Rabu, 22 April 2020

Dua Belas

Edit Posted by with No comments

Tiga tahun kemudian…
       Perusahaan K-Company berkembang pesat dengan keterlibatan Alvi di dalamnya. Meskipun ia belum lulus kuliah S3-nya, namun hal itu tak menghambatnya. Ia belajar dengan sungguh-sungguh terkait dengan bisnis yang di jalani oleh Papanya di tengah kesibukannya kuliah. Dan sepenuhnya, kini perusahaan tersebut sudah di pegang penuh oleh Alvi karena permintaan keluarganya. Berkembangnya K-Company, menjadi hancurnya perusahaan J-Company, perusahaan Papa Jacky, saingannya sejak dulu.
       Namun, ada hal berubah dari Alvi semenjak ia disibukkan dengan urusan perusahaan. Ia menjadi pribadi yang lebih dingin dan tertutup di mata yang lainnya. Meskipun sejak dulu ia memang tidak pernah mempunyai banyak teman selain dua sahabatnya “Fandy dan Bagas”, namun Alvi masih bisa bersikap santai dan hangat. Tapi sekarang, entah menguap kemana kehangatan yang dimilikinya dulu. Terlebih setelah ia mendengar keputusan Niken setahun yang lalu.
       1 tahun yang lalu…..
       “Vi, boleh bicara sebentar?” tanya Niken di suatu sore ketika keduanya tengah menghabiskan sore bersama di kebun belakang rumah mereka.
       “Ya, ada apa?” tanya Alvi.
       “Mama sudah pulih kesehatannya, begitu pula dengan Oma Mia. Hubungan Papa dan Mama juga berangsur-angsur membaik…,” ucap Niken.
       “Ya, terus….?”
       “Bagaimana….bagaimana dengan kita?” tanya Niken.
       “Ken, kita….?”
       “Meskipun kita sudah sah sebagai suami istri namun tidak ada cinta di dalamnya, Vi. Kita menikah hanya karena perjodohan yang di atur oleh keluarga. Jadi tidakkah kita sebaiknya….?”
       Alvi tahu kemana arah pembicaraan Niken selanjutnya. Ia tidak mau mendengarnya. Tidak ada perceraian dalam pernikahannya. Lagipula, bagaimana Niken bisa menyimpulkan hal seperti itu? Bukankah dua tahun belakangan mereka sudah bisa saling hidup bersama. Saling menguatkan menghadapi setiap permasalahan yang ada? Tapi, kenapa Niken berpikir demikian?
       “Tidak ada perceraian Ken, kalau itu yang mau kamu utarakan,” ucap Alvi yang sudah mengganti sapaan menjadi aku-kamu sejak keduanya mulai dekat.
       “Tapi Vi….,”
       “Lakukan apapun yang ingin kamu lakukan Ken, terserah kamu, aku tidak akan membatasi dan ikut campur seperti kesepakatan kita di awal. Tapi, untuk cerai, ma’af aku tidak bisa memberikannya padamu,” ucap Alvi final.
       Setelah kejadian sore hari itu, akhirnya Niken memutuskan untuk kembali ke Amerika, dengan alasan melanjutkan studynya di sana. Namun, Alvi tahu bahwa itu hanyalah alasan yang di ucapkan oleh Niken. Alasan sebenarnya adalah Niken ingin menjauhinya. Entah karena apa, Alvi tak tahu. Setahunya, hubungannya dengan Niken baik-baik saja setelah permasalahan rumit di antara keluarga mereka terselesaikan satu per satu.
       Alvi membiarkan Niken tetap pada keputusannya. Karena ia sendiri yang mengatakan bahwa Niken boleh melakukan apapun asalkan ia tidak meminta cerai darinya. Dengan berat hati, Alvi pun melepaskan kepergian Niken ke Amerika.   
*****
       Alvi tersadar dari lamunanya ketika mendengar pintu ruangan kerjanya di ketuk. Sekretarisnya membuka pintu setelah ia mengatakan iya. Dan tampaklah seorang wanita paruh baya yang masih terlihat cantik berjalan masuk dengan menggandeng seorang wanita Tua.
       “Ma…..,” sapa Alvi ketika menyadari siapa yang berkunjung ke kantornya.
       Alvi berjalan mendekat dan mencium tangan Mama dan Oma nya. “Oma juga datang? Tumben…” seru Alvi dengan senyum di bibirnya sembari menggoda Oma-nya.
       “Dassarr cucu nakal, kenapa jarang sekali berkunjung? Kamu sudah nggak sayang lagi sama Oma?” tanya Omanya.
       Ya, sejak beberapa bulan lalu, Alvi memang memutuskan untuk tinggal di Apartemen yang letaknya nggak jauh dari perusahaan, dengan alasan biar dia lebih mudah dan cepat ke kantor jika ada masalah mendadak. Baik Oma, Mama serta Papanya tidak setuju dengan keputusan Alvi tersebut tapi mereka juga menyadari bahwa Alvi mungkin butuh suasana baru. Terlebih, ketika Niken memutuskan untuk kembali ke Amerika, semua menyadari perubahan dalam diri anak itu, terlebih Ratih, sang Mama. Meskipun tidak memiliki hubungan darah, tapi Ratih yang telah mengasuh Alvi sejak kecil, tahu bagaimana tabiat putranya itu. Ia tahu, bahwa sebenarnya Alvi kecewa dengan keputusan Niken, tapi putranya itu tidak bisa menolak keinginan dan keputusan Niken, putri kandungnya.
       “Ihh…Oma kan tahu, sebentar lagi acara ulang tahun perusahaan, jadi Alvi sibuk urus ini itu….,” jelas Alvi.
       “Alesan… kamu punya banyak pegawai, buat apa kamu gaji mereka kalau pada akhirnya yang ngurus ini itu juga kamu….,” rajuk Oma Mia.
       “Tapi kan Oma, Alvi kan mau semuanya berjalan lancar…,”
       “Ya, tapi kan…..,” ucapan Oma Mia terputus oleh tatapan mengiba Ratih, untuk tidak terus mendesak Alvi agar mau kembali ke rumah.
       “Kamu kenapa kurusan Nak?” tanya Ratih kemudian.
       “Apanya yang kurusan Ma, perasaan dari dulu Alvi gini-gini aja…,” ujar Alvi sembari duduk di samping Mamanya. Ia pun memeluk lengan mamanya dengan penuh kasih.
            Ratih menghembuskan napas agak keras. Dia menimbang apakah perlu memberi tahu Alvi atau tidak yang sebenarnya. Di satu sisi ia ingin memberi tahu putranya itu, agar putranya bisa membujuk putri semata wayangnya untuk kembali ke Indonesia. Alvi yang mengetahui tersimpan kekhawatiran di wajah mamanya pun akhirnya bertanya.
"Ada apa ma?" tanya Alvi.
"Eh...apa....?" tanya Ratih sang mama.
"Mama seperti menyimpan sesuatu. Katakan Ma, ada apa...?"
Mia memegang tangan Ratih. Ia menganggukkan kepalanya seraya memberi persetujuan kepada Ratih untuk mengatakan yang sebenarnya kepada Alvi.
"Vi, in...ini tentang Niken...," ujar Mamanya.
Alvi sudah lama tidak mendengar mama, papa atau oma-nya membahas tentang Niken setelah tiga tahun kepergian gadis itu. Bukannya mereka tidak pernah membahas, pernah beberapa kali mereka membahas tentang keadaan gadis itu, namun mereka segera menghentikan percakapan setiap kali Alvi berada diantara mereka.
"Dia kenapa....?" tanya Alvi dingin dengan raut wajah yang datar. Sebenarnya ia cukup penasaran kenapa sang mama dan oma-nya tiba-tiba membahas tentang gadis itu. Tapi, ia berusaha untuk bersikap biasa saja.
"Dia...Nik...Niken....," ucap Ratih terbata-bata seolah sesuatu menyangkut di tenggorokannya hingga ia tidak bisa lancar berbicara.
"Apa dia bahagia disana? Apa dia meminta pada mama agar aku menceraikannya hingga dia bisa menikah dan hidup bersama dengan William?" ujar Alvi yang sudah tidak tahan lagi menyimpan semua uneg-unegnya. Karena hingga detik ini ia tidak pernah tahu alasan gadis itu memilih pergi ke Amerika.
"Apa yang kamu katakan Nak, Niken tidak mungkin meminta hal seperti itu. Kalaupun ia alasannya tidak mungkin karena William...," akhirnya Ratih pun menemukan keberaniannya kembali. Ia harus berani mengatakan yang sebenarnya pada Alvi meskipun sebenarnya Niken telah melarangnya. Tapi, sebagai seorang ibu ia tidak mungkin membiarkan kedua anaknya terlarut dalam kesalahpahaman sekian lama.
"Lantas apa?" tanya Alvi gusar. Ia sudah tak ingin lagi menebak-nebak apa yang ada dipikiran gadis itu hingga pergi meninggalkannya.
"Niken sakit Vi....," ucap Mia, sang oma. Akhirnya sang oma pun mengatakan sesuatu setelah sekian waktu memberikan kesempatan kepada menantunya untuk mengucapkan kebenaran itu kepada cucunya. Tapi, ia rasa menantunya itu tak cukup berani untuk menceritakan hal yang menyakitkan itu.
"Apa maksud Oma? Niken baik-baik saja. Dia sehat, dia bahagia bersama Will," ujar Alvi masih kekeh dengan pendapatnya.
"Itu yang kau lihat Nak, tapi kenyataannya tidak seperti itu...," ujar Ratih. Alvi menatap sang mama ia menuntut penjelasan atas pernyataan yang didengarnya dari bibir sang mama. Ratih menghela napas panjang dan ia mulai menceritakan kebenaran itu kepada sang anak.
"Niken menderita SLE atau  Systematic Lupus Erythematosus. Itu adalah penyakit autoimun, yaitu kondisi ketika sistem imunitas atau kekebalan tubuh secara keliru menyerang organ tubuh sendiri. Penyakit itu rentan menyerang anak kembar, kamu tentu tahu bahwa Niken punya saudara kembar yang bernama Viola bukan? Dan itulah salah satu penyebab kenapa Niken bisa menderita penyakit itu...," jelas mamanya. Ratih dan Mia tak mampu lagi membendung tangisnya usai menceritakan hal itu pada Alvi. Sementara Alvi yang mendengar hal itu shock. Seolah seperti petir baru saja menyambar.
"Jadi alasan dia ke Amerika.....," ucap Alvi masih dengan ketidakpercayaannya.
"Dia kesana untuk berobat, tapi sampai sekarang penyakit itu belum dapat disembuhkan...," ujar sang Oma.
Alvi pun hanya terdiam mendengar penuturan sang mama dan oma-nya. Ia tak percaya bahwa gadis seceria dan seenergik Niken ternyata menderita penyakit itu. Ia bahkan tak mencari tahu alasan kepergian gadis itu. Ia berpikiran sempit dengan menjudges bahwa Niken meninggalkannya hanya untuk bisa hidup bersama Will.
*****

Sebelas

Edit Posted by with No comments

“Panti Asuhan Nirmala”
       Enam bulan setelah kejadian itu, kejadian dimana Alvi mengetahui kebenaran tentang identitas dirinya, akhirnya Alvi berada di sini sekarang. Tempat dimana ia pernah di pungut oleh Dana dan kemudian menjadi anak dari lelaki paruh baya itu. Setelah semua keraguan yang ia rasa hilang, akhirnya ia melakukan hal sebagaimana dikatakan oleh gadis itu. “Ikuti kata hatimu”, dan itulah yang Alvi lakukan sekarang. Ia akan mencari tahu siapa orang tua kandungnya, meskipun ia tidak bisa menemuinya lagi di dunia ini, tapi paling tidak Alvi tahu nama dan rupa dari orang tuanya meski hanya melalui sebuah foto lama yang mungkin masih disimpan oleh Ibu Panti.
       Alvi melangkahkan kakinya untuk masuk ke dalam panti. Di dalam sana terdapat halaman yang luas dan anak-anak kecil yang berlarian kesana-kemari. Mereka tampak sangat bahagia, seolah tak ada beban apapun di wajah ceria mereka.Ada yang bermain ayunan, jungkat jungkit dan bahkan ada yang jahil dengan mengusili teman-temannya.Alvi semakin melangkahkan kakinya untuk maju mencari ruangan Ibu Panti. Namun, anak-anak kecil disekitarnya yang menyadari bahwa ada seseorang asing yang datang memperhatikannya dengan raut wajah imut mereka. Hingga kemudian mereka semua pun berteriak, meneriakkan satu nama.
       “Kak Alvviiiiiiiiiii…………..,” ujar anak-anak polos itu.
       Alvi yang terkejut mendengar namanya di panggil secara serempak oleh anak-anak di panti itu, mengerutkan keningnya.Ia tak mengerti, kenapa anak-anak yang tidak pernah ditemuinya itu memanggil namanya. Dan bahkan anak-anak itu berlarian mengerumuninya, seolah sudah sangat akrab dengannya.
       “Akhirnya loe datang juga……,” ujar seorang gadis.
       “Loe…..?” ucap Alvi dengan tatapan penuh tanya kepada gadis itu. Namun, gadis itu tak memberikan jawaban apapun atas isyarat pertanyaannya itu.Ia hanya mengedikkan bahu dan kemudian tersenyum sembari mengajak ia dan anak-anak yang lain masuk ke dalam rumah.
       Alvi menyalami Ibu-Ibu Panti yang menyambut kedatangannya. Ibu Panti yang tahu akan maksud kedatangan Alvi, mempersilakan Alvi untuk masuk ke ruang kerjanya sementara anak-anak panti yang semula mengikutinya bermain bersama dengan gadis yang tadi mengajak mereka masuk ke dalam rumah.
*****
       Niken mengajak Alvi berkeliling Panti Asuhan Nirmala, seusai Alvi menyelesaikan urusannya dengan Ibu Panti.
       “Loe sering kesini?” tanya Alvi memecah keheningan di antara keduanya. Niken tidak menjawab dengan kata-kata. Ia hanya menganggukkan kepalanya sebagai isyarat jawaban “iya” dari bibirnya.
       “Sejak kapan?” tanya Alvi lagi. Bukannya menjawab pertanyaan Alvi, Niken malah mengerutkan keningnya, tidak mengerti dengan maksud pertanyaan Alvi. Alvi yang mengetahui bahwa gadis yang berdiri di sampingnya itu tidak mengerti dengan pertanyaan yang diajukannya, ia pun meralat pertanyaan itu.
       “Maksudku sejak kapan kamu tahu aku berasal dari sini?” tanya Alvi.
       “Oh..., sudah lama....,” ujar Niken.
       “Dan sejak itu loe sering datang kesini?” tanya Alvi lagi. Lagi-lagi Niken hanya menganggukkan kepala untuk menjawab pertanyaan Alvi.
       “Kenapa?” tanya Alvi lagi.
       “Maksud loe?” Niken malah balik bertanya.
       “Apa karena gue? Apa karena kasihan sama gue, loe.....?”
       Niken menghembuskan nafasnya perlahan sebelum akhirnya menjawab pertanyaan yang di ajukan Alvi.
       “Gak ada yang perlu gue kasihani di sini, terlebih loe. Cowok sombong dan menyebalkan...,” seru Niken sembari melemparkan senyum pada Alvi.”Gue ngerasa nyaman aja di sini, bermain bersama anak-anak kecil yang polos dan lugu membuat gue ngerasa senang. Mereka saling berbagi bersama satu sama lain. Hidup dalam kesepian tidak membuat mereka patah semangat dan bersedih. Hanya karena mereka berbeda dari anak kecil lainnya karena tidak memiliki orang tua, lantas tidak membuat mereka bersedih hati. Karena memiliki orangtua atau tidak bagiku tidak ada bedanya. Gue memiliki orang tua, tapi malah enggan mengakui gue sebagai anaknya. Lantas, apa bedanya gue dengan mereka? Juga dengan loe, apa bedanya gue sama loe?” jelas Niken.
       “Ken....., gue....,”
       “Kita sama saja Vi, loe yang hidup dalam kebohongan karena tidak tahu tentang identitas diri loe yang sebenarnya. Sementara gue, hidup dengan kebohongan karena menyembunyikan identitas gue....,”
       “Loe...masih marah sama gue....?”
       “Buat apa? Dulu sih iya, gue marah banget sama loe. Kenapa loe hidup bahagia bersama dengan kedua orang tua kandung gue, sementara gue hidup dalam persembunyian tanpa sedikitpun kasih sayang dari mereka. Namun, semenjak beranjak menjadi dewasa gue jadi tahu. Kita hanyalah dua orang anak yang sama-sama hidup karena keegoisan para orang dewasa. Loe, yang dijadikan papa sebagai alat balas dendam namun mendapatkan kasih sayang penuh darinya juga dari mama dan oma, dan gue hidup dalam persembunyian demi keselamatan diri gue sendiri tanpa pernah mendapatkan kasih sayang dari kedua orang tua gue...,”
       “Makasih...,”
       “Buat apa?”
       “Buat semuanya....,”
       “Nggak perlu berterima kasih, it’s okey. Kita tidak pernah meminta untuk berada pada situasi seperti ini. Jadi, tidak ada yang benar ataupun salah disini...,”
       “Ya, loe bener. Jadi, kita lupakan saja semuanya. Dan mulai semua dari awal lagi. Mau kan?”
       “Tentu....,”
       Mereka pun kembali melanjutkan perjalanan mereka menyusuri setiap tempat di Panti Asuhan itu. Dengan perasaan yang melegakan seolah semua beban yang meeka hadapi sebelumnya tidak pernah ada.
*****
       Alvi dan Niken akhirnya memutuskan untuk menjenguk Mamanya di rumah sakit selepas keduanya menghabiskan waktu seharian di Panti Asuhan Nirmala. Ketika hendak membuka pintu kamar inap Mama-nya dari kaca yang terdapat di pintu masuk ruangan itu, Alvi dan Niken melihat Dana, Papa mereka tengah mengelus puncak kepala mamanya dengan sayang. Sementara mamanya yang keadaannya sudah agak membaik, memalingkan wajahnya dari Papanya yang memandangnya dengan tatapan penuh kasih.
        Baik Alvi ataupun Niken tahu, bahwa sebenarnya Papa nya sangat tulus mencintai Mama Ratih terlepas dari semua masalah rumit yang terjadi di antara mereka. Hanya saja cara yang dilakukan oleh Papanya kurang tepat. Mana ada ibu di dunia ini yang mau dipisahkan dengan anak kandungnya sendiri, meski alasan itu demi menjaga keselamatan sang anak dari orang-orang yang berniat jahat kepada anaknya tersebut. Apalagi, sang suami yang sangat di cintainya bukan hanya memisahkan dirinya dengan sang anak, tapi juga menyimpan semua kebenaran dari sang istri dengan mengatakan bahwa anak tercinta yang dilahirkannya telah meninggal dunia.
       Alvi menghembuskan napas keras begitu pula dengan Niken yang berdiri di sampingnya.
       “Loe yakin?”
       Niken mengerutkan kening. “Maksud loe?” tanya balik Niken pada Alvi.
       “Loe yakin, kita akan masuk sekarang? Apakah tidak sebaiknya…..,”
       “Lebih cepat lebih baik Vi. Kita tidak bisa terus-terusan menghindari mereka. Walau bagaimanapun kesehatan mama lebih penting dan mama butuh aku. Dan akupun juga ingin bertemu dengan mama...,”
       “Oke kalau itu keputusan loe, gue ikut….,” ujar Alvi.
       Akhirnya keduanya pun mengetuk pintu kamar inap itu. Dan tentu saja membuat kedua orang yang berada di dalamnya mengalihkan pandangan mereka pada dua sosok anak manusia yang berjalan semakin dekat kearah mereka. Niken dan Alvi mendekat kearah mereka dan langsung di sambut dengan tangisan oleh sang Mama.
       “Niken……anak mama….,” ujar Ratih masih dengan tangis yang mengirinya. Ia memeluk Niken sangat erat, mencium puncak kepalanya berkali-kali sembari mengucapkan kata-kata yang sama. “Niken…niken anak mama. Ma’afkan mama nak, mama baru tahu kalau kamu masih hidup. Ma’afkan mama….,”
       Niken membalas pelukan sang mama dengan sayang. Akhirnya setelah genap dua puluh dua tahun usianya, Niken bisa merasakan pelukan wanita paruh baya itu. Wanita tidak lain adalah Mama kandungnya.
       Sementara Alvi dan Dana yang melihat kedua wanita yang saling melepas rindu itupun akhirnya memutuskan untuk meninggalkan ruang rawat inap itu untuk member privasi bagi keduanya.
*****







Sepuluh

Edit Posted by with No comments

Beberapa bulan ini Alvi sibuk mengurusi semua masalah perusahaan keluarga Dana. Ia bahkan sampai lupa makan maupun istirahat. Hari-harinya hanya dihabiskan untuk menyelesaikan kuliahnya dan mengurusi perusahaan. Alvi tidak lagi sempat untuk bermain-main lagi sepreti dulu, ia tidak lagi menyusup untuk kabur dari bodyguard-bodyguardnya hanya untuk bisa menghabiskan waktu bersama dengan kedua sahabatnya Fandy dan Bagas. Dan kini, seperti biasa meskipun sudah pulang dari kantor, Alvi masih berada di depan meja kerja Papanya di rumah. Ia menyelesaikan beberapa pekerjaan yang belum selesai. Dana yang melihat antusiasme Alvi untuk menggantikannya mengurus perusahaan pun senang, terlebih kini ia bisa lebih fokus dengan kesembuhan Ratih, istrinya.
         Namun, melihat Alvi yang terlalu keras bekerja ia pun merasa cemas. Walau bagaimanapun meskipun tidak ada hubungan darah diantara mereka Dana sangat menyayangi Alvi seperti anaknya sendiri. Dan kini, putranya itu tengah salah paham terhadapnya, tidak hanya putranya tapi juga putri kandungnya yang tinggal satu-satunya. Dana tidak tahu bagaimana harus menjelaskan kebenaran yang ada. Ia terlalu melukai kedua anak kesayangannya itu, dan apakah mungkin mereka percaya dengan semua penjelasannya nanti? Tapi, ia memutuskan untuk melakukan tindakan yang benar kali ini, ia akan menjelaskan semua yang terjadi kepada putranya itu lebih dulu, terlepas dari percaya atau tidaknya putranya itu kepadanya.
         “Vi...,” ucap Dana.
         Alvi yang mendengar seseorang memanggilnya pun mengalihkan pandangannya dari leptop di hadapannya ke arah seseorang yang memanggilnya itu yang tidak lain adalah Dana, Papanya. Alvi masih menyimpan rasa marah pada lelaki separuh baya itu, tapi ia juga tidak bisa membencinya. Walau bagaimanapun lelaki itu adalah orang tuanya yang membesarkannya sedari kecil dan memberikan kasih sayangnya, meski kerap kali ia terlalu keras dalam mendidik dirinya. Bagi Alvi, Dana tetap orang tuanya meskipun tidak ada hubungan darah diantara keduanya.
         “Iya,,,” ucap Alvi.
         “Ada yang mau Papa bicarakan, bisa minta waktu kamu sebentar?” tanya Dana.
         “Kalau yang mau Papa bicarakan terkait Proyek baru bersama dengan perusahaan Mitra Sejahtera semuanya sudah Alvi selesaikan Pa,” jelas Alvi.
         “Bukan, bukan itu. Ada hal lain yang ingin Papa bicarakan denganmu,” ucap Dana.
         Alvi mengerutkan keningnya sebelum akhirnya mengatakan sesuatu. “Tentang apa?” tanyanya.
         “Kemarilah, duduklah dulu....,” ujar Dana sembari duduk terlebih dahulu di sofa tepat di depan meja kerjanya yang memang dikhususkan untuk diletakkan disana jika sewaktu-waktu Dana ingin istirahat jika terlalu lelah bekerja.
         “Apa yang mau Papa bicarakan?” tanya Alvi lagi.
         “Ini tentang masa lalu, tentang kebenaran yang ada. Papa tidak peduli kamu percaya atau tidak dengan cerita Papa. Tapi, bukankah kamu juga perlu dengar cerita itu dari sudut pandang Papa?” jelas Papanya.
         Alvi terdiam, ia membenarkan perkataan Papanya. Sebenarnya ia juga tidak terlalu percaya dengan semua cerita Niken. Niken pernah membohonginya sebelumnya, dan belum tentu cerita kemarin adalah kebenarannya bukan? Meskipun neneknya juga menceritakan hal yang sama dengan yang Niken ketahui kepada Mama Ratih, tapi bisa jadi keduanya juga tidak tahu kebenaran yang sebenarnya terjadi. Karena itu ia kemudian menganggukan kepalanya seraya menyetujui pernyataan Papanya di awal, bahwa ia juga harus mendengarkan cerita itu dari sisi Papanya.
         “Kejadiannya sekitar 20 tahun yang lalu....,” ucap Papanya mulai bercerita.
         Dan akhirnya mengalirlah cerita dari sisi Papanya. Kejadian bermula ketika Papanya mulai mendirikan perusahaan bersama dengan rekan kerjanya. Dan perjalanan dari perusahaan yang dulu masih kecil menjadi perusahaan sebesar sekarang ini tidaklah mudah. Papanya dan Rekan kerjanya harus kerja ekstra keras dan mati-matian hingga akhirnya terciptalah Perusahaan Dana yang sebesar seperti sekarang ini. Perusahaan itu mencetak para musisi ternama, artis-artis dan penyanyi-penyanyi berbakat andalan perusahaan salah satunya Selvi Gacella Moudy seorang pemain biola berbakat juga Bramasta Prasetyo seorang composer lagu yang cukup berbakat dan terkenal.
         Suatu hari Selvi mendapat tawaran dari perusahaan lain, mereka bersedia merekrut Selvi dan membayar gaji Selvi lebih tinggi dari perusahaan Dana, akan tetapi Selvi menolak. Begitu pula dengan Bramasta. Bram yang tidak hanya sebagai composer lagu, ia juga merupakan rekan kerja Dana yang bersama-sama dengannya merintis perusahaan itu dari nol, juga mendapatkan tawaran yang sama. Bram berkali-kali diajak oleh perusahaan itu untuk menghianati Dana dan bergabung dengannya, tapi Bram menolak.
         Dan berawal dari semua itulah, seiring semakin majunya perusahaan Dana dan Bram, semakin banyak pula perusahaan-perusahaan lain yang ingin menghancurkan perusahaan Dana. Salah satunya The J Company, yang merupakan perusahaan Papanya Jacky. Sejak masih kuliah Papa Jacky adalah saingan Dana, tidak hanya dalam masalah perkuliahan termasuk juga masalah percintaan, yaitu untuk memperebutkan cinta Ratih yang juga merupakan teman sekolah mereka. Teror-teror pun akhirnya bermula ketika Jacky tahu Ratih lebih memilih Dana dibandingkan dirinya.
         Papa Jacky mulai mencoba untuk menghancurkan perusahaan Dana dengan mengadu domba antara Bram dengan Dana. Namun, Selvi dan Bram masih memegang kesetiaan akan persahabatannya dengan Dana, sehingga menggagalkan usaha Papa Jacky yang ingin memecah belah mereka. Akan tetapi, rencana Papa Jacky untuk menghancurkan Perusahaan Dana tidak berhenti sampai di situ. Ketika Papa Jacky mendengar bahwa Dana hendak memiliki anak dari wanita yang sangat di cintainya, ia semakin murka dan hendak membalas dendam kepada Dana lewat anak yang bahkan masih belum terlahir ke dunia. Akibatnya, beberapa kali ratih keguguran, hingga kemudian ia mengandung si kembar Niken dan Viola.
         Hal itulah yang mengakibatkan Dana, Selvi dan Bram akhirnya menciptakan sekenario itu. Memberikan kedua anak kandunganya di bawah asuhan Selvi dan Bram untuk menyembunyikannya dari kejahatan Papa Jacky, sementara ia mengambil Alvi dari sebuah panti asuhan dimana ia adalah donator tetap disana.
         “Jadi..Alvi……?” ucap Alvi parau mengetahui kebenaran akan identitasnya sebenarnya. Ia sampai tidak bisa menyelesaikan ucapannya saking terkejutnya.
         “Kamu anak panti asuhan Vi,….,” jelas Dana. Dana melihat raut wajah anak yang sudah di adopsinya sedari kecil itu pucat pasi.
         “Jadi, Alvi anak tidak jelas dari panti….,”
         “Bukan anak tidak jelas Vi, tidak semua anak yang tinggal di panti asuhan tidak jelas asal usulnya.Salah satunya kamu.Ibumu meninggal setelah melahirkanmu, sementara Ayahmu meninggal karena sakit-sakitan. Dan karena mereka tidak mempunyai keluarga yang lain, makanya ayahmu menitipkanmu di panti asuhan tepat beberapa hari sebelum ia meninggal dunia. Mungkin, ia sudah mendapatkan firasat bahwa waktunya tidak lama lagi untuk hidup di dunia, karena itulah kamu di titipkan dip anti asuhan itu.
         “Alvi….,”
         “Panti Asuhan Nirmala. Jika kamu ingin mengenal lebih jauh tentang siapa diri kamu dan keluarga kamu yang sesungguhnya kamu bisa bertanya ke Ibu Panti yang ada disana.Belia kenal dekat dengan orang tuamu….,” jelas Dana.Dan Alvi pun menganggukkan kepalanya. Entah ia akan pergi untuk mencari tahu kebenaran itu atau tidak, ia masih bingung. Karena ia masih sangat shock dengan penjelasan papanya bahwa dirinya adalah seorang anak yatim piatu.
         Dana hendak meninggalkan ruang kerjanya untuk kembali mengurus ratih yang masih terbaring lemah karena sakitnya. Namun, sebelum ia menutup pintu ruangan itu ia berujar pada Alvi, anak yang sangat di sayanginya sampai kapanpun juga sekalipun tak ada ikatan darah di antara mereka.
         “Satu hal yang harus kamu tahu Vi, terlepas dari siapapun kamu, sekalipun kamu bukan darah daging Papa, percayalah Papa mencintaimu kamu dan sudah menganggapmu sebagai anak kandung Papa sendiri.Kalau tidak, Papa tidak mungkin menyerahkan dan mempercayakan Putri semata wayang Papa padamu….,” ujar Dana.
         Ia pun tersenyum simpul pada Alvi, sebelum akhirnya pintu ruang kerja itu tertutup. Sementara Alvi, hanya bisa terduduk lesu di kursi ruang kerja itu. Ia menggaruk gusar rambutnya yang tidak gatal itu. Ia sungguh bingung apa yang akan dilakukannya selanjutnya. Beberapa waktu lalu ia dikejutkan dengan kebenaran bahwa dirinya bukanlah anak kandung Dana. Dan sekarang ia dikejutkan kembali dengan kebenaran tentang identitas dirinya yang seorang yatim piatu. Ia bingung, apakah ia perlu mencari tahu siapa sebenarnya orang tua kandungnya, yang bahkan sudah tidak lagi menapak di bumi ini. Ataukah, ia hanya harus menyimpan dan menguburnya saja tanpa perlu mengetahui identitas orang tua yang telah melahirkannya ke dunia ini. Alvi menyenderkan kursinya ke dinding ruang kerja itu, dimana di belakangnya terdapat sebuah pintu yang menyerupai dinding, hingga siapapun tidak akan mengira bahwa tempat dimana kursi itu disandarkan adalah sebuah pintu geser.
         “Apa yang harus gue lakuin?” tanya Alvi.
         Beberapa menit kemudian tersengan pintu yang menyerupai dinding di belakang kursi kerja Alvi itu pun bergeser.Dan tampaklah seorang gadis cantik itu.Ia memeluk leher lelaki itu dari belakang.
         “Ikuti kata hatimu…Alvi…..,” ujar gadis itu.
*****










Sembilan

Edit Posted by with No comments

Matahari mulai meninggi dan cahayanya membuat Niken harus membuka matanya karena silaunya. Namun, ketika ia mulai terbangun ia merasakan ada sebuah tangan yang melingkar di pinggangnya. Ketika ia mulai membuka matanya betapa ia terkejut bahwa wajahnya kini berada dalam jarak yang cukup dekat dengan Alvi. Ia yang kesadarannya kini telah kembali kemudian menendang tubuh lelaki itu.
       “Arrgghhhh…..,” teriak Niken.
       Alvi yang mendapat dorongan dan mendengar teriakan Niken pun segera bangun dari posisi jatuhnya.
       “Ada apaan sih Ken….?” Tanya Alvi dengan setengah kesadaran.
       “Loe..ngapain peluk-peluk gue….,”
       “Oh itu….,” ucap Alvi singkat tanpa member penjelasan dan kemudian ia kembali ke tempat tidur untuk tidur kembali. Namun, Niken mengguncang tubuhnya.
       “Eh..malah tidur lagi. Beri penjelasan kenapa gue bisa tidur di pelukan loe…?” ucap Niken.
       “Ish…loe tuh ya.Gak ada penjelasan, gue cuman pingin meluk loe itu aja, titik.Dan sekarang biarkan gue tidur lagi,” ucap Alvi.
       “Ihhh…dasar yaloe, kemarin loe udah nyuri ciuman gue dan sekarang loe tidur meluk-meluk gue.Apa jangan-jangan ada yang salah dengan otak loe ya Vi karena masalah ini?” duga Niken.
       “Astaga Niken, gue mau tidur lagi loe jangan ganggu gue dengan pikiran aneh loe itu. Lagian loe itu kan udah jadi istri gue, jadi wajar kan kalau gue ngelakuin itu. Untung aja gue cuman ngelakuin itu dan nggak minta hak gue sebagai suami ke loe…,” seru Alvi.
       Niken yang sadar akan kebenaran perkataan Alvi pun manggut-manggut. Tapi setelah ia mendengar hak Alvi sebagai suami ia malu dan segera berlari menuju kamar mandi, karena dia takut bahwa lelaki itu akan beneran meminta hak nya pada dirinya. Selepas kepergian Niken, Alvi hanya senyum-senyum sendiri melihat wajah Niken yang memerah karena perkataannya.Ia kini memiliki senjata ampuh untuk menghadapi gadis itu agar tidak merecoki dirinya.
*****
       Keduanya pun memutuskan untuk kembali ke rumah dan menyelesaikan semua perseteruan yang terjadi.Harus ada yang mengakhiri acara balas dendam yang cukup rumit ini, dan hal itulah yang harus dilakukan oleh Alvi dan Niken.Oma Mia menunggu dengan cemas di depan gerbang rumah keluarga Keysnandra, ia tidak tahu harus berbuat seperti apa lagi. Kini benang rumit itu satu-persatu sudah mulai terurai. Satu rahasia besar yang ia sembunyikan rapat-rapat tentang kelakuan anak lelakinya kini sudah terkuak. Menantunya sudah mengetahui segalanya, tentang kebenaran itu dan akibatnya kini pertengkaran hebat terjadi diantara anak lelaki dan menantunya itu.
       Alvi dan Niken yang hendak memasuki gerbang rumah yang cukup megah itu, merasa bingung dengan raut wajah khawatir oma nya.Mereka berdua pun segera menghampiri sesosok yang berusia sekitar delapan puluhan itu.
       “Oma..kenapa oma mondar-mandir begitu?” tanya Alvi memecahkan keheningan.
       “Iya, oma kelihatan khawatir. Apa yang terjadi?” tanya Niken.
       Oma mia tak menanggapi pertanyaan keduanya.Ia hanya kemudian berhambur dan memeluk tubuh Niken.Niken yang melihat oma nya seperti itu semakin khawatir.
       “Ada apa oma? Ceritakan pada Niken…,”
       “Ma’fkan oma nak. Oma nggak bisa menyembunyikan semua kebenaran itu lagi dari mama mu…,”
       “Mak…maksud oma?”Alvi semakin penasaran begitu pula dengan Niken.
       “Mamamu, Ratih, ia sudah mengetahui semua kebenarannya tentang kalian berdua, dan tentang semua yang terjadi di masa lalu. Dan sekarang mereka berdua sedang bertengkar hebat di dalam…,”
       “Maksud oma, mama Ratih dan papa Dana?” tanya Alvi.
       “Iya, oma tidak tahu harus berbuat apa lagi. Oma merasa bersalah karena menyembunyikan semuanya dari mamamu Ratih, tapi oma juga tidak ingin dia depresi seperti dulu lagi,”
       “Oma…oma tenang saja.Biar Alvi dan Niken yang akan melerai mereka,” jelas Alvi.
       “Iya oma, inilah  satu-satunya cara agar semuanya berakhir…,”ujar Niken.
         Setelah pertengkaran antara Papa dan Mamanya beberapa jam yang lalu, disinilah Niken dan Alvi sekarang berada. Di sebuah rumah sakit, dimana tepat dihadapannya terbaring seorang wanita separuh baya yang sangat di cintainya. Mamanya, seseorang yang melahirkannya, meskipun ia tak ikut andil membesarkan dirinya. Namun, Niken cukup paham situasi apa yang mendasari hal itu, hingga mama-nya tidak bisa mencurahkan kasih sayangnya kepada dirinya dan adiknya. Niken menangis tersedu, di samping ranjang tempat mamanya berbaring dengan berbagai selang infus dan alat bantu pernafasan, menjalar di beberapa titik tubuh wanita paruh baya itu.
         Niken tak ingin menghadapi situasi itu lagi.Ia tak mau kehilangan lagi. Sudah cukup ia kehilangan Om Bram dan Tante Selvi yang sudah dianggapnya sebagai orang tua kandungnya sendiri. Ia juga sudah kehilangan adik kesayangannya, satu-satunya yang paling dicintainya di dunia ini, dan kini ia tidak ingin kehilangan lagi, kehilangan wanita paruh baya di hadapannya itu. Ia ingin bertindak egois, untuk mendapatkan kasih sayang dari wanita itu yang tidak pernah di dapatkannya sebelumnya. Karenanya, ia meminta pada Tuhan, untuk kali ini, jangan, ia masih belum siap untuk kehilangan lagi, meskipun ia tahu bahwa dirinya juga pada akhirnya akan kembali kepada sang pemilik. Ia merasakan tangan hangat menepuk punggungnya dengan lembut, ia tahu pemilik tangan itu dan ia berbicara lirih pada pemiliknya.
         “Apa gue akan kehilangan lagi, Will?” tanya Niken pada sahabatnya yang berwajah setengah bule itu. Selepas pernikahan Niken, William memang tidak kembali ke Amerika, ia memilih untuk tetap tinggal beberapa waktu sembari menyelesaikan semua pekerjaannya yang ada di Indonesia, dan salah satunya juga karena ia sangat mengkhawatirkan sahabatnya itu.
         “Hey, sejak kapan Niken gue, jadi cengeng begini?” tanya William yang lebih seperti pernyataan dibandingkan dengan pertanyaan.
         “Gue hanya ingin bersikap egois sekali saja Will, gue pingin ngerasain kasih sayang Mama, apa itu juga nggak pantas untuk gue dapetin?Satu persatu orang yang gue sayang pergi ninggalin gue.Atau mungkin benar perkataan orang-orang bahwa aku ini memang pembawa sial, hingga semua yang ada di samping gue menderita?” ujar Niken.
         “Honey, don’t think too much. Tidak ada yang salah dengan keinginanmu, anak mana yang tidak ingin mendapatkan kasih sayang dari orang tuanya.Berhenti berpikir bahwa semua orang yang loe sayang ninggalin loe, karena nyatanya hingga detik ini gue masih bersama loe, kecuali loe nggak sayang ke gue.Dan berhenti memikirkan bahwa loe adalah pembawa sial.Because it’s bulshiit.Loe istimewa, bagi gue, bagi orang-orang yang ada di sekitar loe yang menyayangi loe dengan tulus.Mereka yang mengatakan bahwa loe adalah pembawa sial, adalah orang-orang yang iri, iri karena mereka tidak seistimewa loe,” jelas William yang membuat gadis yang kini berada di sampingnya itu tergugu dan menangis semakin kencang dihadapannya.Ia kemudian meraih gadis itu dalam pelukannya, seraya meredakan tangis yang sudah tak mampu ditahan lagi oleh gadis itu.
*****
         Di tempat lain, Alvi tengah bercakap dengan seseorang yang selama ini ia panggil dengan sebutan Papa, yang nyatanya seseorang itu bukanlah pendonor DNA untuknya. Sejak awal keberadaannya hanyalah alat untuk balas dendam bagi seorang pria separuh baya itu. Dan kini tibalah saatnya ia memenuhi keinginan lelaki itu.
         “Apa sebenarnya yang Papa mau? Apa Papa masih belum puas dengan semua yang papa dapatkan? Apa Papa juga mau mengorbankan mama demi keegoisan Papa?” tanya Alvi dengan nada geram menahan amarah, ini pertama kalinya ia berkata seperti ini pada lelaki paruh baya yang dipanggilnya dengan sebutan Papa.
         “Alvi, jaga bicara kamu! Kamu tidak berhak..!!” seru Papanya.
         “Kenapa?Karena nyatanya Alvi bukan anak kandung Papa?Karena nyatanya Papa tega membuang anak kandung Papa sendiri demi keegoisan Papa?Karena nyatanya Papa sengaja memungutku dan menjadikanku alat balas dendam untuk memenuhi ambisi Papa?” seru Alvi.
         “Alvi, kamu….!!!”
         “Alvi bersedia. Alvi bersedia mengambil alih perusahaan, perusahaan mana yang ingin papa hancurkan, Alvi akan jadi alat balas dendam papa…,” ujar Alvi kemudian dengan tegas kemudian ia keluar dari ruang kerja papanya untuk menemui mamanya yang kini mendapatkan penanganan dari rumah sakit karena serangan jantung tiba-tiba.
         Dana terduduk selepas kepergian anak lelakinya. Meskipun anak itu bukanlah anak kandungnya tapi ia sangat menyayangi anak itu. Namun, ia salah dalam memberikan kasih sayangnya, ia bersikap keras kepada anak itu. Anak itu bukanlah alat untuk balas dendamnya, ia mempersiapkan anak itu untuk mampu melindungi putrinya dari musuh-musuhnya. Ia sengaja membuat scenario membuang anaknya sendiri, untuk menyelamatkan mereka dari kejaran musuh-musuhnya. Tidak pernah ada yang tahu kebenaran dari scenario itu, hanya Selvi dan Bramlah yang tahu akan hal itu, namun kini mereka sudah pergi ke tempat yang sangat jauh, dengan membawa semua kebenaran itu.
         “Ratih…ma’af karena menyembunyikan segalanya darimu….,” batin Dana.
*****

        








Delapan

Edit Posted by with No comments

Keheningan terjadi di antara keduanya.Mereka duduk berdua dengan arah pandang menatap tepi pantai.Botol-botol, minuman kaleng sudah banyak yang kosong, karena keduanya hanya asyik minum dan berkelana dengan pikirannya masing-masing.Hingga akhirnya Alvi angkat bicara untuk memecah keheningan itu.
         “Ceritakan ke gue semua kebenarannya tanpa terkecuali…,” ucap Alvi.
         Niken menatap wajah lelaki yang duduk di sampingnya  itu. Lelaki itu bertanya tanpa memandang ke arahnya.Dan Niken pun tahu, bahwa lelaki itu mungkin masih memendam amarahnya.Dan akhirnya detik berikutnya dia pun mulai menceritakan semua hal pada Alvi.
         “Gue sebenarnya gak tahu harus memulai cerita ini dari mana.Karena cerita ini sungguh sangat rumit dan dulu aku menghabiskan begitu banyak waktuku hanya untuk mencari benang merah dari semua permasalahan ini,” ucap Niken sebagai pembuka ceritanya.
         “Semua ini berawal dari cerita lama dimana kakek, nenek loe dan kakek nenek gue adalah bersahabat.Dan benar adanya memang tentang perjodohan di antara keluarga kita.Tapi, dulu yang di jodohkan adalah Tante Selvi dengan Papa Dana. Papa sangat mencintai Tante Selvi, tapi tidak dengan Tante Selvi, dia mencintai lelaki lain. Hingga akhirnya Tante Selvi memilih pergi meninggalkan Papa Dana dan menikah dengan Om Bram, sementara Papa Dana akhirnya menikah dengan Mama Ratih,” jelas Niken.
         “Papa Dana menginginkan anak laki-laki sebagai penerus keluarganya, tapi yang ia dapatkan ternyata adalah anak perempuan yaitu gue yang dulu sering di panggil “Violin” dan adik gue “Viola”.Papa Dana tidak menginginkan kami dan akhirnya Oma menyerahkan gue dan Viola ke Tante Selvi. Dan kami pun menjadi anak Tante Selvi dan Om Bram dan menjadi keluarga Bramasta tanpa sepengetahuan Papa dan tentu saja Mama juga tidak tahu karena sejak awal Mama memang tidak pernah tahu apa-apa. Papa mengatakan pada Mama kalau anak yang dilahirkannya meninggal karena terlahir tidak normal, dan hal itu membuat Mama Ratih menjadi depresi,” jelas Niken yang kini kembali membuat matanya berkaca-kaca.
         Alvi menolehkan pandangannya pada Niken, ia tahu dari suara gadis itu yang berubah menjadi parau karena menahan tangisnya. Tapi, kemudian gadis itu berusaha untuk menyembunyikannya dan berusaha untuk tetap bersikap wajar, hingga kemudian gadis itu melanjutkan ceritanya setelah mengambil nafas panjang.
         “Suatu hari Papa Dana membawa pulang seorang bayi laki-laki yang entah di dapatkannya dari mana.Bayi laki-laki itu adalah loe, Alvi, dan papa memberikan marganya pada loe. Kedatangan loe ngebuat Mama Ratih sembuh dari depresinya, Mama mencintai loe dan menganggap loe sebagai pengganti kami. Mama menyayangi loe seperti anaknya sendiri, sementara gue dan Viola tak pernah mendapatkan sedikitpun cinta Mama dan Papa. Ketika usia gue 15 tahun, gue tahu kebenaran tentang hal itu. Waktu itu gue nggak sengaja denger pembicaraan Om Bram dan Tante Selvi, dan gue sungguh terkejut akan hal itu. Loe tahu apa yang loe rasakan ketika orang tua loe sendiri gak mau nerima anaknya sendiri dan malah memilih untuk mengasuh anak orang lain? Rasanya sungguh menyakitkan Vi, menyesakkan seakan loe kesulitan untuk bernafas meskipun sebenarnya udara tersedia cukup banyak untuk bisa loe hirup,”
         “Om Bram dan Tante Selvi menyuruh gue untuk menyimpan rahasia itu dari siapapun termasuk saudara kembar gue Viola, mengingat kondisi dia yang lemah dan sering sakit-sakitan. Tapi, gue gak pandai berbohong Vi, gue gak bisa berpura-pura baik-baik saja setiap kali gue lihat Papa setiap harinya mengingat Om Bram dan Tante Selvi bekerja untuk perusahaan Papa Dana. Dan akhirnya karena hal itulah Om Bram dan Tante Selvi mengirim gue ke luar negeri untuk melindungi gue, tidak saja agar terhindar dari Papa tapi juga musuh-musuh Papa,” jelas Niken.
         “Lalu, bagaiman Om Bram, Tante Selvi dan Viola bisa meninggal?” tanya Alvi.
         “Mereka di bunuh….,” ucap Niken yang tentu saja membuat Alvi terbelalak kaget.
         “Bag…bagaimana mungkin loe mengetahuinya?” tanya Alvi.
         “Sama seperti yang gue ceritain ke loe dulu, gue tahu semua itu dari adik gue. Viola mengatakan kepadaku kalau beberapa hari terakhir sebelum kematiannya, ia tengah di intai. Dan pelakunya tentu saja musuh papa.Musuh papa akhirnya tahu bahwa Viola adalah anak kandung papa, meskipun mereka tidak melihat wajah Viola secara langsung.Dan mereka pun kemudian melakukan balas dendam kepada papa dengan melakukan pembunuhan terhadap Viola. Dengan begitu, mereka berharap bahwa dengan kematian putrinya, papa akan hancur sehancur-hancurnya. Namun nyatanya lain, papa bahkan tidak bersedih sedikitpun atas kematian Viola. Ia hanya mementingkan perusahaannya, yang dipikirkannya hanyalah tentang bagaimana ia menjadikan perusahaannya menjadi leader diantara perusahaan-perusahaan yang lainnya,” jelas Niken yang kemudian dengan suara parau karena menhan tangisnya.
         Alvi yang mendengar penuturan cerita Niken, kini tak menemukan kebohongan di mata gadis itu ketika gadis itu menceritakan semuanya kepadanya.Ia juga tidak menyangka bagaimana rumit dan sulitnya kehidupan gadis yang berada di sampingnya itu. Dirinya merasa bersalah kepada gadis itu, bagaimana tidak ia hidup dalam kemewahan sejak kecil. Meski ia tidak tahu siapa orang tua kandungnya, tapi ia mendapatkan kasih saying yang sangat banyak dari orang tua kandung Niken, sementara gadis itu malah hidup dalam pelarian dan kesusahan sekalipun ia tahu bahwa keluarganya adalah keluarga terkaya kedua di negaranya.
         Alvi tidak dapat membayangkan betapa sedih rasanya ketika dirinya berada di posisi Niken, dimana kelahirannya tidak  di harapkan oleh papanya karena ambisi yang menguasainya. Keheningan tercipta beberapa waktu ketika Niken selesai dengan ceritanya.Hingga kemudian Alvi menanyakan beberapa pertanyaan lagi kepada gadis itu.
         “Loe bilang, loe peduli pada gue karena adik loe, apa maksudnya? Gue bahkan sama sekali nggak kenal sama adik loe?” tanya Alvi. Niken menatap kedua manik mata lelaki yang melontarkan pertanyaan itu kepada dirinya.
         “Em…it..itu karena….,” ucap Niken terbata-bata.
         “Why? Karena apa Ken?” tanya Alvi dengan rasa penasarannya.
         “Karena adik gue…jatuh cinta sama loe….,” ucap Niken dengan susah payah.
         Alvi yang mendengar jawaban Niken seolah tak percaya dengan apa yang di dengarnya dari gadis itu. Bagaimana mungkin dia percaya bahwa adiknya mencintai dirinya yang nyatanya adalah perebut kebahagiaannya.Ia merebut posisinya dan juga kasih saying kedua orang tuanya.
         Niken yang melihat tatapan mata lelaki dihadapannya yang menatapnya dengan banyak tanya dan menyiratkan ketidak percayaan lelaki itu pada jawaban darinya, segera menggelengkan kepalanya seraya member jawaban tidak, dirinya tidak tahu kenapa hal itu bisa terjadi.
         “Gue nggak tahu Vi, gue nggak tahu kenapa Viola bisa mencintai loe. Harusnya dia membenci loe sama sepertiku dan bukannya mencintai loe, karena loe telah mengambil semua kasih sayang orang tua kami. Tapi suatu hari dia berkata pada gue kalau cinta tidak pernah bisa memilih kepada siapa ia akan jatuh,  ia juga tidak pernah meminta sebelumnya bahwa rasa cintanya akan jatuh pada loe. Dia bilang bahwa bukan salah loe kalau pada akhirnya gue dan dia kehilangan cinta orang tua kami karena nyatanya loe bahkan nggak tahu apa-apa tentang masalah ini.Karena itulah, ketika dia merasa bahwa harinya telah habis di dunia, dia meminta gue buat selalu ada bersama loe, disaat loe mengetahui semua kebenaran ini.Dia nggak ingin melihat loe terpuruk dan menyalahkan diri loe sendiri,” jelas Niken.
         “Niken Graviola Bramasta, seorang gadis yang bahkan tak pernah ku temui, tapi dia mencintai gue dengan begitu dalamnya. Apakah gue termasuk salah satu yang beruntung?” ujar Alvi.
         “Ya, tentu saja.Loe adalah orang paling beruntung sedunia karena mendapat cinta darinya.Dia gadis yang cantik, lugu dan berbakat.Ia berbakat dalam bermain piano apalagi biola.Ia dikagumi oleh banyak para lelaki, namun dia hanya tertuju pada loe, dia bodoh kan? Padahal apa coba yang dia liat dari loe….,” ucap Niken dan tentu saja  membuat Alvi sedikit tersinggung.
         “Heii…gue nggak terlalu buruk dan gue juga pantas di cintai….,” ucap Alvi sembari mengerucutkan bibirnya.
         “Ah…benarkah….?” Tanya Niken menggoda lelaki itu yang tentu saja membuat Alvi merasa sedikit kesal.
         Akhirnya ia pun membalas Niken dengan menggelitik tubuh gadis itu. Niken yang tidak tahan dengan geli itu pun berlari menghindari lelaki itu. Namun, bukan Alvi namanya jika ia tidak bisa mengejar gadis itu. Ia mengejar Niken dan akhirnya Niken pun tertangkap olehnya. Niken bernafas dengan terengah-engah akibat ia lelah berlari, ia berada dalam dekapan Alvi kali ini. Mereka sama-sama mengambil napas karena lelah berlarian.Akhirnya keheningan pun tercipta beberapa saat di antara mereka.Kemudian Alvi pun berkata.
         “Sudah malam bisakah kita beristirahat sekarang?” tanya Alvi.
         “Tentu saja.Hari ini hari yang panjang dan aku juga lelah…,” seru Niken.
         “Em…Ken….,”
         “Apa?”
         “Apa kita akan tidur satu ranjang?” tanya Alvi dengan malu-malu ketika mereka sudah sampai di dalam rumah di tepi pantai itu. Rumah itu adalah rumah pembelian Alvi, dimana dia sering menghabiskan waktunya disitu jika suasana hatinya sedang buruk seraya mencari ketenangan.
         “Ya tentu saja. Disini cuman ada satu kamar kan?” tanya Niken dan Alvi mejawab dengan anggukan. “Kita akan tidur sekamar, kecuali kalau kamu bersedia untuk tidur di sofa dan kamar itu gue yang nempati…,” ucap Niken dengan tersenyum licik.
         “Ish…enak aja loe.Ini rumah-rumah gue, harusnya gue yang tidur di kamar dan loe yang tidur di sofa…,”dengus Alvi.
         “Nggak mau, pokoknya loe tidur di sofa.Kalau loe nggak mau juga, ya sudah terpaksa kita tidur satu ranjang..,” ucap Niken.
         “Ya, tentu saja siapa takut…,” ucap Alvi yang langsung masuk ke kamar tidur mengikuti Niken dibelakang.
         Beberapa menit kemudian Niken pun tertidur pulas di samping Alvi.Alvi menatap gadis itu.Ia meletakkan rambut gadis itu di balik telinganya.
         “Terima kasih sudah bersedia menemaniku Ken.Ma’afkan aku atas semuanya. Bisakah loe menghilangkan rasa benci loe ke gue sama seperti yang dilakukan adik loe ke gue? Karena gue butuh loe sejak gue mulai merasakan sesuatu sama loe, dan gue harap suatu saat nanti loe juga mulai ada perasaan ke gue,” ucap Alvi lirih yang tidak mungkin terdengar oleh gadis yang tertidur pulas itu. Alvi mengecup kening Niken ringan dan ia mengambil tubuh gadis itu dan meletakkannya dalam pelukannya hingga dia tertidur kemudian.
*****