Rabu, 22 April 2020

Empat Belas

Edit Posted by with No comments

Alvi menatap gadis yang tidur di sampingnya. Ah, mungkin bukan gadis lagi sebutannya sekarang karena apa yang sudah dilakukannya pada Niken beberapa saat yang lalu. Ia melihat Niken terlelap dalam pelukannya dirapikannya anak-anak rambut yang menutupi wajah Niken. Ia juga berkali-kali mencium kening Niken, hingga Niken merasa tidurnya terusik dan akhirnya ia pun bangun.
"Kenapa tidak tidur?" ucap Niken dengan suara seraknya khas bangun tidur.
Alvi mendekat ke arah Niken. Ia berbisik lirih di telinga Niken. "Pengen lagi...," ujarnya.
Niken sontak melototkan matanya. Ia tidak percaya dengan apa yang Alvi katakan barusan. Bisa-bisanya lelaki itu mengatakan hal seperti itu.
"Dasar mesum...," ujar Niken sembari memukul dada bidang Alvi. Alvi terkekeh melihat wajah Niken yang dipenuhi oleh semburat merah.
"Kamu cantik kalau lagi blushing....," ujar Alvi sembari mengusap pipi Niken dengan lembut. Mendapat perlakuan seperti itu dari suaminya tentu saja membuat Niken semakin malu.
"Bukannya aku menolak, tapi bener deh aku capek. Lagian ini yang pertama dan...," ucapan Niken terhenti oleh perkataan Alvi kemudian.
"Memangnya aku mau apa sayang. Kamu tuh yang pikirannya mesum...," ucap Alvi sembari menjitak kepala Niken, namun dengan penuh kelembutan.
"Eh...aku pikir kamu....,"
"Aku nggak akan sekejam itu minta lagi sama kamu di saat pertama kalinya buat kamu...," ucap Alvi yang tentu saja membuat Niken kembali bersemu merah karena malu. Ia malu akan pemikirannya sendiri. Bisa-bisanya dia berpikir kalau Alvi ingin...ah lupakan, batin Niken.
Alvi mencium kening Niken dengan lembut. Ia pun membelai rambut istrinya dengan lembut, sementara Niken menyembunyikan wajah malunya atas pemikirannya tadi ke dalam pelukan Alvi.
"Terima kasih karena sudah menjaganya untuk aku...," ujar Alvi kemudian.
Niken mendongak melihat wajah sumringah suaminya. Suami? Bahkan mengatakan kata itu saja sudah membuat Niken merasa malu. 
"Kamu suami aku, tentu saja aku menjaganya untukmu. Kenapa harus berterima kasih ?" ucapnya yang masih bingung kenapa suaminya malah berterima kasih atas apa yang menjadi kewajibannya sebagai seorang istri.
"Tentu saja aku harus berterima kasih kepada istriku yang cantik ini. Hidup di negeri orang terlebih dengan budaya yang sangat bebas seperti ini, tapi masih bisa menjaga diri dengan baik tentu aku harus mengapresiasi hal itu bukan?" ujarnya dengan nada menggoda yang tentu saja membuat Niken menjadi lebih malu lagi. 
Kemudian sebuah pemikiran muncul ketika Alvi pertama kali datang ke apartemen Niken beberapa waktu yang lalu. 
"Eh, tapi kamu tidak menyambut tamu kamu seperti saat kamu menyambutku tadi bukan?" tanya Alvi.
Niken memukul kecil dada Alvi. "Sembarangan mana mungkin....,"
"Buktinya tadi....,"
"Tidak ada yang bertamu sepagi itu kecuali kamu. Tentu saja aku baru bangun tidur tadi, makanya....," Niken tak meneruskan kata-katanya karena ia malu mengingat bahwa ia masih mengenakan gaun tidur tipis ketika ia membuka pintu apartemen untuk Alvi.
"Bahkan Will juga...?"
"Tentu. Will tidak pernah berkunjung tanpa pemberitahuan. Dia pasti akan memberitahu dulu sebelum datang...,"ucap Niken. Alvi mengerutkan kening, mendengar penjelasan Niken meskipun Niken tidak pernah menyambut Will seperti ketika ia menyambut dirinya tadi, tapi tetap saja ia mengetahui Will sering ke apartemen Niken.
Melihat perubahan raut wajah suaminya itu Niken pun tersenyum simpul. Ia tahu lelaki yang sah menjadi suaminya itu tengah cemburu.
"Nggak udah cemburu, Will nggak pernah kesini sendirian. Ia selalu membawa Catreen dan Andrea kesini...," jelas Niken.
"Ekhem....siapa yang cemburu....," ucap Alvi menyembunyikan rasa cemburunya dibalik wajah datarnya. Niken hanya terkekeh melihat kelakuan suaminya itu, lelaki dengan semua rasa gengsinya, pikirnya.
"Catreen dan Andrea, siapa?" tanya Alvi kemudian, mencoba untuk mengalihkan pembicaraan.
"Catreen, istri Will dan Andrea putri kecil mereka. Will dan Catreen sering menitipkan Baby An disini kalau mereka sedang ingin quality time...," jelas Niken.
"Orang tua yang egois. Masak ingin berduaan saja dan meninggalkan anaknya sama kamu," gerutu Alvi.
Niken meluruskan kening Alvi yang berkerut dengan jemari tangannya. Lelaki itu mengernyitkan kening sembari menggerutu.
"Bukan egois sayang. Terkadang mereka juga butuh waktu untuk berdua agar hubungan diantara kedua semakin erat. Terkadang bukan hanya untuk bersenang-senang saja, namun untuk menyelesaikan suatu persilisihan atau permasalah apapun. Mereka hanya tidak ingin anak mereka berpikir macam-macam tentang orang tua mereka. Karena itu kadang mereka menitipkan buah hati mereka kepada beberapa orang yang mereka percayai sanggup untuk menjaga anak mereka. Seperti Will dan Catreen yang mempercayakan Andrea padaku," jelas Niken panjang lebar.
"Kamu tidak kesulitan menjaga putri mereka siapa tadi namanya Andrea ya...?" Tanya Alvi yang dijawab dengan anggukan kepala oleh Niken.
"Tidak sama sekali. Andrea gadis kecil yang lucu. Ia tidak pernah merepotkanku sama sekali. Malah terkadang aku terbantu dengan keberadaannya....," ujar Niken.
"Aku tidak sabar jadi ingin ketemu Andrea yang kamu maksud itu...,"
"Tentu, besok aku bisa mengajak kamu ke rumah Will...," ujar Niken. Dan Alvi pun menganggukkan kepala sebagai pertanda persetujuannya akan usul Niken tersebut.
"Lantas, apa rencana kita hari ini?" tanya Niken.
"Quality time....," sahut Alvi dengan menarik turun kan alisnya.
"Hmm..dasar mesum...," ucap Niken.
Dan Alvi hanya bisa terkekeh melihat tingkah Niken yang terkesan malu-malu tersebut.
Keduanya saling pandang, dan keheningan tercipta setelahnya. Namun kemudian terdengar suara yang membuat keduanya tertawa bersama.
Kruyuk...kryuk....
"Hahahaha....," tawa keduanya.
"Sepertinya kita perlu mengisi tenaga dulu sebelum bertempur kembali," ucap Alvi dengan nada menggoda. Sementara Niken hanya tersenyum malu mendengar ucapan Alvi yang terkesan vulgar.
"Ayo mandi bersama...," ujar Alvi kembali masih dengan nada menggoda.
"Ish...dasar mesum. Mas dulu sana yang mandi...," ucap Niken canggung.
"Mas....," ucap Alvi memberi penekanan dari perkataan Niken tadi. Niken yang menyadari sebutan yang ia buat untuk memanggil Alvi pun menunduk malu.
"Aku suka panggilan itu.."Mas"....," ujarnya sembari menoel pipi Niken yang menunduk malu. Ia pun kemudian beranjak menuju kamar mandi.
Niken pun membereskan kamar yang berantakan akibat ulah mereka berdua beberapa saat yang lalu. Mengingat semua kejadian itu tentu saja membuat semburat merah tak henti nampak di pipi Niken. Usai membersihkan semua kekacauan di kamarnya Niken menuju ruang tamu untuk mengambil koper Alvi. Ia menyiapkan pakaian ganti untuk Alvi di atas ranjang, sementara pakaian Alvi lainnya ia tata rapi di dalam lemari tepat disamping baju-baju miliknya. 
"Mas, pakaiannya ada di ranjang. Aku tinggal ke dapur dulu untuk menyiapkan makanan," ujarnya. Yang langsung mendapat sahutan "ya" dari seseorang yang tengah berada di kamar mandi tersebut. 
Niken lekas menuju dapur untuk menyiapkan makanan sembari menunggu gilirannya mandi usai Alvi. Tak lama bergulat di dapur ia pun selesai menyiapkan makanan untuk mereka berdua. Sepiring omelet dan segelas kopi untuk Alvi serta secangkir susu hangat untuk dirinya sendiri sudah tertata rapi di atas meja makan. 














Tiga Belas

Edit Posted by with No comments

Usai kepergian Sang Mama dan Oma-nya Alvi terdiam. Ia berdiri menatap jalanan yang lenggang dari balkon kamar apartemennya. Hujan tengah turun malam ini, tidak begitu deras namun cukup mampu mewakili hati Alvi yang tengah terluka. Penjelasan mama-nya mengenai alasan kepergian Niken masih tergiang-ngiang dikepalanya.
FlashBack
"Niken bukan pergi karena ingin bersama William, Vi. Hubungan mereka hanya sebatas dokter dan pasien. William adalah dokter yang menangani Niken, dan karena kedekatan dokter dan pasien itu mereka akhirnya berteman. Jadi tidak ada apa-apa diantara mereka. Lagipula William juga sudah mempunyai keluarga...," jelas Ratih.
"Lantas Niken pergi karena....?"
"Ia takut Vi, ia takut tidak akan bisa membahagiakan kamu. Ia takut hanya akan menjadi bebanmu. Karena itu ia ingin membebaskanmu. Tapi, kamu enggan melepaskannya, akhirnya sampailah ia pada keputusan itu. Ia pergi, meninggalkanmu dengan semua kesalapahaman yang ada dikepalamu,"
"Niken bukan beban bagi Alvi, ma. Kenapa dia berpikiran seperti itu...,"
"Apa yang bisa dilakukan oleh seorang istri ketika ia tidak bisa membahagiakan suaminya Vi...?"
"Apa definisi kebahagiaan bagi seorang suami yang ada di kepala Niken, ma...,"
"Anak !
Deg, Alvi serasa tidak bisa berkata apa-apa lagi. Ia merasa seolah dunianya hancur seketika mendengar pernyataan mama-nya. 
"Niken takut tidak bisa memberi kamu keturunan. Karena penderita penyakit itu sulit kemungkinan untuk bisa hamil...," jelas sang mama.
Alvi menghela nafas gusar. Ia terus terngiang perkataan sang mama bahwa Niken takut tidak bisa memberikannya seorang anak. Jadi, mamanya ingin Alvi membebaskan Niken jika Alvi memang tidak bisa menerima kondisi Niken. Akhirnya ia pun memutuskan untuk melakukan panggilan kepada seseorang diseberang sana.
"Halo Nak...," ujar seseorang diseberang sana yang adalah Dana, sang papa.
"Dimana alamat Niken di Amerika?" tanya Alvi. Dan seseorang diseberang sana pun memberikan jawabannya. Setelah mengucapkan terima kasih kepada sang papa ia mengakhiri panggilannya. Dan ia pun segera melakukan panggilan kepada seseorang yang lain. "Siapkan tiket pesawat untuk berangkat ke Amerika, sekarang...," titah Alvi.
*****
Setelah menempuh perjalanan selama 18 jam lebih akhirnya Alvi sampai di negara dimana Niken berada. Ia menaiki taksi dan menuju alamat yang diberikan oleh sang papa. Setelah menempuh perjalanan dari Bandara Internasional John F. Kennedy, ia akhirnya sampai di apartemen 740 Park Avenue, New York. Ketika sampai di salah satu apartement yang dijelaskan oleh sang papa di telpon kemarin ia pun membunyikan bel. Beberapa menit bel berdering dan akhirnya muncullah seseorang yang sangat Alvi rindukan selama tiga tahun terakhir.
Gadis itu menatap tidak percaya sesosok lelaki yang berdiri tepat dihadapannya. Lelaki itu masih sama seperti ketika ia meninggalkannya. Hanya saja rambut-rambut halus tumbuh disekitar dagu lelaki itu. Garis wajah lelaki itu pun terlihat tegas sekarang. Dia adalah Alvi, lelaki yang masih menyandang status sebagai suaminya.
"Apa kamu akan tetap membiarkan saya berdiri disini tanpa membiarkan saya masuk?" ujar Alvi memecah keheningan diantara keduanya. Ketika untuk pertama kalinya dalam tiga tahun mereka bertatapan kembali.
"Eh...iya silakan masuk....," ujar Niken. Alvi pun masuk ke dalam apartemen Niken. Namun, ia masih berdiri termenung bahkan setelah Niken menutup pintu apartemen. Alvi menatap Niken dari ujung kepala sampai ujung kaki. Alvi meneguk salivanya. Dan menyadari arti tatapan Alvi, ia membelakakkan mata dan segera pergi menuju ke kamarnya. "Silakan duduk, aku ganti baju dulu...," ujar Niken yang kemudian sudah menghilang di balik pintu kamarnya.
"Bisa-bisanya dia menyambut tamu dengan berpakaian seperti itu. Jangan-jangan ketika Wiliiam atau teman lelaki lainnya kesini dia juga berpakaian seperti itu..," gumam Alvi, ia menggelengkan kepalanya, mendadak tidak rela memikirkan kemungkinan-kemungkinan yang ada di kepalanya. Hingga kemudian, Niken pun kembali dari kamarnya dengan membawakan segelas air sirup dingin dan cemilan untuk Alvi. Dan tentu saja kini Niken sudah mengenakan pakaian yang pantas untuk menyambut tamu.
Keheningan kembali tercipta diantara keduanya. Hingga akhirnya Niken pun bertanya perihal alasan kedatangan Alvi jauh-jauh ke Amerika.
"Kenapa bisa kemari?" tanya Niken.
"Tidak boleh..?" jawab Alvi dingin dan datar.
"Eh, tentu tidak masalah. Maksud aku, ada urusan apa kamu datang jauh-jauh kesini?" tanya Niken lagi.
"Apa tidak boleh aku datang kesini untuk menemui istriku...?" ucap Alvi sembari memberikan penekanan saat ia mengataka kata "istriku".
"Eh....," Niken menjadi salah tingkah. Ia tidak tahu apa yang harus ia katakan. Perkataan Alvi adalah kebenaran. Ia masih istri sah Alvi bukan? Meskipun nyatanya mereka menikah tanpa cinta, tapi keduanya belum bercerai. Jadi, mereka masih terikat hubungan suami istri bukan? Meskipun mereka tidak bersama selama tiga tahun, tapi Alvi masih tetap memberinya nafkah, meski memang Niken tidak pernah memakai uang yang ditransfer Alvi setiap bulannya ke rekeningnya. Ia menggunakan uangnya sendiri untuk memenuhi kebutuhannya, termasuk biaya pengobatannya.
Alvi pun menghela napas sebelum akhirnya berbicara.
"Huft...aku kesini untuk menjemput istriku yang kabur selama tiga tahun...," ujar Alvi kemudian.
"Aku tidak kabur. Bukankah aku sudah izin kepadamu tiga tahun yang lalu ketika aku memutuskan untuk pergi ke negara ini..?" ujar Niken memberikan pembelaan pada dirinya sendiri.
"Iya, izin tanpa memberikan penjelasan apapun. Itu sama saja dengan kabur...," ucap Alvi dingin.
Niken pun menundukkan kepalanya. Ia tidak pernah melihat Alvi seperti ini. Alvi memang menyebalkan dari dulu, ia bahkan terlampau sombong ketika Niken pertama kali mengenalnya. Tapi, Niken tidak pernah melihat Alvi seperti sekarang itu. Lelaki itu terlihat sangat...marah. Dan Niken sadar, semua ini karena kesalahannya!
"Alvi aku...,"
"Kamu egois Ken," potong Alvi hingga Niken tidak bisa melanjutkkan perkataannya. "Bukan kamu yang menentukan aku bisa bahagia atau tidak. Aku yang merasakannya dan tentu aku yang lebih tahu apa yang membuat diriku bahagia...," 
"Vi...,"
"Kamu pergi tanpa mendiskusikannya terlebih dulu denganku. Kamu menyembunyikan segalanya dariku, sudah berapa banyak rahasia yang kamu simpan sendirian? Sudah berapa banyak kamu mengambil keputusan sendiri...," ujar Alvi masih dengan amarahnya. Ia seolah tak dapat mengontrol dirinya lagi. 
"Alvi..aku....," Niken hanya bisa menangis melihat amarah Alvi. Ini pertama kalinya, ia melihat lelaki itu dipenuhi amarah, tapi lebih dari amarah tersimpan rasa sakit dimata lelaki itu setiap kali Niken menatap bola mata Alvi. Niken pun tahu, bahwa mungkin sang mama, oma atau papanya sudah memberitahukan semua kebenaran itu kepada Alvi. 
"Ken, apa kamu mencintaiku?" tanya Alvi. "Jangan bilang kamu melakukan semuanya karena kamu mencintaiku, karena kalau kamu benar mencintaiku kamu tidak mungkin...," Niken menghambur ke pelukan Alvi. Alvi yang tidak siap menerima pelukan Niken pun terjengkang hampir ke belakang karena ia tengah duduk di sofa. Niken memeluk Alvi dengan erat diatas pangkuan Alvi. Ia menyembunyikan tangisnya diantara ceruk leher lelaki itu.
"Aku tahu aku salah. Aku tahu aku egois. Aku hanya ingin kamu bahagia. Aku wanita cacat Alvi, aku tidak akan bisa membahagiakan kamu. Harusnya kamu melepaskan aku. Harusnya kamu tidak datang kemari...," ucap Niken ditengah tangisnya. Alvi hanya bisa menepuk-nepuk punggung gadis yang tengah berada dipangkuannya itu, agar gadis itu meredakan tangisnya. Tapi, Niken malah semakin keras menangis. 
"Tidak ada yang sempurnah Niken, tidak kamu begitu juga aku. Tapi, kita bisa menjadikan diri kita sempurnah dengan melakukan segalanya bersama-sama hingga kita bisa saling melengkapi kekurangan kita masing-masing. Aku tidak masalah kalau kita tidak bisa memiliki anak, kita bisa mengadopsi anak. Aku tidak masalah Niken, sungguh. Asalkan kamu tetap berada disampingku. Aku mencintai kamu, karena itu aku butuh kamu...," jujur Alvi yang membuat Niken malah semakin tergugu dengan pengakuan Alvi.
Akhirnya setelah tiga tahun lamanya, setelah saling memberi waktu untuk diri sendiri akhirnya mereka sadar bahwa keduanya telah memiliki rasa yang sama. Kehilangan kadang menuntun kita pada kebenaran, kebenaran akan perasaan yang sebenarnya kita simpan kepada seseorang.
*****





Dua Belas

Edit Posted by with No comments

Tiga tahun kemudian…
       Perusahaan K-Company berkembang pesat dengan keterlibatan Alvi di dalamnya. Meskipun ia belum lulus kuliah S3-nya, namun hal itu tak menghambatnya. Ia belajar dengan sungguh-sungguh terkait dengan bisnis yang di jalani oleh Papanya di tengah kesibukannya kuliah. Dan sepenuhnya, kini perusahaan tersebut sudah di pegang penuh oleh Alvi karena permintaan keluarganya. Berkembangnya K-Company, menjadi hancurnya perusahaan J-Company, perusahaan Papa Jacky, saingannya sejak dulu.
       Namun, ada hal berubah dari Alvi semenjak ia disibukkan dengan urusan perusahaan. Ia menjadi pribadi yang lebih dingin dan tertutup di mata yang lainnya. Meskipun sejak dulu ia memang tidak pernah mempunyai banyak teman selain dua sahabatnya “Fandy dan Bagas”, namun Alvi masih bisa bersikap santai dan hangat. Tapi sekarang, entah menguap kemana kehangatan yang dimilikinya dulu. Terlebih setelah ia mendengar keputusan Niken setahun yang lalu.
       1 tahun yang lalu…..
       “Vi, boleh bicara sebentar?” tanya Niken di suatu sore ketika keduanya tengah menghabiskan sore bersama di kebun belakang rumah mereka.
       “Ya, ada apa?” tanya Alvi.
       “Mama sudah pulih kesehatannya, begitu pula dengan Oma Mia. Hubungan Papa dan Mama juga berangsur-angsur membaik…,” ucap Niken.
       “Ya, terus….?”
       “Bagaimana….bagaimana dengan kita?” tanya Niken.
       “Ken, kita….?”
       “Meskipun kita sudah sah sebagai suami istri namun tidak ada cinta di dalamnya, Vi. Kita menikah hanya karena perjodohan yang di atur oleh keluarga. Jadi tidakkah kita sebaiknya….?”
       Alvi tahu kemana arah pembicaraan Niken selanjutnya. Ia tidak mau mendengarnya. Tidak ada perceraian dalam pernikahannya. Lagipula, bagaimana Niken bisa menyimpulkan hal seperti itu? Bukankah dua tahun belakangan mereka sudah bisa saling hidup bersama. Saling menguatkan menghadapi setiap permasalahan yang ada? Tapi, kenapa Niken berpikir demikian?
       “Tidak ada perceraian Ken, kalau itu yang mau kamu utarakan,” ucap Alvi yang sudah mengganti sapaan menjadi aku-kamu sejak keduanya mulai dekat.
       “Tapi Vi….,”
       “Lakukan apapun yang ingin kamu lakukan Ken, terserah kamu, aku tidak akan membatasi dan ikut campur seperti kesepakatan kita di awal. Tapi, untuk cerai, ma’af aku tidak bisa memberikannya padamu,” ucap Alvi final.
       Setelah kejadian sore hari itu, akhirnya Niken memutuskan untuk kembali ke Amerika, dengan alasan melanjutkan studynya di sana. Namun, Alvi tahu bahwa itu hanyalah alasan yang di ucapkan oleh Niken. Alasan sebenarnya adalah Niken ingin menjauhinya. Entah karena apa, Alvi tak tahu. Setahunya, hubungannya dengan Niken baik-baik saja setelah permasalahan rumit di antara keluarga mereka terselesaikan satu per satu.
       Alvi membiarkan Niken tetap pada keputusannya. Karena ia sendiri yang mengatakan bahwa Niken boleh melakukan apapun asalkan ia tidak meminta cerai darinya. Dengan berat hati, Alvi pun melepaskan kepergian Niken ke Amerika.   
*****
       Alvi tersadar dari lamunanya ketika mendengar pintu ruangan kerjanya di ketuk. Sekretarisnya membuka pintu setelah ia mengatakan iya. Dan tampaklah seorang wanita paruh baya yang masih terlihat cantik berjalan masuk dengan menggandeng seorang wanita Tua.
       “Ma…..,” sapa Alvi ketika menyadari siapa yang berkunjung ke kantornya.
       Alvi berjalan mendekat dan mencium tangan Mama dan Oma nya. “Oma juga datang? Tumben…” seru Alvi dengan senyum di bibirnya sembari menggoda Oma-nya.
       “Dassarr cucu nakal, kenapa jarang sekali berkunjung? Kamu sudah nggak sayang lagi sama Oma?” tanya Omanya.
       Ya, sejak beberapa bulan lalu, Alvi memang memutuskan untuk tinggal di Apartemen yang letaknya nggak jauh dari perusahaan, dengan alasan biar dia lebih mudah dan cepat ke kantor jika ada masalah mendadak. Baik Oma, Mama serta Papanya tidak setuju dengan keputusan Alvi tersebut tapi mereka juga menyadari bahwa Alvi mungkin butuh suasana baru. Terlebih, ketika Niken memutuskan untuk kembali ke Amerika, semua menyadari perubahan dalam diri anak itu, terlebih Ratih, sang Mama. Meskipun tidak memiliki hubungan darah, tapi Ratih yang telah mengasuh Alvi sejak kecil, tahu bagaimana tabiat putranya itu. Ia tahu, bahwa sebenarnya Alvi kecewa dengan keputusan Niken, tapi putranya itu tidak bisa menolak keinginan dan keputusan Niken, putri kandungnya.
       “Ihh…Oma kan tahu, sebentar lagi acara ulang tahun perusahaan, jadi Alvi sibuk urus ini itu….,” jelas Alvi.
       “Alesan… kamu punya banyak pegawai, buat apa kamu gaji mereka kalau pada akhirnya yang ngurus ini itu juga kamu….,” rajuk Oma Mia.
       “Tapi kan Oma, Alvi kan mau semuanya berjalan lancar…,”
       “Ya, tapi kan…..,” ucapan Oma Mia terputus oleh tatapan mengiba Ratih, untuk tidak terus mendesak Alvi agar mau kembali ke rumah.
       “Kamu kenapa kurusan Nak?” tanya Ratih kemudian.
       “Apanya yang kurusan Ma, perasaan dari dulu Alvi gini-gini aja…,” ujar Alvi sembari duduk di samping Mamanya. Ia pun memeluk lengan mamanya dengan penuh kasih.
            Ratih menghembuskan napas agak keras. Dia menimbang apakah perlu memberi tahu Alvi atau tidak yang sebenarnya. Di satu sisi ia ingin memberi tahu putranya itu, agar putranya bisa membujuk putri semata wayangnya untuk kembali ke Indonesia. Alvi yang mengetahui tersimpan kekhawatiran di wajah mamanya pun akhirnya bertanya.
"Ada apa ma?" tanya Alvi.
"Eh...apa....?" tanya Ratih sang mama.
"Mama seperti menyimpan sesuatu. Katakan Ma, ada apa...?"
Mia memegang tangan Ratih. Ia menganggukkan kepalanya seraya memberi persetujuan kepada Ratih untuk mengatakan yang sebenarnya kepada Alvi.
"Vi, in...ini tentang Niken...," ujar Mamanya.
Alvi sudah lama tidak mendengar mama, papa atau oma-nya membahas tentang Niken setelah tiga tahun kepergian gadis itu. Bukannya mereka tidak pernah membahas, pernah beberapa kali mereka membahas tentang keadaan gadis itu, namun mereka segera menghentikan percakapan setiap kali Alvi berada diantara mereka.
"Dia kenapa....?" tanya Alvi dingin dengan raut wajah yang datar. Sebenarnya ia cukup penasaran kenapa sang mama dan oma-nya tiba-tiba membahas tentang gadis itu. Tapi, ia berusaha untuk bersikap biasa saja.
"Dia...Nik...Niken....," ucap Ratih terbata-bata seolah sesuatu menyangkut di tenggorokannya hingga ia tidak bisa lancar berbicara.
"Apa dia bahagia disana? Apa dia meminta pada mama agar aku menceraikannya hingga dia bisa menikah dan hidup bersama dengan William?" ujar Alvi yang sudah tidak tahan lagi menyimpan semua uneg-unegnya. Karena hingga detik ini ia tidak pernah tahu alasan gadis itu memilih pergi ke Amerika.
"Apa yang kamu katakan Nak, Niken tidak mungkin meminta hal seperti itu. Kalaupun ia alasannya tidak mungkin karena William...," akhirnya Ratih pun menemukan keberaniannya kembali. Ia harus berani mengatakan yang sebenarnya pada Alvi meskipun sebenarnya Niken telah melarangnya. Tapi, sebagai seorang ibu ia tidak mungkin membiarkan kedua anaknya terlarut dalam kesalahpahaman sekian lama.
"Lantas apa?" tanya Alvi gusar. Ia sudah tak ingin lagi menebak-nebak apa yang ada dipikiran gadis itu hingga pergi meninggalkannya.
"Niken sakit Vi....," ucap Mia, sang oma. Akhirnya sang oma pun mengatakan sesuatu setelah sekian waktu memberikan kesempatan kepada menantunya untuk mengucapkan kebenaran itu kepada cucunya. Tapi, ia rasa menantunya itu tak cukup berani untuk menceritakan hal yang menyakitkan itu.
"Apa maksud Oma? Niken baik-baik saja. Dia sehat, dia bahagia bersama Will," ujar Alvi masih kekeh dengan pendapatnya.
"Itu yang kau lihat Nak, tapi kenyataannya tidak seperti itu...," ujar Ratih. Alvi menatap sang mama ia menuntut penjelasan atas pernyataan yang didengarnya dari bibir sang mama. Ratih menghela napas panjang dan ia mulai menceritakan kebenaran itu kepada sang anak.
"Niken menderita SLE atau  Systematic Lupus Erythematosus. Itu adalah penyakit autoimun, yaitu kondisi ketika sistem imunitas atau kekebalan tubuh secara keliru menyerang organ tubuh sendiri. Penyakit itu rentan menyerang anak kembar, kamu tentu tahu bahwa Niken punya saudara kembar yang bernama Viola bukan? Dan itulah salah satu penyebab kenapa Niken bisa menderita penyakit itu...," jelas mamanya. Ratih dan Mia tak mampu lagi membendung tangisnya usai menceritakan hal itu pada Alvi. Sementara Alvi yang mendengar hal itu shock. Seolah seperti petir baru saja menyambar.
"Jadi alasan dia ke Amerika.....," ucap Alvi masih dengan ketidakpercayaannya.
"Dia kesana untuk berobat, tapi sampai sekarang penyakit itu belum dapat disembuhkan...," ujar sang Oma.
Alvi pun hanya terdiam mendengar penuturan sang mama dan oma-nya. Ia tak percaya bahwa gadis seceria dan seenergik Niken ternyata menderita penyakit itu. Ia bahkan tak mencari tahu alasan kepergian gadis itu. Ia berpikiran sempit dengan menjudges bahwa Niken meninggalkannya hanya untuk bisa hidup bersama Will.
*****

Sebelas

Edit Posted by with No comments

Panti Asuhan Nirmala”
       Enam bulan setelah kejadian itu, kejadian dimana Alvi mengetahui kebenaran tentang identitas dirinya, akhirnya Alvi berada di sini sekarang. Tempat dimana ia pernah di pungut oleh Dana dan kemudian menjadi anak dari lelaki paruh baya itu. Setelah semua keraguan yang ia rasa hilang, akhirnya ia melakukan hal sebagaimana dikatakan oleh gadis itu. “Ikuti kata hatimu”, dan itulah yang Alvi lakukan sekarang. Ia akan mencari tahu siapa orang tua kandungnya, meskipun ia tidak bisa menemuinya lagi di dunia ini, tapi paling tidak Alvi tahu nama dan rupa dari orang tuanya meski hanya melalui sebuah foto lama yang mungkin masih disimpan oleh Ibu Panti.
       Alvi melangkahkan kakinya untuk masuk ke dalam panti. Di dalam sana terdapat halaman yang luas dan anak-anak kecil yang berlarian kesana-kemari. Mereka tampak sangat bahagia, seolah tak ada beban apapun di wajah ceria mereka.Ada yang bermain ayunan, jungkat jungkit dan bahkan ada yang jahil dengan mengusili teman-temannya.Alvi semakin melangkahkan kakinya untuk maju mencari ruangan Ibu Panti. Namun, anak-anak kecil disekitarnya yang menyadari bahwa ada seseorang asing yang datang memperhatikannya dengan raut wajah imut mereka. Hingga kemudian mereka semua pun berteriak, meneriakkan satu nama.
       “Kak Alvviiiiiiiiiii…………..,” ujar anak-anak polos itu.
       Alvi yang terkejut mendengar namanya di panggil secara serempak oleh anak-anak di panti itu, mengerutkan keningnya.Ia tak mengerti, kenapa anak-anak yang tidak pernah ditemuinya itu memanggil namanya. Dan bahkan anak-anak itu berlarian mengerumuninya, seolah sudah sangat akrab dengannya.
       “Akhirnya loe datang juga……,” ujar seorang gadis.
       “Loe…..?” ucap Alvi dengan tatapan penuh tanya kepada gadis itu. Namun, gadis itu tak memberikan jawaban apapun atas isyarat pertanyaannya itu.Ia hanya mengedikkan bahu dan kemudian tersenyum sembari mengajak ia dan anak-anak yang lain masuk ke dalam rumah.
       Alvi menyalami Ibu-Ibu Panti yang menyambut kedatangannya. Ibu Panti yang tahu akan maksud kedatangan Alvi, mempersilakan Alvi untuk masuk ke ruang kerjanya sementara anak-anak panti yang semula mengikutinya bermain bersama dengan gadis yang tadi mengajak mereka masuk ke dalam rumah.
*****
       Niken mengajak Alvi berkeliling Panti Asuhan Nirmala, seusai Alvi menyelesaikan urusannya dengan Ibu Panti.
       “Loe sering kesini?” tanya Alvi memecah keheningan di antara keduanya. Niken tidak menjawab dengan kata-kata. Ia hanya menganggukkan kepalanya sebagai isyarat jawaban “iya” dari bibirnya.
       “Sejak kapan?” tanya Alvi lagi. Bukannya menjawab pertanyaan Alvi, Niken malah mengerutkan keningnya, tidak mengerti dengan maksud pertanyaan Alvi. Alvi yang mengetahui bahwa gadis yang berdiri di sampingnya itu tidak mengerti dengan pertanyaan yang diajukannya, ia pun meralat pertanyaan itu.
       “Maksudku sejak kapan kamu tahu aku berasal dari sini?” tanya Alvi.
       “Oh..., sudah lama....,” ujar Niken.
       “Dan sejak itu loe sering datang kesini?” tanya Alvi lagi. Lagi-lagi Niken hanya menganggukkan kepala untuk menjawab pertanyaan Alvi.
       “Kenapa?” tanya Alvi lagi.
       “Maksud loe?” Niken malah balik bertanya.
       “Apa karena gue? Apa karena kasihan sama gue, loe.....?”
       Niken menghembuskan nafasnya perlahan sebelum akhirnya menjawab pertanyaan yang di ajukan Alvi.
       “Gak ada yang perlu gue kasihani di sini, terlebih loe. Cowok sombong dan menyebalkan...,” seru Niken sembari melemparkan senyum pada Alvi.”Gue ngerasa nyaman aja di sini, bermain bersama anak-anak kecil yang polos dan lugu membuat gue ngerasa senang. Mereka saling berbagi bersama satu sama lain. Hidup dalam kesepian tidak membuat mereka patah semangat dan bersedih. Hanya karena mereka berbeda dari anak kecil lainnya karena tidak memiliki orang tua, lantas tidak membuat mereka bersedih hati. Karena memiliki orangtua atau tidak bagiku tidak ada bedanya. Gue memiliki orang tua, tapi malah enggan mengakui gue sebagai anaknya. Lantas, apa bedanya gue dengan mereka? Juga dengan loe, apa bedanya gue sama loe?” jelas Niken.
       “Ken....., gue....,”
       “Kita sama saja Vi, loe yang hidup dalam kebohongan karena tidak tahu tentang identitas diri loe yang sebenarnya. Sementara gue, hidup dengan kebohongan karena menyembunyikan identitas gue....,”
       “Loe...masih marah sama gue....?”
       “Buat apa? Dulu sih iya, gue marah banget sama loe. Kenapa loe hidup bahagia bersama dengan kedua orang tua kandung gue, sementara gue hidup dalam persembunyian tanpa sedikitpun kasih sayang dari mereka. Namun, semenjak beranjak menjadi dewasa gue jadi tahu. Kita hanyalah dua orang anak yang sama-sama hidup karena keegoisan para orang dewasa. Loe, yang dijadikan papa sebagai alat balas dendam namun mendapatkan kasih sayang penuh darinya juga dari mama dan oma, dan gue hidup dalam persembunyian demi keselamatan diri gue sendiri tanpa pernah mendapatkan kasih sayang dari kedua orang tua gue...,”
       “Makasih...,”
       “Buat apa?”
       “Buat semuanya....,”
       “Nggak perlu berterima kasih, it’s okey. Kita tidak pernah meminta untuk berada pada situasi seperti ini. Jadi, tidak ada yang benar ataupun salah disini...,”
       “Ya, loe bener. Jadi, kita lupakan saja semuanya. Dan mulai semua dari awal lagi. Mau kan?”
       “Tentu....,”
       Mereka pun kembali melanjutkan perjalanan mereka menyusuri setiap tempat di Panti Asuhan itu. Dengan perasaan yang melegakan seolah semua beban yang meeka hadapi sebelumnya tidak pernah ada.
*****
       Alvi dan Niken akhirnya memutuskan untuk menjenguk Mamanya di rumah sakit selepas keduanya menghabiskan waktu seharian di Panti Asuhan Nirmala. Ketika hendak membuka pintu kamar inap Mama-nya dari kaca yang terdapat di pintu masuk ruangan itu, Alvi dan Niken melihat Dana, Papa mereka tengah mengelus puncak kepala mamanya dengan sayang. Sementara mamanya yang keadaannya sudah agak membaik, memalingkan wajahnya dari Papanya yang memandangnya dengan tatapan penuh kasih.
        Baik Alvi ataupun Niken tahu, bahwa sebenarnya Papa nya sangat tulus mencintai Mama Ratih terlepas dari semua masalah rumit yang terjadi di antara mereka. Hanya saja cara yang dilakukan oleh Papanya kurang tepat. Mana ada ibu di dunia ini yang mau dipisahkan dengan anak kandungnya sendiri, meski alasan itu demi menjaga keselamatan sang anak dari orang-orang yang berniat jahat kepada anaknya tersebut. Apalagi, sang suami yang sangat di cintainya bukan hanya memisahkan dirinya dengan sang anak, tapi juga menyimpan semua kebenaran dari sang istri dengan mengatakan bahwa anak tercinta yang dilahirkannya telah meninggal dunia.
       Alvi menghembuskan napas keras begitu pula dengan Niken yang berdiri di sampingnya.
       “Loe yakin?”
       Niken mengerutkan kening. “Maksud loe?” tanya balik Niken pada Alvi.
       “Loe yakin, kita akan masuk sekarang? Apakah tidak sebaiknya…..,”
       “Lebih cepat lebih baik Vi. Kita tidak bisa terus-terusan menghindari mereka. Walau bagaimanapun kesehatan mama lebih penting dan mama butuh aku. Dan akupun juga ingin bertemu dengan mama...,”
       “Oke kalau itu keputusan loe, gue ikut….,” ujar Alvi.
       Akhirnya keduanya pun mengetuk pintu kamar inap itu. Dan tentu saja membuat kedua orang yang berada di dalamnya mengalihkan pandangan mereka pada dua sosok anak manusia yang berjalan semakin dekat kearah mereka. Niken dan Alvi mendekat kearah mereka dan langsung di sambut dengan tangisan oleh sang Mama.
       “Niken……anak mama….,” ujar Ratih masih dengan tangis yang mengirinya. Ia memeluk Niken sangat erat, mencium puncak kepalanya berkali-kali sembari mengucapkan kata-kata yang sama. “Niken…niken anak mama. Ma’afkan mama nak, mama baru tahu kalau kamu masih hidup. Ma’afkan mama….,”
       Niken membalas pelukan sang mama dengan sayang. Akhirnya setelah genap dua puluh dua tahun usianya, Niken bisa merasakan pelukan wanita paruh baya itu. Wanita tidak lain adalah Mama kandungnya.
       Sementara Alvi dan Dana yang melihat kedua wanita yang saling melepas rindu itupun akhirnya memutuskan untuk meninggalkan ruang rawat inap itu untuk member privasi bagi keduanya.
*****







Sepuluh

Edit Posted by with No comments

Beberapa bulan ini Alvi sibuk mengurusi semua masalah perusahaan keluarga Dana. Ia bahkan sampai lupa makan maupun istirahat. Hari-harinya hanya dihabiskan untuk menyelesaikan kuliahnya dan mengurusi perusahaan. Alvi tidak lagi sempat untuk bermain-main lagi sepreti dulu, ia tidak lagi menyusup untuk kabur dari bodyguard-bodyguardnya hanya untuk bisa menghabiskan waktu bersama dengan kedua sahabatnya Fandy dan Bagas. Dan kini, seperti biasa meskipun sudah pulang dari kantor, Alvi masih berada di depan meja kerja Papanya di rumah. Ia menyelesaikan beberapa pekerjaan yang belum selesai. Dana yang melihat antusiasme Alvi untuk menggantikannya mengurus perusahaan pun senang, terlebih kini ia bisa lebih fokus dengan kesembuhan Ratih, istrinya.
         Namun, melihat Alvi yang terlalu keras bekerja ia pun merasa cemas. Walau bagaimanapun meskipun tidak ada hubungan darah diantara mereka Dana sangat menyayangi Alvi seperti anaknya sendiri. Dan kini, putranya itu tengah salah paham terhadapnya, tidak hanya putranya tapi juga putri kandungnya yang tinggal satu-satunya. Dana tidak tahu bagaimana harus menjelaskan kebenaran yang ada. Ia terlalu melukai kedua anak kesayangannya itu, dan apakah mungkin mereka percaya dengan semua penjelasannya nanti? Tapi, ia memutuskan untuk melakukan tindakan yang benar kali ini, ia akan menjelaskan semua yang terjadi kepada putranya itu lebih dulu, terlepas dari percaya atau tidaknya putranya itu kepadanya.
         “Vi...,” ucap Dana.
         Alvi yang mendengar seseorang memanggilnya pun mengalihkan pandangannya dari leptop di hadapannya ke arah seseorang yang memanggilnya itu yang tidak lain adalah Dana, Papanya. Alvi masih menyimpan rasa marah pada lelaki separuh baya itu, tapi ia juga tidak bisa membencinya. Walau bagaimanapun lelaki itu adalah orang tuanya yang membesarkannya sedari kecil dan memberikan kasih sayangnya, meski kerap kali ia terlalu keras dalam mendidik dirinya. Bagi Alvi, Dana tetap orang tuanya meskipun tidak ada hubungan darah diantara keduanya.
         “Iya,,,” ucap Alvi.
         “Ada yang mau Papa bicarakan, bisa minta waktu kamu sebentar?” tanya Dana.
         “Kalau yang mau Papa bicarakan terkait Proyek baru bersama dengan perusahaan Mitra Sejahtera semuanya sudah Alvi selesaikan Pa,” jelas Alvi.
         “Bukan, bukan itu. Ada hal lain yang ingin Papa bicarakan denganmu,” ucap Dana.
         Alvi mengerutkan keningnya sebelum akhirnya mengatakan sesuatu. “Tentang apa?” tanyanya.
         “Kemarilah, duduklah dulu....,” ujar Dana sembari duduk terlebih dahulu di sofa tepat di depan meja kerjanya yang memang dikhususkan untuk diletakkan disana jika sewaktu-waktu Dana ingin istirahat jika terlalu lelah bekerja.
         “Apa yang mau Papa bicarakan?” tanya Alvi lagi.
         “Ini tentang masa lalu, tentang kebenaran yang ada. Papa tidak peduli kamu percaya atau tidak dengan cerita Papa. Tapi, bukankah kamu juga perlu dengar cerita itu dari sudut pandang Papa?” jelas Papanya.
         Alvi terdiam, ia membenarkan perkataan Papanya. Sebenarnya ia juga tidak terlalu percaya dengan semua cerita Niken. Niken pernah membohonginya sebelumnya, dan belum tentu cerita kemarin adalah kebenarannya bukan? Meskipun neneknya juga menceritakan hal yang sama dengan yang Niken ketahui kepada Mama Ratih, tapi bisa jadi keduanya juga tidak tahu kebenaran yang sebenarnya terjadi. Karena itu ia kemudian menganggukan kepalanya seraya menyetujui pernyataan Papanya di awal, bahwa ia juga harus mendengarkan cerita itu dari sisi Papanya.
         “Kejadiannya sekitar 20 tahun yang lalu....,” ucap Papanya mulai bercerita.
         Dan akhirnya mengalirlah cerita dari sisi Papanya. Kejadian bermula ketika Papanya mulai mendirikan perusahaan bersama dengan rekan kerjanya. Dan perjalanan dari perusahaan yang dulu masih kecil menjadi perusahaan sebesar sekarang ini tidaklah mudah. Papanya dan Rekan kerjanya harus kerja ekstra keras dan mati-matian hingga akhirnya terciptalah Perusahaan Dana yang sebesar seperti sekarang ini. Perusahaan itu mencetak para musisi ternama, artis-artis dan penyanyi-penyanyi berbakat andalan perusahaan salah satunya Selvi Gacella Moudy seorang pemain biola berbakat juga Bramasta Prasetyo seorang composer lagu yang cukup berbakat dan terkenal.
         Suatu hari Selvi mendapat tawaran dari perusahaan lain, mereka bersedia merekrut Selvi dan membayar gaji Selvi lebih tinggi dari perusahaan Dana, akan tetapi Selvi menolak. Begitu pula dengan Bramasta. Bram yang tidak hanya sebagai composer lagu, ia juga merupakan rekan kerja Dana yang bersama-sama dengannya merintis perusahaan itu dari nol, juga mendapatkan tawaran yang sama. Bram berkali-kali diajak oleh perusahaan itu untuk menghianati Dana dan bergabung dengannya, tapi Bram menolak.
         Dan berawal dari semua itulah, seiring semakin majunya perusahaan Dana dan Bram, semakin banyak pula perusahaan-perusahaan lain yang ingin menghancurkan perusahaan Dana. Salah satunya The J Company, yang merupakan perusahaan Papanya Jacky. Sejak masih kuliah Papa Jacky adalah saingan Dana, tidak hanya dalam masalah perkuliahan termasuk juga masalah percintaan, yaitu untuk memperebutkan cinta Ratih yang juga merupakan teman sekolah mereka. Teror-teror pun akhirnya bermula ketika Jacky tahu Ratih lebih memilih Dana dibandingkan dirinya.
         Papa Jacky mulai mencoba untuk menghancurkan perusahaan Dana dengan mengadu domba antara Bram dengan Dana. Namun, Selvi dan Bram masih memegang kesetiaan akan persahabatannya dengan Dana, sehingga menggagalkan usaha Papa Jacky yang ingin memecah belah mereka. Akan tetapi, rencana Papa Jacky untuk menghancurkan Perusahaan Dana tidak berhenti sampai di situ. Ketika Papa Jacky mendengar bahwa Dana hendak memiliki anak dari wanita yang sangat di cintainya, ia semakin murka dan hendak membalas dendam kepada Dana lewat anak yang bahkan masih belum terlahir ke dunia. Akibatnya, beberapa kali ratih keguguran, hingga kemudian ia mengandung si kembar Niken dan Viola.
         Hal itulah yang mengakibatkan Dana, Selvi dan Bram akhirnya menciptakan sekenario itu. Memberikan kedua anak kandunganya di bawah asuhan Selvi dan Bram untuk menyembunyikannya dari kejahatan Papa Jacky, sementara ia mengambil Alvi dari sebuah panti asuhan dimana ia adalah donator tetap disana.
         “Jadi..Alvi……?” ucap Alvi parau mengetahui kebenaran akan identitasnya sebenarnya. Ia sampai tidak bisa menyelesaikan ucapannya saking terkejutnya.
         “Kamu anak panti asuhan Vi,….,” jelas Dana. Dana melihat raut wajah anak yang sudah di adopsinya sedari kecil itu pucat pasi.
         “Jadi, Alvi anak tidak jelas dari panti….,”
         “Bukan anak tidak jelas Vi, tidak semua anak yang tinggal di panti asuhan tidak jelas asal usulnya.Salah satunya kamu.Ibumu meninggal setelah melahirkanmu, sementara Ayahmu meninggal karena sakit-sakitan. Dan karena mereka tidak mempunyai keluarga yang lain, makanya ayahmu menitipkanmu di panti asuhan tepat beberapa hari sebelum ia meninggal dunia. Mungkin, ia sudah mendapatkan firasat bahwa waktunya tidak lama lagi untuk hidup di dunia, karena itulah kamu di titipkan dip anti asuhan itu.
         “Alvi….,”
         “Panti Asuhan Nirmala. Jika kamu ingin mengenal lebih jauh tentang siapa diri kamu dan keluarga kamu yang sesungguhnya kamu bisa bertanya ke Ibu Panti yang ada disana.Belia kenal dekat dengan orang tuamu….,” jelas Dana.Dan Alvi pun menganggukkan kepalanya. Entah ia akan pergi untuk mencari tahu kebenaran itu atau tidak, ia masih bingung. Karena ia masih sangat shock dengan penjelasan papanya bahwa dirinya adalah seorang anak yatim piatu.
         Dana hendak meninggalkan ruang kerjanya untuk kembali mengurus ratih yang masih terbaring lemah karena sakitnya. Namun, sebelum ia menutup pintu ruangan itu ia berujar pada Alvi, anak yang sangat di sayanginya sampai kapanpun juga sekalipun tak ada ikatan darah di antara mereka.
         “Satu hal yang harus kamu tahu Vi, terlepas dari siapapun kamu, sekalipun kamu bukan darah daging Papa, percayalah Papa mencintaimu kamu dan sudah menganggapmu sebagai anak kandung Papa sendiri.Kalau tidak, Papa tidak mungkin menyerahkan dan mempercayakan Putri semata wayang Papa padamu….,” ujar Dana.
         Ia pun tersenyum simpul pada Alvi, sebelum akhirnya pintu ruang kerja itu tertutup. Sementara Alvi, hanya bisa terduduk lesu di kursi ruang kerja itu. Ia menggaruk gusar rambutnya yang tidak gatal itu. Ia sungguh bingung apa yang akan dilakukannya selanjutnya. Beberapa waktu lalu ia dikejutkan dengan kebenaran bahwa dirinya bukanlah anak kandung Dana. Dan sekarang ia dikejutkan kembali dengan kebenaran tentang identitas dirinya yang seorang yatim piatu. Ia bingung, apakah ia perlu mencari tahu siapa sebenarnya orang tua kandungnya, yang bahkan sudah tidak lagi menapak di bumi ini. Ataukah, ia hanya harus menyimpan dan menguburnya saja tanpa perlu mengetahui identitas orang tua yang telah melahirkannya ke dunia ini. Alvi menyenderkan kursinya ke dinding ruang kerja itu, dimana di belakangnya terdapat sebuah pintu yang menyerupai dinding, hingga siapapun tidak akan mengira bahwa tempat dimana kursi itu disandarkan adalah sebuah pintu geser.
         “Apa yang harus gue lakuin?” tanya Alvi.
         Beberapa menit kemudian tersengan pintu yang menyerupai dinding di belakang kursi kerja Alvi itu pun bergeser.Dan tampaklah seorang gadis cantik itu.Ia memeluk leher lelaki itu dari belakang.
         “Ikuti kata hatimu…Alvi…..,” ujar gadis itu.
*****