saja seperti menggali kuburan mereka sendiri. Bahkan lebih dari itu keluarga mereka pun  bisa kena imbasnya karena jika sedikit saja membuat papa Alvi tersinggung dalam hitungan detik, papa Alvi langsung bisa mengeluarkan kedua orang tua mereka dari kerja sama dengan perusahaan K-Company. Karena bisa dibilang baik perusahaan papa Fandy maupun perusahaan papa Bagas keduanya bisa berjalan dengan baik karena kerja sama dengan perusahaan K-Company yang digawangi oleh papa Alvi.
*****
       Alvi tak menemukan gadis itu di seluruh fakultas seni budaya. Dia mengunjungi ruang seni lukis seperti yang disarankan oleh beberapa orang yang kenal dengan gadis itu, tapi tetap saja tak dilihatnya batang hidung gadis itu. Dia bertanya pada setiap orang yang berada di sana tentang keberadaan gadis itu. Beberapa orang yang ditanya malah terkejut melihat orang kelas atas seperti Alvi dan kedua temannya itu malah mencari gadis dari kalangan rendah itu. Tapi, beberapa orang dengan takut-takut juga memberitahu keberadaan tuh gadis pada Alvi yang mencarinya dengan geram.
       Sebuah lapangan dengan lantai berwarna coklat yang dibentuk seolah mirip dengan bentuk dan warna kayu itu, berkumpul begitu banyak orang. Tak hanya tribun para penonton yang penuh sesak bahkan di pinggir-pinggir lapangan pun di penuhi oleh sesak orang. Alvi dan kedua temannya tak mengetahui sebenarnya apa yang terjadi di lapangan yang di hiasi dengan dua ring yang bertengger di tengah sudut yang berhadapan itu.
       Dia melaju menerobos semua penonton di situ yang penuh sesak. Beberapa orang sepertinya tak mengenali dirinya. Pasalnya jika mereka mengenali dirinya pasti orang-orang itu akan menepi dan membuka jalan untuk dirinya dengan mudah.
“Kalau gue menang loe harus jauh-jauh dari cowok gue...,” ucap seorang cewek dengan pakaian training dan kaos pendek berwarna pink di tengah lapangan itu.
       Sementara cewek di hadapannya cuman mengenakan T-shirt biru dan celana jins itu hanya mengangguk menuruti keinginan sang penantang. Alvi dan kedua temannya terkejut melihat siapa yang ditantang oleh si cewek berbaju pink itu.
“Gila tuh cewek, udah punya cowok malah setuju di jodohin dengan gue. Emang dia pikir gue apaan, mainan...,” ucap Alvi geram di antara sorak sorai para penonton.
       Para penonton lebih banyak yang mendukung cewek berbaju pink yang kemudian dikenal dengan nama Merlyn. Merlyn, cewek yang menantang sang gadis ber-T-shirt biru itu adalah ketua tim basket cewek di kampus. Pantas aja jika dia menantang lawannya dengan bidang yang paling di kuasainya karena kemungkinan besar bagi dia untuk menang. Memang tidak begitu sportif, mengingat bahwa si cewek ber-T-shirt biru bukanlah anggota tim basket sama kayak dirinya. Tapi, sang cewek ber-T-shirt biru tetap menyetujui tantangan dari Merlyn.
“Gila cewek loe, dia mau aja nerima tantangan si Merlyn, padahal dia pasti tahu siapa si Merlyn itu,” ucap Bagas.
“Yo’i bro... Seantero kampus ini siapa sih yang nggak kenal Merlyn. Cewek terpopuler dan cewek yang paling berbakat di dunia basket. Meskipun cewek loe itu terbilang tomboy atau bahkan lebih mirip cowok daripada cewek, tapi cewek loe pasti kalah telak melawan si Merlyn itu,” tambah Fandy.
“Kalian berdua bisa diem gak sih. Dan berhenti bilang bahwa dia cewek gue. Di dunia ini cewek gue cuman satu, yaitu Irene...,” ucap Alvi tegas yang membuat kedua temannya langsung berhenti berkomentar.
       Alvi dan kedua sahabatnya pun larut dalam pertandingan itu sama seperti penonton yang lain. Bahkan kini ketiganya tercenggang melihat score berbalik begitu cepat dan membuat tuh gadis kelas rendahan memimpin pertandingan. Semua penonton pun pada tercenggang dengan kehebatan si gadis ber-T-shirt biru itu. Peluit berbunyi tanda pertandingan berakhir dengan kemenangan di pegang oleh sang cewek ber-T-shirt biru. Merlyn terdiam tak mampu mempercayai kekalahannya. Sang cewek ber-T-shirt biru mendekati Merlyn yang jatuh tersimpuh di tengah lapangan.
“Gue menang dan loe kalah. Jadi sekarang gimana? Apa gue boleh ambil cowok loe...,” ucap cewek itu pada Merlyn.
“Loe.....,” ucap Merlyn dengan geram.
“Sorry aja kalau loe mikir gue mau ngambil cowok loe setelah gue menang. Gue cuman mau klarifikasi ke loe, bahwa gue gak pernah godain cowok loe atau bahkan pengen ngerebut dia dari loe. Dan asal loe tahu aja cowok macam cowok loe itu, gak pantes buat direbutin...,” jelas sang cewek ber-T-shirt biru.
“Maksud loe....??” Merlyn tak mengerti dengan perkataan cewek itu. Bagaimana mungkin dia bisa bilang bahwa cowoknya gak pantes buat di rebutin padahal cowoknya adalah ketua senat fakultas mereka dan seseorang yang sangat terpandang di universitas itu serta menjadi incaran dari para gadis-gadis lain.
“Loe tanya aja sama cowok loe yang loe agung-angungin itu. Gue hanya kasihan sama loe karna ngorbanin harga diri loe cuman buat cowok brengsek macem dia,” ucap si cewek ber t-shirt biru sembari meninggalkan Merlyn yang kini mencoba berdiri di bantu oleh rekan-rekannya. Namun, ditengah perjalanannya si cewek mengucapkan sesuatu lagi pada Merlyn. “Oh, ya.. Bilangin juga sama cowok loe, buat berhenti gangguin gue. Kalau gak gue gak segan-segan buat patahin lagi tulang rusuknya. Bukankah dia sekarang di rumah sakit...?” tanya si cewek ber-T-shirt biru yang tak mengharapkan jawaban dari Merlyn. Kemudian dia pun berlalu pergi meninggalkan Merlyn dan semua orang yang masih bergerumul di lapangan basket itu.
       Sementara itu, Merlyn mencerna setiap perkataan dari cewek ber-T-shirt biru itu dan menyadari satu hal. Mungkin benar bahwa dia tak seharusnya hanya memandang kebenaran dari satu pihak saja tetapi juga harus memandangnya dari pihak lain juga. Dan hanya karena dia kekasihnya dan menderita sakit hingga terpaksa di rawatdi rumah sakit, bukan berarti dia adalah seorang korban. Bisa saja terjadi kesalahan, bisa jadi sang korban malah orang lain dan kekasihnya itu menutupinya hanya untuk melindungi harga dirinya sendiri. Menyadari pemikirannya itu bisa jadi adalah suatu fakta, Merlyn segera bangkit dan bergegas meninggalkan lapangan dan seluruh penonton yang masih terpaku tak percaya melihat kekalahan Merlyn.
*****
       Meninggalkan kedua sahabatnya masih di lapangan basket, Alvi mengikuti sang cewek ber-T-shirt biru yang terlebih dulu meninggalkan lapangan. Dengan diam-diam dia tetap mengikuti sang cewek itu pergi dan berhenti pada sebuah taman di halaman belakang gedung olah raga. Alvi, begitu terkejut ketika dari kejauhan dia mendapati sang gadis tengan duduk bersimbuh di hadapan taman-taman itu dengan menangis tersedu. Memang di sembunyikannya parasnya dengan menangkupkan wajahya di kedua lututnya, tapi tangisnya masih dapat terdengar meski beberapa meter jauhnya.
“Dia sudah menang. Tapi, kenapa dia malah menangis...,” batin Alvi. Tak hanya heran dengan kelakuan gadis itu yang menangis setelah kemenangannya untuk mempertahankan harga dirinya, tapi dia juga terheran-heran ketika mendapati gadis itu berbicara sendiri. Gadis itu berbicara sendiri seolah ada seseorang yang tengah di ajaknya bicara. Tapi, ribuan kali di kuceknya kedua matanya itu, tetap saja memang benar bahwa gadis itu sendirian disana, dan berbicara seorang diri.
*****
       Alvi tak memakan siomay yang berada di hadapannya. Dia hanya mengaduk-aduknya tanpa menyuapkan sesendokpun ke mulutnya. Kedua sahabatnya yang melihat semua itu menghentikan suapan siomay dari mulutnya dan bertanya pada Alvi perihal yang terjadi.
“Vi...,” panggil Bagas tapi Alvi masih saja melamun. Bagas sampai geram dibuatnya karena berulangkali memanggil-manggil namanya tapi Alvi tak menyahut sama sekali dan tetap pada kediamannya. “Alviiiiiiiiiii............,” teriak Bagas kali ini tepat di telinga Alvi.
“Apaan sih loe, gue gak budeg kali...,”
“Nah loe habisnya gue panggil-panggil dari tadi gak nyahut-nyahut. Mikirin apa sih loe?” tanya Bagas.
“Iya, loe lagi ada masalah dengan Irene. Apa Irene ngambek lagi...?” tebak Fandy.
“Nggak kok, gue gak lagi ada masalah sama Irene...,”
“Trus, loe lagi mikirin apa?”
“Gue..gue.. cuman lagi mikirin gadis itu...,”
“Gadis yang mana?” tanya Bagas.
“Jangan bilang kalau gadis itu.........,” tebakan Fandy dipotong oleh Alvi.
“Niken... gue lagi mikirin dia,”
“Kenapa sih loe masih mikirin tuh gadis. Apa karena melihat dia bisa menangin tantangan ngelawan Merlyn makanya loe jadi...,”
“Jangan bilang kalau loe tiba-tiba sampai suka sama tuh cewek...,”
“Ya, gak lah itu mustahil. Loe berdua tahu cinta gue Cuma buat Irene seorang...,”
“Oke...oke gue tahu..,” ucap Bagas.
“Tapi, Vi bukannya loe tadi mau nemuin tuh cewek buat nanya alasan sebenarnya kenapa dia menerima perjodohan itu?” tanya Fandy pada Alvi.
“Ah... itu...,”
“Oh, iya. Apa mungkin loe lupa karna melihat pertandingan tadi,” ucap Fandy.
“Iya, ayo kita cabut buat nyari dia sekarang...,”
“Ah, jangan temen-temen. Besok aja.. Bukankah besok masih ada waktu?” elak Alvi.
“Loe kenapa sih Vi, tadi loe bilang harus diselesaikan sekarang juga. Tapi....,”
“Ah, sudahlah itu gak segitu pentingnya. Lebih baik kita pergi ke ruang musik yok. Bukankah kalian pengen liat yang bening-beningdisana?” ucap Alvi mengalihakan perhatian kedua temannya agar melupakan topik yang mereka bicarakan tadi.
       Tanpa basa-basi kedua temannya pun mengikuti usul Alvi. Pantas saja keduanya sedang jomblo sekarang. Fandy sudah putus dari pacarnya sebulan yang lalu, sementara Bagas baru putus dua minggu yang lalu. Karenanya di kelas musik terutama kelas piano yang notabene banyak dihuni oleh para gadis itu, memberi mereka berdua peluang buat bisa mencari pengganti pacar mereka. Pasalnya, gadis-gadis di kelas piano memang sudah terkenal cantik-cantiknya serta keanggunannya hingga mereka tak perlu panjang lebar buat berpikir nyari gadis-gadis sesuai tipe mereka di tempat itu.
*****

      




Satu

Edit Posted by with No comments

Alvi dan kedua kawannya tengah mengawasi fakultas seni budaya yang berada di samping fakultasnya. Kali ini tujuannya bukan untuk mencuri pandang ke arah kekasihnya yang biasanya berlatih di ruang musik. Tapi, tujuannya kali ini lain dari biasanya, dia seolah mencari sosok orang lain dan bukannya sosok Irene yang biasanya kerap di carinya. Kedua temannya yang semula mengerti tujuan Alvi mengamati fakultas seni budaya kini mereka kebingungan bukan main di buatnya.
“Loe nyariin siapa si Vi?” tanya Fandy salah satu temannya.
“Iya, loe tau kan ruang musik masih berada jauh di sudut lorong sana. Tapi kenapa loe tetep nengok kesana kemari seolah baru pertama kalinya loe kesini,” Bagas temannya yang lain menambahkan.
“Kalian berdua diem aja deh, gue lagi mantau seseorang nie...,”
“Siapa....,”
“Shiiiittttssss......,” ucap Alvi sembari meletakkan telunjuknya ke mulutnya memberi isyarat pada kedua temannya untuk diam.
       Sosok yang dicarinya kini berada sekitar beberapa meter dari tempatnya dan kedua temannya berdiri. Semula dia tak percaya bahwa gadis itulah yang di carinya. Tapi, ketika teman seorang gadis itu memanggil nama sang gadis barulah Alvi percaya akan apa yang dilihatnya.
“Bulshiitttt.... dia beda banget dengan yang ada di foto..,” ucapnya yang jelas membuat kedua rekannya terbelalak kaget karna tak mengerti apa yang dimaksud Alvi.
“Loe liatin sapa sih Vi,” Bagas penasaran melihat temannya itu terheran-heran melihat seseorang yang baru saja melesat pergi setelah beberapa detik berada dalam jangkauan pandangannya. Tak hanya Bagas, Fandy pun ikut nimbrung melototi gadis yang menyita perhatian Alvi sendari tadi. Dia pun bertanya pada sohibnya itu, tentang siapa gadis yang baru saja dilihatnya.
“Siapa gadis itu Vi? Loe kenal...?” tanya Fandy penasaran.
“Iya, siapa sih? Sampek-sampek loe nyita waktu kita berdua buat nemenin loe. Gue pikir kita bakalan liat yang bening-bening, eh nggak tahunya....,”
“Dia tuh gadis di foto yang gue liatin ke kalian kemarin,” ucap Alvi yang langsung membuat kedua temannya terbelalak tak percaya.
“Haaahhh.....,” ucap Bagas dan Fandy serempak.
“Mana mungkin Vi, loe pasti salah orang,” sangkal Bagas.
“Iya, gadis di foto kemaren cakep banget. Eh sementara dia....,” Fandy menghentikan kata-katanya karena di potong oleh Alvi.
“Makanya itu, gue mau nyelidikin dia. Loe tahu oma gue bersikeras meneruskan kesepakatan dengan almarhum temennya buat nerusin perjodohan antara gue dengan dia. Tapi setelah gue tahu ternyata kayak gitu gue harus pikir-pikir lagi buat nerima kemauan oma gue,”
“Oh, jadi kalau ceweknya beneran yang di foto kemaren loe mau terima...,” Fandy menyindir. Lantas si Irene mau loe kemanain...,” tambahnya.
“Iya, bukannya langsung gue terima Dy, gue pikir-pikir dulu gitu...,” Alvi mencari-cari alasan.
“Halah... gak usah sok bijak deh loe. Gue juga langsung mau kalau di jodohin sama cewek di foto kemarin. Tapi kalau cewek kampungan yang tadi...... Upss... sorry gue gak maksud....,” ucap bagas keceplosan.
“Yaelah, loe berdua tuh. Secantik apapun tuh cewek, gue gak mungkin ninggalin Irene. Loe tahu sendiri bagaimana susahnya gue buat dapetin dia...,”
“Ya... ya gue tahu...,”
“Trus, tadi yang kita lakuin ngapain..,”
“Cuman pengen mastiin omongan oma gue aja, bener apa nggak. Dan foto kemarin ternyata beda dari kenyataannya, mana mau gue sama gadis kayak gitu bisa turun pamor gue...,”
“Yo’iii...pasti foto itu hasil editan Vi, gue dikasih seribu gratisan gadis kayak gitu aja gak bakalan gue sosor..,” timpal Bagas.
“Alah... kalian tuh jangan terlalu mandang rendah orang dong. Tuh cewek kalau di poles dikit aja pasti kayak Bidadari,” ucap Fandy.
“Iya, bidadari turun dari angkot...,” timpal Bagas yang disertai dengan terkekeh yang diikuti pula oleh Alvi.
“Sudah...sudah... tapi, gue masih penasaran sama tuh cewek. Soal foto  boleh jadi emang sengaja di edit oleh oma gue, biar gue tertarik sama dia. Tapi, ada hal lain yang ngebuat oma gue getol jodohin gue dengan dia. Apalagi kali ini diperparah oleh persetujuan dari papa gue,” jelas Alvi.
“Apa? Gila... bokap loe juga ikut-ikutan ngawur kayak oma loe...?” ucap Bagas tak percaya.
“Ah..sudah..sudah...Oke.. baiklah.. Gue akan nyuruh anak-anak buat nyelidikin dia,”ucap Fandy.
*****
       Niken sibuk mengemasi beberapa buku-bukunya karena kuliah sudah usai. Hari ini adalah hari yang ditunggunya, karena dia akan mengunjungi seseorang di suatu tempat. Tapi, dia dikejutkan oleh lima orang berjas hitam yang berdiri di depan pintu keluar. Mereka berlima mendekati Niken dan menyuruh Niken ikut serta bersama mereka. Niken tak langsung menyetujui permintaan mereka, dia malah bertanya balik pada salah satu dari mereka.
“Emang kalian siapa? Preman?” ucap Niken sesuai dengan yang ada dalam pikirnya. Namun tiba-tiba dia memikirkan dugaan yang lain. “Atau jangan-jangan kalian....,”dugaan Niken terhenti oleh ucapan salah seorang dari mereka berlima.
“Kami bukan orang jahat. Kami kesini atas suruhan Nyonya Mia, untuk membawa anda ke kediaman beliau. Anda pasti pernah mendengar tentangnya sebelumnya kan...?” tanya balik dari orang itu.
       Dengan ragu akhirnya Niken pun mengiyakan pertanyaan mereka. Dia juga tak tahu bagaimana cara menolak ajakan kelima orang itu, karena tampang mereka sangat garang dan menakutkan. Niken tahu, maksud mereka mengajak Niken untuk menemui wanita tua itu, tapi dia tak sampai hati juga tak berani untuk menolak kehendak dari wanita tua itu.
*****
       Irene menunggu di halaman depan gerbang kampus dengan wajah kusut. Sudah berjam-jam dia berdiri dan menunggu disana. Tapi seseorang yang ditunggunya tak kunjung datang. Namun, tiba-tiba seseorang nongol di hadapannya dari balik pepohonan yang rimbun.
“Sorry, loe nunggu lama...,” ucap orang itu.
“Loe gimana sih.. Tau nggak, udah berjam-jam gue nunggu loe....,”
“Iya, iya sorry. Loe tahu sendiri gue harus nyelinap diem-diem dari bodyguard gue...,”
“Kalau kayak gini terus gue capek pacaran ma loe Vi, serasa gak ada kebebasan sama sekali. Loekan udah gede, masak dari SMA sampek loe kuliah tetep diawasin sama bodyguard sih,”
“Sorry, sorry... mau gimana lagi. Orang tua gue gak ngijinin gue pergi sendiri karena takut terjadi sesuatu sama gue yang ujung-ujungnya jadi skandal yang tidak-tidak,”
“Loe harus ngomong sama orang tua loe dong. Sampek kapan loe kayak gini terus...,”
“Gue udah coba ngomong beib, tapi....,”
“Kenapa?”
“Ortu gue baru mau bebasin gue dari bodyguard-bodyguard gue kalau gue nikah...,” jelas Alvi.
       Irene hanya diam saja mendengar penjelasan dari Alvi. Pasalnya bukan kali ini dia ngomong tentang hal itu. Pasti ujung-ujungnya dia bakal ngajakin Irene buat nikah. Irene memang menyukai Alvi, tapi dia tak ingin nikah di usia muda. Dia masih ingin hidup bebas dan bersenang-senang seperti anak muda lainnya. Meskipun dia tahu bahwa menikah dengan Alvi memang sangat menjanjikan, pasalnya Alvi adalah pewaris tunggal perusahaan K-Company yang terkenal dan kaya raya. Tapi, dia juga ingin menjadi pianis yang terkenal seperti cita-citanya. Lagi pula, dia berpacaran dengan Alvi juga bukan sepenuhnya karena menyukai lelaki itu, tapi karena sesuatu hal yang membuatnya harus mendekati lelaki itu.
*****
       Alvi pulang terlambat kali ini dan tanpa pengawalan dari para bodyguardnya dan tentu saja itu membuat papanya menjadi marah. Dimarahinya habis-habisan Alvi oleh papanya. Alvi langsung saja hendak pergi ke kamarnya setelah mendengar ceramah yang berlangsung selama tiga puluh menit itu. Tapi tiba-tiba di tengah jalan dia bertemu dengan seseorang yang sudah pernah dilihatnya.
“Loe, kenapa ada disini...?” tanya Alvi.
“Loe kenal gue?” gadis itu malah balik bertanya.
“Gak juga sih. Gue cuman liat loe dari foto. Oh, tidak-tidak sejujurnya tadi gue sempet liat loe di kampus..,”
“Oh...,”gadis itu hanya menanggapi ucapan Alvi dengan satu kata itu.
“Loe beda banget sama di foto loe...,”
“Emangnya kenapa? Loe mau bilang juga kalau foto itu hasil editan?” bentak gadis itu.”Sudah gue buru-buru...,” bentak gadis itu lagi sembari meninggalkan Alvi yang masih berdiri dengan kebengongannya.
“Wah.. tuh cewek galak amat. Gak salah tuh oma sama ortu gue kalau cari calon menantu...?” gerutu Alvi dalam hati.
       Selepas itu ia langsung menuju kamarnya di lantai dua. Dibiarkannya gadis bertemperamen buruk itu pergi ngacir gitu aja dari hadapannya. Tapi, dipikir-pikir dia emang gak bisa bener-bener lepas dari mikirin tuh gadis. Pasalnya, dia tahu beberapa info tentang gadis itu dari kedua sohibnya yang disuruhnya mencari info tentang gadis itu. Selain itu, dengan memandangi lagi foto tuh cewek yang diberikan omanya, dia masih gak percaya jika benar foto itu adalah foto gadis yang bertemu dengannya di halaman rumah tadi. Baginya, gadis yang berpapasan dengannya itu tampangnya lebih terlihat seperti cowok daripada cewek. Pasalnya dandanannya yang ala kadarnya dengan gaya yang sudah seperti seorang cowok itu mustahil baginya untuk mempercayai bahwa gadis itu adalah gadis yang sama dengan gadis di foto yang kini tengah di pandanginya. Tapi, setelah melihat gadis itu berkeliaran di rumahnya sudah dapat dipastikan bahwa memang benar tuh gadis adalah gadis yang di foto, dan keberadaan tuh gadis di rumahnya pasti karena di undang oleh omanya atau papanya. Mendengar beberapa info tentang tuh gadis, membuat Alvi menjadi tidak tenang dan menduga yang bukan-bukan.
*****

Prolog

Edit Posted by with No comments


Niken Graviola Bramasta

"Aku tidak pernah menginginkan akan dapat merasakan cinta. Bagiku hidupku hanyalah untuk membalaskan dendam kematian seluruh keluargaku. Hingga akhirnya seseorang itu, seseorang yang pernah teramat dicintai adikku. Seseorang yang awalnya ku benci karena penghinaan yang diberikannya bertubi-tubi. Namun kemudian dia datang dengan cinta yang murni padaku. Lantas haruskah aku menerimanya?"

Alvi Zeonico Keysnandra

"Satu hal yang paling aku benci di dunia ini adalah kebohongan. Aku dibohongi oleh seseorang yang sangat aku cintai hingga aku tak mau lagi mengenal apa yang namanya cinta. Namun kemudian, datang seseorang yang lain yang juga membawa banyak kebohongan dan rahasia yang tak ku tahu. Tapi, entah kenapa aku membenarkan dan mengecualikan bahwa semua kebohongannya adalah beralasan. Hingga aku bertekad untuk mencari tahu semua rahasia yang disembunyikannya dan mencari alasannya. Aku tak pernah peduli dengan yang lainnya sebelumnya, tapi wanita ini membuatku selalu merasa ingin tahu semua hal tentangnya. Ada apa denganku ? Apakah aku mulai merasakan adanya cinta itu lagi dihidupku?"

Irene Florencia Turano

"Bagiku hidupku hanya untuk satu hal. Meraih impianku bagaimanapun caranya. Aku tak peduli cara apapun yang akan ku lalui. Yang jelas aku hanya akan menuju impianku agar mencapai kata sukses. Namun, kemudian aku merasa bahwa masih ada yang kurang dalam hidupku sekalipun aku telah mencapai puncak kesuksesan. Hingga aku sadar bahwa seseorang yang dulu pernah memperjuangkanku pergi dari sisiku karena kebohonganku. Lantas haruskah aku melepaskan impianku dan memintanya kembali padaku?"

Jacky Malik Rusdiantoro

"Menjadi seseorang yang memegang kekuasaan tinggi adalah tujuan hidupku. Bisa memerintah orang-orang yang berada di bawahku adalah sebuah pencapaian terbesar dari hidupku. Terlebih membuat seseorang yang ku benci setengah mati berlutut di bawah kakiku.

Minggu, 22 Desember 2019

Tetap Sendiri

Edit Posted by with No comments



Terkadang aku ingin membuang egoku hingga ke dasar. Tak peduli meski kamu akan abai dengan pesanku. Yang ku ingin hanyalah bercerita padamu di ruang kosong ini. Tempat dimana aku bisa mengungkapkan semua hal yang ku rasa tanpa kita harus bersua. Namun nyata-nya aku tak mampu. Tak sanggup bagiku untuk memendam rasa bersalah karena membebanimu.

Aku kehilangan seluruh keberanianku. Aku kehilangannya tanpa bersisa. Dan aku tak tahu harus bagaimana untuk menemukannya kembali. Jemariku kaku dan lidahku terasa kelu. Aku tak dapat membagi cerita dengan yang lain. Karena sejak aku mengenalmu, bagiku kamu adalah cerminan diri. Tempat aku dapat berekspresi tanpa harus bersembunyi. 

Tapi, nyatanya aku hanya sendiri. Ketika berbagai ujian hidup datang menghampiri. Aku hanya bisa melaluinya sendiri, tanpa satupun tempat tuk berbagi. Terkadang ingin kurehatkan sejenak diri, juga hati ini yang sudah tak lagi mempunyai bentuk ini. Tapi, kepada siapa? 

Seorang bocah 6 tahun bertanya kepadaku, kenapa tante masih sendiri? Dan aku hanya bisa tersenyum menanggapinya. Karena tidak tahu apalagi yang harus aku katakan untuk menjelaskan perkara rumit orang dewasa pada seorang bocah. Disaat inilah aku benci menjadi dewasa.

Aku tidak mungkin menjelaskan bahwa hingga saat ini tante yang di sayanginya tengah menunggu seseorang. Seseorang yang mungkin sampai kapanpun tak akan pernah datang. Seseorang yang mungkin sudah melupa tentang apa yang pernah terjadi dimasa lalu. Seseorang yang mungkin sudah bahagia bersama pilihan hidupnya tanpa pernah tahu ada seseorang yang tengah merana menantinya.

Jika saja rasa bisa di hapus hanya dengan sekali tekan tombol delete, barangkali akulah orang pertama yang akan melakukannya. Jika saja rasa bisa di hilangkan hanya dengan begitu mudahnya, barangkali sejak lama rasa ini tak akan tetap sama. 

Orang-orang bilang obat dari patah hati adalah jatuh cinta lagi. Tapi, bagaimana jika orang itu sudah tidak bisa jatuh cinta lagi? Apakah selamanya ia akan tetap sendiri?

#tetapsendiri
#esp

Pasuruan, 23 Desember 2019